Beam: Kembalinya Viyan Si Pembalap - Hayyi Ze

 

Beam: Kembalinya Viyan Si Pembalap - Hayyi Ze


Angin malam berhembus kencang, tak lupa dengan suhu yang sangat dingin di tengah malam. Angin itu seolah-olah ikut terseret tak mau kalah oleh laju keempat mobil yang kini memasuki bagian tanjakan bukit Arunika.

Kelokan demi kelokan terasa semakin rapat, sempit, tak satu pun mobil ingin memberikan celah untuk lewat.

Di belakang, Viyan masih berupaya terus-menerus menghalangi Drake. Gerakannya presisi namun sengaja dibuat sedikit lebar agar RX-8 itu tidak bisa menyalipnya. Jangan sampai ada celah sedikitpun.

“Seriusan nih bocah…” Drake mendesis.

Setiap kali ia hendak menusuk dari sisi dalam, GR Supra itu langsung menutup ruang. Setiap kali ia mencoba dari sisi luar, Viyan sengaja mengatur drift yang membuat ban belakangnya memakan sebagian jalur, menutup kemungkinan menyalip.

"Bocah keras kepala.." Drake mengakui kegigihan Viyan dalam menghalanginya. Drake pun tak akan menyerah semudah itu.

Drake terus mengekori Viyan dari belakang tak mau ketinggalan dan menunggu kesempatan itu tiba. Ia tahu kenekatan Viyan yang seperti ini pasti ada batasnya.

Dan batas itu tiba di depan mereka, yaitu tikungan yang hampir 90 derajat, tikungan yang sama yang hampir membuat Ares terjun bebas ke jurang.

Drake berpikir akan mengambil kesempatan saat Viyan menurunkan kecepatannya sebelum tikungan itu.

Tapi...

Drake spontan menahan napas.

“Yan... jangan bilang lu… masih mau ngebut juga di sini!?”

Namun benar saja. Viyan tidak menginjak rem seagresif yang seharusnya. GR Supra itu masih meraung, kecepatan tinggi dipertahankan sampai detik terakhir. Terlalu cepat untuk ukuran tikungan seganas itu.

“WOI! Lu gila apa?!” Drake berteriak sendiri di dalam mobilnya. Ingin rasanya Drake mengeluarkan kepala dari jendela dan memanggil bocah nekat itu agar sadar apa yang sedang ia lakukan.

Viyan sempat melirik spion sebentar, wajahnya masih terlihat santai, seperti bukan sedang balapan. Namun jantungnya sudah berdebar kencang. Ini dia adrenalin yang dia tunggu-tunggu.

Memasuki tikungan patah itu, Viyan memutar setir dengan gerakan halus. Ia sengaja membuat bagian belakang mobilnya sedikit selip, tapi tetap terkontrol penuh. Ban belakang Supra langsung membuang ke kanan, dan mobil itu meluncur dalam drift yang teratur, seperti sudah diatur dari jauh-jauh hari.

Ekspresinya tak berubah banyak, hanya bibirnya yang terangkat sedikit. Membentuk senyum kecil penuh percaya diri.

Ia mengingat kembali tikungan yang pernah dia buat jadi mainan ini lima tahun lalu. Memang sudah berubah, tinggal disesuaikan saja dengan apa yang sudah dia pelajari kemarin. Sudutnya, kemiringan jalannya, bahkan tekstur aspal yang agak kasar di bagian tertentu.

Ada tonjolan kecil di dekat sisi dalam tikungan yang sekarang membantu ban Supra menggigit permukaan jalan dengan lebih kuat. Menyempurnakan pengalaman dengan pengetahuan baru. Terimakasih, Danish. Malam ini Viyan dapat memanfaatkannya dengan sempurna.

GR Supra itu meluncur mengikuti bentuk tikungan dengan sangat mulus. Tidak ada hentakan, tidak ada goyangan liar, dan tidak ada momen di mana mobil hampir kehilangan kontrol. Yang ada hanyalah suara mesin yang menderu, ban yang berdesit, dan gerakan mobil yang terasa seperti tarian yang sudah lama tidak ia lakukan.

Untuk sesaat, Viyan merasa seolah dunia  hanya ada dirinya, mobilnya, dan tikungan itu. Dan semuanya berjalan tepat seperti yang ia inginkan.

“...Gila—” Drake kehilangan kata-kata.

Ia refleks mengerem sedikit lebih awal, takut mengulangi tragedi Ares. Ia juga tak cukup gila untuk mengikuti kenekatan Viyan.Ia tak bisa meniru sembarangan. Ketika ia keluar dari tikungan, ia melihat Viyan sudah menjauh beberapa meter di depannya.

“Bocah ini… sehebat itu rupanya huh…” Drake terkekeh, dirinya merasa antara kagum dan kesal sekaligus. 

Viyan kini mengekor tepat di belakang Ares. Lampu rem Audi S3 itu berkedip-kedip tak tentu, menunjukkan betapa gugupnya si pemiliknya.

Ares masih kebakaran jenggot setelah disalip Yukti. Kini ditambah pula ada penampakan GR Supra yang menyusulnya. Tanpa ragu-ragu mobil itu langsung menempel padanya seperti penguntit tak tahu malu.

“Lu jangan mimpi ya! Gak bakal gue kasi lewat!” Ares menggertakkan gigi.

Jalanan mulai melebar. Ares melihat kesempatan dan mencoba berpindah-pindah jalur, mencari celah untuk mengejar Yukti yang sudah semakin jauh.

Tapi setiap kali Ares mencoba membuka ruang, Viyan langsung mengikuti gerakannya. Akibatnya, Audi milik Ares tidak pernah punya jalur yang bagus untuk mempercepat atau mengambil tikungan dengan benar.

Kesal, Ares akhirnya menyerah untuk mengejar posisi pertama.

"Kalo om tua itu gak mau ngasi jalan, ya udah! Gue jadi nomor dua aja!" Teriak Ares dalam mobilnya sendiri. "Gak bakal gue biarin bocah belagu itu lewat!"

Ares akhirnya mengubah tujuan. Ia berhenti mengejar Yukti dan kini hanya ingin mencegah Viyan menyalipnya. Audi S3 itu mulai bergerak defensif, menutup jalur yang seharusnya bisa dipakai Supra untuk lewat.

Di belakangnya, Viyan menarik napas panjang.

“Kenapa sih sekarang hidupku dikelilingi orang aneh..." Viyan bergumam.

Kalau dipikir-pikir, semua terjadi sejak kejadian malam itu. Mobilnya yang tiba-tiba dimasuki orang asing, di todong pistol untuk membawa mereka kabur dari kejaran polisi.

Viyan kembali tersenyum.

Yah, karena kejadian itu juga dirinya kini bisa kembali balapan. Entah apakah Viyan harus berterimakasih pada mereka atau mengutuk mereka? Keduanya.

Viyan kembali lagi fokus pada mobil merah di depannya itu.

Dari cara Ares mengemudi, Viyan tahu kalau pria itu mulai panik. Alih-alih fokus mempertahankan posisi dengan tenang, mobil Ares justru sering goyah setiap keluar tikungan. Jelas pikirannya bukan lagi soal balapan tapi hanya soal menjaga gengsi.

Dan tipe lawan seperti itu… justru paling gampang ditebak gerakannya..

Rumah mewah di puncak bukit mulai terlihat dari kejauhan. Itu tanda balapan sudah memasuki pertengahan, mereka sudah hampir tiba di puncak.

“Sekarang,” gumam Viyan.

Ia mendekat, sangat dekat, cukup membuat Ares merasa seperti ekornya ditarik oleh Supra. Perbuatan Viyan itu membuat Ares tambah panik.

Ares melirik spion. “Jangan macam-macam! Gue tahu trik—”

Terlambat.

Viyan melakukan sedikit gerakan menipu. Ia sengaja mengarahkan moncong mobil sedikit ke kanan seakan hendak menyalip dari luar. Ares menggigit umpan, refleks memotong jalur ke kanan untuk menutup ruang.

Padahal itu bukan tujuan sebenarnya.

Dalam sepersekian detik sebelum tikungan, Viyan membalikkan setir dan menusuk ke sisi dalam, jalur yang sekarang dibiarkan terbuka lebar oleh Ares yang salah baca situasi.

“SIALAN ANJ—!” pekik Ares.

Mereka berdua masuk ke tikungan pada waktu yang sama. Saat mencoba drift, mobil Ares kehilangan keseimbangan. Ia terlalu banyak membalikkan setir, membuat gerakan mobil jadi berlebihan. Akibatnya, ban belakangnya selip lebih jauh dari yang ia kira.

Dan itu cukup.

GR Supra melesat keluar tikungan duluan, berhasil mendahului Audi dengan mulus.

Drake yang sudah semakin dekat dari belakang melihat peluang baru. Karena mobil Ares mulai goyah, jalur Drake justru menjadi lebih stabil. Tanpa ragu, ia memanfaatkan celah itu dan menyalip Audi S3 dari sisi luar.

Ares hanya bisa melotot ketika dua mobil yang tadinya di belakang kini menerobos melewatinya begitu saja.

“SIALAAAN!!” teriaknya sambil memukul setir berulang-ulang. "Kenapa bisa jadi gini!!"

Suara mesin RX-8 dan Supra makin menjauh, tanpa sedikit pun melihat ke belakang.

Sementara itu, jauh di depan mereka, Yukti masih memimpin. Tapi sekarang ada dua pembalap yang mulai mengejarnya.

Viyan, yang baru kembali menemukan ritmenya…

dan Drake, yang darah kompetitifnya mulai memanas.

Balapan di puncak bukit baru benar-benar dimulai.

***

Rintik kecil tiba-tiba jatuh dari langit.

Awalnya hanya satu-dua, hampir tidak terdengar di tengah raungan mesin. Namun dalam hitungan detik, hujan tipis mulai turun lebih merata, membasahi kaca depan, kap mobil, dan permukaan jalan yang tadi kering sempurna.

Drake langsung mengerutkan kening.

“Hujan? Seriusan? Jam segini?”

Seharusnya malam ini cerah. Ramalan cuaca jelas mengatakan tidak akan ada apa pun. Namun itu semua hanya prediksi. Apa yang terjadi di lapangan tentu bisa saja berubah.

Narel menatap langit malam yang gelap itu dengan wajah datar. Sedangkan Rania dalam hatinya terus memohon, agar Viyan dapat memenangkan balapan ini.

Author: Hayyi Ze

Platform: Maxnovel

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama