KEDAI TEH KENANGAN - Sweet Moon

 

Kedai Teh Kenangan
0

Chapter 9 Dibalik Nama dan Baris Kata

Sabtu di bulan November membawa atmosfer yang berbeda. Biasanya, menjelang pukul sepuluh pagi, satu atau dua pelanggan sudah singgah untuk sekadar membaca koran. Namun hari ini, jalanan di depan pagar tampak lengang. Mel baru teringat ada karnaval budaya di pusat Kota Malang yang menutup akses jalan utama.

​Kesunyian ini menjadi berkah bagi Mel yang masih merasa letih setelah pesanan membeludak kemarin. Tepat pukul sepuluh, deru Vespa hijau yang akrab di telinganya berhenti di depan kedai. Teja melangkah masuk dengan pembawaan tenang, seolah membawa dunianya sendiri yang sunyi.

​Mel menarik napas panjang untuk menghalau kegugupannya. Berbekal keberanian yang dikumpulkan sejak semalam, ia mencoba bersikap lebih hangat. Saat menyajikan gelas teh melati dan sepotong bolu pandan, Mel tidak langsung berbalik pergi.

​"Cuacanya bagus ya, Mas? Meski agak mendung, tapi sejuk," sapa Mel sembari menyunggingkan senyum kecil, sesuatu yang jarang ia lakukan pada pelanggan mana pun.

​Teja mendongak sebentar. Matanya hanya menatap Mel sekilas sebelum kembali fokus pada layar laptop yang menyala. "Iya," jawabnya singkat. Sangat singkat.

​Mel tertegun. Senyumnya yang baru merekah langsung layu. Ia merasa baru saja menghantam tembok kaca yang dingin. Sifat perasanya langsung bergejolak, memicu rasa malu karena merasa telah melewati batas.

​"Maaf mengganggu, Mas. Silakan dinikmati," ucapnya dengan nada datar yang kembali membentengi diri. Ia segera melangkah cepat menuju balik meja bar.

​Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan bagi Mel. Kedai benar-benar sepi. Mel berpura-pura sibuk mengelap stoples kaca berulang kali, padahal pikirannya sedang merutuki kecerobohannya tadi. Sementara itu di sudut ruangan, Teja masih sibuk mengetik dengan irama stabil. Tiba-tiba, suara kursi kayu yang bergeser memecah keheningan.

​"Mbak Melati?" panggil Teja.

Suaranya rendah namun jelas.

​Mel menoleh, sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Teja memanggilnya lebih dulu. "Ya, Mas? Mau menambah sesuatu?"
​Teja menggeleng. Ia menutup laptopnya setengah, lalu merogoh tas ransel di samping kursi. Ia mengeluarkan sebuah buku fisik bersampul cokelat tanah yang minimalis. "Bisa ke sini sebentar?"
​Mel menghampiri dengan ragu. Saat sampai di meja pojok, Teja menyodorkan buku tersebut. Di sampulnya tertera judul Lentera yang Pulang dan di bawahnya tertulis sebuah nama: Penanya Theo Senja.

​Mel menerima buku itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang seolah baru saja menemukan harta karun. Ia sangat terkejut mengetahui identitas asli pria di depannya, namun ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat seperti penggemar fanatik.

​"Mas... jadi, Penanya Theo Senja itu... Anda?"

​Teja terdiam sejenak, lalu untuk pertama kalinya, Mel melihat senyuman tipis muncul di wajah matang itu. "Maaf soal tadi. Saya buntu di tengah bab yang sedang saya tulis, jadi tidak fokus menjawab sapaanmu."

​"Saya kaget, Mas. Jujur saja, saya sudah lama mengikuti tulisan Anda," jawab Mel sembari berusaha tetap profesional meski hatinya sedang bersorak. Firasatnya selama ini ternyata tidak meleset.

​"Terima kasih sudah membaca tulisan saya," kata Teja tulus.

"Sebenarnya, saya juga ingin berkenalan dengan benar. Nama saya Teja Pambudi. Saya pindah ke Malang karena butuh suasana baru setelah lama bekerja di bidang media yang penuh kebisingan."

​Mel mengangguk mengerti, lalu ia merasa perlu meluruskan identitasnya sendiri. Ia menarik kursi di samping Teja dan duduk di sana. "Nama saya Jasmine, Mas. Jasmine Thearin. Nama Melati itu hanya panggilan kecil dari lingkungan sekitar."

​Teja tampak sedikit terkejut, lalu mengulang nama itu dengan nada yang sangat tenang. "Jasmine. Nama yang indah. Lebih cocok untukmu. Kalau begitu, boleh saya panggil Jasmine?"

​Mel merasakan pipinya memanas. Panggilan itu terdengar lebih dewasa dan menghargai. "Boleh, Mas Eja. Jasmine saja," ucap Mel spontan.
​Teja mengernyitkan alis. "Eja?"

​"Iya, panggilan untuk penulis favorit saya. Semua orang pasti memanggil Anda Teja, tapi saya ingin memanggil dengan nama Mas Eja," ujar Mel dengan sifat keras kepalanya yang muncul, namun kali ini dibalut rasa malu.

​Teja terdiam sedetik, lalu tiba-tiba terkekeh geli. Sebuah kekehan singkat yang membuat matanya sedikit menyipit. Itu pertama kalinya Mel melihat Teja tertawa lepas. "Eja... terdengar seperti anak sekolah yang baru belajar mengeja. Tapi baiklah, saya setuju."

​Hujan gerimis mulai membasahi jendela kedai, menciptakan suasana yang semakin privat. Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas siang, waktu yang biasanya menandai kepulangan Teja. Namun, pria itu tidak merapikan perangkat kerjanya.
​"Sudah jam dua belas, Mas?" tanya Mel sembari memperhatikan rintik hujan.

​"Hujannya sudah turun. Lagipula, mengobrol denganmu sepertinya lebih menarik daripada pulang ke rumah yang sepi," jawab Teja jujur.

​Sabtu ini, kedai seolah hanya milik mereka berdua. Tanpa gangguan, obrolan mereka mengalir jauh lebih hangat. Mel bercerita tentang kelelahannya di pekerjaan lama, dan Teja berkisah tentang kejenuhannya pada industri yang hanya mengejar angka.

​Waktu berputar hingga sore hari. Teja bertahan di sana, menikmati gelas teh kedua dan sepiring nasi ayam geprek. Di pojok kedai itu, dalam aroma melati yang menguar dan suara rintik hujan, Mel menyadari satu hal: ia tidak hanya jatuh cinta pada tulisan Theo Senja, tapi mulai merasa nyaman dengan pria bernama Teja Pambudi.

​"Sampai jumpa Sabtu depan, Jasmine. Terima kasih untuk makan siangnya," pamit Teja saat hujan reda pukul empat sore.

​"Sama-sama. Sampai jumpa lagi, Mas Eja," jawab Mel dengan senyum tulus tanpa wajah jutek yang biasa ia pasang sebagai benteng.

​Mel berdiri di depan pintu, menatap Vespa hijau itu melaju menjauh. Ia memeluk buku pemberian Teja erat di dadanya. Sore itu, Kedai Teh Kenangan benar-benar menjalankan fungsinya: memberikan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.

*****

Nama pena: Sweet Moon

Genre: Slice of Life, Romance, 18+

Platform: Victie

Editorial:

Novel ini bercerita dengan suasana yang sangat tenang dan atmosferik, khas genre slice of life. Penulis berhasil menggambarkan kesunyian kedai kopi di hari Sabtu yang sepi akibat karnaval budaya, menciptakan ruang intim bagi interaksi antara Mel dan Teja. Detail kecil seperti deru Vespa hijau dan aroma teh melati membuat pembaca seolah-olah ikut hadir di tempat tersebut, merasakan ketenangan sekaligus kecemasan kecil yang dialami Mel saat mencoba menyapa pelanggannya.

Dinamika awal antara Mel dan Teja dibangun dengan sangat natural melalui dialog yang minim namun bermakna. Sikap dingin Teja yang awalnya terasa seperti penolakan, ternyata bukan karena sombong, melainkan karena ia sedang tenggelam dalam proses menulis. Pengungkapan identitas Teja sebagai penulis terkenal "Theo Senja" menjadi momen kejutan yang manis, mengubah persepsi Mel dari sekadar pelanggan biasa menjadi seseorang yang dihargai secara intelektual. Hal ini menambah lapisan kedalaman pada karakter Teja yang sebelumnya terlihat datar.

Interaksi mereka semakin menarik ketika terjadi pertukaran nama asli. Mel memperkenalkan diri sebagai Jasmine, sebuah nama yang dianggapnya lebih dewasa dan sesuai dengan jati dirinya, sementara Teja menerima panggilan unik "Mas Eja" dengan tawa geli. Momen ini menunjukkan adanya rasa saling menghormati dan keintiman yang mulai tumbuh. Penulis menggunakan detail percakapan ini untuk memperlihatkan bagaimana dua orang asing perlahan-lahan menurunkan tembok pertahanan mereka satu sama lain.

Suasana hujan gerimis yang turun di tengah hari berperan penting dalam membangun romantisme cerita ini. Hujan tidak hanya menjadi latar belakang cuaca, tetapi juga simbol dari privasi dan kenyamanan yang mereka temukan bersama. Keputusan Teja untuk tetap tinggal di kedai daripada pulang ke rumah yang sepi menandakan bahwa ia mulai menemukan ketenangan dalam kehadiran Mel. Obrolan mereka yang mengalir tentang kelelahan kerja dan kejenuhan industri media menunjukkan kesamaan visi dan nilai hidup, yang merupakan dasar kuat bagi hubungan romantis.

Klimaks emosional  terletak pada kesadaran Mel bahwa perasaannya telah bergeser. Ia tidak lagi hanya mengagumi tulisan Theo Senja, tetapi mulai merasa nyaman dengan pribadi Teja Pambudi. Pergeseran dari kekaguman terhadap karya seni menuju ketertarikan pada manusia di balik karya tersebut adalah tema klasik romansa yang dieksekusi dengan halus dan tidak berlebihan. Adegan pamit yang sederhana namun penuh makna meninggalkan kesan hangat di hati pembaca.

Secara keseluruhan, novel ini menawarkan bacaan yang menenangkan dan menyentuh hati, cocok bagi penggemar novel romansa dewasa yang mengutamakan kedewasaan emosi. Sweet Moon, penulis di platform Victie, menunjukkan kemampuannya dalam merangkai kata-kata sederhana menjadi narasi yang elegan dan penuh perasaan. Bagi pembaca yang mencari kisah cinta yang lambat laun (slow burn) dengan latar kehidupan sehari-hari yang relatable, Kedai Teh Kenangan adalah pilihan yang tepat untuk dinikmati.

by Nada Maya


8 Komentar

Ulasan buku

  1. Wihh... Kayak familiar banget baca sinopnya. Penasaran banget pengin terus bacanya..Author, semangat terus yaal..🔥🔥🔥🔥

    BalasHapus
  2. Cocok nih kalau baca novelnya sambil ngopi🤤

    BalasHapus
  3. Paling suka cerita yang realistis dan berasa ini loh kehidupan gitu..

    BalasHapus
  4. Baca sinopsis dan bab pertama saja sudah bisa merasakan perjalanan seorang gadis lajang di usia matang. Bacanya enak banget sambil refleksi diri. Semangat thor

    BalasHapus
  5. Mau beli teh sama Mbak Melati, boleh? aku lanjut baca ke app ya thor... seru

    BalasHapus
  6. Keren kak Sweet Moon Novelnya..berasa mendalami perjalanan seorang gadis di usia lajang

    BalasHapus
  7. Ini bukunya gratis kan ya di app novelnya?

    BalasHapus
  8. Aku suka sama novel kayak gini, cerita santai dengan penyampaian lugas, langsung klik sama ceritanya.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama