Mawar Hitam Sang Ustadz - Dwinda

Mawar Hitam Sang Ustadz - Dwinda


0

Bab 1: Cahaya di Ujung Pelarian

"Neng, beneran turun di sini? Sudah jam dua pagi, ini mau masuk hutan," tanya sopir taksi khawatir sambil melirik spion tengah.

Nayran mengeratkan pegangan pada ransel kumalnya. "Iya, Pak. Berhenti di gapura itu saja." Meski gemetar, ia menyerahkan selembar uang seratus ribu dan menolak kembaliannya.

Begitu pintu mobil tertutup, kesunyian malam kaki Gunung Kelud langsung menyergap. Udara dingin menusuk jaket tipisnya. Di bawah lampu jalan yang berkedip, rasa takut mulai merayap, namun bayangan aroma alkohol dan asap rokok di klub malam—tempat yang baru saja ia tinggalkan—jauh lebih mengerikan.

"Jangan balik lagi, Nay. Lo bukan sampah," bisiknya menguatkan diri.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak sesuai arahan peta ponselnya yang hampir mati. Sayup-sayup, suara pengajian terdengar dari kejauhan. Tak lama, sebuah bangunan tua berarsitektur Jawa muncul dengan papan kayu bertuliskan: Pesantren Al-Ikhlas.

Di teras masjid, seorang pria muda bersarung tengah merapikan sajadah. Nayran menyapa dengan suara serak. Pria itu menoleh dengan wajah tenang.

"Assalamu’alaikum. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya teduh.

"Saya cari Ustadz Azzam," jawab Nayran pendek.

"Saya Azzam. Mbak Nayran yang kirim pesan di Instagram, ya? Silakan masuk," sambutnya hangat. Azzam segera memanggil ibunya untuk menghindari fitnah, sebuah tindakan yang membuat Nayran merasa sangat dihargai sekaligus merasa "kotor".

"Apa Tuhan mau menerima orang seperti saya, Ustadz? Saya ini sampah," tangis Nayran pecah saat mereka duduk di teras.

Azzam berhenti sejenak, menjaga jarak namun tetap memberikan rasa aman. "Mbak Nayran, ampunan Allah lebih luas dari samudera. Di sini tidak ada sampah, yang ada hanyalah hamba yang rindu pada Tuhannya."

Ibu Azzam keluar mengenakan mukena putih, langsung merangkul bahu Nayran yang kedinginan. Tanpa menghakimi, wanita itu membawanya masuk ke sebuah kamar sederhana beraroma cendana, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak Nayran rasakan.

Pagi harinya, suasana pesantren yang asri terusik oleh kedatangan Pak RT yang tampak berang. Dari balik tiang teras, Nayran mendengar pria itu memprotes kehadiran dirinya.

"Zam! Kita ini desa santri. Jangan bawa perempuan nggak jelas ke sini, nanti bawa sial!" seru Pak RT ketus.

Azzam menjawab dengan tegas, "Setiap orang punya hak untuk berubah, Pak. Tugas kita adalah merangkul mereka yang tersesat."

Meski Pak RT mengancam akan mengusir Nayran dalam tiga hari jika terjadi kegaduhan, Azzam tidak gentar. Ia justru menghampiri Nayran yang sudah menangis sesenggukan.

"Ustadz, saya pergi saja. Benar kata Pak RT, saya cuma bawa sial," isak Nayran.

"Ujian hijrah itu berat, Mbak. Apa mau menyerah sekarang? Kalau niatnya karena Allah, biar Allah yang menjaga," tantang Azzam lembut. Nayran terdiam, lalu menghapus air matanya. Ia memilih bertahan dan mulai belajar wudhu serta shalat dari dasar.

Hari-hari berikutnya terasa berat bagi Nayran akibat bisik-bisik tetangga. Namun, kesabaran Azzam menjadi pelitanya.

"Kenapa Ustadz baik sekali? Semua orang benci saya," tanya Nayran suatu sore.

"Karena saya melihat cahaya di mata Mbak. Cahaya yang ingin pulang. Tugas saya hanya menunjukkan jalannya, bukan menghakimi kendaraannya," jawab Azzam tenang.

Namun, kedamaian itu sekejap sirna saat sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan gerbang. Debu mengepul, dan seorang pria berjas mahal dengan kacamata hitam turun dari sana. Melihat senyum sinis pria itu, jantung Nayran seolah berhenti berdetak. Masa lalunya telah datang menjemput.

*****

Napen: Dwi Septina (Dwinda)

Genre: Religi, Romansa Komedi, Religi Kontemporer

Platform: KBM

Editorial:

Cerita ini menyuguhkan awal yang sangat emosional tentang perjalanan seorang wanita bernama Nayran yang ingin meninggalkan masa kelamnya. Penggambaran suasana kaki Gunung Kelud yang dingin di jam dua pagi berhasil membangun ketegangan, sekaligus menjadi simbol betapa "dingin" dan sepinya perjuangan seseorang saat ingin berhijrah. Pertemuan Nayran dengan Ustadz Azzam memberikan kontras yang apik antara dunia malam yang keras dengan ketenangan pesantren yang menyejukkan.

Sosok Ustadz Azzam digambarkan sebagai karakter yang bijak dan tidak menghakimi, memberikan pesan moral yang sangat kuat bahwa ampunan Tuhan selalu lebih besar daripada kesalahan hamba-Nya. Dialog-dialognya terasa puitis namun tetap menyentuh realita, membuat pembaca ikut merasakan harapan yang mulai tumbuh dalam diri Nayran. Kehadiran ibu Azzam juga menambah kehangatan dalam alur cerita, memberikan sentuhan kasih sayang yang tulus.

Namun, drama tidak berhenti pada kedamaian saja. Konflik sosial mulai muncul melalui karakter Pak RT yang mewakili stigma negatif masyarakat terhadap orang-orang dengan masa lalu kelam. Bagian ini sangat realistis karena menunjukkan bahwa tantangan terbesar saat berubah seringkali datang dari penilaian orang lain. Hal ini membuat karakter Nayran terasa lebih manusiawi karena ia sempat merasa goyah dan tidak layak.

Ketegangan mencapai puncaknya di akhir cerita ketika sebuah mobil mewah muncul, menandakan bahwa masa lalu Nayran tidak akan melepaskannya begitu saja. Elemen ini berhasil memancing rasa penasaran pembaca tentang siapa sosok pria tersebut dan seberapa besar ancaman yang dibawanya ke lingkungan pesantren. Alurnya mengalir dengan tempo yang pas, tidak terburu-buru namun tetap padat konflik.

Kisah menarik ini merupakan buah karya dari Dwi Septina, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dwinda. Penulis satu ini memang piawai dalam meramu cerita dengan genre religi kontemporer yang dipadukan dengan sentuhan romansa komedi. Gaya berceritanya yang khas membuat isu-isu berat seperti pertobatan menjadi lebih ringan dan relatable untuk dinikmati oleh berbagai kalangan pembaca.

Bagi kalian yang menyukai kisah tentang kesempatan kedua dan perjuangan batin yang dibalut suasana religi yang kental, karya Dwinda di platform KBM App ini sangat layak untuk diikuti. Perpaduan antara keteguhan prinsip Azzam dan tekad hijrah Nayran menjanjikan dinamika cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan banyak ruang untuk refleksi diri.

By Nada Maya




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama