Bab 36 : Mata yang Membedah Nasib
Banyu mendekat ke pagar besi, matanya menyipit, mengunci sosok pria dengan topi flat cap yang tampak gelisah di bawah sana. Cahaya lampu arena yang berputar-putar menciptakan bayangan di wajah pria itu, namun Banyu tidak melihat wajahnya. Ia melihat ibu jari si pria yang menghitam karena noda oli mesin, dan cara bahunya yang bungkuk menegang.
"Waktumu habis, Nyu. Pilihlah sebelum wasit di bawah meniup peluit," celetuk Juna sembari mengetuk-ngetuk permukaan jam tangan mewahnya yang berkilau.
Banyu menyeka pelipisnya yang mulai basah oleh keringat. Di tengah kebisingan massa, ia justru merasakan keheningan yang aneh. Di tangannya, ia memegang nasib seluruh hierarki SMA Nusantara.
Ia melirik Kenzo dari sudut matanya. Kenzo duduk kaku, matanya menatap tajam namun ada secercah keputusasaan di sana. Lalu ia melirik Juna, yang tersenyum seolah kemenangan sudah berada di dalam sakunya.
Banyu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.
Inilah saatnya, batin Banyu. Satu kata dariku, dan Kenzo akan jatuh. Faksi Utara akan bubar, dan jalan untuk merombak Nusantara akan terbuka lebar tanpa perlu menumpahkan darah lagi.
Rumi, yang berdiri di samping Banyu, bisa merasakan aura dingin yang memancar dari sahabatnya. Rumi tahu persis apa yang dipikirkan Banyu. Ini adalah momen yang mereka diskusikan di kamar kos kemarin—momen untuk memutus rantai kekuasaan para naga.
Lampu sorot arena yang bergerak liar sempat menangkap ekspresi tegang di wajah Banyu sebelum ia kembali tenggelam dalam bayangan pagar balkon. Di bawah sana, pria dengan flat cap itu terus meremas tiketnya hingga hancur.
"Pria itu memilih petarung dengan celana berwarna biru," ucap Banyu. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh sorak-sorai massa.
Juna menyandarkan punggungnya ke pagar, menyunggingkan senyum kemenangan. Ia tahu persis bahwa petarung celana biru itu adalah underdog yang peluang menangnya nyaris nol. "Pilihan yang berani, Nyu. Mari kita lihat apakah keberuntungan masih memihakmu."
Pertarungan di bawah berlangsung singkat dan brutal. Si celana biru terjungkal setelah menerima tendangan telak dari petarung celana merah tepat di rahang. Wasit melambaikan tangan. Selesai.
Seluruh ruangan VIP menahan napas, mata mereka terpaku pada sosok pria paruh baya di baris ketiga. Tepat saat pengumuman kemenangan bergema, pria itu berdiri dengan sentakan kasar. Ia merenggut topi flat cap lusuhnya, lalu membantingnya ke lantai beton dengan seluruh tenaga yang ia punya. Wajahnya merah padam, mulutnya meneriakkan sumpah serapah yang terdengar sayup lewat kaca, namun kekecewaan murninya terpampang jelas bagi semua yang menonton dari atas.
Kenzo meledak dalam tawa. Ia bangkit dari sofa kulitnya, menghantamkan telapak tangannya ke meja kaca dengan bunyi brak yang keras.
"HAHAHA! JUNA! Kau lihat itu?!" Kenzo terpingkal-pingkal sampai bahunya terguncang. "Tak kusangka persaingan panjang kita selama tiga tahun ini berakhir karena taruhan konyolmu sendiri!"
Rumi berdiri mematung di samping Banyu. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Banyu menebak pilihan orang asing itu dengan begitu tepat? Baginya, Banyu baru saja melakukan trik sihir yang mengerikan.
Arjuna terdiam. Senyum liciknya menguap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi. Ia menatap Banyu, lalu beralih ke pria yang masih mengamuk di bawah sana.
"Bagaimana bisa... kau menebaknya dengan seakurat itu, Nyu?" tanya Arjuna. Suaranya rendah, kehilangan nada meremehkan yang biasanya ada di sana.
Kenzo melangkah mendekati Arjuna, menepuk bahu rivalnya itu dengan gaya seorang pemenang yang penuh kemenangan. "Sudahlah, Jun. Besok pagi, faksi Selatan resmi bubar. Kau harus belajar terbiasa menjadi 'murid biasa' di bawah bayang-bayangku."
Banyu hanya menyeka keringat di pelipisnya. Ia tidak ikut tertawa. Matanya masih menatap ke bawah, ke arah pria yang kini duduk lemas.
Arjuna melangkah pelan, bahunya yang biasa tegak kini tampak sedikit turun. Sepatu pantofel mahalnya menyeret di atas karpet VIP yang tebal saat ia berhenti tepat di depan Banyu.
Rumi, yang menangkap perubahan aura di ruangan itu, langsung menggeser tumpuan kakinya—kuda-kuda kuli pasarnya aktif secara otomatis, siap meledak jika Juna melakukan gerakan tambahan.
Juna menatap Banyu dengan sorot mata yang sulit dibaca; ada kekalahan, tapi juga ada rasa penasaran yang besar.
"Kau... punya kesempatan emas buat menjatuhkan Kenzo tadi, Nyu," bisik Juna, suaranya parau tertelan riuh arena di bawah. "Satu kata salah darimu, dan hierarkinya runtuh malam ini. Tapi kau malah memilih dia... membiarkan naga itu terus berkuasa."
Banyu tidak mundur selangkah pun. Ia justru mencondongkan kepalanya, mendekat ke arah telinga Arjuna hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar getaran suaranya di tengah dentuman bass musik club.
"Urusan melengserkan Kenzo itu urusanku, Jun. Aku punya jadwal sendiri untuk itu," ucap Banyu, nadanya sedingin es yang baru keluar dari freezer. "Tapi menjatuhkanmu malam ini? Itu untuk kepuasan dendamku atas apa yang kau lakukan pada Tio."
Juna tersentak. Pupil matanya melebar, memantulkan bayangan Banyu yang tampak sangat tenang namun mematikan. Ia teringat kembali pada Tio, pada jeratan pinjol, dan pada toko di pusat kota yang hampir ia rampas. Ia pikir urusan itu sudah selesai saat uang sepuluh juta terbayar, namun ia lupa satu hal: Banyu tidak pernah melupakan detail.
"Jadi... selama ini..." Juna menggantung kalimatnya, tenggorokannya mendadak kering.
"Ya," potong Banyu sembari menarik kembali posisinya, merapikan kerah jaket kargonya yang sedikit miring. "Tersenyumlah, Jun. Besok faksi Selatan bubar, dan kau punya banyak waktu luang untuk merenung di kantin sebagai murid biasa."
Juna terdiam mematung, sementara Kenzo di belakangnya sedang asyik menuangkan wiski kemenangan, sama sekali tidak menyadari bahwa namanya juga masuk ke dalam daftar hitam seorang "bocah beasiswa". Tanpa sadar, Juna menyadari bahwa Kenzo bukan lagi ancaman terbesarnya di Nusantara; melainkan sosok pendiam yang baru saja membisikkan vonis mati bagi karier organisasinya.
Gelas wiski di tangan Kenzo berdenting pelan saat ia meletakkannya di atas meja marmer, tepat setelah pintu VIP tertutup dan bayangan Arjuna lenyap. Kenzo berdiri, merapikan jasnya yang licin tanpa cela, lalu melangkah menghampiri Banyu dengan binar mata yang memancarkan kejayaan absolut.
"Aku tidak menyangka kau sesetia ini padaku, Nyu," ucap Kenzo dengan nada sumringah yang kental. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menghirup aroma kekuasaan tunggal yang kini memenuhi ruangan itu.
Banyu tidak membalas senyum itu. Ia hanya menatap noda wiski yang membekas di meja. "Kau salah, Ken. Aku tidak melakukannya untukmu. Aku hanya tidak ingin Nusantara jatuh ke tangan Juna—orang yang bersekutu dengan rentenir pasar untuk menjebak siswanya sendiri. Itu menjijikkan."
Kenzo terkekeh, sebuah tawa kering yang meremehkan. "Bagus kalau kau mengerti."
Plak.
Kenzo melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kaca. Isinya tampak padat, mencetak bentuk lembaran uang di balik kertasnya. "Itu upah untuk matamu malam ini. Anggap saja bonus karena sudah membuat Juna jadi murid biasa."
Kenzo memutar tubuhnya, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. "Tujuanku sudah selesai, Nyu. Dan aku rasa, aku tidak punya alasan lagi untuk melindungimu mulai besok pagi. Berhati-hatilah, Andry pasti sangat senang mendengar kabar bahwa payungmu sudah kutarik."
Rumi yang sedari tadi bersandar di tembok langsung menegakkan tubuh, otot lengannya menegang. "Apa maksudmu, hah?!"
Kenzo menoleh sedikit, memberikan tatapan dingin yang menunjukkan hierarki yang sebenarnya. "Aku memang melindungi kalian hanya sampai rencana taruhan terakhirku dengan Juna selesai. Sekarang, faksi Selatan sudah bubar. Matamu, analisismu, atau apa pun keahlianmu itu sudah tidak kubutuhkan lagi, Banyu."
Kenzo mengambil kunci mobilnya di meja, lalu melenggang pergi melewati mereka tanpa menoleh lagi, membiarkan suasana ruangan yang tadinya penuh kemenangan mendadak berubah menjadi sunyi dan mengancam.
Uap dingin dari sisa wiski di atas meja seolah membeku saat Banyu tiba-tiba mengeluarkan suara dari tenggorokannya—sebuah kekehan pendek yang tertahan, nada yang sangat jelas meremehkan aura kemenangan yang sedang dibangun Kenzo.
Kenzo menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, tubuhnya menegang. Ia berbalik perlahan dengan rahang yang mengeras. "Kenapa, Nyu? Baru sadar kalau kau menyesal memihakku tadi?" ucapnya dengan senyum sinis yang dipaksakan.
Banyu tidak menjawab. Ia masih menunduk, bahunya sedikit berguncang menahan tawa yang hampir pecah. Rumi yang berdiri di sampingnya sampai menyenggol lengan Banyu dengan wajah bingung; ia belum pernah melihat sahabatnya seberani ini tertawa di depan moncong meriam.
Kenzo merasa harga dirinya seperti diinjak-injak oleh sepatu butut Banyu. "Apa yang lucu, hah?!"
Banyu akhirnya mendongak, matanya yang tenang kini berkilat jenaka namun tajam. "Kau berlagak seakan kau penguasa tunggal Nusantara, Ken. Padahal takhtamu itu sedang berada di ujung tanduk. Bahkan, alasan kau masih bisa duduk nyaman di kursi itu sekarang adalah karena aku masih mengizinkannya."
BRAKK!
Kenzo menghantamkan tinjunya ke sandaran sofa kulit, matanya memerah. Ia sudah siap meledak, satu langkah lagi dan pukulannya akan mendarat di wajah Banyu. Namun, kalimat Banyu berikutnya membuat kepalannya membeku di udara.
"Tapi tenang saja, aku bahkan tak perlu taruhan konyol seperti Juna untuk melengserkanmu," sambung Banyu, suaranya kembali datar dan dingin. "Aku hanya perlu duduk manis menunggu temanmu, Andry, mengeluarkan senjata rahasianya. Sesuatu yang katanya bakal bikin kau dan orang tuamu tak berkutik sama sekali."
Sontak, kata-kata itu menghantam batin Kenzo seperti godam. Andry? Senjata? Orang tua? Pikiran Kenzo langsung melesat ke pengkhianatan internal yang tak pernah ia duga.
"Sebelum kau bertanya-tanya dari mana aku mengetahui soal senjata Andry, galilah ingatan tentang hubungan kalian. Apa yang terjadi sampai dia punya senjata yang lebih tajam dari pengkhianatan itu sendiri." Banyu dan Rumi melenggang keluar melewati pintu baja, meninggalkan uang di amplop dan Kenzo yang mematung dengan tangan yang mulai gemetar.
*****
Nama Pena : Hendri 207
Genre: urban, fantasi, thriller.
Platform: Maxnovel
Editorial:
Buku dari novel karya Hendri 207 ini berhasil menghadirkan ketegangan yang terasa hidup sejak awal hingga akhir. Kemampuan Banyu membaca situasi benar-benar menjadi pusat konflik. Cara penulis menggambarkan arena taruhan bawah tanah terasa intens dan membuat pembaca ikut tegang menunggu keputusan yang akan diambil Banyu. Suasana VIP room, sorakan penonton, sampai detail kecil seperti ibu jari penuh oli dari pria bertopi flat cap membuat adegan terasa nyata dan sinematik.
Karakter Bayu menjadi kekuatan utama. Ia tidak digambarkan sebagai tokoh yang banyak bicara, tetapi justru ketenangannya membuat aura karakternya sangat kuat. Pembaca bisa merasakan bahwa setiap tindakan Banyu selalu punya tujuan tersembunyi. Saat semua orang mengira ia akan menjatuhkan Kenzo, ternyata ia memilih menghancurkan Juna terlebih dahulu. Momen itu terasa memuaskan karena keputusan Banyu bukan sekadar soal kemenangan, melainkan balas dendam yang sudah lama ia simpan untuk Tio.
Penulis juga berhasil membangun permainan psikologis yang menarik. Dialog antara Banyu dan Juna terasa dingin namun penuh tekanan. Tidak ada pertarungan fisik besar, tetapi ketegangan mentalnya justru terasa lebih tajam. Kalimat ketika Banyu mengatakan bahwa ia punya “jadwal sendiri” untuk melengserkan Kenzo menjadi salah satu bagian yang kuat. Dari situ pembaca bisa melihat bahwa Banyu bukan pion siapa pun, melainkan pemain utama yang sedang menyusun langkahnya sendiri.
Karakter Kenzo pun dibuat menarik karena meski terlihat menang, sebenarnya ia sedang berada di ambang kehancuran. Awalnya ia tampil percaya diri dan merasa sudah menjadi penguasa tunggal SMA Nusantara. Namun perlahan, rasa aman itu dihancurkan oleh ucapan Banyu tentang Andry dan “senjata rahasia”-nya. Perubahan ekspresi Kenzo dari sombong menjadi panik terasa sangat halus dan enak diikuti. Penulis sukses membuat pembaca penasaran dengan konflik besar yang akan datang setelah ancaman tersebut muncul.
Selain konflik utama, hubungan antara Banyu dan Rumi juga menjadi nilai tambah dalam cerita ini. Rumi tidak banyak bicara, tetapi sikapnya yang selalu siap melindungi Banyu membuat persahabatan mereka terasa solid. Kehadirannya membantu menyeimbangkan suasana dingin yang dibawa Banyu. Detail kecil seperti Rumi yang otomatis memasang kuda-kuda saat suasana mulai panas membuat adegan terasa lebih hidup dan tidak monoton.
Gaya penulisan Hendri 207 tergolong sederhana namun efektif. Dialognya mengalir alami dan mudah dipahami, sementara deskripsi suasananya cukup kuat untuk membangun imajinasi pembaca. Buku ini juga punya ritme yang bagus; tidak terlalu lambat, tetapi tetap memberi ruang untuk membangun emosi dan ketegangan. Penggunaan elemen urban thriller dipadukan dengan intrik kekuasaan sekolah membuat cerita terasa berbeda dari kisah sekolah biasa.
Konflik antar faksi semakin panas, rahasia mulai bermunculan, dan posisi Banyu kini terasa jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya. Penulis sukses membuat pembaca ingin segera lanjut ke bagian berikutnya karena banyak pertanyaan yang belum terjawab. Untuk penggemar urban fantasi thriller dengan nuansa permainan strategi dan perebutan kekuasaan, karya Hendri 207 ini sangat layak untuk diikuti.
by Hayyi Ze
