Wibu Culun Penguasa Harem - Ikhwanul Halim

Wibu Culun Penguasa Harem - Ikhwanul Halim


0

BAB DUA PULUH SATU

“Ya, itu.”

Inara menatap Aditya. Dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya. 

“Kenapa tidak?”

“Kenapa tidak?” Aditya mengulanginya, menatapnya dengan heran. “Karena itu … itu salah, itu sebabnya. Tidak pantas bagi seorang perempuan dan laki-laki untuk tidur bersama.”

“Kamu bercanda.” Inara tersenyum sambil meraih tangannya dan mencoba menariknya ke tempat tidur. “Tentu saja tidak apa-apa bagi kita untuk tidur bersama. Kamu pasanganku. Dan lagi pula,” senyum Inara semakin lebar saat dia menatapnya dari balik bahunya. “Kurasa sudah saatnya kita akhirnya melakukan perbuatan yang penuh gairah, hihihihi…”

Reaksi Aditya terhadap empat kata terakhir itu sangat mengesankan. Matanya melebar hampir seperti dalam manga, sampai-sampai bola matanya tampak seperti akan keluar dari rongganya. Kemudian rahangnya ternganga lebar. Akhirnya, dia tersipu dari akar rambutnya hingga dadanya.

Sedetik kemudian, Aditya pingsan. 

Lagi.

Dia sering pingsan sejak Inara hadir dalam hidupnya. Itulah harga yang harus dibayar karena terlibat dengan kitsune.

***

Aditya terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan matanya melalui jendela besar di ruang tamu. Sambil mengerang pelan, dia menutup matanya lagi. Dia bisa memulai harinya nanti ketika matahari tidak berusaha sekuat tenaga untuk membutakannya.

Setelah terbangun dari pingsan lagi, Aditya memberi tahu gadis itu, dengan tegas, bahwa mereka tidak akan tidur bersama. Inara cemberut dan mengatakan kepadanya bahwa tidur bersama itu sepenuhnya dapat diterima, tetapi Aditya keras kepala menolak, mengulangi alasannya dan mengklaim bahwa mereka tidak memiliki hubungan yang perlu dieksplorasi.

Sebuah erangan menyedihkan keluar dari bibirnya saat dia membuka matanya lagi. Oh, betapa dia berharap jendela bodoh itu tidak dipasang di sisi timur apartemen. Siapa pun yang punya ide membuat jendela sebesar itu yang membentang di seluruh ruangan perlu ditembak mati.

Yah, mungkin tidak ditembak, tetapi pasti dipukul di jidat karena membuat desain arsitektur yang mengerikan seperti itu. Tidak ada yang ingin bangun dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. 

Aditya sudah pasti tidak.

Setelah berkedip beberapa kali, penglihatan Aditya segera jernih. Dia melihat warna merah. Warna merah yang sangat banyak.

Matanya buram menatap warna itu dengan bingung. Karena dia masih setengah tertidur, dia tidak bisa mengetahui apa yang dilihatnya. Itu hanya tampak seperti gumpalan merah besar yang buram.

Bergeser, ia membuat dirinya lebih nyaman, sambil mencoba memahami mengapa penglihatannya terhalang oleh begitu banyak warna merah.

Sebuah erangan lembut membuatnya membeku. Matanya melebar dan keterkejutan menjalar ke seluruh tubuhnya seperti sambaran petir. Tidak mungkin dia bisa melupakan suara itu, tidak setelah kejadian semalam.

Oh, tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak! Tidak mungkin dia ada di sini! Dia tidur di tempat tidurku, kan? Dia tidak akan meninggalkan tempat tidur yang nyaman hanya untuk tidur denganku, kan?

Melihat ke bawah, khayalan Aditya hancur ketika dia melihat Inara tidur dengan tenang, kepala di dadanya, tangan bertumpu di tubuhnya. Kedua ekor rubahnya terurai dan tergeletak lemas di belakangnya, dan salah satu kakinya yang panjang dan indah terlihat, jatuh dari sofa dan bersandar di lantai.

Bajunya tersingkap di atas punggung bawahnya, yang berarti bokongnya yang berbentuk buah persik sempurna terlihat jelas oleh mata Aditya yang sudah tidak perawan lagi. Lebih buruk lagi, entah kapan di malam hari, dia pasti mengalami nafsu yang tak terkendali, karena kedua tangannya memegang bundaran tersebut. 

Karena refleks yang diwarisi secara genetik, Aditya meremas bokong yang berisi dan kencang itu, yang membuat Inara mendesah penuh gairah.

Matanya semakin membelalak saat pikirannya akhirnya menganalisis, menguraikan, dan memahami situasinya.

Inara sedang tidur di atasnya.

Bokongnya terbuka.

Tangannya berada di bokong tersebut.

Dia tidak mengenakan celana dalam.

Mengingat situasi saat ini, Aditya melakukan satu-satunya hal yang terlintas di pikirannya.

Dia berteriak.

Di apartemen lain dan beberapa detik sebelum Aditya terbangun dan mendapati Inara menggunakannya sebagai bantal, pasangan lain sedang beristirahat di apartemen tepat di bawah mereka.

Tuan dan Nyonya Danuji adalah pasangan paruh baya yang stereotip. Pak Danuji bekerja di pekerjaan biasa dengan gaji biasa, dan Bu Danuji adalah ibu rumah tangga yang memasak, membersihkan, dan mencuci pakaian. Bayangkan Bu Tejo agak lebih tua, dan kamu akan mendapatkan gambaran yang cukup tepat.

Mereka tidak punya anak, meskipun bukan karena tidak berusaha. Mereka juga tidak tahu siapa yang salah karena mereka tidak bisa memiliki anak, karena mereka belum pernah pergi ke dokter untuk mengetahuinya. 

Bu Danuji tidak ingin suaminya merasa tidak mampu karena mengetahui bahwa dia impoten, dan Pak Danuji tidak ingin istrinya patah hati karena mengetahui bahwa dia mandul.

Mereka tidur di tempat tidur mereka. Pagi itu damai dan tenang. Keheningan yang menenangkan menyelimuti udara.

“Kyaaaaa!”

Mereka langsung terbangun di tempat tidur, melihat sekeliling dengan panik saat jeritan melengking yang tampaknya merupakan perwujudan teror yang mutlak menusuk udara. Seumur hidup mereka, mereka belum pernah mendengar seseorang terdengar begitu ketakutan sebelumnya. 

*****

Nama Pena: Ikhwanul Halim

Genre: Harem, Urban, Young Adult, Comedy, Fantasi Timur

Platform: MaxNovel

Editorial:

Kehadiran Ikhwanul Halim di platform MaxNovel memberikan angin segar bagi para pencinta fiksi urban yang mencari kombinasi komedi situasi dan elemen fantasi. Dalam cuplikan ini, penulis tidak berusaha menahan tempo cerita, melainkan langsung melemparkan pembaca ke dalam puncak ketegangan komedi yang bersumber dari benturan karakter. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menyajikan situasi absurd yang visual, mulai dari reaksi fisik yang hiperbolis mirip komedi animasi, hingga detail posisi canggung yang membangun kepanikan tokoh utama secara instan di atas sofa apartemen.

Ritme narasi dibangun dengan cerdas melalui pergantian suasana yang drastis antara ketegangan intim di kamar dan ketenangan domestik di lingkungan sekitar. Dialog Inara yang provokatif namun jenaka tidak hanya berfungsi sebagai pemicu konflik, tetapi juga mempertegas identitasnya sebagai makhluk supranatural yang tidak terikat oleh norma manusia biasa. Penulis berhasil menyeimbangkan kepolosan sekaligus agresivitas karakter perempuan ini dengan respons Aditya yang panik dan kaku, menciptakan dinamika romansa harem yang menghibur tanpa terkesan dipaksakan.

Eksplorasi sensualitas dalam teks ini disajikan dengan pendekatan yang murni berfokus pada kelucuan situasi, bukan pada erotisme yang berat. Kontras antara kepolosan Aditya sebagai lelaki yang belum berpengalaman dengan situasi berani yang dihadapinya menjadi mesin utama penggerak komedi. Ketegangan muncul bukan dari ancaman fisik, melainkan dari ancaman terhadap prinsip moral dan kewarasan tokoh utama saat ia menyadari tindakan insting bawah sadarnya sendiri, yang dikemas secara lugas agar pembaca dapat langsung menangkap kelucuan momen tersebut.

Penulis juga jeli memperluas ruang komedi dengan menghadirkan perspektif dari luar kamar utama melalui karakter tetangga. Kemunculan Tuan dan Nyonya Danuji di lantai bawah berfungsi sebagai jangkar realitas sekaligus pelantang bagi efek komedi yang terjadi di atas.

Deskripsi latar belakang kehidupan pasangan paruh baya yang tenang dan penuh kesalahpahaman domestik ini memberikan lapisan humor tambahan, membuat jeritan histeris tokoh utama di akhir adegan terasa jauh lebih dramatis dan berdampak luas.

Meskipun demikian, penyebukan referensi budaya populer secara langsung seperti perbandingan dengan tokoh fiksi lokal berisiko sedikit mengaburkan imersi dunia cerita fiksi urban yang sedang dibangun. Beberapa bagian narasi yang menjelaskan alasan tindakan karakter juga bisa dibuat lebih mengalir agar pembaca dapat menyimpulkan sendiri kepanikan yang terjadi tanpa perlu terlalu banyak penjelasan internal. Namun, catatan teknis ini tidak mengurangi efektivitas penyampaian humor situasi yang menjadi jualan utama cerita.

Secara keseluruhan, karya bertajuk Wibu Culun Penguasa Harem ini berhasil mengeksekusi formula komedi harem dengan penyampaian yang lugas dan menghibur. Ikhwanul Halim membuktikan bahwa genre fantasi urban komedi tidak harus selalu berfokus pada pertempuran kekuatan yang rumit, melainkan bisa digerakkan oleh kesalahpahaman sehari-hari yang menggelitik. Bagi pembaca MaxNovel yang mencari bacaan ringan yang mengutamakan kecepatan plot, kelucuan karakter, dan situasi komikal yang mengocok perut, draf ini menunjukkan potensi yang sangat kuat untuk diikuti.

by Sweet Moon





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama