Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya - Lovely Pearly

Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya - Lovely Pearly


0

BAB 8. Keputusan Valeriana (Kirana)

Pintu ganda setinggi tiga meter yang terbuat dari kayu jati kokoh itu terbuka perlahan, diiringi bunyi klik halus yang singkat namun terasa final.

Di baliknya, Kirana berdiri di tengah ruangan yang lebih pantas disebut aula kecil daripada kamar tidur. Inilah kamar pribadi Duchess Valeriana. Dan harus diakui, seleranya dalam urusan interior memang luar biasa—meski cenderung berlebihan.

Lantai kamar dilapisi karpet bulu tebal berwarna merah marun, begitu empuk hingga mata kaki seolah bisa tenggelam di dalamnya. Dinding-dindingnya dihiasi wallpaper sutra bermotif bunga emas yang rumit. Dari langit-langit menggantung lampu kristal, sedikit lebih kecil dibandingkan yang ada di ruang makan, namun tetap memancarkan kemewahan. Sementara di tengah ruangan, berdiri sebuah ranjang king size bertiang empat dengan kelambu renda transparan yang menjuntai dramatis.

“Gila,” gumam Kirana pelan, matanya menyapu sekeliling ruangan. “Ini kamar atau lapangan futsal? Luas banget.”

Namun di balik kemewahan yang menyilaukan mata itu, Kirana merasakan kehampaan yang nyata. Kamar ini terasa dingin, bukan karena suhu udara, melainkan karena kesepian yang mengendap di setiap sudutnya. Tidak ada benda-benda sentimental yang memberi kehangatan. Yang ada hanyalah barang-barang mahal, dipajang untuk memuaskan ego semata.

“N-Nyonya …”

Suara kecil yang gemetar membuat Kirana menoleh, sedikit terkejut.

Ternyata Anna masih berdiri di belakangnya, setia menemani hingga masuk ke kamar meski jelas diliputi ketakutan. Wajah gadis itu tertunduk dalam, bahunya kaku. Anna adalah pelayan pribadi Valeriana—dan juga orang yang paling sering menjadi sasaran amuk sang Duchess ketika suasana hatinya sedang buruk, terutama jika Pangeran Arthur tak membalas surat-suratnya.

Namun di balik rasa takut itu, kesetiaan Anna tak pernah luntur. Ia menyayangi Valeriana dengan tulus, meski kerap diperlakukan kejam. Di dalam novel, dialah yang pernah membela Valeriana mati-matian saat sang Duchess hendak dipenggal, bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri. Sayangnya, Kaisar tak menunjukkan belas kasihan. Kepala yang jatuh hari itu justru milik orang yang berdiri membela Valeriana.

Kirana menghela napas panjang. "Satu lagi orang yang trauma," batinnya.

Kali ini, Kirana bertekad mengubah citra Valeriana—dari “sangat jahat” menjadi “sangat baik”. Ia harus merebut kembali kepercayaan keluarga ini. Terutama Kael, suaminya.

“Anna,” panggil Kirana lembut.

Gadis itu tersentak, seolah disengat listrik.

“S-saya mohon ampun, Nyonya! Saya tidak bermaksud mengagetkan Anda! Saya hanya ingin menemani dan berjaga semalaman seperti biasa!” serunya panik. Matanya terpejam erat, tubuhnya menegang, siap menerima lemparan bantal atau vas bunga—seperti yang biasa terjadi jika Valeriana merasa terganggu.

Kirana melangkah mendekat. Anna semakin menyusut ketakutan.

Namun alih-alih memukul, Kirana justru menepuk bahu Anna pelan.

“Tenang saja, Anna. Aku tidak akan memukul mu,” ucapnya santai.

Anna membuka mata perlahan, menatap majikannya dengan raut bingung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja terjadi.

“Kau boleh istirahat. Tidurlah. Tidak perlu berjaga di depan pintu.”

“Benarkah, Nyonya?” tanya Anna ragu. Sejak kepulangan Valeriana dari pesta ulang tahun Pangeran Arthur, sikap sang Duchess memang terasa berbeda. Beberapa pelayan bahkan berbisik bahwa Valeriana telah kerasukan roh suci hingga berubah baik. Anna tak peduli soal itu. Yang ia inginkan hanya satu—Valeriana yang sekarang. Bukan Valeriana yang dulu.

“Iya. Aku serius. Pergilah istirahat.”

“T-terima kasih, Nyonya. Selamat malam.”

Anna membungkuk hormat, lalu buru-buru keluar seolah dikejar hantu, meninggalkan Kirana sendirian dalam keheningan yang absolut.

Kirana melangkah menuju meja rias besar di dekat jendela. Cerminnya setinggi tubuh manusia, dibingkai emas murni. Ia duduk di kursi empuk di depannya, lalu menatap pantulan dirinya sendiri.

Wajah itu menatap balik. Cantik. Sangat cantik.

Rambut merah menyala yang bergelombang alami menjuntai indah di bahu putihnya. Kulitnya sehalus porselen, nyaris tanpa cela. Hidungnya mancung, bibirnya penuh dengan warna merah alami. Namun yang paling mencolok adalah matanya—hijau zamrud, tajam, sedikit terangkat di sudutnya, menyerupai mata kucing.

Tadi ia tak sempat mengagumi wajah ini. Kael hanya memberinya tiga puluh menit untuk bersiap sebelum makan malam.

Ini adalah wajah antagonis yang sempurna.

Wajah yang dirancang untuk terlihat angkuh, dingin, dan mematikan—resting bitch face yang membuat orang enggan menyapa lebih dulu.

Kirana menyentuh permukaan cermin yang dingin dengan ujung jarinya.

“Jadi … ini wajahku sekarang,” bisiknya lirih.

“Valeriana de Vallas.”

Ingatan tentang kehidupan lamanya sebagai Kirana—pegawai kantoran yang hobi makan seblak dan kerja lembur seperti kuda—terasa semakin jauh. Kini ia hidup di dunia ini. Apakah di dunianya yang lama ia telah meninggal? Lalu bagaimana dengan ayahnya yang ia tinggalkan seorang diri?

Dadanya terasa sesak. Kerinduan itu datang tiba-tiba, disertai harapan bodoh bahwa semua ini hanyalah mimpi.

Namun rasa sesak dari korset yang menekan tubuhnya, serta nyeri di kaki akibat sepatu hak tinggi, terasa terlalu nyata untuk disangkal.

Pandangan Kirana beralih ke deretan laci di meja rias. Rasa penasaran menggelitik benaknya. Ia membuka laci pertama—berisi perhiasan: kalung, cincin, dan gelang berlian yang berkilauan. Laci kedua menyimpan deretan kosmetik mahal.

Kirana menarik napas, lalu membuka laci ketiga.

Dan seketika itu juga, rasa mual menyeruak.

Laci tersebut penuh dengan “sampah Pangeran”. Ada sketsa wajah Pangeran Arthur yang digambar dengan canggung—jelas hasil tangan Valeriana sendiri. Ada pita bekas bungkus kado yang pernah diberikan sang Pangeran, entah disimpan sebagai kenang-kenangan atau dipungut dari tempat sampah. Ada pula surat-surat cinta Valeriana yang tak pernah terkirim—atau mungkin dikembalikan tanpa pernah dibuka. Bahkan sebuah boneka jerami kecil berambut pirang terselip di sudut laci, fungsinya sama sekali tak bisa ia pahami.

“Ya ampun, Valeriana…” Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. “Kau ini bukan cuma jahat, tapi juga stalker tingkat dewa. Malu-maluin banget.”

Tingkat kebucinan Valeriana asli terhadap Arthur benar-benar di luar nalar. Demi pria narsis yang bahkan tak pernah meliriknya, wanita ini rela menginjak-injak harga diri sendiri, menghancurkan reputasi suaminya, dan menjelma musuh masyarakat.

Kirana mengambil salah satu sketsa wajah Arthur. Ia menatap wajah tampan yang kini terasa begitu menyebalkan.

“Cukup,” ucapnya tegas.

Kertas itu diremasnya hingga menjadi bola kusut. Kirana berdiri, membawa sketsa tersebut bersama segenggam surat cinta halu lainnya menuju perapian kecil yang menyala di sudut kamar.

Tanpa ragu sedikit pun, ia melemparkan seluruh kenangan obsesif itu ke dalam api. Lidah api segera menyambar, melahap wajah sketsa Arthur hingga menghitam dan hancur menjadi abu. Kirana menatap nyala yang menari di depan matanya. Rasa lega yang luar biasa mengalir di dadanya saat menyaksikan “cinta buta” itu hangus terbakar.

“Selamat tinggal, Pangeran Arthur,” ucapnya dingin, seolah melafalkan mantra pengusir setan. “Sekarang kau boleh bersama Elena. Dan mulai detik ini, Valeriana de Vallas tidak akan lagi menjadi pengagum bodohmu.”

Ia mengembuskan napas pelan.

“Aku memilih Kael.”

Nama itu terucap lembut di bibirnya. Kael—suaminya yang kaku dan canggung, namun bertanggung jawab. Pria yang tadi menyantap steak dengan hati-hati, tetapi tetap menghabiskannya. Pria yang tangannya terluka demi menjemputnya.

Kirana berpaling dari perapian. Tekadnya kini mengeras, seteguh baja. Ia tak akan membiarkan Kael mati. Ia juga tak akan membiarkan dirinya sendiri berakhir di bawah pedang penggal.

Ia melangkah menuju meja tulis di seberang ruangan. Ia membutuhkan rencana, bukan keberanian nekat, melainkan strategi yang matang.

Kirana duduk di kursi kayu, mengambil selembar perkamen kosong dan sebatang pena bulu angsa. Ujung pena dicelupkannya ke dalam tinta hitam.

“Oke,” gumamnya pelan. “Mari kita susun strategi perang.”

Tangannya mulai bergerak di atas kertas. Tulisannya sedikit berantakan. Ia belum terbiasa menggunakan pena bulu, berbeda jauh dengan pulpen atau pensil di dunianya dulu—namun masih dapat dibaca.

Di bagian atas kertas, ia menuliskan judul besar: MISI PENYELAMATAN NYAWA (DAN HATI)

*****

Nama pena : Lovely Pearly 

Genre : Fantasi, Transmigrasi

Platform: Good Novel

Editorial:

Buku ini menunjukkan satu hal yang jarang benar-benar terjaga dalam fiksi populer yaitu suara penulis yang tahu persis jarak antara ironi dan keseriusan. 

Narasi berjalan dengan kesadaran ganda, di satu sisi ringan dan nyaris jenaka dalam cara tokoh memandang situasi, di sisi lain menyimpan kegelisahan yang tidak diucapkan secara gamblang. 

Nada ini terasa konsisten, tidak tergoda untuk menjadi terlalu dramatis atau terlalu santai. Hasilnya adalah suara yang terdengar dewasa, karena ia tidak memaksa pembaca untuk merasakan, tetapi memberi ruang untuk menyadari.

Ritme kalimatnya bekerja dengan tenang namun terarah. Deskripsi ruang tidak hanya berfungsi sebagai latar, melainkan sebagai penegas suasana batin yang dingin dan terisolasi. 

Ada jeda-jeda kecil yang dibiarkan menggantung, terutama dalam interaksi singkat antar karakter yang memberi napas pada teks. 

Penulis tampak memahami kapan harus menahan, kapan harus membiarkan detail berbicara sendiri tanpa penjelasan tambahan. Ini menciptakan atmosfer yang stabil, tidak terburu-buru, namun tetap bergerak.

Ketegangan dalam bab ini tidak dibangun dari konflik terbuka, melainkan dari apa yang disadari tetapi belum dihadapi sepenuhnya. Ada rasa tidak nyaman yang halus, terutama ketika masa lalu dan identitas saling bertabrakan dalam ruang yang tampak sempurna. 

Penulis tidak menjelaskan konflik itu secara langsung, tetapi menanamkannya melalui benda, ingatan, dan respons kecil tokoh terhadap sekitarnya. 

Di sinilah buku ini terasa percaya diri,ia tidak merasa perlu membuktikan intensitasnya dengan ledakan emosi. Dari sisi tema, pendekatannya terasa lebih matang dibandingkan kebanyakan cerita sejenis. 

Transformasi identitas tidak diperlakukan sebagai gimmick, melainkan sebagai proses yang mengandung rasa malu, jarak, dan kesadaran diri. Ada lapisan refleksi tentang citra, harga diri, dan pilihan yang tidak disampaikan secara menggurui. 

Bahkan keputusan-keputusan yang muncul terasa lebih seperti konsekuensi logis daripada dramatisasi. Yang tertinggal setelah membaca bukan rasa penasaran yang dangkal, melainkan kepercayaan bahwa cerita ini memahami arah dan bobotnya sendiri. 

Buku ini seperti membuka pintu dengan perlahan tidak memaksa masuk, tetapi cukup untuk membuat pembaca ingin melangkah lebih jauh, karena ada kesan bahwa di baliknya terdapat dunia yang ditulis dengan kendali dan niat yang jelas.

By Peniti Kecil



2 Komentar

  1. Wah... suka nih ad cerita fantasi gini. nanti aku mampir ya Kak k GN...

    BalasHapus
  2. Baca cuplikannya keknya menarik banget deh nih buku.. Salut ma othor yg berhasil bikin tegang.. Seruuuuuu...

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama