CRIMSON TWINS: Shadows of Justice - Sweet Moon

CRIMSON TWINS: Shadows of Justice - Sweet Moon


0

CRIMSON TWINS: Shadows of Justice

Ch. 1— Sosok di Balik Pilar

Suara tamparan itu bergema di koridor belakang yang sepi, memantul di dinding-dinding beton yang lembap.

Plakkk!

​"Aw... kak sakit."

​"Rasain. Makanya jangan genit jadi orang. Tahu rasa kan lo?" Kasmita berkacak pinggang, napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena rasa puas yang meluap. Di depannya, Nina tersungkur dengan pipi yang mulai merona merah, seragam putihnya kini kotor terkena debu lantai.

​"Udah Kas. Gunting aja baju sama roknya yang udah buluk," kompor Chery sambil menyodorkan gunting lipat dari saku roknya. Matanya berkilat nakal, seolah ini adalah tontonan paling menghibur di SMA Garuda.

​Kasmita menolak gunting itu. "Nggak perlu. Hari ini cukup kayak gini aja. Awas aja besok gue lihat lo masih ngobrol sama Keziro. Lo itu cuma keset, Nin. Jangan mimpi bisa sejajar sama kita-kita."

​Nina hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat karena isak tangis yang tertahan. Dia hanya tidak sengaja menubruk Tara, teman dekat Keziro, tadi pagi. Hanya permintaan maaf singkat, tapi di mata Kasmita yang terobsesi pada Keziro, itu adalah deklarasi perang yang dia sengaja.

​Dari lantai dua, di balik bayangan pilar gedung tua yang jarang dilewati siswa, sepasang mata tajam mengamati segalanya. Kazura berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada tembok yang mengelupas. Seragam swastanya yang rapi dipadukan dengan hoodie hitam di dalamnya—pelanggaran kecil yang selalu ia lakukan dan guru juga sudah capek menegur.

​Satu menit tiga puluh detik, batin Kazura sembari melirik jam tangan digitalnya.

​Ia meniup permen karetnya hingga membentuk balon besar, dan...

Puk!

Balon permen karet meletus pelan. Ia mengunyahnya kembali dengan gerakan yang tenang. Wajahnya dingin, hampir tanpa ekspresi, seolah-olah penindasan di bawah sana hanyalah sebuah film dokumenter yang membosankan. Namun, jemarinya bergerak lincah di layar ponsel, mengetik dua nama di sebuah aplikasi catatan tersembunyi yang ia beri judul The List.

​1. Kasmita (Intimidasi, Kekerasan Fisik).

2. Chery (Provokator).

​Kazura tidak bergerak untuk menolong Nina. Ia bukan pahlawan kesiangan yang akan turun sambil berteriak "Hentikan!".

Baginya, keadilan yang sesungguhnya tidak datang dari teguran guru atau mediasi ruang BK yang formalitas. Keadilan harus dirasakan sebagai ketakutan yang setimpal.

​"Bosan," gumamnya pelan.

Suaranya serak dan rendah. Ia membuang sisa permen karetnya ke dalam tempat sampah kaleng di pojok koridor dengan tepat. Tanpa menoleh lagi ke arah Nina yang masih terisak, Kazura melangkah pergi. Kakinya melangkah tanpa suara, seringan kucing hutan yang sedang memantau mangsa.

​Di sisi lain sekolah, hiruk-pikuk lapangan basket terdengar meriah.

​"Kez!" teriak Tara sambil melempar bola.

​Seorang remaja laki-laki dengan tinggi 185 cm melompat tinggi, menangkap bola di udara, dan melakukan slam dunk yang sempurna. Sorak-sorai siswi-siswi di pinggir lapangan meledak. Itu Keziro. Wajahnya identik dengan Kazura, namun auranya seperti kutub yang berbeda. Jika Kazura adalah malam yang membeku, Keziro adalah matahari musim panas yang menyilaukan.

​Senyum Keziro merekah lebar saat ia mendarat. Ia menyeka keringat di dahinya dengan wristband, menampakkan pesona yang membuat Kasmita—jika gadis itu ada di sana—pasti akan pingsan kegirangan.

​Namun, saat matanya yang berbinar itu melirik ke arah gedung belakang di lantai dua, senyumnya sedikit memudar. Ia melihat siluet hitam yang sangat ia kenali baru saja menghilang di balik tikungan koridor.

​"Zi? Kenapa lo?" tanya Tara sambil menepuk bahu Keziro.

​Keziro tertawa kecil, kembali ke mode "Golden Boy"-nya. "Nggak apa-apa. Eh, Ra, lo tadi abis ditabrak adik kelas ya? Siapa namanya? Nina?"

​Tara mengangguk sambil menenggak air mineral. "Iya, kasihan sih anaknya gemeteran gitu tadi. Tapi tenang aja, udah kelar kok."

​Keziro mengangguk-angguk, namun matanya menyipit. Ia tahu benar tabiat Kasmita, dan ia jauh lebih tahu tabiat adiknya, Kazura. Jika Kazura sudah berada di gedung belakang di jam seperti ini, artinya akan ada "pembersihan" yang harus ia lakukan segera.

​"Gue balik, deh!" Keziro berlari kecil meninggalkan lapangan.

​Bukannya langsung pulang, Keziro justru memutar jalan menuju ruang kontrol CCTV yang letaknya tersembunyi di dekat gudang olahraga dna jam segini pasti sepi. Ia masuk dengan kunci duplikat yang ia buat sebulan lalu. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia duduk di depan layar monitor, mencari rekaman koridor lantai dua gedung belakang.

​Di sana, ia melihat adiknya. Kazura berdiri diam, mengamati Kasmita yang merundung Nina. Keziro memperhatikan ekspresi Kazura atau lebih tepatnya, ketiadaan ekspresi.

​"Ra, Ra... lo selalu aja naruh diri lo dalam bahaya," bisik Keziro.

​Ia melihat Kazura pergi, lalu beberapa menit kemudian, Kasmita dan Chery pergi sambil tertawa-tawa. Keziro segera menekan beberapa tombol, menghapus rekaman sepuluh menit terakhir di area tersebut, lalu menggantinya dengan rekaman looping koridor kosong dari hari kemarin.

​Setelah memastikan tidak ada jejak digital yang menunjukkan kehadiran Kazura di sana, Keziro keluar dengan santai. Ia merogoh saku celana basketnya, melepas sepasang sarung tangan medis tipis yang selalu ia bawa, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas.

​Pukul lima sore, gerbang sekolah sudah mulai sepi. Kazura berjalan menuju parkiran motor, helm full-face hitam sudah terpasang. Ia tidak menyapa siapa pun, dan tidak ada yang berani menyapanya. Baginya, sekolah adalah tempat kerja, bukan tempat bersosialisasi.

​Sesampainya di rumah, sebuah rumah mewah yang asri dan beraroma kayu manis, suasana langsung berubah total.

**********

Nama pena: Sweet Moon

Genre: Teenlit, Misteri, Action

Platform: Novea

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama