Bara: Dendam, Cinta dan Para Wanita - Nuniek Sobari

Bara: Dendam, Cinta, dan Para Wanita

0

Denting jam di pergelangan tangan Bara terasa seperti dentuman godam. Pukul 23:58. Dua menit lagi.

​Hujan di luar jendela gudang tua itu serupa tirai yang memisahkan mereka dari dunia luar. Aroma besi, kopi pahit, dan ketegangan menyelimuti ruangan. Di hadapannya, tiga pasang mata menatap lekat, penuh kepercayaan sekaligus adrenalin.

​"Siap?" Bara mengangkat dagu. Tatapannya menyapu Ari, Bimo, dan Candra secara bergantian. Suaranya tenang, mengikis sedikit kegelisahan yang mengambang. Itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah penegasan.

​Ari mengangguk kecil seraya membenarkan kacamata bacanya yang melorot. "Seperti biasa, Bara. Rencana A."

​Bimo, sang otot dalam kelompok itu, menyeringai. "Tanganku sudah gatal." Dia mengecek rompi taktisnya sekali lagi.

​Candra, si pakar digital, hanya tersenyum tipis. Jari-jemarinya menari di atas tablet yang menyala redup, menampilkan skema bangunan bank. "Seluruh celah aman. Sistem jaringan mereka berhasil ditembus delapan menit lalu. Mereka belum menyadarinya."

​Bara mengangguk. "Bagus. Ingat, tidak ada korban. Kita masuk, ambil, dan keluar. Mulus seperti pisau memotong mentega." Dia menunjuk Ari. "Kau di luar, pantau radio. Pastikan jalanan sepi. Koordinasi dengan Bimo dan Candra di dalam."

​Ari kembali mengangguk. "Sudah diatur. Satu getaran aneh, aku langsung beritahu."

​"Bimo," Bara beralih fokus. "Kau bersama Candra. Lindungi dia. Jaga gerbang utama dan kunci akses ke ruang peladen. Jangan biarkan siapa pun mendekat saat Candra bekerja."

​Bimo menepuk dadanya yang bidang. "Serahkan padaku. Semut pun tidak akan bisa lewat."

​"Candra," Bara menatap ahli teknologi itu. "Kau tahu tugasmu. Sepuluh menit setelah masuk, aku mau pintu brankas emas terbuka. Bisa?"

​Candra mengulum senyum. "Bisa, Bara. Aku sudah melatih ini ribuan kali dalam simulasi. Bank sentral hanya butuh kode yang tepat."

​"Bagus," pungkas Bara. "Aku sendiri akan langsung menuju brankas setelah Candra membuka jalannya. Kita bertemu lagi di titik evakuasi lima puluh menit dari sekarang. Jangan terlambat sedetik pun."

​Udara di antara mereka kian menipis. Pukul 00:00.

​"Bergerak!" perintah Bara.

​Mereka menyelinap keluar dari gudang, menjadi bayangan yang larut dalam pekat malam. Latihan berbulan-bulan membuat setiap langkah mereka terukur dan setiap bisikan teredam. Bara memimpin di depan, matanya tajam mengawasi sekitar, membaca setiap bayangan yang bergerak.

​Mereka tiba di belakang bank, bangunan megah yang kini terlihat rapuh di bawah sorot lampu jalanan yang berkedip. Candra dengan sigap memasang perangkat kecil di salah satu jendela servis. Cahaya hijau berkedip. Klik. Kunci elektromagnetik menyerah tanpa suara. Mereka masuk satu per satu tanpa menimbulkan kegaduhan.

​Di dalam, aroma pendingin ruangan bercampur bau kertas dan logam. Ari tetap di luar, memantau layar dan berkomunikasi melalui penyuara telinga.

​"Pintu utama aman, Bara. Aku menyalakan pengalih perhatian dari jauh," bisik Ari.

​"Diterima." Bara memberi isyarat agar Bimo dan Candra maju.

​Bimo bergerak layaknya raksasa tanpa suara, menetralkan kamera pengawas di lorong pertama. Mereka sampai di ruang peladen, jantung digital bank tersebut. Candra mulai bekerja. Jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan luar biasa. Layar di sekelilingnya memancarkan cahaya biru, barisan kode meluncur tanpa henti. Keringat membasahi pelipis sang ahli.

