Ajian di Balik Daster - Lyren Kael

 

Ajian di Balik Daster


"Selamat jalan, Nek..." ucapnya lirih terbata. 

Tetangga-tetangga yang ikut barisan, beberapa menyeka air mata, beberapa hanya diam menunduk. Suara pacul, tanah, dan doa bergabung jadi satu irama sedih yang menggantung di udara.

Raga menunduk ketika tanah mulai menggunduk menutupi peti. Tangannya gemetar sedikit, ikut melempar tanah, tapi ia berusaha kuat. 

“Maaf, Nek… aku janji bakal terus jalan,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Di tepian lainnya, seorang wanita berdiri. Kinten, wanita dewasa kembang desa di kampung Raga, ia berkabung tapi tetap memancarkan aura lembut yang bisa menenangkan siapa pun. Rambut hitam sebahunya dikuncir rapi, matanya hangat, tapi jelas prihatin. Ia mendekat pelan, meletakkan tangannya di bahu Raga.

“Rag… kamu nggak sendirian, kok,” suaranya lembut. “Aku tahu, rasanya…ini berat.”

Raga menoleh, menatapnya, tersenyum tipis tapi sendu. 

“Neng… makasih, ya. Maksudnya…mau hadir di sini, bikin aku nggak cuma ngerasa kosong sendirian.”

Kinten menepuk bahu Raga lagi, memberi sedikit dukungan yang cukup untuk menenangkan gelombang emosi yang mau meledak.

Setelah acara pemakaman selesai, dan sebagian besar tetangga sudah pulang, Raga kembali ke rumahnya. Rumah reyot itu semakin terasa hampa, nenek gak ada, tapi masih ada aroma kopi lama, kayu yang hangat dan kapur barus. 

Di meja makan, ia baru tersadar ada amplop cokelat kecil, tulisan tangan neneknya di bagian depan, "Untuk Ragaku". 

Raga membuka perlahan. Di dalamnya, ada beberapa lembar kertas, tulisan nenek ternyata masih rapi meski goresannya terlihat tua dan bergetar, masih lebih bagus dari tulisan anak zaman sekarang yang biasa nulis pake hp. 

“Raga, Cucuku… jika tugas nenek udah selesai, artinya nenek udah mati, ingat ini, jangan hanya cari rezeki dari apa yang mudah. Cari yang membuatmu bangga, yang bikin hatimu nyaman, yang bikin dunia ini terasa lebih hangat. Cari istri yang cantik, seksi dan baik hati biar kamu betah di rumah, gak jajan di luar. Kamu udah waktunya. Nenek selalu percaya kamu. Sertifikat rumah ini dan sepetak tanah di belakang ada di lemari nenek. Jaga baik-baik warisan gak seberapa ini, tapi bisa nolong hidupmu.”

Raga menelan ludah, matanya panas. Ia memegang surat itu, seolah neneknya masih di sampingnya, menatap, tersenyum, memberi izin untuk terus maju.

"Cari rezeki yang bikin bangga...nyaman..." gumamnya berhenti sesaat, "...maksud nenek sabung ayam...?"

Di sela sedihnya, ia masih bisa nyengir.

"Markir juga nyaman, Nek. Serasa punya banyak motor ama mobil, plus bonus minimarketnya. Kalau diambil, gak sakit ati, beda sama motor lising, kalo diambil debt collector bikin jantungan."

Jelas gak ada suara balasan dari nenek. Tapi jika nenek beneran masih ada, kepalanya pasti udah kena jitak pake irus sayur. 

Raga melengos ke belakang, daster bolong nenek masih melambai di jemuran tertiup angin sepoi. Daster yang jadi seragam wajib nenek hampir separuh hidupnya dalam melaksanakan tugas negara, memijat klien salah urat, otot kecapekan, dan yang iseng ingin dielus-elus. 

Ia meraihnya, melipatnya rapi lalu disatukan sama surat wasiat nenek. 

"Daster ini udah berjasa menghidupi nenek dan aku sejak kecil. Sekarang gantian aku akan merawatmu sepanjang hidupku," ucapnya terus menciumi daster itu lama.

"Masih bau nenek...bau minyak tawon," gumamnya nyengir. 

Di luar, angin menghembus pelan, menyapu daun-daun kering dan menyelip masuk lewat celah-celah rumah. Ia menatap jendela, menatap langit, dan tersenyum tipis. 

“Tenang, Nek… aku bakal jalanin. Janji deh.”

Mendadak, suara Kinten dari halaman belakang terdengar memecah kesunyian, nyelonong masuk sambil bawa makanan sekresek. 

“Rag… ayo makan dulu, laper, kan? Aku temani kamu sebentar. Biar nggak kesambet.”

Raga menoleh, hatinya seketika anyep, rezeki nomplok datang. 

"Eh, Ten...bukan COD kan? Gak bisa bayar, amplop layatan belum kuitung."

"Hari ini gratis, besok bayar," candanya sambil ambil piring dan naruh nasi padang rendang di atasnya. 

"Wuihh...tau aja kesukaanku, Ten. Kamu gak makan. Mau kudulang?" 

"Apaan sih, Rag. Aku udah tadi. Buruan, entar basi," godanya membalas kecut. 

"Emang ini nasi kapan, Ten. Kemarin?" 

"Enggaklah, masak kemarin," sanggahnya membulat matanya, makin cantik wajahnya. 

"Nah kan, bener 'masak' kemarin..." sahutnya kepotong Kinten cepat. 

"Bukan gitu maksudnya, Rag...itu nasi barulah..." kilahnya sambil nampol punggung Raga agak keras. 

"Aduh...kita belum nikah, kamu udah KDRT..." 

"Ragaaaa...goda mulu..." cemberut mukanya, kali ini tambah nyubit tangan Raga sampai sendoknya jatuh.

KLUNTING!!! 

"Wah...galak bener."

Spontan merasa bersalah, Kinten menunduk mengambil sendok itu di depan Raga, belahan dadanya yang montok terlihat jelas di mata Raga, terbungkus kain elastis berenda berwarna pink. Mata Raga melebar. 

"Hm...hidangan penutup yang segar," gumamnya menelan ludah. 

"Bilang apa kamu?" ujarnya menyadari udah kecolongan, buru-buru tangannya menutup celah bajunya yang menjuntai setelah meletakkan sendok di atas nasi padang yang sisa setengah. 

"Enggak...kok. Eh, sendoknya kok langsung ditaruh. Kotor kali," celetuk Raga. 

"Gapapa, nambah gizinya," sahutnya setengah ketus, meski hatinya merasa...

Author: Lyren Kael

Platform: MaxNovel

Editorial:

Novel berjudul "Ajian di Balik Daster" ini sejak halaman awal sudah menegaskan sikapnya: ia tidak sedang mengejar simpati, apalagi melodrama. Suara penulisnya, Lyren Kael tegas, sadar kelas, dan sengaja membiarkan kekasaran hidup tampil apa adanya. Dialog kasar, humor getir, dan detail keseharian yang tampak sepele justru bekerja sebagai fondasi kejujuran. Ini bukan kemiskinan yang dipoles agar tampak puitis, melainkan realitas yang dibiarkan bernapas dengan caranya sendiri.

Ritme kalimatnya lincah tapi tidak ceroboh. Ada percepatan di adegan publik, seperti: parkiran, ejekan, benturan ego, lalu melambat ketika cerita masuk ke ruang domestik: rumah reyot, nenek, radio tua, daster yang menggantung. Perpindahan ini tidak dijelaskan, hanya dirasakan. Lyren Kael paham betul bahwa emosi paling kuat sering lahir bukan dari peristiwa besar, melainkan dari jeda kecil setelahnya.

Yang menarik, bab ini menahan banyak hal. Amarah Raga tidak diledakkan. Kesedihannya tidak diratapi. Bahkan elemen ganjil: radio, sumur, daster, tidak dipaksa menjadi simbol dengan garis tebal. Semuanya dibiarkan ambigu, seperti hidup itu sendiri. Ketegangan justru muncul dari apa yang tidak diberi nama, dari janji-janji kecil yang diucapkan setengah bercanda, setengah putus asa.

Secara tematik, novel ini bicara tentang martabat, tentang bagaimana seseorang tetap menjadi manusia utuh di tengah sistem yang meremehkan. Tidak ada khotbah, tidak ada kalimat besar tentang nasib atau takdir. Yang ada hanya laku sehari-hari, humor sebagai mekanisme bertahan, dan relasi antarmanusia yang rapuh tapi nyata. Kedewasaan teks ini terletak pada keberaniannya untuk tidak menjelaskan segalanya.

Bab pembuka ini meninggalkan kesan yang sunyi namun membekas. Ia seperti mengajak pembaca masuk tanpa menjanjikan hiburan instan, melainkan sebuah perjalanan yang jujur dan sabar. Novel ini memberikan sinyal kuat: ia ditulis oleh penulis yang tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. Itu saja sudah cukup untuk membuat pembaca serius ingin melangkah lebih jauh mengeksplor novel ini.

By: Peniti Kecil


Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama