Ch. 3— Hukuman Ringan dari Kazura
Suara tamparan itu bergema di koridor belakang yang sepi, memantul di dinding-dinding beton yang lembap.
Plakkk!
"Aw... kak sakit."
"Rasain. Makanya jangan genit jadi orang. Tahu rasa kan lo?" Kasmita berkacak pinggang, napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena rasa puas yang meluap. Di depannya, Nina tersungkur dengan pipi yang mulai merona merah, seragam putihnya kini kotor terkena debu lantai.
"Udah Kas. Gunting aja baju sama roknya yang udah buluk," kompor Chery sambil menyodorkan gunting lipat dari saku roknya. Matanya berkilat nakal, seolah ini adalah tontonan paling menghibur di SMA Garuda.
Kasmita menolak gunting itu. "Nggak perlu. Hari ini cukup kayak gini aja. Awas aja besok gue lihat lo masih ngobrol sama Keziro. Lo itu cuma keset, Nin. Jangan mimpi bisa sejajar sama kita-kita."
Nina hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat karena isak tangis yang tertahan. Dia hanya tidak sengaja menubruk Tara, teman dekat Keziro, tadi pagi. Hanya permintaan maaf singkat, tapi di mata Kasmita yang terobsesi pada Keziro, itu adalah deklarasi perang yang dia sengaja.
Dari lantai dua, di balik bayangan pilar gedung tua yang jarang dilewati siswa, sepasang mata tajam mengamati segalanya. Kazura berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada tembok yang mengelupas. Seragam swastanya yang rapi dipadukan dengan hoodie hitam di dalamnya—pelanggaran kecil yang selalu ia lakukan dan guru juga sudah capek menegur.
Satu menit tiga puluh detik, batin Kazura sembari melirik jam tangan digitalnya.
Ia meniup permen karetnya hingga membentuk balon besar, dan...
Puk!
Balon permen karet meletus pelan. Ia mengunyahnya kembali dengan gerakan yang tenang. Wajahnya dingin, hampir tanpa ekspresi, seolah-olah penindasan di bawah sana hanyalah sebuah film dokumenter yang membosankan. Namun, jemarinya bergerak lincah di layar ponsel, mengetik dua nama di sebuah aplikasi catatan tersembunyi yang ia beri judul The List.
1. Kasmita (Intimidasi, Kekerasan Fisik).
2. Chery (Provokator).
Kazura tidak bergerak untuk menolong Nina. Ia bukan pahlawan kesiangan yang akan turun sambil berteriak "Hentikan!".
Baginya, keadilan yang sesungguhnya tidak datang dari teguran guru atau mediasi ruang BK yang formalitas. Keadilan harus dirasakan sebagai ketakutan yang setimpal.
"Bosan," gumamnya pelan.
Suaranya serak dan rendah. Ia membuang sisa permen karetnya ke dalam tempat sampah kaleng di pojok koridor dengan tepat. Tanpa menoleh lagi ke arah Nina yang masih terisak, Kazura melangkah pergi. Kakinya melangkah tanpa suara, seringan kucing hutan yang sedang memantau mangsa.
Di sisi lain sekolah, hiruk-pikuk lapangan basket terdengar meriah.
"Kez!" teriak Tara sambil melempar bola.
Seorang remaja laki-laki dengan tinggi 185 cm melompat tinggi, menangkap bola di udara, dan melakukan slam dunk yang sempurna. Sorak-sorai siswi-siswi di pinggir lapangan meledak. Itu Keziro. Wajahnya identik dengan Kazura, namun auranya seperti kutub yang berbeda. Jika Kazura adalah malam yang membeku, Keziro adalah matahari musim panas yang menyilaukan.
Senyum Keziro merekah lebar saat ia mendarat. Ia menyeka keringat di dahinya dengan wristband, menampakkan pesona yang membuat Kasmita—jika gadis itu ada di sana—pasti akan pingsan kegirangan.
Namun, saat matanya yang berbinar itu melirik ke arah gedung belakang di lantai dua, senyumnya sedikit memudar. Ia melihat siluet hitam yang sangat ia kenali baru saja menghilang di balik tikungan koridor.
"Zi? Kenapa lo?" tanya Tara sambil menepuk bahu Keziro.
Keziro tertawa kecil, kembali ke mode "Golden Boy"-nya. "Nggak apa-apa. Eh, Ra, lo tadi abis ditabrak adik kelas ya? Siapa namanya? Nina?"
Tara mengangguk sambil menenggak air mineral. "Iya, kasihan sih anaknya gemeteran gitu tadi. Tapi tenang aja, udah kelar kok."
Keziro mengangguk-angguk, namun matanya menyipit. Ia tahu benar tabiat Kasmita, dan ia jauh lebih tahu tabiat adiknya, Kazura. Jika Kazura sudah berada di gedung belakang di jam seperti ini, artinya akan ada "pembersihan" yang harus ia lakukan segera.
"Gue balik, deh!" Keziro berlari kecil meninggalkan lapangan.
Bukannya langsung pulang, Keziro justru memutar jalan menuju ruang kontrol CCTV yang letaknya tersembunyi di dekat gudang olahraga dna jam segini pasti sepi. Ia masuk dengan kunci duplikat yang ia buat sebulan lalu. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia duduk di depan layar monitor, mencari rekaman koridor lantai dua gedung belakang.
Di sana, ia melihat adiknya. Kazura Jumat pagi di SMA Garuda selalu menjadi panggung paradoks bagi penghuninya. Jadwal olahraga adalah momen emas bagi Kasmita dan Chery untuk memamerkan seragam olahraga ketat hasil modifikasi, namun bagi Kazura, ini adalah saat yang tepat untuk memulai "permainan" sesungguhnya.
Kazura berdiri mematung di depan deretan loker ruang ganti putri yang telah lengang. Semua siswi sudah turun ke lapangan untuk pemanasan. Dengan gerakan metodis, ia mengeluarkan botol semprot mungil dari saku jaketnya. Cairan di dalamnya tampak bening serupa air mineral, tak beraroma, namun menyimpan konsentrasi ekstrak tanaman hasil racikannya di laboratorium kimia sekolah pekan lalu. Cairan itu dirancang khusus agar bereaksi sepuluh menit setelah bersentuhan dengan keringat.
Tanpa ragu, ia membuka loker nomor 24 milik Kasmita dan nomor 27 milik Chery. Kazura menyemprotkan zat tersebut ke bagian dalam seragam putih-abu-abu yang tergantung di sana, fokus pada area kerah, ketiak, dan pinggang.
"Keadilan itu gatal, Kas, Cher," bisiknya nyaris tak terdengar. Seringai tipis menghiasi wajah cantiknya sebelum ia menutup kembali loker dengan denting halus.
Di lapangan basket, peluit ditiup nyaring. Pertandingan persahabatan melawan SMA Tunas Bangsa akan segera dimulai dalam satu jam. Keziro, dengan jersey bernomor punggung 02, sedang melakukan pemanasan lay-up. Namun, fokusnya terbelah. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah gedung ruang ganti putri, yakin bahwa kembarannya sedang beraksi.
Ia melihat Kazura keluar dengan langkah santai, rambut kuncir kudanya berayun mengikuti irama langkah yang tenang. Kazura tidak menuju lapangan, melainkan berbelok ke arah area parkir siswa.
Mau apa lagi dia? batin Keziro waswas.
Keziro berpura-pura menepi ke pinggir lapangan untuk membetulkan tali sepatu. Dari kejauhan, ia menangkap sosok adiknya berjongkok di samping Mini Cooper merah milik Kasmita dan Honda Jazz putih kepunyaan Chery. Ada kilatan benda tajam di jemari Kazura.
Ssttt... Ssttt...
Dua ban sekaligus dilumpuhkan. Kazura melakukannya dengan ekspresi sedatar tembok, tanpa menoleh kanan-kiri. Dingin dan tak kenal takut.
"Sial, Ra. Kamu terlalu ceroboh," gumam Keziro. Ia sadar ada kamera CCTV model lama di sudut parkiran itu. Meski sering luput dari perhatian, alat itu tetap mampu merekam jejak adiknya.
Tanpa membuang waktu, Keziro merogoh ponsel dari tas basketnya. Sebagai Ketua OSIS sekaligus anak emas para guru, ia memegang akses remote ke peladen CCTV sekolah. Sambil berpura-pura minum, jemarinya menari lincah di layar. Ia meretas masuk, mencari rekaman lima menit terakhir, dan melakukan sabotase data pada fail parkiran tersebut.
File Corrupted.
Setelah memastikan jejak digital adiknya sirna, Keziro kembali ke lapangan. Ia berlari ke tengah pertandingan tepat saat peluit tip-off dibunyikan, berusaha keras bersikap seolah pikirannya tidak sedang sibuk membersihkan sisa-sisa "kenakalan" Kazura.
Satu jam kemudian, jam olahraga berakhir. Kasmita dan Chery memasuki ruang ganti dengan napas terengah dan tubuh bersimbah peluh.
"Duh, gerah sekali hari ini," keluh Chery sembari menanggalkan kaos olahraganya.
"Makanya, cepat ganti. Aku sudah lapar, mau ke kantin sebelum menonton Ayang Kezi tanding," sahut Kasmita sembari mengenakan seragamnya.
Awalnya, segalanya terasa normal. Kasmita bahkan sempat memoles gincu di depan cermin, memuja bayangannya sendiri. Namun, saat mereka melintasi koridor menuju kantin, reaksi "cairan ajaib" itu bekerja. Keringat yang mengandung garam menjadi katalisator bagi zat aktif buatan Kazura.
"Kas... kenapa leherku mendadak panas, ya?" Chery mulai menggaruk tengkuknya.
Kasmita mengerutkan kening, namun sedetik kemudian ia merintih. "Eh, iya. Punggungku juga. Aduh, gatal sekali!"
Dalam sekejap, rasa gatal itu bermutasi menjadi sensasi pedih seperti gigitan ribuan semut api. Kasmita mulai menggaruk ketiaknya secara brutal di tengah kerumunan siswa. Chery lebih mengenaskan; ia menggeliat di tembok, berusaha meredakan rasa panas di area pinggangnya.
"Aduh! Sakit! Gatal sekali, Cher!" jerit Kasmita, menanggalkan segala citra elegannya. Ia menarik-narik seragamnya, berusaha menjauhkan kain itu dari kulitnya yang mulai memerah.
Siswa-siswa yang melintas mulai berkumpul menonton. Kasmita yang biasanya angkuh kini tampak seperti orang kesurupan, menggaruk lengannya hingga lecet, bahkan nyaris merobek kancing bajunya sendiri demi mencari kelegaan.
Dari balik jendela kantin, Kazura duduk tenang menyesap jus jeruk ditemani sebuah buku. Ia tak perlu melihat langsung; suara teriakan Kasmita di koridor adalah simfoni yang merdu di telinganya. Ia membalik halaman buku dengan jemari stabil sebelum beranjak menuju tribun.
Penderitaan dua perundung itu belum usai. Setelah dipulangkan lebih awal oleh petugas UKS karena dugaan alergi hebat, mereka tertatih menuju parkiran, bermimpi bisa segera pulang untuk mandi air es.
Namun, kejutan kedua telah menanti.
"MOBILKU!!" jerit Kasmita histeris.
Empat ban mobilnya kempis total, mencium aspal parkiran. Hal serupa terjadi pada mobil Chery. Di tengah rasa gatal yang membakar kulit, mereka terjebak dalam situasi yang memalukan sekaligus menyakitkan.
Keziro hanya melirik sekilas ke arah Kazura yang berjalan menuju tribun. Kazura membalas tatapan kakaknya—sebuah tatapan dingin yang seolah menegaskan bahwa misinya telah tuntas.
Keziro membatin: Satu jejak digital sudah dihapus. Tapi Ra, ban kempis itu terlalu mudah dilacak secara manual. Beruntung kakakmu ini punya seribu cara untuk melindungi punggungmu.
*****
Nama pena: Sweet Moon
Genre: Teenlit, Misteri, Action
Platform: Novea
Editorial:
Novel ini berisi dengan adegan yang langsung menarik perhatian, perundungan di sekolah. Kasmita dan Chery, dua siswi populer, mempermalukan Nina hanya karena kesalahan kecil. Adegan ini tidak sekadar menunjukkan kekerasan fisik, tapi juga menggambarkan bagaimana kekuasaan sosial digunakan untuk menyakiti orang lain. Pembaca diajak merasakan ketidakadilan yang dialami Nina, sekaligus melihat betapa dinginnya para pelaku terhadap penderitaan korban.
Di balik semua itu, ada Kazura, sosok misterius yang mengamati dari kejauhan. Ia bukan pahlawan biasa. Tidak turun tangan secara langsung, tidak berteriak “hentikan!”, malah justru mencatat nama-nama pelaku dalam daftar rahasia. Ini memberi kesan bahwa Kazura punya cara sendiri dalam menegakkan keadilan, bukan lewat aturan sekolah, tapi lewat rasa takut yang ia ciptakan. Karakternya unik, tenang, cerdas, dan sedikit menyeramkan.
Sementara itu, Keziro, kembaran Kazura, tampil sebagai sosok yang sangat berbeda. Dia populer, ceria, dan disukai banyak orang. Tapi di balik senyumnya, dia tahu betul apa yang sedang dilakukan adiknya. Bahkan, dia rela meretas sistem CCTV sekolah demi menghapus jejak Kazura. Ini menunjukkan bahwa meskipun mereka terlihat bertolak belakang, keduanya sebenarnya saling melengkapi. Kombinasi yang unik dimana satu menciptakan masalah, satunya lagi membersihkannya.
Aksi balas dendam Kazura dilakukan dengan cara yang kreatif dan penuh perhitungan. Dia menggunakan ilmu kimia untuk membuat cairan yang menyebabkan gatal parah saat bereaksi dengan keringat. Lalu, dia melumpuhkan ban mobil para pelaku. Semua ini dilakukan tanpa emosi, seperti mesin yang bekerja sesuai rencana. Cara ini membuat pembaca merasa puas, karena para pelaku akhirnya merasakan akibat dari perbuatan mereka, tapi juga sedikit ngeri, karena Kazura tidak pernah ketahuan.
Yang menarik, bab ini tidak hanya fokus pada aksi balas dendam, tapi juga menunjukkan dinamika hubungan antara saudara kembar. Keziro mungkin tampak lebih "baik" di mata umum, tapi dia justru menjadi bagian penting dari rencana Kazura. Ini menambah kedalaman karakter dan membuat pembaca penasaran: apakah Keziro benar-benar setuju dengan cara Kazura? Atau dia hanya ingin melindungi adiknya?
Ditulis oleh Sweet Moon, seorang penulis muda berbakat yang aktif di platform Novea, Crimson Twins: Shadows of Justice menawarkan gaya bercerita yang segar namun tetap mudah diikuti. Dengan bahasa sederhana dan alur yang padat, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita thriller psikologis dengan sentuhan drama remaja. Novel ini berhasil membangun dunia cerita yang gelap namun menarik, meninggalkan kesan kuat bahwa keadilan tidak selalu datang dari pihak yang berwenang, kadang-kadang, ia datang dari bayangan, dan bisa jauh lebih menakutkan daripada hukuman resmi.
by Nada Maya