​"Sistem keamanan internal dilumpuhkan," bisik Candra dengan nada tegang namun penuh kemenangan. "Pintu brankas utama siap dibuka."

​Bara sudah berada di depan brankas baja raksasa, menunggu. Dinding tebal itu memancarkan aura kekayaan yang tersembunyi. Dari luar, terdengar gemuruh ringan seperti gerinda raksasa yang bekerja. Itu ulah Candra. Bara tahu persis apa yang sedang terjadi.

​Satu menit, lima puluh detik, tiga puluh detik.

​Detik demi detik terasa seperti berabad-abad. Bara merasakan denyutan di pelipisnya. Ini bukan pencurian biasa. Ini adalah bank sentral, pusat cadangan emas negara. Salah langkah sedikit saja, mereka akan berakhir di balik jeruji besi atau bahkan lebih buruk.

​"Buka!" perintah Candra melalui komunikasi suara.

​Suara desisan udara terdengar. Gerinda berat pintu brankas bergerak perlahan, membuka celah di hadapan Bara. Sebuah celah kecil yang kian melebar. Aroma logam berat dan dingin menerpa indra penciumannya. Di dalamnya, tumpukan batangan emas berkilauan di bawah sorot senter. Kilau kuning keemasan itu begitu memabukkan dan nyata.

​"Masuk!" Bara memberi isyarat pada Bimo dan Candra yang baru tiba.

​Ketiganya bekerja cepat. Tas besar yang sudah disiapkan diisi penuh dengan batangan emas. Beratnya luar biasa, tetapi mereka adalah orang-orang terlatih. Gerakan mereka sinkron, nyaris tanpa suara. Hanya denting logam yang beradu pelan memecah keheningan.

​"Waktu tersisa sepuluh menit untuk keluar," Ari mengingatkan. "Ada patroli yang mendekat."

​"Diterima," jawab Bara sambil mengisi tas terakhir. Sudah cukup.

​Mereka keluar dari brankas dan menutupnya kembali agar terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Langkah mereka kini lebih cepat namun tetap disiplin. Melewati koridor kembali, mereka menyelinap keluar secepat saat masuk tadi.

​Hujan masih mengguyur deras. Sebuah van hitam tanpa plat nomor sudah menunggu di balik semak. Mereka melemparkan tas berisi emas ke dalam, melompat masuk, dan kendaraan itu melaju tanpa ragu hingga lenyap dalam kegelapan.

​Kembali ke gudang tua, bau kopi kini bercampur dengan aroma kemenangan. Tas terbuka di lantai, menumpahkan isinya. Kilauan emas memenuhi ruangan. Perampokan terbesar abad ini berhasil dilakukan tanpa satu peluru pun ditembakkan dan tanpa ada nyawa yang terluka.

​Bimo tertawa terbahak-bahak. "Kita berhasil! Kita melakukannya!"

​Ari menyunggingkan senyum lebar sambil membiarkan kacamatanya melorot. "Benar-benar gila. Aku tidak percaya ini bisa semulus itu."

​Candra hanya mengangguk. Kelelahan terpancar di matanya, namun ada rasa bangga yang besar. "Berkat strategimu, Bara."

​Bara menatap tumpukan emas itu dengan bibir sedikit terangkat. Ada rasa lega sekaligus bangga. Ini adalah puncak kariernya. Mata Bara menyala, bukan hanya karena pantulan emas, melainkan karena api ambisi dan kepuasan. Mereka berempat berdiri di tengah harta yang tak ternilai, sementara bisikan angin malam seolah menyanyikan lagu kemenangan bagi mereka.

​Namun, di balik semua kilauan itu, Bara merasakan sesuatu yang dingin. Kekuatan emas ini begitu besar, mampu mengubah hidup sekaligus menghancurkan. Bara menatap wajah rekan-rekannya. Senyum mereka tampak tulus dan bahagia. Setidaknya, untuk saat ini.

*****

Nama pena: Nuns Unik

Genre: Slice of Life, Perkotaan, Hareem

Platform: Max Novel

Editorial:

Ada sebuah ketenangan yang ganjil saat kita memasuki ruang sempit gudang tua yang digambarkan oleh Nuns Unik dalam naskah ini. Melalui judul. Bara: Dendam, Cinta dan Para Wanita, penulis nampaknya tidak sedang terburu-buru untuk menyajikan dentuman mesiu. Alih-alih, kita diajak meresapi detail sensorik yang intim; aroma kopi pahit yang berkelindan dengan bau besi, serta suara detak jam tangan yang bertransformasi menjadi godam di kepala sang protagonis. Bagi pembaca dewasa, ketegangan justru lahir dari hal-hal mikro seperti getaran kacamata yang melorot atau jemari yang menari di atas layar redup bukan dari ledakan yang teatrikal.

Narasi bergerak dengan ritme yang sangat terukur, layaknya sebuah komposisi musik yang menahan napas sebelum mencapai klimaks. Keseimbangan antara gerak fisik Bimo yang taktis dengan ketenangan digital Candra menciptakan dinamika kelompok yang solid namun penuh rahasia. Dialog-dialog yang hadir terasa fungsional sekaligus organik, mencerminkan profesionalisme yang dingin namun tetap menyisakan ruang bagi emosi manusiawi. Ada kematangan dalam cara penulis membedah hubungan antar karakter; mereka bukan sekadar bidak dalam sebuah rencana besar, melainkan individu yang saling mengikatkan nasib pada sebuah celah sempit di jendela servis bank.

Kekuatan utama prosa ini terletak pada kemampuannya menangkap "keheningan yang riuh" di tengah aksi. Perampokan bank sentral ini tidak terasa seperti adegan laga klise, melainkan sebuah ritual yang meditatif. Ketegangan dibangun melalui aroma pendingin ruangan dan bau kertas, memberikan nuansa slice of life perkotaan yang sangat kental dan dewasa. Kita diajak melihat bahwa bagi Bara dan kelompoknya, ini adalah sebuah pekerjaan dengan standar estetika tertentu, sebuah seni yang "mulus seperti pisau memotong mentega."


Sebagai penutup, Nuns Unik memberikan sentuhan reflektif yang elegan di penghujung naskah. Kilauan emas yang memabukkan tidak lantas menghapus rasa dingin yang merayap di benak Bara yaitu sebuah kesadaran akan ambiguitas moral dan beban dari sebuah kemenangan. Sedikit catatan untuk pengembangan ke depan, barangkali eksplorasi pada sisi domestik atau kerentanan karakter di luar misi akan semakin memperkaya kedalaman tema urban yang diusung. Penulis sangat piawai dalam menjaga atmosfer tetap tebal tanpa harus menjadi berisik, sebuah gaya bercerita yang menunjukkan kelas tersendiri di platform  Max Novel.  Karya ini adalah bukti bahwa di tangan yang tepat, genre urban bisa menjadi sangat puitis sekaligus tajam.

by Caberawit



6 Komentar

Ulasan buku

  1. Salah satu penulis produktif ya bunda Nuniek Sobari ini. Salut deh, bukunya baru terus, banyak jumlahmya, di pf mana aja ada. Semangat membara kaya judul buku ini bun... 🔥🔥🔥🔥

    BalasHapus
  2. Yuhuu, satu penulis yang mengangkat genre 'laki banget' yang keren, buku yang lalu tentang lurah berpoligami, lalu pembalap yang terpaksa balapan dan sekarang penjahat pencuri emas?. Pilihan karakter protagonisnya selalu kuat dan dominan. Hmm ga sabar baca kelanjutan kisah Bara ini.

    BalasHapus
  3. Narasi diceritakan dengan ritme yang cepat dan fokus pada detail tugas/taktik, sehingga pembaca dibawa merasakan intensitas situasi bersama Bara.

    BalasHapus
  4. Alur ceritanya terstruktur...
    Keren sih Thor...

    BalasHapus
  5. Tiap kalimat dibuat kesengsem, feel di tiap adegan dapet banget, tapi rasanya masih ada yang tersembunyi nih...

    BalasHapus
  6. Alur ceritanya menarik. Enggak bertele tele. Suka.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama