KONTRAK NAGA HITAM (BLACK DRAGON CONTRACT) - Winda Sukmawa

Kontrak Naga Hitam


Genre: System, Action, Mafia, Crime Politics, Dark Comedy
POV: Orang Ketiga (Limited)
Tone: Kasar, Cepat, Informal (Lo-Gue), Dialog-Heavy.
***


SERI 1: KEBANGKITAN NAGA HITAM
Bab 1: Darah di Dermaga 4

Langit New York malam ini seolah ikut meludahi nasib Marco Rossi. Port of New York and New Jersey: kawasan pelabuhan yang luas di sekitar mulut Sungai Hudson, yang dikelola oleh Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey (PANYNJ). Hujan deras mengguyur Dermaga 4, mencampur bau amis laut dengan bau besi karat dan anyir darah. Apa yang salah dengan mimpinya: Dia hanya ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Menikmati kebahagian sederhana bersama Maria dan Sofia, walau profesinya hanya sebagai buruh kasar pelabuhan. Sampai insiden itu datang.

BRAAKKK! 

Tubuh Marco terpental, menubruk peti kemas yang berjejer di sudut pelabuhan. Pelipisnya mengeluarkan darah segar akibat benturan keras.

"Maaf, Boss… gue belum ada uangnya," ucap Marco mengiba, "Gaji gue masih tertahan, kasih gue waktu lagi Boss," sembari menahan rasa sakit di pelipisnya.

"Hei bego, mana bisa seenak jidat lo! Apa lo pikir cuma keluarga lo yang butuh makan, hahh!" bentak Rizyo, "Lo anggap Boss gue seorang dermawan gitu? Boss gue rentenir, Goblok!"

"Jangan banyak bacot, dikasih hati malah minta jantung lo!" teriak Tony, "Udah kelamaan, kita hajar pecundang satu ini Zyo!"

DAGH! BRAKK! BAMMM!

"Arrrgh…!"

Marco terjungkal, mulutnya menyentuh aspal beton. Tubuhnya basah oleh genangan air hujan bercampur darah yang mengalir.

"Cukup!"

Rizyo dan Tony menoleh ke arah perintah suara yang begitu dominan.

"Seret dia! Jangan sampai mati dulu, bodoh! Gue mau dia dalam kondisi sadar pas air garam masuk ke paru-parunya!"

Suara itu terdengar mengancam, berat, serak dan penuh ketidakpuasan, Vinnie "The Shark", bos rentenir yang menguasai wilayah pelabuhan.

Marco merasakan punggungnya terbakar perih saat diseret di atas beton kasar pelabuhan. Kemeja putih murahannya sudah tak berbentuk, robek di sana-sini, basah oleh campuran air hujan, lumpur, dan tetesan darahnya sendiri.

"Uugghh..." Marco mencoba mengerang, tapi yang keluar hanya buih merah darah dari mulutnya. Rahangnya terasa longgar, mungkin retak. Satu matanya bengkak total, menyisakan pandangan buram dari mata kiri yang juga nyaris tertutup.

"Berhenti!" perintah Vinnie.

Cengkraman di kerah baju Marco terlepas. Tubuhnya dihempaskan begitu saja di genangan air kotor.

"Bangun! Bajingan," suara lain menimpali. Tony, tangan kanan Vinnie yang punya hobi main pisau, "Bos bilang bangun!!"

Sebuah tendangan keras mendarat di rusuk Marco.

KRAAKK!

"ARRGGHH!" Marco terbatuk, memuntahkan darah segar ke sepatu kulit mahal milik Tony.

"Anjing! Sepatu gue, bangsat!" Tony berteriak, siap melayangkan tendangan kedua, tetapi Vinnie mengangkat tangan.

Vinnie mendekat, berjongkok di depan Marco. Wajahnya yang berminyak diterangi lampu sorot pelabuhan yang remang-remang. Dia tersenyum, memperlihatkan gigi emasnya yang menjijikkan.

"Liat kondisi lo sekarang, Marco," kata Vinnie pelan, seolah bicara pada kawan lama. Dia menjambak rambut Marco, memaksanya mendongak, "Buruh pelabuhan rendahan. Suami yang gagal. Bapak yang menyedihkan. Lo mau tau, kenapa lo bisa berakhir kayak gini?!"

Marco meludah, "Cuiiiih!" campuran ludah dan darah mendarat tepat di pipi Vinnie.

Hening sejenak. Hanya suara hujan yang menghantam kontainer besi.

Para anak buah Vinnie menahan napas.

Vinnie tidak marah. Dia malah tertawa. Tawa yang kering dan mengerikan. Dia menyeka ludah itu dengan sapu tangan sutra, lalu…

BAMMM!!

Satu pukulan straight menghantam hidung Marco. Bunyi tulang patah terdengar nyaring, "Aarrgghh…!"

"Karena lo goblok!!" desis Vinnie tepat di telinga Marco yang berdenging, "Lo minjem duit sama gue… buat bayar utang judi adek lo yang tolol itu. 50 ribu dolar, Marco. Dan sekarang? Ini sudah lewat seminggu dari jatuh tempo, goblok!"

"Gue... gue bakal bayar..." Marco memaksakan suara keluar dari tenggorokannya yang bengkak, "Kasih... waktu..."

"Waktu?! Satu minggu masih belum cukup, hahh?!" Vinnie berdiri, merentangkan tangannya ke arah laut gelap di ujung dermaga, "Waktu lo udah abis sejak matahari terbenam tadi, Sobat. Dan lo tau peraturannya kan?" ada jeda sejenak lalu,  "Oke. Tony, Rizyo, angkat sampah sialan  ini!"

Dua pasang tangan kekar mencengkeram lengan Marco. Dia diseret paksa menuju ujung dermaga. Kakinya terseret tak berdaya.

"Jangan... Vinnie, tolong," Marco memohon, bukan demi nyawanya sendiri, tapi bayangan wajah Maria dan Sofia melintas di kepalanya. Kalau dia mati disini, siapa yang menjaga mereka? Hutang itu akan jatuh ke istri dan anaknya, "Istri gue... anak gue..."

"Oh, jangan khawatir soal Maria," Vinnie menyeringai cabul, "Janda muda, cantik, bodinya masih kenceng. Gue yakin banyak yang mau bantu dia ngelunasin utang lo. Mungkin gue sendiri yang bakal sering mampir kesana! Ha… ha… ha…"

Gelak tawa para preman itu meledak di tengah hujan.

Darah Marco seketika mendidih. Amarah yang luar biasa menyembur di dadanya, tapi tubuhnya sudah hancur. Dia mencoba memberontak, tapi Tony hanya memutar lengannya yang patah. Marco menjerit tertahan.

Mereka sampai di bibir dermaga. Di bawah sana, air laut hitam bergejolak, dingin membekukan. New York di musim dingin bukan tempat untuk berenang. Hipotermia akan membunuhnya sebelum dia sempat tenggelam.

"Apa ada pesan terakhir?" tanya Vinnie sambil menyalakan rokok, melindungi api dari rintik hujan dengan tangannya, "Atau lo ingin langsung aja check-out?!"

Marco menatap Vinnie dengan satu mata yang tersisa. Tatapan penuh kebencian murni. Namun dengan kondisi tubuh yang tak berdaya.

"Persetan... sama lo, dasar bangsat!" bisik Marco.

Vinnie mengedikkan bahu, "Oke! Cemplungin!!"

Tony dan Rizyo mengayunkan tubuh Marco.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga! Dah, Loser!"

WHUUUSSSSHHHH.

Tubuh Marco melayang…

Marco melihat langit gelap. Dia merasakan gravitasi menariknya ke kematian. Maafkan gue, Maria… Maafkan Ayah, Sofia… karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang terbaik. Maaf juga gue belum sempat membahagiakan kalian.

Marco babak belur, dihajar habis-habisan. Siapa yang menyangka, masalah yang dibuat oleh adiknya membuat Marco harus menerima nasib buruk. Dia hanya berniat membantu sang adik menyelesaikan masalahnya.

Meminjam uang pada orang yang salah, untuk melunasi hutang judi… sebuah hal yang sia-sia. Sungguh nasib seseorang tiada yang tahu. 

Marco memejamkan mata, berharap semuanya hanya mimpi semata. Akan tetapi inilah realita kejamnya dunia. Siapa yang kuat itulah pemenang. Marco hanyalah pecundang, dia tak berdaya. Remuk redam dan tak punya harapan. Walaupun dia sudah berusaha. 

Waktu seolah melambat, hujan yang turun terasa terhenti di udara.

Dingin…

Bukan dinginnya air laut. Tapi rasa dingin yang aneh.

Tiba-tiba, di depan retina matanya yang rusak, sebuah cahaya biru menyala. Terang, tajam dan digital. Sebuah layar transparan melayang di udara, mengikuti pandangannya yang jatuh.

[SISTEM TERDETEKSI]
[KONDISI INANG: KRITIS (HARAPAN HIDUP: 2%)]
[KERUSAKAN FISIK: MULTIPLE FRACTURES, INTERNAL BLEEDING]

Marco pikir dia sudah gila, Apa ini?! Halusinasi otak gue yang mau matikah?

Tulisan di layar itu berubah dengan cepat.

[ANDA AKAN MATI DALAM 0,5 DETIK SETELAH BENTURAN AIR.]
[APAKAH ANDA INGIN HIDUP?]

[Y / N]

Marco tidak mengerti. Dia tidak peduli ini sihir, teknologi, atau setan sekalipun. Vinnie masih tertawa di atas sana, "Maria dalam bahaya dan Sofia masih butuh seorang ayah," pikiran itu terus melintas dalam benak Marco.

Marco tidak mau mati. Dan dia tidak boleh mati.

Dalam benaknya, Marco berteriak sekeras-kerasnya: YES!

Tangannya yang melayang di udara secara refleks mencoba menggapai tombol "Y" yang bercahaya itu.

Jari telunjuknya yang patah menyentuh cahaya biru tersebut. Klik.

[KONFIRMASI DITERIMA.]
[MENGAKTIFKAN PROTOKOL: MODE HIDUP.]
[PERINGATAN: PROSES PENYATUAN AKAN SANGAT MENYAKITKAN.]

BYUURRR!

Tubuh Marco menghantam permukaan air es.

Gelap.

Dingin menusuk tulang.

Air asin langsung masuk ke hidung dan mulutnya. Marco tenggelam_

***

Author: Winda Sukmawa, S. P. 
Platform: Mega Novel

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama