Bagi Jasmine Thearin—atau yang akrab dipanggil Mel, karena namanya memiliki arti Melati—usia tiga puluh lima tahun adalah sebuah persimpangan yang melelahkan. Setelah sepuluh tahun mengabdikan hidupnya sebagai koordinator operasional di tengah hiruk-pikuk Ibukota yang tidak pernah tidur, Mel memutuskan untuk berhenti. Dia pulang ke kampung halamannya di Malang, bukan untuk menyerah, melainkan untuk menemukan kembali dirinya yang hilang di balik tumpukan laporan kantor.
Mel membuka sebuah kedai teh minimalis di halaman depan rumah orang tuanya. Sebuah bangunan sederhana yang dibatasi pagar tanaman pucuk merah, tempat di mana aroma melati, oolong, dan teh hitam menjadi penguasa udara. Mel ingin hidup tenang. Dia ingin menyeduh teh kesukaannya dan menikmati hari tanpa dikejar tenggat waktu. Namun, kepulangannya justru menjadi amunisi bagi gosip tetangga. Pertanyaan tentang "Kapan nikah?", "Kenapa masih sendiri?", hingga tawaran perjodohan sedikit paksaan menjadi kerikil tajam yang harus ia hadapi setiap saat.
Di mata orang asing, Mel adalah wanita yang jutek, ketus, dan menyeramkan. Wajah datarnya adalah benteng pertahanan paling kokoh agar privasinya tidak diinjak-injak. Namun, di balik celemeknya, Mel adalah wanita yang "perasa". Dia adalah pendengar setia bagi setiap pelanggan yang singgah membawa duka. Mulai dari remaja yang patah hati hingga pria paruh baya yang berada di ambang putus asa karena utang, semua ditampung oleh Mel. Tak jarang, setelah memberikan nasihat lugas yang menampar logika pelanggannya, Mel justru bersembunyi di dapur Kedai untuk menangis sendirian karena ia terlalu tulus merasakan kesedihan orang lain.
Dan, munculah seorang pria misterius yang selalu datang setiap hari Sabtu pukul sepuluh pagi. Teja Pambudi. Pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu selalu menunggangi Vespa hijaunya, selalu duduk di meja pojok yang sama, dan memesan menu yang tidak pernah berubah: teh melati dengan sedikit gula dan seiris bolu pandan.
Teja adalah antitesis dari kegaduhan dunia Mel. Dia pendiam, matang, dan selalu tenggelam dalam laptop atau bukunya. Tanpa Mel sadari, Teja adalah seorang penulis novel online kawakan dengan nama pena Penanya Theo Senja—penulis favorit yang karyanya selalu Mel baca setiap malam untuk menenangkan hati. Teja, yang juga seorang mantan pekerja media yang merasa jenuh, menemukan inspirasi dari sosok Mel yang jujur dan kedainya yang privat.
Interaksi yang awalnya hanya sebatas pemilik kedai dan pelanggan, perlahan berubah menjadi dialog-dialog manusia dewasa yang mendalam. Teja memahami Mel tanpa perlu ia menjelaskan luka masa lalunya. Di Kedai Teh Kenangan, dua jiwa yang sama-sama mencari "pulang" ini perlahan menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mengikuti arus orang kebanyakan.
Apakah Mel akan berani membuka pagar hatinya yang selama ini ia jaga dengan kuat? Dan mampukah Teja meyakinkan Mel bahwa cinta di usia matang bukanlah tentang tuntutan, melainkan tentang kesediaan untuk saling menyeduh ketenangan hingga akhir hayat?
Satu cangkir teh, satu iris bolu pandan, dan seribu kenangan yang menanti untuk diceritakan.
Genre: Slice of Life, Romance
✒️ Sweet Moon
📚 Victie App
📍Lanjut baca: https://victie.com/novels/kedai-teh-kenangan
