Bab 17. Pantang Ditolak
“Aku tidak mau! Dan tidak akan pernah mau!” tolaknya sambil melepas cincin yang tadinya tersemat di jari manis. Meletakkannya di meja, tepat di depanku.
Tadinya kupikir ia akan merasa berterima kasih setelah tahu bahwa gajinya selama ini berasal dari Yayasan yang dinaungi Perusahaan keluargaku.
“Aku tidak mau menikah denganmu” katanya lagi seolah menegaskan penolakannya, namun kali ini lebih pelan. Tangannya gemetar, tapi aku tahu ia cukup berani menatapku. Aku tahu ia tidak akan membiarkan siapapun merenggut harga dirinya, bahkan seorang Donatur yang menggajinya sekalipun. “Kita saling membenci. Aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu.”
Aku berusaha bersikap tenang.
“Justru bagus bukan? Kita tidak mungkin saling mencintai,” kataku datar. “Lagipula Ini hanya pernikahan kontrak.”
Ia menggeleng keras.
“Pernikahan itu ibadah. Pernikahan bukan kontrak kerja. Dan aku bukan solusi untuk masalah rumah tangga orang lain.”
“Aku sudah menolak Anwar berkali-kali. Aku tidak pernah membalas perasaannya. Aku menjauh, menghindar, bahkan merasa bersalah hanya karena namaku disebut dalam rumah tangga mereka. Aku hanya guru honorer,datang pagi, pulang sore, hidup dari gaji yang nyaris habis sebelum akhir bulan. Aku tidak pernah ingin menjadi siapa pun dalam cerita mereka.”
“Aku tahu kau sudah menjaga jarak. Tapi itu tidak penting.”
Ia terbelalak, “tidak penting?”
“Yang penting adalah pernikahan adikku,”lanjutku dingin.”Selama Anwar masih memikirkanmu, mencintaimu, pernikahan adikku akan seperti neraka. Dan kau tidak punya pilihan untuk menerima tawaranku.”
“Kalau aku menolak?”
“Aku akan meminta kepala sekolah untuk memecatmu. Semudah itu. Tak perduli meski dia tahu kau kekasihku,” ancamku.
“Tak masalah. Aku masih bisa mencari pekerjaan lain. Aku tak keberatan bekerja apapun, asalkan halal, asal tidak menjadi istrimu!” balasnya.
“Kau yakin? Apa mungkin ada sekolah atau tempat bekerja yang menerimamu lagi setelah melihat ini?”
Aku berdiri, melangkah mendekat hingga jarak kami hanya beberapa inchi. Kuletakkan ponsel di atas meja. Layarnya menyala. Wajahnya pias seketika saat netranya melihat foto yang kuambil saat Anwar menemuinya di sekolah kemarin.
Jarak mereka sebenarnya biasa saja. Tapi sudut pengambilannya kejam. Seolah ia perempuan kejam yang tersenyum penuh harap pada suami orang. Semua kubingkai seolah itu skandal yang kejam.
“Ini bisa menyebar dalam hitungan menit dengan bantuan teman-teman wartawan,” kataku tenang. “Dengan narasi yang tepat. Judulnya sudah siap. Guru Honorer jadi pelakor, Rumah tangga pengusaha muda terancam.”
Napasnya tercekat.
“Tidak… itu fitnah.”
Aku tak membantahnya. Hanya tersenyum penuh kemenangan menyaksikan ia begitu panik melihat fotonya yang dibidik Bersama Anwar.
“Kebenaran tidak selalu lebih kuat dari opini,” jawabku singkat. “Mereka tidak butuh kebenaran. Mereka butuh cerita yang menarik.”
“Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku sudah menolak Anwar! Aku tidak pernah memberinya harapan!”
“Aku tahu,” ucapku datar. “Kau menolaknya mentah-mentah. Kau bahkan menghindar. Tapi itu tidak mengubah apa pun!”
“Jadi, meski aku tidak bersalah… aku tetap dikorbankan?”
Ia menatapku, lama.
“Ini bukan tentangmu,” kataku akhirnya. “Ini tentang menghentikan sesuatu sebelum menjadi lebih buruk. Dan setiap Keputusan besar selalu membutuhkan korban.”
Ia tertawa kecil, pahit. “Dengan menghancurkan hidupku?”
“Jika perlu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.
“Sekolahmu?” lanjutku. “Cukup satu gosip saja, guru honorer yang jadi pelakor. Orang tua murid akan menuntut agar kau dipecat, mereka tidak sudi anak-anak dididik oleh perempuan perebut suami wanita lain. Yayasan akan cuci tangan. Dan kau…”
Aku berhenti, menatapmya lurus dengan dingin.“…kehilangan segalanya.”
“Kenapa harus aku? Aku tidak bersalah,”tuntutnya tak terima.
“Aku tidak butuh kau bersalah,” jawabku dingin. “Aku hanya butuh kau diam dan berada di tempat yang kuinginkan.”
“Ini pemerasan!”
“Ini perlindungan untuk adikku, untuk pernikahannya!” sanggahku tegas. “Aku memberimu waktu tiga hari untuk memilih. Menikah denganku atau bersiap menghadapi dunia yang percaya bahwa kau adalah perempuan perusak rumah tangga orang.”
Kata itu cukup menusuk. Perusak rumah tangga orang…
Label yang akan menempel selamanya, meski ia berteriak pada dunia bahwa tak pernah melakukannya.
Mata bening itu mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kau begitu kejam padaku?”
Aku menatapnya tanpa ragu. “Karena aku mencintai keluargaku. Adikku jauh lebih berharga daripada apapun!”
Termasuk dirinya!
Ia berdiri dengan tubuh gemetar. Airmata jatuh menetes membasahi pipi putihnya. Menggigit bibir menahan tangis yang nyaris pecah. Seharusnya ia sadar dari awal, dengan siapa ia berhadapan.
Aku mengambil cincin di meja. Kembali menyematkan di jari manisnya. Ia menurut tanpa ada perlawanan karena mungkin mulai sadar bahwa ia benar-benar kalah dari segi apapun.
“Sampai jumpa di pesta pernikahan kita…” bisikku seperti ancaman di telinganya lalu melangkah keluar meninggalkannya yang menangis dalam diam.
* * * * *
Nama Pena : Eqa Rainly
Genre : Dark Romance & Thriller
Platform : Maxnovel
Editorial:
Buku ini menghadirkan konflik yang langsung terasa panas sejak awal. Pembaca langsung diperlihatkan pertentangan antara dua karakter utama yang sama-sama keras kepala. Suasana tegang dibangun dengan sangat kuat melalui dialog demi dialog yang penuh tekanan emosional. Tidak ada pembukaan yang terlalu panjang sehingga pembaca langsung masuk ke inti masalah. Hal ini membuat cerita terasa cepat, intens, dan sulit dilepaskan.
Tokoh laki-laki dalam cerita ini digambarkan sebagai sosok yang dingin, penuh kuasa, dan rela melakukan apa saja demi keluarganya. Ia menggunakan kekuasaan, jabatan, bahkan ancaman untuk memaksa perempuan yang ia hadapi menerima pernikahan kontrak. Karakter seperti ini memang sering muncul dalam novel drama rumah tangga, tetapi di cerita ini emosinya terasa lebih tajam. Pembaca bisa merasakan bagaimana obsesinya untuk melindungi sang adik membuat dirinya kehilangan rasa iba terhadap orang lain.
Sementara itu, tokoh perempuan justru menjadi bagian paling menyentuh dalam cerita. Dia hanyalah seorang guru honorer yang hidup sederhana dan tidak pernah ingin terlibat dalam masalah rumah tangga orang lain. Namun, hidupnya berubah hanya karena seseorang mencintainya secara sepihak. Meski ditekan dan diancam, dia tetap mempertahankan harga dirinya. Sikapnya yang berani menolak membuat pembaca ikut bersimpati. Dia bukan karakter lemah yang hanya menangis tanpa melawan.
Konflik utama dalam cerita ini terasa realistis meskipun dibalut drama yang cukup kuat. Ancaman penyebaran fitnah, rusaknya nama baik, dan tekanan sosial memang sering menjadi ketakutan terbesar dalam kehidupan nyata. Apalagi tokoh perempuan bekerja sebagai guru, profesi yang sangat bergantung pada citra baik di masyarakat. Hal inilah yang membuat ancaman dari tokoh laki-laki terasa begitu kejam dan menyesakkan.
Salah satu kekuatan terbesar cerita ini adalah dialognya. Percakapan antar tokoh terasa hidup dan emosional. Tidak ada dialog yang terasa kosong. Setiap kalimat punya tekanan dan tujuan. Saat tokoh perempuan berkata bahwa pernikahan bukan kontrak kerja, pembaca bisa langsung memahami prinsip hidup yang ia pegang. Begitu juga saat tokoh laki-laki mengatakan bahwa setiap keputusan besar membutuhkan korban, kalimat itu langsung memperlihatkan sisi dingin dan egois dalam dirinya.
Selain itu, cerita ini juga berhasil menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa digunakan untuk menindas orang yang lemah. Tokoh laki-laki sadar bahwa dirinya punya uang, koneksi, dan pengaruh. Ia menggunakan semuanya untuk menjebak perempuan yang sebenarnya tidak bersalah. Hal ini membuat pembaca merasa marah sekaligus penasaran. Banyak yang kemungkinan ingin tahu apakah nantinya tokoh perempuan akan benar-benar menyerah atau justru membalas semua perlakuan itu.
Nuansa emosional dalam cerita juga sangat terasa. Tangisan, rasa takut, kemarahan, dan putus asa ditulis dengan cukup sederhana tetapi efektif. Pembaca bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan tokoh perempuan ketika hidupnya dipermainkan hanya demi menyelamatkan rumah tangga orang lain. Apalagi ia sebenarnya sudah berusaha menjauh dari Anwar sejak awal. Namun tetap saja dirinya dijadikan korban keadaan.
Gaya penulisan cerita ini cukup ringan dan mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana sehingga pembaca bisa mengikuti alur tanpa kesulitan. Penulis juga cukup pintar memainkan suasana tegang dari awal sampai akhir tanpa membuat cerita terasa membosankan.
Tokoh laki-laki dalam cerita ini memang sangat menyebalkan, tetapi justru itulah yang membuat cerita menarik. Pembaca akan terus penasaran apakah suatu hari nanti dia akan berubah atau tetap menjadi sosok manipulatif. Di sisi lain, tokoh perempuan memiliki potensi menjadi karakter kuat yang perlahan bangkit dari tekanan. Hubungan keduanya kemungkinan akan dipenuhi konflik emosional yang rumit dan penuh luka.
Secara keseluruhan, buku ini adalah cerita drama yang kuat, emosional, dan penuh ketegangan. Konfliknya terasa hidup karena dekat dengan masalah sosial seperti fitnah, kekuasaan, dan harga diri. Cerita ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah pernikahan terpaksa, hubungan penuh konflik, dan tokoh pria dingin yang obsesif. Dengan dialog yang tajam dan suasana yang menekan, cerita ini mampu membuat pembaca ikut terbawa emosi dari awal hingga akhir.
by Hayyi Ze
