Mawar Hitam Sang Ustadz - Dwinda

Mawar Hitam Sang Ustadz - Dwinda


0

MAWAR HITAM SANG USTADZ 

Bab 1: Cahaya di Ujung Pelarian

"Neng, beneran mau turun di sini? Ini udah mau masuk hutan, lho. Mana sudah jam dua pagi begini," tanya sopir taksi itu dengan nada khawatir sambil melirik spion tengah.

Nayran mengeratkan pegangannya pada tas ransel kumal yang dipangkunya. "Iya, Pak. Berhenti di depan gapura itu saja. Saya sudah janji mau dijemput di sana."

"Tapi saya nggak lihat ada orang satu pun, Neng. Sepi banget. Apa nggak sebaiknya saya antar sampai depan rumahnya saja? Saya jadi nggak tega, mana Neng cuma sendirian," tawar si sopir lagi, mencoba bersikap ramah meski matanya tampak lelah.

"Nggak usah, Pak. Beneran. Ini uangnya, kembaliannya ambil saja buat Bapak," sahut Nayran sambil menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Duh, makasih banyak ya, Neng. Tapi beneran aman kan? Di sini kalau malam sering ada kabut tebal dari arah Kelud," ucap sopir itu sambil menerima uangnya.

"Aman, Pak. Makasih ya," pungkas Nayran singkat.

Nayran melangkah keluar dari taksi. Pintu mobil tertutup dengan dentum yang terasa memekakkan telinga di tengah kesunyian malam. Ia berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi lampu jalan temaram yang berkedip-kedip. Udara dingin kaki Gunung Kelud langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut jaket tipis.

"Gue harus ke mana sekarang?" bisik Nayran pada dirinya sendiri. Suaranya hilang ditelan angin malam yang menderu.

Ia menoleh ke belakang, menatap lampu belakang taksi yang perlahan menghilang di tikungan. Rasa takut mulai merayap, tapi rasa mual setiap kali mengingat aroma alkohol dan asap rokok di klub malam itu jauh lebih besar. Nayran memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang mulai sesak.

"Jangan balik lagi, Nay. Lo bukan sampah. Lo harus cari tempat itu. Pesantren Al-Ikhlas," gumamnya lagi, seolah mantra itu bisa memberinya kekuatan ekstra.

Ia mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ditunjukkan oleh peta di ponselnya yang hampir mati. Sepatunya menginjak kerikil dan ranting kering, menciptakan bunyi kersik yang membuatnya beberapa kali menoleh waswas. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara pengajian dari pelantang suara masjid.

"Astaga, itu suara apa? Apa gue udah deket?" batinnya dengan harapan yang membuncah.

Langkahnya semakin cepat, hampir berlari, hingga ia melihat sebuah bangunan tua dengan arsitektur Jawa yang kental. Di depannya berdiri sebuah papan kayu bertuliskan 'Pesantren Al-Ikhlas'. Seorang pria muda mengenakan sarung samar-samar terlihat sedang merapikan beberapa sajadah di teras masjid.

"Permisi... Mas? Eh, maksud saya, Pak?" panggil Nayran dengan suara serak.

Pria itu menoleh. Wajahnya tenang, dengan gurat kelelahan yang tertutup oleh aura kedamaian. Ia meletakkan tumpukan sajadah itu dan berjalan mendekat ke arah pagar.

"Assalamu'alaikum. Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Malam-malam begini ada keperluan apa?" tanya pria itu dengan nada yang sangat teduh, tidak ada nada curiga sedikit pun dalam suaranya.

Nayran terpaku sejenak. Ia merasa kotor berdiri di depan pria yang tampak begitu bersih ini. "Wa... Wa'alaikumussalam. Saya... saya cari Ustadz Azzam. Apa beliau ada?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah kenapa membuat dada Nayran terasa sesak. "Saya Azzam. Mbak ini siapa ya kalau boleh tahu? Kok kelihatannya capek sekali, silakan masuk dulu, Mbak."

"Saya Nayran, Ustadz. Saya... saya yang kirim pesan di Instagram dua hari lalu. Yang tanya soal... soal tempat untuk orang yang mau tobat," ucap Nayran dengan kepala tertunduk dalam, tak berani menatap mata pria di depannya.

Azzam mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan pengertian yang mendalam. "Oh, Mbak Nayran. Masya Allah, akhirnya sampai juga. Perjalanannya jauh ya dari Jakarta?"

"Iya, Ustadz. Saya langsung jalan tadi sore begitu dapet alamat ini," jawab Nayran pendek.

"Ayo, silakan duduk dulu di teras. Sebentar, saya panggilkan Ibu saya di dalam. Biar nggak jadi fitnah kalau kita bicara berdua saja di sini," ujar Azzam sambil membukakan pintu pagar kayu yang sedikit berderit.

Nayran melangkah masuk dengan ragu. "Maaf ya, Ustadz, saya datang jam segini. Saya nggak tahu harus ke mana lagi."

"Tidak apa-apa, Mbak Nayran. Pintu rumah Allah selalu terbuka jam berapa pun. Apalagi ini sudah mau masuk bulan Ramadhan, waktu terbaik untuk pulang," sahut Azzam sambil mempersilakan Nayran duduk di kursi kayu panjang.

"Apa Tuhan mau nerima orang kayak saya, Ustadz? Saya ini... saya ini kotor banget," tanya Nayran tiba-tiba, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai jatuh membasahi pipinya yang pucat.

Azzam berhenti melangkah, ia berbalik namun tetap menjaga jarak. "Mbak Nayran, air laut itu luas, tapi ampunan Allah jauh lebih luas dari samudera mana pun. Jangan pernah meragukan kasih sayang-Nya hanya karena kesalahan masa lalu kita."

"Tapi Ustadz nggak tahu apa yang sudah saya lakuin! Saya ini menjual diri! Saya ini sampah!" isak Nayran, suaranya mulai meninggi karena tekanan batin yang meledak.

"Sstt... pelankan suaranya, Mbak. Tenang dulu. Di sini tidak ada sampah. Yang ada hanyalah hamba yang sedang rindu pada Tuhannya," bisik Azzam dengan nada yang sangat menenangkan, seolah suara itu adalah pelukan bagi jiwa Nayran yang hancur.

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan mukena putih keluar dari pintu samping. Wajahnya sangat mirip dengan Azzam, penuh kedamaian.

"Lho, ini siapa, Zam?" tanya wanita itu lembut.

"Ini Mbak Nayran, Bu. Tamu yang Azzam ceritakan kemarin. Mbak Nayran, ini Ibu saya," Azzam memperkenalkan.

Ibu Azzam langsung menghampiri Nayran dan merangkul bahunya. "Ya Allah, Nak. Dingin sekali badanmu. Ayo, masuk ke dalam. Kamu pasti lapar dan butuh istirahat."

"Saya... saya nggak pantes masuk ke rumah Ibu," bisik Nayran di sela isakannya.

"Hus! Ngomong apa itu? Di mata Allah kita semua sama. Ayo, masuk. Ibu sudah buatkan teh hangat di dalam," paksa Ibu Azzam dengan kelembutan seorang ibu yang sudah lama tidak Nayran rasakan.

Nayran pun menurut. Ia dibawa masuk ke sebuah kamar kecil yang bersih namun sangat sederhana. Di dalam, aroma kayu cendana tercium lembut, memberikan rasa aman yang asing bagi Nayran.

"Istirahatlah di sini ya, Nak Nayran. Besok kita bicara lagi sama Azzam kalau kondisimu sudah lebih baik," ujar Ibu Azzam sambil menyelimuti Nayran.

"Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih," ucap Nayran lemah.

Pagi harinya, suasana pesantren mulai ramai dengan suara santri yang mengaji. Nayran terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, meski rasa cemas masih membayangi. Ia keluar ke teras dan melihat Azzam sedang mengajar beberapa anak kecil mengaji di bawah pohon mangga.

"Satu... dua... tiga... Alif, Ba, Ta..." suara anak-anak itu terdengar riang.

Nayran memperhatikan dari jauh. Ia merasa seperti melihat dunia yang berbeda total dengan dunianya yang dulu penuh dengan dentuman musik techno dan bau alkohol. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan wajah galak menghampiri Azzam.

"Zam! Siapa perempuan yang dibawa masuk semalam itu? Warga sudah mulai bisik-bisik, lho!" seru pria itu tanpa basa-basi.

Azzam menghentikan pengajarannya dan berdiri. "Oh, Pak RT. Itu tamu saya, Pak. Namanya Mbak Nayran. Dia mau belajar agama di sini."

"Belajar agama apa belajar maksiat? Saya dengar dari sopir taksi yang antar semalam, dandanan perempuan itu nggak bener. Kita ini desa santri, Zam! Jangan sampai kamu bawa sial ke sini cuma karena kasihan sama perempuan nggak jelas!" protes Pak RT dengan nada ketus.

Nayran yang mendengar itu dari balik tiang teras merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Ternyata benar, masa lalunya akan selalu mengikutinya.

"Pak RT, setiap orang punya hak untuk berubah. Bukankah tugas kita sebagai sesama Muslim adalah merangkul mereka yang sedang tersesat?" Azzam menjawab dengan tenang namun tegas.

"Halah! Teori Kairo-mu itu jangan dibawa-bawa ke sini kalau ujung-ujungnya cuma bikin resah! Saya kasih peringatan ya, kalau dalam tiga hari dia bikin ulah, saya sendiri yang akan usir dia dari desa ini!" ancam Pak RT sebelum pergi melengos.

Azzam menghela napas panjang. Ia berbalik dan melihat Nayran yang berdiri gemetar dengan air mata mengalir.

"Ustadz... saya sebaiknya pergi saja. Benar kata Pak RT, saya cuma bawa sial," ujar Nayran dengan suara bergetar.

Azzam berjalan mendekat, namun tetap dalam batas sopan. "Mbak Nayran, tolong jangan dengarkan kata-kata itu. Ujian orang yang mau berhijrah itu memang berat. Apa Mbak mau menyerah secepat ini?"

"Tapi saya nggak mau Ustadz jadi kena masalah karena saya," sahut Nayran putus asa.

"Masalah itu bagian dari dakwah, Mbak. Kalau Mbak benar-benar niat karena Allah, biar Allah yang jaga Mbak di sini. Sekarang, apa Mbak mau lanjut belajar atau mau lari lagi?" tanya Azzam, matanya menatap tajam namun penuh harapan.

Nayran terdiam sejenak. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Saya mau lanjut, Ustadz. Tolong ajari saya."

"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai dari hal paling dasar. Mbak sudah tahu cara wudhu yang benar?" tanya Azzam sambil tersenyum menyemangati.

Hari-hari berikutnya di pesantren tidaklah mudah bagi Nayran. Tatapan sinis dari para ibu-ibu di pasar dan bisik-bisik tetangga menjadi makanan sehari-harinya. Namun, kesabaran Azzam dalam mengajarinya shalat dan mengaji perlahan mulai mengikis rasa rendah diri Nayran.

"Ustadz, kenapa Ustadz baik banget sama saya? Padahal semua orang di sini benci saya," tanya Nayran suatu sore saat mereka sedang duduk di serambi masjid setelah shalat Ashar.

"Karena saya melihat ada cahaya di mata Mbak Nayran. Cahaya yang ingin kembali pulang. Dan tugas saya hanya menunjukkan jalannya, bukan menghakimi kendaraannya," jawab Azzam sambil menatap langit sore yang mulai memerah.

"Cahaya? Saya ngerasa gelap banget, Ustadz. Kadang saya masih mimpi buruk soal tempat itu," curhat Nayran pelan.

"Itu wajar. Setan nggak akan tinggal diam melihat satu hamba-Nya lepas dari genggamannya. Tapi Mbak harus ingat, gelap nggak akan bisa menang melawan cahaya, sekecil apa pun cahaya itu," tutur Azzam lembut.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan gerbang pesantren. Debu mengepul saat ban mobil itu bergesekan dengan tanah kering. Jantung Nayran berdegup kencang. Ia mengenal mobil itu. Sangat mengenalnya.

Seorang pria tinggi dengan setelan jas mahal dan kacamata hitam turun dari mobil. Senyumnya yang sinis membuat Nayran merasa mual seketika.

*********

Napen: Dwi Septina (Dwinda)

Genre: Religi, Romansa Komedi, Religi Kontemporer

Platform: KBM

Editorial:

Buku ini menyuguhkan kontras yang kuat namun dibawakan dengan sangat tenang. Penulis tidak terjebak pada drama yang meledak-ledak, melainkan memilih menyelami pergulatan psikologis yang halus—tentang bagaimana masa lalu yang kelam berbenturan dengan kesunyian sebuah tempat yang dianggap suci. Keunggulan tulisan ini ada pada caranya menjaga martabat karakter. Nayran tidak hadir sebagai korban yang meratapi nasib, melainkan sebagai jiwa yang berdaulat atas pilihannya untuk mencari arah "pulang", meski langkahnya masih gemetar.

Ada ritme yang terjaga dalam setiap kalimat, menciptakan suasana emosional yang matang tanpa harus menjadi cengeng. Ketegangan yang muncul justru lahir dari hal-hal yang tidak diucapkan seperti rasa malu yang menyesakkan dada, tatapan dingin lingkungan sekitar, hingga jarak fisik yang dijaga ketat oleh sosok Azzam. Dialog yang dihadirkan terasa sangat membumi, memotret realitas sosial yang sering kali lebih cepat menghakimi daripada merangkul, namun tetap disampaikan dengan sudut pandang yang jernih.

Buku ini meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca yang merindukan narasi dengan muatan moral yang jujur. Ini bukan sekadar cerita pertobatan biasa, ini adalah studi karakter tentang keberanian melawan stigma dan bagaimana prinsip seseorang diuji di tengah tekanan kelompok. Sebuah undangan halus bagi siapa pun yang menghargai cerita religi kontemporer yang berani menyentuh sisi gelap manusia dengan cara yang elegan, manusiawi, dan penuh hormat terhadap sebuah proses perubahan.

By KingTango.Xr



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama