Kebangkitan Raja Naga Terakhir - Aina

 

Kebangkitan Raja Naga Terakhir

Bab 20: Pusaka Penentu

“Mas Zyan, itu… itu tadi apa? Kau… kau bilang kau Zyan Putra anak siapa tadi?” Suaranya terpotong-potong di tengah lari, penuh keraguan dan ketakutan.

“Nanti, Jena! Sekarang jangan lepaskan tanganku!” Zyan mendesis, matanya tetap ke depan. 

SREK! SREK!

Di belakang, terdengar suara robekan yang menggigit telinga, dimensi kecil yang terbelah. Rian dan Raditya sudah tidak peduli lagi pada kehati-hatian. Mereka memanfaatkan kekuatan naga secara penuh untuk mengejar mangsanya.

“Peluk tubuhku, Jena. Kita harus cepat pergi dari sini.” teriaknya sembari, menoleh kepada Jena 

Jena mengangguk pelan, mempererat pelukannya dengan percaya kepada Zyan.

Begitu mencapai sepeda motor, Zyan dengan cepat menyalakan mesin. Mesin bergemuruh, lalu melesat ke jalan raya yang ramai. 

Tepat saat itu, Rian dan Raditya muncul di gerbang taman, mata mereka menyala merah menyala, dikuasai amarah karena rencana ritual mereka hancur berkeping-keping.

“Sialan! Liontin itu sudah aktif sepenuhnya! Dia bukan lagi setengah naga!” Raditya menghentakkan kaki ke aspal.

Rian, meskipun biasanya lebih tenang dan cerdas, kini dikuasai kepanikan. “Dia harus dihancurkan! Jika liontin asli itu sudah menyatu, kita tidak bisa lagi menggunakan Jena untuk menarik perhatian raja iblis. Kita semua akan gagal, dan kita juga harus menyematkan nyawa Arkana!”

Zyan melaju kencang, menembus lampu lalu lintas tanpa ragu. Dia tahu kecepatan sepeda motor tidak akan cukup untuk melarikan diri dari naga. 

Tanpa ragu, dia mencabut pusaka kembarnya, dua belati kecil yang menyala lembut, dan mengalirkan energi liontin ke dalamnya sebelum melemparkannya ke udara di belakang.

Pusaka kembar itu berputar cepat, tidak melukai siapa pun, tetapi menciptakan gelombang kejut energi biru gelap. Gelombang itu menghantam jalanan, merusak lampu-lampu jalan di belakang, dan menciptakan ilusi bayangan yang membingungkan indra naga Rian yang sedang mengejar.

“Dia menggunakan pusaka kembar sebagai pertahanan dimensional!” Rian teriak kesal. “Dia belajar dari Abdul! Pria tua itu yang selalu mengganggu rencana kita!”

Jena memeluk Zyan erat di belakang, badannya gemetar hebat. Malam ini, dia telah melihat lebih banyak daripada seluruh hidupnya,  pria yang dia cintai ternyata memiliki energi seperti sisik naga, pusaka kuno yang diturunkan dari orang tuanya, dan bahkan dosennya sendiri yang mengejar mereka sebagai pelaku kejahatan.

“Mas Zyan, kita mau ke mana sekarang?” Suaranya tercekat, tertekan oleh ketakutan dan kebingungan.

“Ke satu-satunya tempat aman. Rumah Pak Abdul, dia orang baik yang bisa kukepercaya.” 

Zyan memutar setir tajam, membelok ke arah gang-gang sempit yang sempat dia amati sebelumnya, berharap bisa menghilangkan jejak Rian dan Raditya.

Tepat ketika Zyan mengira mereka sudah aman, Rian muncul di hadapan, berdiri di tengah lorong, memancarkan aura hitam pekat yang membuat udara terasa berat dan sulit dihirup. 

Seketika kemudian, Raditya muncul dari belakang, memblokir jalan pulang. Mereka terkepung.

Zyan mengerem mendadak, membuat motornya miring ke sisi. 

Dia meletakkan Jena di belakang motor, melindunginya dengan badannya walau tidak tahu berapa lama mereka bisa bertahan.

“Sudah cukup, Zyan!” Rian teriak, suaranya bergema dan mendominasi lorong sempit itu. “Kau pikir liontin itu membuatmu tak terkalahkan? Kau salah besar!”

Rian menunjuk Zyan dengan jari telunjuk. Energi hitam pekat melesat keluar untuk menyerang fisik, tetapi untuk menyerang pikiran Zyan sesaat.

WHUUM!

Zyan merasakan serangan mental yang menyakitkan, mencoba memaksanya mengingat trauma masa lalu. Dia melihat wajah orang tuanya Roy dan Alisa yang tewas dalam kecelakaan, bercampur dengan bayangan ayahnya yang samar. Raden Zerga, yang gagal melindungi ibunya, Aurel Rumie, sehingga musibah pembunuhan menimpa kerjaannya.

“Liontin itu racun naga! Kau tahu dari mana liontin itu berasal?” Rian tertawa dengan suara serak dan jahat. “Liontin itu adalah pusaka yang terikat dengan iblis! Ayahmu sialan itu, gagal melindungi ibumu karena peristiwa itu, dan rela mengorbankan segalanya untuk naga! Dan aku sebagai pamanmu serta Arkana dan Raditya sangat ingin merebutnya, agar kita bisa menguasai dunia, tapi sebelum itu kau harus mati!"

Zyan terhuyung, kepalanya berdenyut sakit. Rian memang pintar, dia menggunakan kelemahan emosional Zyan.

“Diam, Paman Rian! Liontin ini adalah kekuatanku! Ini milik kerajaanku! Jangan lancang kau membuat omongan yang tidak penting seperti itu!” 

Zyan teriak, mencoba mengusir ilusi yang diciptakan Rian, matanya memantulkan api kemarahan.

Dia memejamkan mata, membiarkan kemarahan dan tekad menyatu dengan energi liontin. 

Segera, energi biru safir meledak dari dadanya, membentuk aura tebal di sekelilingnya yang membuat rambutnya berdiri tegak. Lampu jalan di sekitar mereka meledak satu per satu, pecahan kaca terbang ke udara.

“Liontin ini adalah takdirku. Dan aku akan menggunakannya untuk menghancurkan kegilaan kalian! Aku tidak akan menyerah!”

Zyan mengeluarkan pusaka kembarnya lagi. Kali ini, belati itu tidak hanya memancarkan cahaya, tetapi juga berdenyut seperti dua jantung kecil yang hidup. Zyan menyatukan kedua belati, mengarahkannya ke depan dengan fokus pada Rian.

“Visi naga. Munculkan batas dimensi!” dia bisik pelan, suaranya penuh keyakinan.

Zyan tidak menyerang Rian secara fisik. Dia menyerang realitas di sekitarnya.

Energi yang keluar dari pusaka kembar yang menyatu itu adalah Gelombang Penghalang Dimensional. Gelombang itu melesat ke arah Rian dan Raditya bukan untuk melukai, tetapi untuk memotong dan mendistorsi ruang di sekitar mereka.

KRAK! KRAK!

Ruang di depan Rian dan Raditya tiba-tiba terbelah, bukan secara fisik, tetapi secara visual. Keduanya berteriak panik, karena realitas yang mereka kenal terasa hancur dan tidak stabil. Indra naga mereka terganggu total.

“Sial! Dia membuka dimensi lain! Liontin asli itu sudah aktif!” Rian berusaha menahan diri agar tidak terlempar.

Zyan tahu efek ini hanya sementara, mungkin hanya tiga puluh detik. Itu adalah waktu emas untuk menyelamatkan wanita yang dia cintai.

“Jena, kamu harus lari dari tempat ini, oke."

Zyan perlahan meraih bahu Jena, mencium keningnya sebentar, lalu mendorongnya sekuat tenaga ke arah lorong samping yang sempat dia lihat.

“Dengarkan aku. Lari sekarang ke rumah Pak Abdul! Cari perlindungan di sana! Aku akan menyusulmu!” Zyan teriak, suaranya serak karena memaksa energi.

Jena menatap mata biru Zyan yang kini penuh api naga, bukan lagi mata manusia yang dia kenal, tetapi mata seorang pemimpin yang siap berkorban untuknya.

“Tidak! Mas Zyan, jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau pergi tanpamu!” Jena menjerit, mencoba kembali ke arahnya.

“PERGI JENA!” Zyan bentak, membalikkan badannya dan kembali fokus pada Rian dan Raditya yang mulai keluar dari distorsi.

Rian dan Raditya, yang mulai pulih, mengerahkan kekuatan gabungan mereka. Mereka menciptakan cakar bayangan sebuah tangan energi raksasa berwarna hitam yang melesat ke arah Zyan.

Zyan, tanpa ragu, mengalirkan semua sisa energi liontin ke pusaka kembar yang menyatu. 

Dia mengarahkan serangan balasan yang mengerikan ke arah cakar bayangan itu.

BUMMM!

Tabrakan energi itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan semua jendela di lorong. 

Pusaka kembar berhasil membelah Cakar Bayangan, tetapi kelebihan energi yang dilepaskan membuat Zyan terhuyung, kepalanya berdenyut sakit parah.

“Kepalaku… pusing sekali… Aku harus gimana sekarang… Ssst…” bisiknya, tangan memijat keningnya erat.

Raditya melihat kesempatan itu. Dengan kecepatan naga yang tersisa, dia melompat ke arah Zyan dengan muka yang menggeram.

“Kau akan membayar mahal karena menghancurkan ritual kami, dasar sialan!” dia teriak.

Pusaka kembar terlepas dari genggamannya, dan liontin di dadanya meredup seketika seiring dengan napasnya yang semakin pelan.

Sebuah pukulan telak mengenai perutnya. 

BUGH! BUGH!

“Ugh…” Zyan terhuyung, pandangannya mulai kabur. 

Tepat sebelum kesadarannya hilang, dia mendengar suara jeritan Jena yang memanggil namanya, dan melihat wajah marah Rian yang penuh kemenangan.

“Kau tidak akan lolos, Zyan Putra!” Rian desis, mencengkeram liontin di dada Zyan yang kini terasa dingin.

Zyan ambruk ke tanah, bercucuran keringat dingin. Dia menoleh ke arah Jena yang terhenti di ujung lorong, diselimuti rasa takut dan putus asa, ia menggeleng pelan.

“Selamat tinggal, Jena… aku mencintaimu,” dia bisik pelan, lalu tersenyum manis meskipun wajahnya penuh kesakitan.

Lalu, sebuah bayangan hitam raksasa muncul dari dimensi yang sempat dibuka Zyan. 

Bayangan itu menyelimuti tubuh Zyan, Rian dan Raditya seketika, lalu menarik mereka, beserta tubuh Arkana yang pingsan karena Zyan, masuk ke lubang hitam yang muncul tiba-tiba.

Jena menyaksikan Zyan menghilang ditelan bayangan, tanpa jejak yang tersisa kecuali gang kosong dan dirinya sendiri.

“MAS ZYANNN! TIDAK!” teriak Jena, busur yang tiba-tiba ada di tangannya jatuh ke tanah. Matanya dipenuhi air mata yang membanjiri pipinya, dan dunia di sekitarnya terasa hampa dan sunyi.


Author: Aina (Jennie)

Platform: Maxnovel

Lanjut baca: 

https://update.max-culture.com/update/share/book.html?v=202410241100&bId=690ac3af2960e85a0d3d98e2&f=WhatsApp_share

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama