Pesona Sang Aktor Pengganti
Cuplikan Bab 1
Joe meneguk air mineralnya. Ia benar benar menikmati hari itu. Sesekali dia tersenyum kecil.
Setelah selesai, Joe menyalakan motor tuanya dan melaju pulang. Jalanan mulai lengang.
Di sebuah gang yang biasanya ia lewati sebagai jalan pintas, suara ribut membuatnya refleks mengurangi kecepatan.
Suara perempuan.
“Lepaskan aku..!! Aku bilang tidak...!! Aku tidak mau..!!”
Joe menghentikan motor.
Beberapa meter didepannya, seorang wanita terpojok di antara dinding dan mobil hitam yang parkir miring. Seorang pria bertubuh besar menahan kedua tangannya di atas kepala wanita itu. Berusaha menciumnya dengan paksa.
Gaunnya tersingkap sedikit. Rambut panjangnya berantakan. Salah satu tangan si pria meraba bagian tubuh sensitifnya. Membuat mengerang ketakutan.
“Agghh... jangan..!” pekiknya.
“Aku sudah bilang, ikut saja denganku. Jangan sok jual mahal,”geram pria itu.
Wanita itu menggeleng menghindari ciuman di pria.
“Uhmmp.. Toolonggg.. jangann...”
Tatapan Joe berubah. Liontin di dadanya kembali menghangat. Ia turun dari motor tanpa suara berlebihan. Langkahnya tenang, tapi sorot matanya tajam.
“HEI...!!”
Suara Joe menggema.
Pria itu menoleh kesal.
“Siapa kau? Jangan ikut campur!”
Joe berdiri beberapa langkah dari pria itu.
“Kau tuli? Wanita itu sudah bilang ‘tidak’”
“Ini bukan urusanmu. Pergilah! Sebelum kau mati sia sia.”
“Kau pikir aku takut?”
Joe melangkah lebih dekat. Entah kenapa nada suara Joe terdengar berbeda. Lebih berat, lebih dalam.
Pria itu mendorongnya, namun Joe lebih cepat. Tangannya menepis pergelangan si pria, memutar bahunya, lalu mendorong keras ke kap mobil.
BRAKK..!
Dentuman terdengar.
Pria itu meringis. Belum sempat menyerang balik, Joe sudah mencengkeram kerah bajunya.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu di mata Joe.
Dingin. Tegas. Mengintimidasi.
Pria itu menelan ludah.
“Pergi!”ucap Joe pelan.
Kali ini tak ada perlawanan. Pria itu mendorong tubuh Joe sekali, lalu mundur, masuk ke mobilnya dan melaju pergi dengan tergesa.
Joe menoleh. Wanita itu tampak terpukau dengan keberanian Joe. Namun wajahnya masih terlihat takut.
“Sudah aman.”Ucapnya.
Wanita itu perlahan merapihkan gaunnya yang sempat berantakan. Matanya besar. Cantik. Tapi masih dipenuhi sisa ketakutan.
“Terima kasih...” suaranya pelan.
Joe mengangguk singkat.
“Kau tinggal di mana?”
Wanita itu menyebutkan sebuah alamat. Joe terdiam sejenak. Lalu mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang.”
Wanita itu ragu sepersekian detik, lalu mengangguk.
Saat ia naik ke motor dan duduk di belakang Joe, tangannya melingkar pelan di pinggangnya.
Awalnya hanya pegangan biasa. Namun beberapa detik kemudian, wanita itu mempererat pelukannya di pinggang Joe. Tubuhnya hangat, nafasnya terasa di tengkuk Joe.
Liontin di dadanya kembali terasa hangat.
**
Apartemen wanita itu berada di lantai tiga sebuah bangunan modern.
“Terimakasi sudah mengantarku. Tapi tidak enak rasanya kalau kau pergi begitu saja. Bahkan kita belum berkenalan.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Aku Clara.” Ucapnya lagi sambil menyodorkan tangannya.
Joe tersenyum, menyambut tangan gadis itu.
“Joe.”Jawabnya singkat.
Gadis itu tersenyum. Lalu meraih pergelangan tangan Joe.
“Masuklah dulu, biarkan aku mengucapkan terimakasi dengan cara yang benar.”
Tanpa ragu Joe pun melangkah masuk. Memandangi ruangan itu sejenak. Ia berdiri disamping sofa.
“Kau sendirian?”tanyanya.
Clara mengangguk.
“Aku punya wine, kau suka? Atau mau sesuatu yang lebih kuat?”Tanya Clara tanpa menoleh, langkahnya gemulai menuju meja bar kecil.
“Air putih saja cukup.”Jawabnya singkat.
Clara terkekeh, ia kembali melangkah membawa minuman.
Alih-alih memberikan gelas itu dari jauh, ia berjalan mendekat. Sangat dekat. Clara berhenti didepan Joe. Wanita itu memperhatikan wajah tampan Joe. Kulit putih, alis tebal, hidung mancung, dan bibir merah alami.
“Kau sangat tampan. Aku rasa, kau cocok menjadi seorang aktor.”Ucapnya sambil tersenyum.
“Haha, kau ini bisa saja. Aku hanya seorang aktor bayangan.”Ucapnya.
Clara mengernyit. Namun tatapannya tidak berhenti memperhatikan pria muda itu. Tubuh tinggi Joe. Lalu tangannya terangkat, menyentuh kerah jaketnya.
“Aku bantu kau melepaskan jaketmu, supaya lebih nyaman.”Ucapnya.
Joe terdiam. Membiarkan wanita itu perlahan mulai membuka retsliting jaketnya. Jaket itu meluncur turun dari bahunya dan jatuh ke lantai.
Tatapan Clara turun, menelusuri tubuhnya yang terbungkus kaos tipis.
Ia mengangkat tangan, menyentuh dada Joe melalui kain. Jemarinya terasa hangat.
Joe menatapnya beberapa detik.
Lalu, tanpa kata, ia menarik kaosnya ke atas dan melepasnya.
Kaos itu jatuh menyusul jaket.
Tubuhnya terekspos di bawah cahaya lampu redup.
Kulitnya putih bersih. Dada bidang. Bahu lebar dengan garis otot tegas. Bekas luka tipis menghiasi bahu dan lengannya. Liontin bulat yang menggantung indah dilehernya.
Wanita itu menelan ludah.
“Aku sudah lama sendirian Joe. Dan sudah lama aku tidak melihat pria setampan dirimu.”Gumamnya.
Tangannya naik, menyentuh perlahan otot dadanya. Lalu turun ke perutnya yang keras. Kakinya sedikit jinjit.
“Biarkan aku...”suaranya hampir tak terdengar.
“...berterimakasih dengan cara yang berbeda, Joe.”Bisiknya.
Nafasnya terasa di leher Joe.
Joe meraih pinggang wanita itu. Mendekat.
“Terimakasi seperti apa yang kau maksud, Clara?”bisik Joe, suaranya kini lebih berat.
************
Nama pena: KEZHIA ZHOU
Genre: Harem, 21+
Platform: Max Novel
Editorial:
Buku ini memperlihatkan suara penulis yang cukup percaya diri dalam membangun momentum sejak awal.
Narasi langsung bergerak pada situasi yang tegang, namun disampaikan dengan bahasa yang relatif sederhana dan mudah diikuti.
Penulis tampaknya sengaja memilih pendekatan yang lugas, membuat pembaca segera memahami posisi karakter utama tanpa perlu pengantar panjang.
Di tengah kesederhanaan itu, ada upaya untuk menanamkan aura misterius pada tokoh utama melalui detail kecil yang tidak dijelaskan sepenuhnya.
Ritme kalimat dalam buku ini bergerak cepat, hampir seperti potongan adegan film aksi yang berpindah dari satu momen ke momen berikutnya tanpa jeda panjang. Dialog yang singkat dan respons yang langsung memberi tempo yang dinamis.
Pendekatan ini menciptakan atmosfer yang tegang namun tetap mudah dibaca.
Penulis tidak perlu berlama-lama pada deskripsi teknis, melainkan menjaga fokus pada interaksi antar karakter dan perubahan suasana yang terjadi secara bertahap. Ketegangan yang muncul tidak sepenuhnya bergantung pada aksi fisik, melainkan pada aura karakter utama yang terasa berbeda dari orang biasa.
Ada sesuatu yang sengaja ditahan oleh penulis, sebuah petunjuk kecil tentang identitas dan masa lalu tokoh tersebut yang belum diungkapkan. Detail seperti reaksi orang lain terhadap kehadirannya, serta elemen simbolik yang melekat pada dirinya, menciptakan lapisan misteri yang memberi bobot tambahan pada adegan yang sebenarnya sederhana.
Secara tematik, Bukuini menyentuh dinamika klasik tentang kekuatan, perlindungan, dan daya tarik yang muncul dari figur yang tampak tenang namun berbahaya. Namun cara penyajiannya menunjukkan bahwa cerita ini tidak hanya bertumpu pada konflik permukaan.
Ada indikasi bahwa tokoh utama membawa beban pengalaman yang lebih kompleks, sesuatu yang mungkin akan perlahan terungkap seiring perkembangan cerita.
Kesan yang tertinggal dari buku ini adalah energi yang terkontrol. Penulis memilih membuka cerita dengan aksi yang jelas namun tetap menyisakan ruang misteri yang cukup.
Bagi pembaca yang menikmati cerita dengan tokoh utama kuat, suasana modern, dan petunjuk rahasia yang belum sepenuhnya terbuka, pembukaan seperti ini terasa seperti pintu masuk yang menjanjikan, cukup untuk menimbulkan kepercayaan bahwa cerita ini memiliki arah yang ingin dijelajahi lebih jauh.
By Peniti Kecil

Buku kerem nih... wajib di baca di Max Novel 😎
BalasHapus