Kama Sutra
Bab 1
“Tugas pertamamu, antarkan makanan ini untuk Kama sekarang. Kau bisa minta tolong pada sopir untuk mengantarkanmu. Dia sedang menjalani hukuman dariku.”
Sutra mengernyitkan dahinya. Ada sebuah pertanyaan yang menjejali isi kepalanya saat ini.
Sejak ibunya bekerja sebagai pelayan di keluarga Deodola, hidup Sutra ikut terseret dalam kehidupan keluarga itu.
Seminggu lalu ia baru lulus sekolah, tapi karena sulitnya mencari pekerjaan, keluarganya tak punya pilihan lain selain terus bergantung pada kebaikan keluarga Deodola. Kini, tanpa benar-benar paham alasannya, Sutra justru diminta membantu pekerjaan ibunya—dan mengantarkan makanan sehari hari untuk anak tunggal keluarga Deodola, yang katanya sedang “dihukum”.
“Oh, ya. Katakan padanya kalau kau adalah pelayan baru, putri Zatulini. Semoga saja dia tidak macam-macam.” Suara Amira–Nyona pemilik rumah ini terdengar mengecil saat ia mengatakan kalimatnya yang terakhir.
Setelah berbincang sesaat dengan Nyonya besar, Sutra masuk dalam dapur. Mencari sebuah rantang yang sudah terisi makanan untuk sang bos. Tepatnya bos baru.
Zatulini— ibunya, menghampiri Sutra dengan kerutan yang begitu kentara di dahinya. “Kau mau ke mana?”
“Nyonya menyuruhku untuk mengantar makanan ini ke apartemen Tuan Muda, Bu.”
“Tu-tuan Muda? Maksudmu ….”
“Tuan Kama.”
“Kenapa harus dirimu?”
“Apa Nyonya Amira tidak memberitahu ibu sebelumnya? jika tugasku adalah mengantar makanan serta keperluan Tuan Kama ke apartemen?”
Senyum itu mengembang, melengkung bak bulan sabit yang terang. “Bukankah itu pekerjaan yang terbilang cukup mudah, Bu? Sutra sangat bersyukur karena keluarga Deodola masih mempercayai keluarga kita,” sambungnya sambil menenteng rantang.
Langkahnya panjang-panjang, meninggalkan Zatulini yang masih tampak tercengang di dalam dapur.
“Tuan Kama bukan orang yang mudah untuk kau ajak tersenyum, Sutra!” gerutunya yang kemudian ikut mengayunkan langkah, mencari keberadaan Sutra. “Sutra, biarkan ibu saja yang mengantar makanan Tuan Kama. Kau lakukan pekerjaan yang lain saja.”
“Itu sudah menjadi tugas Sutra, Lini.” Suara itu melengking. Tidak marah, tapi sedikit menyentak.
“Nyonya. Maaf, tapi ….”
“Kau tidak perlu khawatir. Kama tidak akan bersikap kurang ajar pada putrimu. Aku mengenal dekat putraku sendiri. Jika dia berbuat kurang ajar terhadap Sutra, aku yang akan tanggung jawab,” ujar pemilik mansion sambil berjalan masuk dalam mobil.
Dengan yakin, Sutra berjalan sepanjang koridor apartemen. Mencari nomor unit tempat sang bos tinggal.
Sutra menyusuri koridor apartemen. Nomor 506.
Ia berhenti di depan pintu, mengetuk pelan, lalu menekan bel.
Pintu terbuka. Seorang pria muda berdiri di ambang, rambut berantakan, mata sayu, rokok terselip di jemari. Asap tipis keluar dari bibirnya, menampar wajah Sutra dengan aroma nikotin yang tajam.
Kama Deodola.
Tatapan singkat pria itu membuat Sutra kaku di tempat. Tanpa berkata apa pun, Kama berbalik menuju sofa. Sutra mengikuti dan meletakkan rantang di atas meja.
“Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.
Sutra mengangguk gugup. “Tuan mau makan sekarang?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara tarikan napas dalam dan hembusan asap.
Sutra menunggu, tapi pria itu tetap diam.
“Baiklah, saya tinggalkan makanannya di sini,” katanya lembut.
Kama hanya mengangguk sedikit, matanya tetap tertuju ke luar jendela. Sikapnya dingin, membuat ruangan terasa beku.
“Maaf, Tuan. Kalau ada yang dibutuhkan, saya masih di sini.”
Hening.
Sutra akhirnya berbalik hendak pergi, tapi sebelum melangkah keluar, suaranya terdengar lagi—
“Kalau mau pergi, pergi saja. Jangan bicara terus. Suaramu berisik.”
Sutra menelan ludah, menahan diri agar tidak tersinggung. Ia hanya menunduk sopan. “Baik, Tuan.”
Ketika pintu tertutup di belakangnya, napasnya terasa berat. “Siapa namamu tadi?”
Lagi lagi Sutra terdiam di pangkal pintu. “Sutra. Namaku Sutra.” jawabnya mendapat tatapan yang datar.
Lalu dagu pria itu mengarah ke pintu menandakan dirinya dipersilahkan keluar.
Belum pernah ia mendapatkan sambutan seburuk itu dari siapa pun.
Di sepanjang perjalanan pulang, Sutra terus saja memikirkan sikap dingin Kama. Ada apa sebetulnya dengan pria itu? Apartemen yang begitu berantakan, bau aroma nikotin yang menyengat, bahkan … gadis itu sempat melihat beberapa botol anggur berjajar di atas mini bar.
“Apa kau tahu seperti apa sifat serta keseharian Tuan Kama, Hans?” tanya Sutra pada sang sopir.
Sopir yang bernama Hans tersebut mengedikkan pundaknya. “Kau betul-betul tidak mengenal siapa Tuan Kama?”
Sutra menggeleng, itu terlihat dari kaca spion yang bertengger di tengah kemudi.
“Kau bisa menanyakan seperti apa dia pada pelayan lain di mansion.”
“Kenapa tidak kau jawab saja?”
Hans memicingkan bibirnya. “Tidak enak. Kami berdua sama-sama laki-laki. Akan lebih baik jika kau mencari tahunya sendiri. Hanya satu pesanku padamu. Hati-hati, jangan termakan rayuannya. Dia suka memakan wanita yang polos.”
“Maksudmu?” tanya Sutra tak mengerti.
Hingga mobil hitam milik keluarga Deodola masuk dalam pelataran mansion, Hans bergeming, tidak menjawab segala tanya dari Sutra.
“Kau hati-hati, Sutra. Karena kau lebih terlihat bodoh dan mudah terperdaya. Bisa jadi kau salah satu sasarannya.”
Baca selengkapnya di GoodNovel
***********
Napen : Jw Hasya
Judul : KamaSutra
Genre : Dark Romance
PF : GoodNovel
Editorial:
Buku ini membuka dengan suara penulis yang tenang, namun menyimpan jarak yang jelas antara apa yang terlihat dan apa yang sebenarnya sedang bekerja di baliknya.
Tidak ada usaha untuk membuat situasi terasa dramatis secara berlebihan, justru sebaliknya, narasi bergerak dengan kesederhanaan yang terukur.
Dari pilihan sudut pandang hingga dialog yang pendek-pendek, terasa bahwa penulis lebih tertarik membangun ketegangan melalui sikap dan respons, bukan melalui penjelasan.
Ritmenya cenderung stabil, hampir datar di permukaan, tetapi menyimpan arus bawah yang perlahan mengeras. Percakapan berlangsung tanpa banyak ornamentasi, namun di situlah atmosfer terbentuk, hening yang tidak nyaman, jeda yang terasa panjang, dan respons yang dingin.
Keputusan untuk tidak memperpanjang reaksi emosional membuat interaksi terasa lebih realistis, sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk membaca makna di antara kalimat-kalimat yang singkat.
Ketegangan dalam buku ini tidak datang dari konflik terbuka, melainkan dari struktur relasi yang implisit. Ada hierarki yang tidak pernah dijelaskan secara langsung, tetapi terasa melalui cara tokoh-tokohnya berbicara dan menahan diri.
Penulis menahan banyak hal: motif, latar psikologis, bahkan penilaian moral. Yang muncul justru adalah kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi belum waktunya untuk dibuka. Ini menciptakan rasa waspada yang halus, bukan rasa penasaran yang dipaksa.
Secara tematik, buku ini bergerak di wilayah kedewasaan yang cukup terkontrol tentang ketergantungan, posisi rentan, dan bagaimana seseorang menavigasi ruang yang tidak sepenuhnya aman tanpa banyak pilihan.
Cara penyajiannya tidak menghakimi, juga tidak mencoba membela. Ada jarak dingin yang membuat situasi terasa lebih nyata daripada sekadar konflik hitam-putih.
Kesan akhirnya bukan pada siapa tokohnya atau ke mana cerita akan bergerak, melainkan pada kepercayaan bahwa penulis memahami dinamika kekuasaan yang ia bangun.
Buku ini tidak berusaha mengikat pembaca dengan kejutan, melainkan dengan konsistensi nada dan disiplin pengamatan.
Bagi pembaca yang mencari cerita dengan ketegangan yang ditahan dan karakter yang bergerak dalam ruang abu-abu, ini terasa seperti awal yang layak untuk diikuti tanpa perlu dibujuk berlebihan.
By Peniti Kecil
