“Apa yang terjadi?” tanya Ronggur. “Apa yang dia lakukan?”
Kinanti menunduk sambil menggenggam jemarinya sendiri. “Dia marah lalu mencengkeram dan menyerangku. Aku tidak tahu alasannya. Seolah dia kesal karena sesuatu. Biasanya itu tidak pernah terjadi di hari kerja dan dia selalu menyesal setelah sadar.”
“Dia memukulmu setiap akhir pekan? Sudah berapa lama?” tanya Tenggara.
“Sekitar dua bulan,” jawab Kinanti pelan. “Kurasa semuanya mulai sejak dia punya bos baru empat bulan lalu. Sekarang dia membenci pekerjaannya.”
“Dia masih jadi satpam malam di supermarket?” tanya Ronggur.
Kinanti mengangguk. “Iya. Dia kerja dari jam sembilan malam sampai tujuh pagi.”
“Berdua?”
“Ya. Tapi yang satu jadi penanggung jawab. Jefri merasa posisi itu seharusnya miliknya, tapi malah diberikan ke orang lain.” Kinanti menarik napas panjang. “Atasannya menyuruh dia patroli terus dan hampir tidak memberinya waktu istirahat.”
“Jadi dia mulai minum lebih banyak?” tanya Ronggur.
“Tidak juga. Dia memang sudah terbiasa minum. Kami biasa minum bersama, tapi aku tidak pernah mabuk seperti dia.” Kinanti menatap lantai. “Dia hanya minum saat akhir pekan karena pekerjaannya.”
“Waktu aku datang hari Sabtu, dia ke mana?” tanya Tenggara.
“Seingatku dia pergi menemui orang-orang itu.”
“Orang-orang yang mana?” tanya Ronggur.
“Dia membeli gin ilegal dari mereka. Harganya setengah dari gin biasa yang kami minum. Rasanya lumayan, tapi tidak seenak yang asli. Aku biasanya mencampurnya dengan jus jeruk.”
“Kenapa dia bergaul dengan mereka?” tanya Timur.
“Aku rasa dia mulai berjudi.” Suara Kinanti makin lirih. “Tiga minggu terakhir dia selalu kekurangan uang. Meski begitu, dia tetap memberi uang untuk sewa dan listrik. Aku yang membeli kebutuhan rumah. Penghasilannya lebih besar dariku.”
“Jadi mungkin dia berjudi dengan mereka?” tanya Ronggur lagi.
“Aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu, dia sering pergi malam-malam untuk mengambil minuman keras. Dulu dia membawa pulang botolnya, sekarang tidak lagi. Dia pulang larut malam dan mulai marah-marah padaku.”
“Semua ini sudah kau ceritakan ke polisi?” tanya Nining.
“Sudah.”
“Kau yang menemukannya?” tanya Ronggur.
Kinanti mengangguk pelan. Air matanya jatuh lagi. “Dia terbaring di lantai dapur. Awalnya kupikir dia tertidur, tapi wajahnya penuh darah dan dia sudah meninggal. Setelah itu aku menelepon polisi.”
“Jam berapa?”
“Mungkin sekitar jam tujuh pagi. Aku tidak terlalu ingat.”
“Polisi membawa Kinanti ke sini sekitar pukul sepuluh,” jelas Nining. “Mereka menanyai kami juga.”
“Mereka juga datang menemuiku,” kata Timur.
“Belum ke rumahku,” ujar Ronggur. “Mungkin nanti.”
“Kinanti akan tinggal di sini sampai polisi mengizinkannya pulang,” kata Nining. “Rumahnya masih jadi TKP.”
Kinanti menangis lagi dan Timur segera memeluknya.
“Semuanya akan baik-baik saja,” ucap pria itu lembut. “Kami di sini buat menjagamu.”
Mereka akhirnya makan siang bersama di rumah Tenggara dan Nining. Makanan yang tersaji hanyalah ayam dan kentang goreng dari KFC di Jalan Merdeka, tetapi suasananya terasa sedikit hangat di tengah kabar buruk itu.
Gilang terbangun dan Nining segera menyusuinya. Bayi itu sudah berusia lebih dari tujuh bulan. Senyum kecil dan lambaian tangannya sempat membuat semua orang tersenyum. Namun setelah Gilang kembali tidur, kesedihan kembali memenuhi ruangan.
“Aku tahu dia tidak seharusnya memukulku,” kata Kinanti lirih. “Tapi dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Andai saja dia bisa mendapat pekerjaan lain.”
Ia mengusap matanya yang sembap.
“Dia sebenarnya sempat mencari pekerjaan baru di awal, tapi tidak menemukan apa-apa lalu menyerah. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak mungkin membayar sewa rumah sendirian.”
“Ada kamar kosong akhir bulan nanti di gedung tempatku dulu tinggal,” kata Timur. “Indekos satu kamar tidur. Sewanya pasti lebih murah daripada rumahmu.”
“Oh, Tulang sekarang merenovasi rumah?” tanya Tenggara.
Timur tersenyum tipis. “Ideku sebenarnya. Gedung itu sudah tua, mungkin sekitar tiga puluh tahun. Jadi kami mulai memperbaiki beberapa kamar dan dapurnya.”
“Bukankah kau bekerja di kantor pos?” tanya Tenggara lagi.
“Masih. Tapi aku membantu Tulang di akhir pekan. Aku suka pekerjaan itu.” Timur menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kontrakku di kantor pos juga selesai bulan September nanti.”
Kinanti menghela napas panjang. “Aneh rasanya kalau harus pindah kembali ke gedung itu. Aku kenal beberapa orang di sana.”
“Kau juga bisa jalan kaki ke supermarket tempatmu bekerja,” tambah Timur.
Kinanti mengangguk pelan, tetapi air matanya kembali jatuh.
Nining yang duduk di sampingnya langsung merangkul bahunya.
“Tidak ada yang akan memaksamu bekerja dulu,” katanya lembut. “Kalau mau, kau bisa tinggal di sini sampai semuanya selesai.”
Kinanti menggeleng perlahan. “Terima kasih, tapi aku ingin kembali ke rumah begitu polisi mengizinkannya. Aku harus mulai terbiasa hidup sendiri.” Suaranya bergetar. “Masih banyak yang harus kupikirkan kalau nanti pindah.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Tuhan...”
*****
Nama Pena: Ikhwanul Halim
Genre: Sliece of Life, Young Adult, Coming Age, Drama
Platform: MaxNovel
Editorial:
Cerita karya Ikhwanul Halim ini menghadirkan suasana drama yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Dari awal hingga akhir, pembaca diajak masuk ke dalam percakapan penuh emosi antara Kinanti dan orang-orang di sekitarnya setelah kematian Jefri. Alur yang sederhana justru membuat cerita terasa lebih menyentuh karena konflik yang diangkat sangat manusiawi dan realistis. Tidak ada adegan berlebihan, tetapi rasa sedih dan tekanan batin para tokohnya tetap terasa kuat.
Salah satu kekuatan utama cerita ini adalah dialognya yang alami. Percakapan antar tokoh mengalir seperti obrolan sehari-hari sehingga pembaca mudah memahami situasi yang sedang terjadi. Penulis tidak memakai bahasa yang rumit, namun emosi dalam setiap kalimat tetap sampai. Saat Kinanti menceritakan bagaimana Jefri berubah setelah tekanan pekerjaan dan kebiasaan minumnya semakin parah, pembaca bisa merasakan rasa takut, kecewa, sekaligus kasih sayang yang masih tersisa di hatinya.
Karakter Kinanti menjadi tokoh yang paling menonjol dalam bagian ini. Ia digambarkan sebagai perempuan yang rapuh tetapi tetap berusaha bertahan di tengah situasi sulit. Meski menjadi korban kekerasan, ia masih menyimpan cinta terhadap Jefri. Perasaan itu ditampilkan dengan cukup realistis dan tidak dibuat berlebihan. Pembaca bisa memahami bahwa hubungan mereka rumit dan penuh luka. Hal ini membuat karakter Kinanti terasa manusiawi dan mudah dipahami.
Tokoh pendukung seperti Timur, Nining, Tenggara, dan Ronggur juga memberi warna tersendiri dalam cerita. Mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi benar-benar terasa seperti orang-orang terdekat yang mencoba membantu Kinanti melewati masa sulitnya. Kehangatan sederhana saat mereka makan KFC bersama atau ketika Nining memeluk Kinanti membuat cerita terasa hangat di tengah suasana duka. Kehadiran bayi Gilang juga menjadi sentuhan kecil yang membantu mengurangi ketegangan cerita.
Selain membahas kehilangan, karya Ikhwanul Halim ini juga menyinggung masalah sosial yang cukup relevan, seperti tekanan pekerjaan, alkohol, judi, dan kekerasan dalam hubungan. Semua itu disampaikan secara halus tanpa terasa menggurui. Penulis membiarkan pembaca memahami sendiri bagaimana lingkungan dan tekanan hidup dapat mengubah seseorang menjadi lebih buruk. Karena itu, cerita terasa lebih realistis dan emosional.
Gaya penulisan Ikhwanul Halim juga nyaman dibaca. Narasinya tidak terlalu berat dan ritmenya tenang, cocok dengan genre slice of life dan drama yang diangkat. Penulis mampu menjaga suasana sedih tetap konsisten tanpa membuat pembaca merasa bosan. Detail-detail kecil seperti suasana rumah, makanan sederhana, atau percakapan santai membuat dunia cerita terasa hidup dan dekat dengan keseharian pembaca.
Secara keseluruhan, bagian cerita ini berhasil menyampaikan emosi kehilangan dan ketidakpastian hidup dengan cara yang sederhana namun kuat. Konflik yang dihadirkan terasa nyata dan mudah dipahami, sementara hubungan antar tokohnya membuat pembaca ikut peduli pada nasib mereka. Bagi penggemar cerita slice of life dan drama keluarga dengan nuansa realistis, karya Ikhwanul Halim di platform MaxNovel layak untuk diikuti karena mampu menghadirkan kisah yang hangat sekaligus menyentuh hati.
by Hayyi Ze
