Bab 1
“Tugas pertamamu, antarkan makanan ini untuk Kama sekarang. Kau bisa minta Hans mengantarmu. Dia sedang menjalani hukuman dariku.”
Sutra mengernyit bingung. Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.
Sejak ibunya bekerja sebagai pelayan di keluarga Deodola, hidup Sutra ikut terseret dalam lingkungan keluarga kaya itu. Seminggu lalu ia baru lulus sekolah, tetapi sulitnya mencari pekerjaan membuat keluarganya tetap bergantung pada kebaikan keluarga Deodola.
Kini, tanpa benar-benar memahami alasannya, Sutra justru diminta membantu pekerjaan ibunya. Tugas pertamanya adalah mengantar makanan untuk anak tunggal keluarga Deodola yang sedang “dihukum”.
“Oh ya, bilang padanya kalau kau pelayan baru, putri Zatulini. Semoga saja dia tidak macam-macam.”
Suara Amira mengecil di akhir kalimat.
Setelah percakapan singkat itu, Sutra masuk ke dapur untuk mengambil rantang makanan milik sang tuan muda. Baru saja ia mengangkat rantang tersebut, Zatulini menghampirinya dengan wajah cemas.
“Kau mau ke mana?”
“Nyonya menyuruhku mengantar makanan ke apartemen Tuan Muda.”
“Tuan Muda? Maksudmu Kama?”
Sutra mengangguk kecil.
“Kenapa harus kau?”
“Apa Nyonya belum bilang? Mulai sekarang tugasku mengurus kebutuhan Tuan Kama.”
Sutra tersenyum tipis. “Bukankah pekerjaan ini cukup mudah, Bu? Kita harus bersyukur keluarga Deodola masih percaya pada keluarga kita.”
Ia melangkah pergi sambil membawa rantang, meninggalkan ibunya yang masih tampak gelisah.
“Tuan Kama bukan orang yang mudah diajak bicara, Sutra!” seru Zatulini sambil mengejar putrinya. “Biar ibu saja yang mengantar makanannya.”
“Itu sudah tugas Sutra, Lini.”
Suara Amira terdengar dari belakang mereka. Wanita itu berjalan menuju mobil dengan anggun.
“Nyonya, saya hanya khawatir—”
“Kau tidak perlu cemas,” potong Amira tenang. “Aku mengenal putraku sendiri. Kama tidak akan bersikap kurang ajar pada putrimu. Kalau dia berbuat macam-macam, aku yang bertanggung jawab.”
Sutra hanya diam sambil masuk ke mobil bersama Hans, sopir keluarga Deodola.
Perjalanan menuju apartemen berlangsung sunyi. Gedung tinggi itu berdiri megah di tengah kota. Begitu turun dari lift, Sutra mulai mencari nomor unit yang disebutkan Amira.
506.
Ia berhenti di depan pintu, menarik napas sebentar sebelum mengetuk dan menekan bel.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria muda berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan. Rokok terselip di jemarinya, sementara mata sayunya tampak lelah. Aroma nikotin langsung memenuhi indra penciuman Sutra.
Kama Deodola.
Tatapan dingin pria itu membuat tubuh Sutra kaku. Tanpa menyapa, Kama berbalik dan berjalan menuju sofa.
“Masuk,” ucapnya datar.
Sutra menurut pelan lalu meletakkan rantang di meja.
“Tuan mau makan sekarang?” tanyanya hati-hati.
Tidak ada jawaban. Hanya suara embusan asap rokok.
Sutra menunggu beberapa detik sebelum kembali bicara.
“Kalau begitu saya taruh makanannya di sini.”
Kama tetap diam. Pandangannya lurus ke arah jendela besar apartemen. Sikapnya membuat ruangan terasa dingin.
“Maaf, Tuan. Kalau ada yang dibutuhkan, saya masih di luar.”
Hening lagi.
Sutra mulai berbalik hendak pergi ketika suara Kama terdengar.
“Kalau mau pergi, pergi saja. Jangan bicara terus. Berisik.”
Sutra menahan napas sejenak. Meski tersinggung, ia tetap menunduk sopan.
“Baik, Tuan.”
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika suara Kama kembali terdengar.
“Siapa namamu tadi?”
Sutra menoleh pelan. “Sutra.”
Tatapan pria itu tetap datar. Setelah beberapa detik, Kama mengangkat dagunya ke arah pintu, menyuruhnya keluar tanpa kata lain.
Sutra melangkah pergi dengan perasaan tidak nyaman.
Belum pernah ia mendapat sambutan sedingin itu.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi sosok Kama. Apartemen pria itu sangat berantakan. Bau rokok menyengat di seluruh ruangan, ditambah beberapa botol anggur yang berjajar di mini bar.
Ia akhirnya menoleh pada Hans yang sedang menyetir.
“Apa Tuan Kama memang seperti itu?”
Hans melirik lewat kaca spion. “Kau benar-benar tidak mengenalnya?”
Sutra menggeleng.
“Kau bisa bertanya pada pelayan lain di mansion.”
“Kenapa tidak bilang sekarang saja?”
Hans mendesah pelan. “Tidak enak membicarakan majikan sendiri.”
“Memangnya dia seperti apa?”
Hans terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara.
“Hanya satu pesanku. Hati-hati dengan Tuan Kama.”
Sutra mengernyit. “Maksudnya?”
“Dia suka mempermainkan perempuan polos.”
Sutra semakin bingung. “Memangnya aku terlihat polos?”
Hans terkekeh kecil. “Lebih tepatnya mudah tertipu.”
Sutra mendelik kesal, tetapi Hans sudah kembali fokus menyetir.
Mobil hitam keluarga Deodola akhirnya memasuki pelataran mansion. Namun ucapan Hans terus terngiang di kepala Sutra.
“Kau harus hati-hati,” ujar pria itu sekali lagi sebelum turun dari mobil. “Orang seperti Kama paling suka mencari sasaran yang tidak tahu apa-apa.”
Sutra memandangi punggung Hans dengan perasaan tidak tenang.
Entah kenapa, pertemuan singkat tadi terasa seperti awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
*****
Napen : Jw Hasya
Genre : Dark Romance
PF : GoodNovel
Editorial:
Dalam bab pembuka KamaSutra di platform GoodNovel, Jw Hasya memperlihatkan bagaimana genre dark romance tidak selalu harus dibangun melalui ledakan konflik atau adegan emosional yang berlebihan. Ada ketegangan yang justru tumbuh dari hal-hal kecil dan sehari-hari. Sebuah rantang makanan, lorong apartemen yang sunyi, aroma rokok yang tertinggal di udara, sampai jeda hening di antara dua orang asing. Detail-detail semacam itu membuat suasana terasa dekat sekaligus tidak nyaman. Penulis tampaknya memahami bahwa rasa canggung sering kali lebih efektif daripada pertengkaran besar, terutama ketika dua tokoh datang dari posisi sosial dan emosional yang timpang.
Yang cukup menarik adalah cara Jw Hasya menjaga ritme cerita tetap tenang tanpa kehilangan rasa penasaran. Sutra hadir dengan kepolosan yang tidak dibuat-buat. Ia bukan tokoh perempuan yang terlalu naif, tetapi seseorang yang memang belum terbiasa menghadapi dunia orang dewasa yang rumit. Di sisi lain, Kama muncul hampir seperti ruang dingin yang tertutup rapat. Bahkan sebelum pembaca mengenalnya lebih jauh, apartemennya sudah lebih dulu berbicara tentang dirinya. Bau nikotin, botol anggur, ruangan yang berantakan, semua memberi kesan seseorang yang hidup tanpa benar-benar peduli pada dirinya sendiri. Ada keseimbangan menarik di sini. Sutra bergerak dengan rasa ingin tahu dan kehati-hatian, sementara Kama justru terasa lelah bahkan untuk sekadar berbasa-basi.
Dialog-dialognya bekerja cukup alami karena tidak dipaksa terdengar dramatis. Kalimat seperti “Kalau mau pergi, pergi saja. Jangan bicara terus,” terdengar sederhana, tetapi justru memperlihatkan karakter lebih jelas daripada penjelasan panjang. Respons Sutra yang tetap sopan meski tersinggung juga memberi lapisan emosional yang tenang. Tidak semua ketegangan harus diucapkan terang-terangan. Kadang rasa tidak nyaman yang ditahan jauh lebih terasa. Percakapan Hans dengan Sutra pun menarik karena ditulis seperti obrolan biasa di dalam mobil, tetapi perlahan menyisakan kecemasan kecil yang terus mengendap setelah adegan selesai.
Naskah ini juga cukup peka menangkap tema kedewasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketergantungan ekonomi keluarga Sutra pada keluarga Deodola menjadi latar yang tidak terlalu dijelaskan panjang lebar, tetapi dampaknya terasa di setiap keputusan tokohnya. Bahkan ketika ibunya khawatir, ada rasa bahwa kekhawatiran itu tidak punya banyak ruang untuk benar-benar menolak keadaan. Hal-hal seperti ini membuat relasi antarkarakter terasa lebih hidup karena tidak hanya dibangun lewat ketertarikan personal, tetapi juga posisi sosial dan kebutuhan hidup. Di titik tertentu, pembaca bisa merasakan bahwa rasa takut Sutra bukan semata pada Kama, melainkan pada dunia yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Meski begitu, ada beberapa bagian yang masih bisa dibuat lebih hemat agar atmosfernya semakin tajam. Penjelasan tentang sifat Kama sesekali terasa terlalu langsung, padahal karakter seperti ini justru lebih menarik ketika dibiarkan terbaca perlahan lewat tindakan kecil. Namun secara keseluruhan, Jw Hasya berhasil menjaga identitas dark romance tetap terasa intim dan emosional tanpa kehilangan nuansa realistisnya. Ada kehati-hatian dalam membangun chemistry, juga kesabaran dalam menanam ketegangan sejak awal. Untuk cerita yang bermain di wilayah relasi kuasa dan emosi yang rumit, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih menarik daripada sekadar mengandalkan sensasi.
By Caberawit

Cerita nya bikin penasaran.. Cus lanjutin bacanya ah..
BalasHapusBikin penasaran. Harus baca sampai tamat, nih.
BalasHapus