Sampai Kau Ingat Aku - Redezilzie

Sampai Kau Ingat Aku - Rdezilzie


0

Enam tahun. Itu waktu yang dibutuhkan untuk Zea membangun perisai profesional di atas puing-puing hatinya.

Tepat enam tahun lalu, Azalea Rosela Adhyasa (Zea) ditinggalkan. Lelaki yang berlutut melamarnya di tepi pantai menghilang tanpa kabar, seolah semua janji masa depan hanyalah bualan.

Kini, Zea adalah eksekutif pemasaran yang fokus. Menyusun masa depan adalah satu-satunya misi hidupnya.

Namun, takdir punya selera humor yang kejam. Hari itu, Zea terlambat untuk bertemu dengan klien barunya. Di meja rapat, duduklah Arkan Elvano Akmal, pria yang paling ingin ia lupakan, kini kembali sebagai klien utamanya.

Yang lebih menyakitkan? Arkan menatapnya dengan pandangan datar, seakan sama sekali tidak mengenalinya. Tak ada kejutan, tak ada jeda canggung. Ia memperlakukan Zea hanya sebagai staf perusahaan, profesional, dan dingin.

BAB 1 - PERTEMUAN

“Ze! Di mana?”

“Otewe kaa… bentar lagi sampai.”

“Aduuh, gimana yaa…”

Zea mendengus kecil. Dari nada suara di seberang sana, ia sudah bisa menebak akan ada permintaan tambahan.

“Kenapa, Kak? Jadi kan meeting-nya?”

“Jadi. Bukan itu. Yang kemarin sore dikasih Pak Sanusi, produk-produk baru itu belum sempat di-upload. Ketinggalan di meja aku.”

Zea memejamkan mata sesaat. Tangannya refleks mencengkeram setang motor lebih kuat.

“Terus…?”

“Iya, ambilin dulu ya, Ze.”

“Aaa…, aku udah dikit lagi, Kak,” rengek Zea, berharap ada sedikit belas kasihan.

Namun seperti biasa, junior tetaplah junior. Zea akhirnya putar balik, mengambil map yang dimaksud, lalu kembali melaju ke arah kafe tempat meeting berlangsung. Waktu terus berjalan, dan jarum jam seolah mengejarnya tanpa ampun.

Ia tidak boleh terlambat. Bonus tim bulan ini taruhannya.

Begitu sampai, Zea langsung memarkir motor dan melangkah cepat masuk ke dalam kafe. Nafasnya sedikit tersengal, pashmina yang dikenakan sudah tak lagi serapi pagi tadi. Tak ada waktu untuk bercermin. Meeting seharusnya sudah berjalan hampir sepuluh menit.

Ia mengedarkan pandangan, hingga menemukan Riyanti duduk di meja dekat jendela besar yang memisahkan area indoor dan outdoor. Zea mempercepat langkah, sambil berusaha merapikan pashminanya lewat pantulan kaca.

Riyanti duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang membelakangi Zea.

Zea mengangkat tangan, memberi isyarat kecil. Riyanti menoleh, lalu mengangguk sambil mengatakan sesuatu pada klien mereka. Lelaki itu ikut menoleh.

Dan dunia Zea seolah berhenti berputar.

Map di tangannya nyaris terlepas.

Arkan!

Bagaimana bisa?

Wajah itu, meski lebih matang, lebih tegas, tetap tak asing. Rahang yang dulu sering ia perhatikan diam-diam. Alis yang selalu tampak serius saat berpikir. Tatapan hangat yang dulu pernah menjadi sumber kehangatan dan ketenangannya.

“Zea! Cepat,” tegur Riyanti, heran melihat juniornya hanya terdiam terpaku.

Zea menelan ludah. Benaknya sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Akan canggungkah? Apakah kerja sama ini akan tetap dilanjutkan? Atau dia akan digantikan? Berisik sekali suara mengisi kepalanya. 

Ia memaksa kakinya melangkah, mendekat dengan senyum tipis yang terasa asing di wajah sendiri.

“Maaf telat,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar, ia mengangguk kecil pada Arkan, dan lelaki itu membalasnya.

Zea mengerjap. Bukan itu respon yang diduganya. Dan itu..., mengganggunya.

Riyanti langsung mengambil map dari tangan Zea. Sementara Zea duduk di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan detak jantung yang tak mau tenang. 

Ia membuka laptop, pura-pura sibuk, menundukkan wajah agar kegugupannya tak terbaca.

“Nah ini, Mas. Bisa dilihat dulu,” ujar Riyanti.

Arkan mengangguk, menerima map itu. Gerakannya tenang. Sama seperti dulu. Seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya.

“Untuk konsep kafenya, Mas, lebih ke industrial atau warm minimal?” lanjut Riyanti.

“Warm minimal,” jawab Arkan. Suara itu membuat dada Zea berdetak makin hebat. “Saya sudah ada bayangan, tapi belum yakin.”

“Oh, baik. Sambil Mas lihat-lihat, izin kami jelaskan detail teknisnya ya. Silakan, Ze.”

Zea berdehem. Ia menarik napas dalam sebelum mulai bicara.

“Perusahaan kami menyediakan beberapa opsi furniture dan peralatan dapur yang bisa disesuaikan dengan kapasitas dan konsep ruang,” jelasnya, mata terpaku pada layar. “Untuk mesin kopi, kami merekomendasikan tipe semi-automatic agar barista tetap punya kontrol rasa.”

“Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Arkan.

Zea terdiam sepersekian detik. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi karena suara itu masih punya kuasa yang kuat atasnya. Ia menelan ludahnya.

“Maintenance-nya relatif ringan,” jawabnya akhirnya. “Kami menyediakan servis berkala setiap tiga bulan.”

Arkan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau ke depannya berkembang, bisa upgrade tanpa ganti semua unit?”

“Bisa,” jawab Zea cepat, lalu memperlambat nada suaranya. “Sistemnya modular, jadi penyesuaian bisa dilakukan bertahap.”

Riyanti tersenyum puas. “Nah, itu keunggulan kita.”

Sepanjang rapat, Zea berusaha menjaga jarak. Tangannya sibuk mencatat, menggulir slide, seolah itu hal penting yang harus ia lakukan. Ia hanya mengangkat wajah jika benar-benar perlu.

Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Zea selalu lebih dulu menunduk.

Arkan benar-benar tak menunjukkan apa pun. Tak ada keterkejutan. Tak ada jeda canggung. Tak ada tanda bahwa ia mengenali Zea lebih dari sekadar staf perusahaan. Sikapnya betul betul profesional. Datar.

Dan itu, justru membuat Zea semakin gusar.

Rapat pun berakhir.

“Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Arkan sambil berdiri. “Saya tunggu penawaran finalnya.”

Saat berjabat tangan, Zea menahan napas. Sentuhan singkat itu cukup untuk membuat kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun Arkan segera melepaskan, lalu melangkah pergi.

Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe.

Enam tahun.

Harusnya cukup untuk sembuh, bukan?

Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja.

“Ganteng ya, Ze,” bisik Riyanti sambil terkikik, mendekatkan wajahnya. “Kelihatan mapan lagi.”

Zea mengedip, kembali ke realita.

“Tapi sayang,” lanjut Riyanti, nada suaranya menggoda.

“Sayang kenapa, Kak?” tanya Zea pelan.

Riyanti tersenyum miring.

“Sayang, udah laku.”

************

Penulis: Redezilzie

Platform: GoodNovel 

Genre: Chicklit, Romance

Editorial:

Buku pembuka dari Dermaga Kebanggaan memperlihatkan satu hal yang jarang ditemui dalam novel populer.

Penulisnya menulis dengan kepercayaan diri yang tidak tergesa-gesa mencari simpati pembaca.

Tidak ada upaya untuk menjelaskan siapa yang harus dikagumi atau dikasihani.

Sebaliknya, suara naratif berdiri tegak, membiarkan tindakan berbicara sendiri yang menciptakan jarak yang sehat dimana jarak yang menuntut pembaca untuk hadir sepenuhnya, bukan sekadar mengikuti, tetapi mengamati. Kedewasaan ini terasa sejak kalimat pertama, yang tidak meminta perhatian, melainkan mengambilnya.

Ritme kalimatnya terkontrol dengan disiplin yang jarang terlihat pada karya yang mengandalkan adegan intens.

Penulis memahami kapan harus mempercepat, dan yang lebih penting kapan harus menahan.

Ada kesadaran yang jelas bahwa ketegangan bukan berasal dari benturan fisik semata, melainkan dari posisi, pilihan, dan konsekuensi yang diam-diam sedang dibangun.

Bahkan di tengah kekacauan, ada struktur emosional yang rapi. Pembaca tidak dibiarkan tenggelam dalam kebisingan, sebaliknya, mereka diposisikan cukup dekat untuk merasakan napas karakter, namun cukup jauh untuk menyadari makna yang lebih besar dari sekadar peristiwa itu sendiri. Yang paling menonjol adalah apa yang tidak dijelaskan.

Penulis tidak menawarkan pembenaran moral, tidak memberikan latar belakang panjang untuk melembutkan realitas yang keras. Keheningan inilah yang memberi bobot. Ada rasa bahwa dunia yang digambarkan memiliki aturan sendiri aturan yang tidak perlu diumumkan karena sudah hidup di dalam perilaku para tokohnya yang merupakan bentuk kepercayaan terhadap kecerdasan pembaca.

Bab ini tidak mencoba meyakinkan pembaca untuk peduli. Ia hanya menunjukkan, dan membiarkan Anda memutuskan sendiri.

Kesan yang tertinggal bukan sekadar intensitas, melainkan otoritas. Buku ini menunjukkan fondasi yang kokoh sebuah dunia yang tidak dibangun dari sensasi, tetapi dari pemahaman yang tajam tentang manusia, kekuasaan, dan harga diri.

Karya ini memberi sinyal bahwa novel ini tidak bergantung pada kejutan murahan untuk mempertahankan perhatian. Ia bergantung pada sesuatu yang lebih langka dan kendali. Dan bagi pembaca dewasa yang sudah lelah dengan formula yang dapat ditebak, kendali seperti ini adalah alasan yang cukup untuk terus melangkah ke halaman berikutnya.

By Peniti Kecil



4 Komentar

  1. hellokitty hello17118 Februari 2026 pukul 15.56

    Cerita ini bikin baper banget! Alurnya yg kuat membawa kita mrasakan emosi Zea saat bertemu Arkan setelah enam tahun, luka lama masih perih sementara dia tampak bahagia. Dialog Riyanti, ditambah humor dan kejutan yang bikin penasaran banget! Ini wajib Wajib Wajib banget buat di baca! Hehe...

    BalasHapus
  2. Aih... sakit lah itu di tinggal pas sayang-sayangnya 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir ka 🙏🏾

      Hapus
  3. Untung bukan aku di sana, kalau iya udah aku tonjok laki modelan begitu, apa itu diem

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama