Wasiat Ibu: Si Cacat yang Beruntung - Lazuardi

Wasiat Ibu: Si Cacat yang Beruntung - Lazuardi


0

BAB 24: HARGA SEBUAH TAKHTA

Lonceng berdentang, memecah kebisingan sorak penonton yang haus darah. Di tengah ring bawah lampu sorot kuning pucat, Kara berdiri berhadapan dengan Si Jagal. Bau amis sisa pertarungan sebelumnya masih menempel di lantai kasar, bercampur aroma keringat dan antisipasi yang mencekam.

Jagal maju selangkah, otot lengannya yang sebesar paha manusia berkedut. "Kau siap mati dengan wajah tampanmu itu, Nak?"

Kara menyeringai, meskipun jantungnya berdegup dengan irama yang menyiksa. "Tampangmu terlalu buruk untuk dikubur, Jagal. Aku akan membantumu hancur agar orang orang tidak perlu melihat wajahmu lagi."

"Sombong sekali!" raung Jagal.

Lelaki itu menerjang maju dengan kecepatan tidak terduga. Sebuah pukulan hook kiri mendarat telak di rahang Kara. Dunia seolah berputar. Pemuda itu terhuyung, merasakan rasa amis tajam di mulutnya. Ilusi Nawasena tidak goyah secara visual, namun ia bisa merasakan tulang rahangnya berderak.

"Kenapa? Cuma segitu kekuatan Jawara baru kita?" Jagal tertawa menggelegar.

"Baru pemanasan," desis Kara.

Ia menyeka sudut bibir dan melirik jarinya. Cincin itu kini panas, memancarkan denyut yang menyedot kesadarannya. Bantu aku, bisiknya dalam hati. Hancurkan dia!

Kara melesat maju. Gerakannya tidak lagi mengikuti logika manusia. Ia bergerak terlalu cepat dan tajam, mendaratkan pukulan bertubi tubi ke ulu hati Jagal. Pukulan itu terasa seperti hantaman palu baja.

"Apa ini?!" Jagal terengah dengan mata membelalak kaget.

"Ini adalah akhir dari kejayaanmu!" Kara melompat dan melayangkan tendangan memutar tepat ke leher Jagal.

Raksasa itu terpelanting ke sudut ring hingga tiang besi penyangganya berderit. Penonton menggila. Teriakan nama Nawasena bergema seperti mantra. Di barisan depan, Maya berteriak kegirangan. Matanya berbinar melihat pria yang ia anggap sebagai tiket menuju kemewahan.

"Berdiri, Jagal! Jangan bikin aku bosan!" tantang Kara.

Jagal merangkak bangun sambil meludah darah. "Kau bukan manusia biasa. Apa yang kau pakai, hah?"

"Apa yang kau katakan? Aku tidak menggunakan apa pun!" sahut Kara.

Ia mendekat dengan tangan mengepal, namun tiba tiba rasa sakit luar biasa menghantam tulang punggungnya. Pandangannya menggelap sesaat. Urat hitam di bawah kulit lengannya mulai menjalar ke arah dada. Jagal melihat celah itu. Dengan sisa tenaganya, sang veteran bangkit dan memeluk pinggang Kara, lalu mengangkatnya tinggi tinggi.

"Mati kau, Bocah!"

Jagal membanting tubuh Kara ke lantai ring dengan kekuatan penuh. Slam itu seharusnya bisa mematahkan punggung siapa pun. Kara tergeletak diam. Arena mendadak hening.

"Nawasena! Bangun!" teriak Maya dari pinggir ring dengan wajah pucat.

Di dalam kegelapan kesadarannya, Kara merasakan sesuatu yang dingin mengalir dari cincin itu. Ambil semuanya, suara tanpa wujud berbisik di kepalanya. Berikan rasa sakitmu dan ambil nyawanya.

Kara membuka mata. Netranya tampak sehitam lubang tanpa dasar untuk sesaat sebelum kembali normal. Ia bangkit berdiri seolah bantingan tadi hanyalah tepukan pelan.

"Bagaimana kau bisa bangun?" Jagal melangkah mundur dengan ketakutan yang nyata.

"Giliranku," ucap Kara pelan. Suaranya seolah bergaung di seluruh arena.

Kara menerjang. Kali ini tidak ada teknik, hanya kebrutalan membabi buta. Ia mencengkeram kerah Jagal dan menghujamkan kepalanya ke dahi pria itu. Jagal limbung, namun Kara tidak berhenti. Ia memukul wajah Jagal berkali kali hingga hancur tak berbentuk.

"Cukup, Nawasena! Dia sudah kalah!" teriak wasit mencoba melerai.

Kara tidak mendengar. Ia merasa seperti kesurupan. Setiap pukulan memberikan rasa nikmat aneh bercampur sakit yang tak tertahankan. Wasit mencoba menarik bahunya, namun Kara menyentak hingga wasit itu terlempar keluar ring. Penonton mulai ketakutan melihat kebuasan yang tak terkendali. Pak Codet berdiri dari kursinya dengan wajah penuh kecemasan.

"Jagal bisa mati jika kau teruskan, Nak!" teriak Pak Codet.

Kara berhenti. Tangannya berlumuran darah. Ia menatap lawannya yang terkapar tak berdaya dengan mata memutih.

"Pemenangnya, Nawasena!" teriak penyiar dengan suara bergetar.

Kara terdiam. Ia merasakan sesuatu yang pahit dan busuk naik dari perutnya. Ia melangkah turun dari ring melewati Bos Robert yang tersenyum lebar sambil menghitung uang taruhan.

"Kerja bagus, Nawasena! Istirahatlah, besok kita bicara bonus," seru Bos Robert.

Kara terus berjalan menuju lorong gelap ruang ganti. Maya mengikuti dengan langkah cepat, bertanya cemas apakah ia terluka.

"Aku bilang diam, Maya!" bentak Kara.

Ia masuk ke toilet dan mengunci pintu. Kara membungkuk di depan wastafel. Dari mulutnya keluar cairan kental berwarna hitam pekat yang berbau seperti bangkai.

"Sial, apa ini?" rintih Kara ngeri.

Ia membasuh mulut, namun rasa pahit itu tidak hilang. Di cermin, ilusi wajahnya bergetar. Untuk sekejap, ia melihat wajah aslinya; pucat, kurus, dengan mata cekung, sebelum kembali menjadi sosok Nawasena yang tampan.

"Nawasena? Kamu di dalam?" suara Maya terdengar dari balik pintu.

"Jangan masuk! Biarkan aku sendiri sepuluh menit!" teriak Kara sambil memukul pintu.

Kara menatap jarinya. Cincin itu kini tampak lebih gelap, seolah telah menyerap cairan hitam tadi. Rasa sakitnya mereda, berganti lemas yang luar biasa. Ia tahu kemenangan ini menuntut bayaran mahal.

"Aku adalah pemenang," bisik Kara pada pantulannya, mencoba meyakinkan dirinya yang sedang sekarat. "Aku punya kekuatan dan pengakuan. Ini yang aku inginkan."

Ia membersihkan sisa cairan hitam di wastafel hingga bersih. Ia harus tetap tampil sempurna. Tidak boleh ada yang tahu bahwa di balik kehebatan Nawasena, ada seorang Bagas yang sedang hancur berkeping keping.

Setelah merasa kuat, ia membuka pintu. Maya berdiri di sana menatapnya dengan pandangan campur aduk.

"Kamu pucat banget," ujar Maya pelan.

Kara memaksakan senyum sinis. "Wajar saja, aku baru saja menghajar raksasa. Pulanglah, aku ingin istirahat."

"Kamu tidak mau ditemani?"

"Malam ini tidak, mungkin besok," jawabnya datar.

Mereka berjalan keluar melewati kerumunan yang masih membicarakan kehebatannya. Kara berjalan dengan kepala tegak, namun ia merasakan cairan hitam itu seolah masih mengalir di dalam pembuluh darahnya. Malam itu, ia menyadari bahwa mahkota yang ia pakai terbuat dari duri. Setiap kali ia merasa bangga, duri itu menusuk lebih dalam ke jiwanya. Namun bagi Kara, rasa sakit itu jauh lebih baik daripada kembali menjadi orang yang tidak dianggap sama sekali.

*****

Nama pena: Lazuardi

Genre: Urban War God

Platform: Maxnovel

Editorial:

Membaca bab 24 karya Lazuardi di Maxnovel ini terasa seperti berjalan di atas lapisan kaca tipis yang sewaktu-waktu bisa retak. Penulis tidak sekadar menyajikan pertarungan fisik yang bising, melainkan membangun atmosfer melalui detail sensorik yang sangat tajam. Bau amis sisa pertarungan yang tertinggal di lantai kasar dan lampu sorot kuning pucat menciptakan kontras yang menarik. Kita tidak hanya melihat ring, kita menghirup kecemasan dan mencium bau keringat yang bercampur dengan antisipasi penonton. Keberhasilan membangun ruang ini membuat pembaca merasa terjepit di antara sorak sorai yang riuh dan kesunyian internal sang tokoh utama yang mencekam.

Ada ritme narasi yang terjaga dengan apik saat cerita beralih dari kebrutalan di atas ring menuju kerapuhan di ruang ganti. Kontras antara sosok Nawasena yang perkasa di mata publik dengan realitas Bagas yang hancur di depan wastafel toilet memberikan dimensi emosional yang dewasa. Kealamian dialog pun tidak dipaksakan untuk menjelaskan plot, melainkan berfungsi sebagai cermin hubungan antar karakter. Lihatlah bagaimana interaksi singkat antara Kara dan Maya di akhir bab; sebuah percakapan yang terasa sangat manusiawi namun menyimpan ketegangan halus mengenai ego, kasih sayang yang mungkin bersyarat, serta jarak yang kian lebar di antara mereka.

Ketegangan dalam naskah ini justru paling terasa saat aksi fisik mereda. Alih-alih mengandalkan konflik besar yang meledak-ledak, Lazuardi memilih untuk menyoroti hal-hal kecil seperti getaran ilusi di cermin atau cairan hitam pekat yang berbau bangkai. Momen-momen intim ini menyiratkan adanya harga yang harus dibayar mahal oleh sang tokoh demi sebuah pengakuan. Dinamika antara kemenangan di luar dan kekalahan di dalam inilah yang memberikan bobot pada tema keberadaan diri dalam kehidupan sehari-hari, sebuah refleksi tentang bagaimana manusia seringkali memakai topeng kesempurnaan demi menutupi luka yang terus menganga.

Meskipun narasi mengalir dengan tenang, ada sedikit ruang untuk eksplorasi lebih dalam pada transisi psikologis sang tokoh saat ia mulai kehilangan kendali di tengah pertarungan. Sedikit perlambatan tempo pada momen kesurupan tersebut mungkin akan memperkuat kesan penderitaan batin yang dialaminya. Namun, cara penulis menangkap kepahitan yang naik dari perut dan rasa lemas yang luar biasa setelah kemenangan tetap mampu memberikan gambaran yang jelas tanpa perlu banyak berteriak. Ini adalah gaya bercerita yang menghargai kecerdasan pembaca dalam menangkap isyarat emosional yang tersirat di balik setiap baris kalimat.

Secara keseluruhan, Lazuardi menunjukkan kematangan yang meyakinkan dalam meramu genre Urban War God menjadi sesuatu yang lebih bernyawa. Penulis memiliki kepekaan yang jarang ditemui dalam menangkap esensi penderitaan yang sunyi di tengah hingar-bingar dunia luar. Keahliannya dalam menjaga keseimbangan antara aksi yang maskulin dengan refleksi batin yang rapuh membuat naskah ini memiliki tekstur yang kaya. Sebuah pencapaian estetika yang membuktikan bahwa cerita tentang kekuatan sejati seringkali ditemukan pada saat-saat paling lemah seorang manusia di balik pintu yang terkunci.

By Caberawit



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama