Tiba-Tiba Jadi Papa Anak Kembar - Frengky e-book

Tiba-Tiba Jadi Papa Anak Kembar - Frengky e-book


0

Bab 1: Malam yang Mengubah Segalanya

Azka Leython, pemuda berusia 19 tahun, hidup sendiri di kota orang. Ia menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama di Bandung dengan beasiswa penuh di jurusan Desain Komunikasi Visual. Kini ia sudah memasuki semester empat. Meski mendapat beasiswa, Azka tetap bekerja paruh waktu di sebuah minimarket 24 jam dekat kosnya. Ia harus memenuhi kebutuhan hidup dan membayar sewa tempat tinggal dengan usahanya sendiri.

Malam itu, jarum jam digital di layar kasir menunjukkan pukul 23.45 WIB. Suara pemindai barcode yang berbunyi berulang menjadi teman setia, ditemani dengungan lemari pendingin di belakangnya. Udara dingin dari AC sudah menjadi hal biasa selama hampir dua tahun ia bekerja di sana.

Azka menghela napas pelan, mencoba menahan kantuk yang mulai menyerang. Sore tadi ia baru menyelesaikan tugas Nirmana 3D yang cukup melelahkan. Menjadi mahasiswa DKV dengan beasiswa memang membanggakan, tetapi hidup mandiri tanpa bantuan finansial dari keluarga adalah tantangan yang tidak ringan.

"Totalnya empat puluh lima ribu lima ratus, Kak. Mau sekalian isi pulsa atau ambil promo?" tanya Azka dengan nada ramah.

Pelanggan di depannya hanya menggeleng dan menyerahkan uang lima puluh ribu. Azka menghitung kembalian dengan cekatan. Pikirannya sempat melayang pada ponsel yang disimpan di loker. Ia tahu ada beberapa notifikasi transfer dari rekening atas nama ayahnya. Jumlahnya cukup untuk membiayai hidupnya sebulan penuh. Namun, ia tidak pernah menyentuh uang itu. Baginya, menerima uang tersebut sama saja mengorbankan harga diri yang sudah ia pertahankan sejak pergi dari rumah.

Keputusan merantau ke Bandung bukan hanya soal pendidikan. Itu juga bentuk pelarian. Sejak kecil, Azka hidup di bawah tekanan untuk selalu sempurna. Ayahnya menuntut nilai tinggi, sikap terbaik, dan masa depan yang sudah ditentukan.

Saat adiknya, Hanna, lahir, tekanan itu semakin terasa. Azka menyayangi adiknya, tetapi kehadiran Hanna juga menjadi awal dari beban yang terus menumpuk. Ia mulai merasa lelah dan perlahan menaruh kebencian pada ayahnya.

Puncaknya terjadi siang itu, pukul 14.25 WIT. Saat Azka menerima kabar diterima di jurusan DKV Bandung, seharusnya itu menjadi momen bahagia. Namun justru memicu pertengkaran besar di rumah.

"DKV? Mau jadi apa kamu? Ayah sudah siapkan jalan di Kedokteran atau Teknik. Kenapa kamu selalu melawan?" suara ayahnya keras memenuhi ruangan.

"Ini hidup Azka, Yah. Selama ini Azka ikut semua kemauan Ayah, tapi untuk masa depan, Azka ingin memilih sendiri," jawab Azka dengan tegas.

"Kalau begitu, keluar dari rumah ini. Ayah tidak akan membiayai anak yang membangkang," balas ayahnya tanpa ragu.

Kalimat itu justru menjadi jalan kebebasan bagi Azka. Ia masuk ke kamar, mengemasi pakaian, buku penting, dan tabungan yang selama ini ia simpan.

"Kakak jangan pergi," tangis Hanna sambil memegang lengannya.

Azka berjongkok, mengusap kepala adiknya. "Kakak harus pergi. Jaga Mama, ya. Kakak akan tetap mengabari."

Namun saat berdiri dan menatap ayahnya, suaranya berubah tegas. "Aku akan buktikan bisa hidup tanpa bantuan Ayah."

Setahun setelah kejadian itu, Azka mengganti nama belakangnya menjadi Leython. Nama baru itu menjadi simbol kebebasan dari bayang-bayang ayahnya.

"Woy, Ka. Melamun aja. Udah lewat jam dua belas," suara Dimas membuyarkan lamunannya.

Azka tersadar. "Oh, iya. Maaf, tadi agak ramai," ujarnya sambil menyelesaikan transaksi terakhir.

"Lu kelihatan capek. Kurangi shift malam kalau besok kuliah," kata Dimas.

"Butuh uang buat bayar kos minggu depan," jawab Azka singkat.

Ia lalu berganti pakaian di ruang karyawan, memakai hoodie abu-abu dan jeans. Setelah mengambil tas ransel berisi laptop dan sketchbook, ia berpamitan.

"Gue duluan ya, Dim."

"Hati-hati di jalan," balas Dimas.

Azka keluar dari minimarket. Udara malam Bandung terasa dingin dan menyegarkan. Ia merapatkan jaketnya dan bersiap berjalan menuju kos yang berjarak sekitar tiga ratus meter.

Namun langkahnya terhenti ketika seorang wanita tua muncul dari sisi gelap bangunan. Pakaiannya lusuh, langkahnya terburu dan sedikit goyah.

"Tolong... tolong..." suaranya lemah.

Azka waspada. "Ada apa, Bu?"

Tanpa banyak kata, wanita itu menyodorkan sebuah buntalan kain. Azka refleks menerimanya agar tidak jatuh. Ia terkejut saat merasakan benda itu hangat dan bergerak.

Saat ia membuka sedikit kain tersebut, terlihat dua bayi kecil yang tertidur. Bayi kembar.

"Bu, ini apa maksudnya?" tanya Azka panik.

Wanita itu menatapnya dengan mata berkaca. "Tolong rawat mereka. Ini perlengkapannya," katanya sambil menunjuk tiga tas besar di kursi dekat minimarket.

"Tunggu, Bu. Kenapa saya?" Azka mencoba menahan, tetapi kedua tangannya penuh menggendong bayi.

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Azka sejenak, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju jalan raya.

"Bu, tunggu!" teriak Azka.

Wanita itu menghilang dalam gelap.

Teriakan Azka membuat kedua bayi terbangun. Tangisan mereka pecah bersamaan, menggema di malam yang sepi. Azka panik. Ia belum pernah menggendong bayi, apalagi dua sekaligus.

Ia berdiri di parkiran minimarket dengan dua bayi di tangannya, bingung harus berbuat apa.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Akankah ia merawat kedua bayi itu, atau mencari cara untuk menemukan siapa sebenarnya wanita tadi?

Malam itu benar-benar mengubah hidup Azka selamanya.

*****

Nama pena: Frengky e-book

Genre: Slice of Life

Platform: Fizzo Novel

Editorial:

Cerita karya Frengky e-book ini menghadirkan kisah yang sederhana tetapi menarik sejak awal. Dengan latar kehidupan seorang mahasiswa perantau, pembaca langsung diajak masuk ke dunia yang terasa dekat dengan realita. Gaya bahasa yang digunakan juga ringan, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk pembaca yang baru mulai membaca cerita fiksi.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Azka Leython, seorang pemuda berusia 19 tahun yang hidup mandiri di Bandung. Ia digambarkan sebagai sosok pekerja keras yang tidak ingin bergantung pada orang lain, bahkan pada keluarganya sendiri. Hal ini langsung memberikan kesan kuat bahwa karakter Azka memiliki prinsip hidup yang tegas. Pembaca bisa dengan mudah merasakan perjuangan dan tekanan yang ia alami.

Penulis berhasil membangun latar dengan cukup detail, terutama suasana minimarket di malam hari. Suara mesin kasir, dinginnya AC, dan rasa lelah setelah kuliah digambarkan dengan sederhana tetapi terasa nyata. Hal ini membuat pembaca seolah ikut berada di tempat yang sama dengan Azka. Detail kecil seperti ini menjadi nilai tambah dalam cerita.

Konflik utama mulai diperkenalkan melalui kilas balik kehidupan Azka bersama keluarganya. Hubungan yang tidak harmonis dengan ayahnya menjadi alasan kuat mengapa ia memilih hidup mandiri. Percakapan antara Azka dan ayahnya terasa emosional dan realistis. Pembaca dapat memahami alasan di balik keputusan Azka untuk pergi dari rumah dan menolak bantuan finansial.

Selain itu, hubungan Azka dengan adiknya, Hanna, memberikan sentuhan hangat dalam cerita. Meskipun hidup dalam tekanan, Azka tetap memiliki rasa sayang yang tulus kepada adiknya. Bagian ini menambah kedalaman karakter dan membuat pembaca lebih terhubung secara emosional.

Alur cerita yang awalnya terasa santai berubah drastis ketika muncul sosok wanita tua misterius. Peristiwa ini menjadi titik balik yang membuat cerita semakin menarik. Kemunculan bayi kembar secara tiba-tiba menambah unsur kejutan yang kuat. Pembaca dibuat penasaran tentang asal-usul bayi tersebut dan alasan mengapa Azka yang dipilih.

Penulis Frengky e-book cukup cerdas dalam membangun rasa penasaran. Ia tidak langsung menjelaskan semua hal, tetapi memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pembaca ingin terus melanjutkan cerita. Teknik ini efektif untuk menjaga ketertarikan pembaca di bab berikutnya.

Dari segi karakter, Azka digambarkan cukup konsisten. Ia mandiri, keras kepala, tetapi juga memiliki sisi peduli. Reaksinya saat menerima bayi kembar terasa wajar dan manusiawi. Kepanikan yang ia rasakan membuat adegan tersebut terasa hidup dan tidak berlebihan.

Secara keseluruhan, cerita ini memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kisah yang menarik. Perpaduan antara kehidupan mahasiswa, konflik keluarga, dan misteri membuat alurnya tidak monoton. Gaya bahasa sederhana menjadi kelebihan utama karena membuat cerita mudah dinikmati.

Penulis Frengky e-book terlihat sebagai penulis yang fokus pada genre slice of life dengan sentuhan konflik emosional. Dari karya ini, terlihat bahwa penulis memiliki kemampuan dalam membangun suasana dan karakter dengan cukup baik.

Cerita berhasil menjadi pembuka yang menarik. Penulis Frengky e-book mampu memancing rasa penasaran sekaligus menghadirkan emosi yang cukup dalam. Dengan alur yang jelas dan bahasa yang mudah dipahami, karya Frengky e-book ini layak untuk diikuti hingga bab-bab selanjutnya.

by Hayyi Ze



                     


Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama