Jalana Si Pengelana Mimpi - Chalz Aziotus

Jalana Si Pengelana Mimpi - Chalz Aziotus


0

"Ini benar-benar menyiksa! Berapa lama lagi kita sampai di puncak terkutuk ini?!" Rafli mengumpat.

Rafli, temanku sesama panitia malam keakraban (makrab) mahasiswa baru, yang awalnya sangat antusias, kini terus mencibir karena medan yang berat. Aku—Jalana, panitia sie outbound yang merasa seperti manusia tidak penting—hanya bisa menyeringai. Ini kali ketiga aku terpaksa menyeret kaki ke gunung batu ini demi acara organisasi kampus.

"Sabar, Pli. Ada alasan kenapa kamu harus sampai ke puncak," bisikku mengejek. Sebelum ia sempat membalas, Dewiduri—pemandu lain yang gemar mengunggah motivasi di media sosial—datang dan langsung menendang kaki Rafli serta memukul kepalaku.

"Lelaki kok manja! Kalian itu pemimpin, tidak pantas mengeluh!" semprot Dewi tegas. Tanpa menunggu balasan, ia melangkah maju memimpin gerombolan mahasiswa baru yang tampak seperti barisan daging siap panggang di bawah terik matahari.

Suasana makin panas saat para junior mulai ikut mengeluh, menyebut acara ini 'malam kesengsaraan'. Rafli yang tersinggung langsung membentak mereka, sementara aku menimpali dengan gertakan bahwa makrab akan diperpanjang seminggu jika mereka terus protes. Seketika, suasana hening. Dewi menengahi dengan tegas, menawarkan siapa pun yang tidak kuat untuk segera melapor dan turun.

Rombongan pun kembali bergerak, melewatiku yang tertinggal di barisan paling belakang. Sebagai panitia cadangan, aku bebas bergerak di posisi mana saja. Aku berdiri sendirian, menghela napas panjang melihat ekor barisan mereka menghilang di balik pohon besar.

Namun, seketika suasana berubah mencekam. Matahari yang menyengat tiba-tiba meredup, digantikan bayang-bayang abu yang dingin. Angin berembus ganjil, meremangkan bulu kudukku. Langkahku terasa berat, seolah tanah becek di bawah sepatu menyedot kakiku hingga mematung.

Kabut datang tanpa permisi, menyesakkan paru-paru dan memangkas jarak pandang. Aku ingin berteriak memanggil Rafli atau Dewi, namun suaraku tersangkut di kerongkongan. Dunia seolah melambat. Di tengah kesunyian yang tajam, terdengar derap langkah hewan besar yang diiringi dengungan memekakkan telinga.

Dari balik kabut, muncul sosok raksasa setinggi tiga kali ukuran normal. Wajahnya menyerupai rusa, tapi ini bukan kijang biasa. Itulah Kidjang Geni. Matanya menyala merah murka dengan tanduk bercabang tajam seperti tangan tulang yang ingin lepas dari kepalanya. Lebih mengerikan lagi, tanduk itu dikobarkan api merah yang menjilat udara, dilingkari sulur-sulur hitam yang mencabik kabut.

Di atas punggung makhluk buas itu, duduk sesosok penunggang misterius berjubah lusuh yang terbakar api kecil di beberapa titik. Hawa dingin yang luar biasa menyerang saat mereka mendekat. Seluruh tubuhku mati rasa, terkunci dalam kengerian yang tak masuk akal.

Tangan hitam sang penunggang menggapai kepalaku. Rasa sakit luar biasa menghantam, seperti dihujam palu godam. Perutku mual, kerongkonganku terasa terbakar oleh aroma pengar yang menjijikkan.

"Jalana..." Suara serak itu memanggil namaku, terdengar begitu hampa dan mengerikan.

Cengkeraman tangan hitam itu semakin kuat di kepalaku. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba berteriak meski hanya sunyi yang keluar. Seketika, pandanganku runtuh. Segalanya menjadi gelap, dan aku merasa tubuhku tertelan ke dalam pusaran lubang hitam yang tak berdasar.

*****

Nama Pena : Chalz Aziotus

Genre : Fantasi

Platform : max Novel

Editorial:

cerita ini sangat menarik karena berhasil menggabungkan suasana kegiatan kampus yang santai dengan unsur horor mistis yang mencekam. Cerita dimulai dengan dinamika antar-panitia makrab yang terasa sangat nyata dan lucu, membuat kita merasa dekat dengan karakter seperti Jalana, Rafli, dan Dewiduri. Namun, penulis dengan sangat cerdik mengubah suasana hangat tersebut menjadi kegelapan yang penuh teka-teki dalam sekejap mata.

Transisi saat Jalana tertinggal sendirian di barisan belakang menjadi titik balik yang luar biasa. Penulis mampu menggambarkan perubahan alam secara detail, mulai dari sinar matahari yang meredup hingga datangnya kabut yang menyesakkan paru-paru. Deskripsi ini membuat pembaca ikut merasakan kengerian yang dialami Jalana, seolah-olah kita ikut berdiri mematung di tengah gunung batu yang sunyi dan menyeramkan tersebut.

Munculnya sosok Kidjang Geni menjadi puncak ketegangan yang sangat mengesankan. Makhluk raksasa dengan tanduk api dan mata merah menyala ini memberikan nuansa fantasi gelap yang kental. Imajinasi pembaca benar-benar ditantang untuk membayangkan betapa mengerikannya sosok kijang tersebut, ditambah lagi dengan kehadiran penunggang misterius yang membawa aura dingin sekaligus menyakitkan.

Konflik batin dan fisik yang dialami Jalana saat kepalanya dicengkeram oleh tangan hitam sang penunggang membuat bab ini berakhir dengan sangat dramatis. Rasa sakit yang digambarkan seperti dihujam palu godam memberikan efek kejutan yang kuat. Akhir cerita yang menggantung ini dipastikan akan membuat siapa pun yang membacanya merasa penasaran dan ingin segera membaca cerita selanjutnya untuk mencari jawaban.

Kisah fantasi yang penuh imajinasi ini adalah karya dari Chalz Aziotus. Penulis satu ini memiliki keahlian khusus dalam meramu cerita fantasi dengan bumbu lokal yang terasa sangat kental dan orisinal. Gaya bahasa Chalz Aziotus yang lugas namun kaya akan gambaran visual membuat setiap adegan dalam ceritanya terasa hidup dan mampu menyihir pikiran para pembaca setianya.

Bagi kalian yang menyukai petualangan di dunia penuh keajaiban dan kengerian mistis, "Kidjang Geni" adalah pilihan yang sangat tepat di platform MaxNovel. Cerita ini bukan hanya tentang mendaki gunung, melainkan tentang pertemuan tidak terduga dengan rahasia kuno yang bisa mengubah segalanya. Jangan lewatkan kelanjutan perjalanan Jalana dalam menghadapi takdir misteriusnya bersama Chalz Aziotus.

By Nada Maya



2 Komentar

Ulasan buku

  1. Bagus ceritanya cuman agak terlalu puitis ga sih untuk jokes jokes receh tadi? Soalnya lucu jokesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak udah mampir. Hhe iya masih terlalu baku bahasanya. Semoga bab-bab selanjutnya udah mulai dengan bahasa yg lebih kekinian kak. Makasih sarannya 🥰

      Hapus
Lebih baru Lebih lama