The Last Guardian Of Greyfenwood - Larass

The Last Guardian Of Greyfenwood - Larass


0

 BAB 1: SAMPANYE DAN NAPALM

"Kau tahu aturan mainnya, Tuan O'Connell. Jika ayahku melihat bayanganmu di teras ini, dia tidak akan memanggil polisi. Dia akan memanggil tukang daging!"

Suara itu lembut namun sarat ancaman. Katya Volkov, putri tunggal kepala sindikat kriminal Eropa Timur, memutar gelas sampanye di tangannya. Kakinya yang jenjang bersandar santai di atas pangkuan Finnian.

Finnian tersenyum tenang. Dia mengenakan tuksedo hitam dengan dasi yang sudah terlepas longgar. Dubai di malam hari berkilauan di belakang mereka, menjadi latar megah bagi suasana penuh dosa di apartemen mewah lantai 80 itu.

"Tukang daging?" Finnian mendekat. Jarinya menelusuri rahang Katya, membuat wanita itu menahan napas. "Kebetulan sekali. Aku selalu suka daging yang setengah matang!"

Katya terkekeh pelan. "Kau pria sombong, Finn. Itu sebabnya aku membiarkanmu masuk."

"Bukan karena mataku?"

"Karena kau satu satunya pria yang berani menatapku tanpa gemetar." Katya menarik kerah kemeja Finnian, memaksa pria itu mendekat. "Cium aku. Buat aku lupa namaku sebelum penjaga sadar CCTV sudah kau matikan."

Finnian menatap mata wanita itu. Ada nafsu di sana, namun juga kesepian mendalam dari seorang putri mafia.

"Baiklah, Katya," bisik Finnian dengan suara berat yang mendominasi. "Tutup matamu."

Katya menurut dengan bibir sedikit terbuka. Namun, tidak ada ciuman yang datang. Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa, tangan Finnian di belakang leher Katya berubah menjadi cengkeraman baja.

Krak.

Suara itu kering dan mutlak. Tanpa teriakan maupun perlawanan, tubuh Katya lunglai seperti boneka yang talinya diputus. Finnian menangkap gelas sampanye sebelum menyentuh lantai agar tidak menimbulkan suara. Dia meletakkan gelas itu di meja kaca, lalu membaringkan tubuh Katya di sofa seolah wanita itu hanya tertidur mabuk. Dia merapikan rambut pirang korbannya dengan kelembutan yang mengerikan.

"Maaf, Manis," gumam Finnian datar. Seluruh emosinya menguap, digantikan kekosongan seorang predator. "Ayahmu menunggak hutang pada klienku. Di dunianya, nyawamu adalah mata uang."

Finnian melangkah ke balkon dan menyentuh alat komunikasi di telinganya. "Target dilumpuhkan. Kirim pembayarannya!"

Seketika, gemerlap Dubai memudar dan pecah menjadi kegelapan total.

Duarr!

Finnian tersentak bangun hingga terlempar ke lantai kayu yang kasar. Napasnya memburu dan keringat dingin membasahi punggung. Bau parfum mahal Katya lenyap, berganti bau tanah basah dan sesuatu yang terbakar. Bau belerang yang tajam.

Ini nyata.

"Sial!" umpatnya sambil meraih pisau yang selalu ada di bawah bantal.

Gubuk kayu tuanya di tengah hutan Greyfenwood bergetar hebat. Debu jatuh dari langit-langit. Ini bukan gempa bumi, melainkan getaran akibat hantaman benda berat ke bumi secara berulang. Dia merangkak menuju jendela dan mengintip keluar.

"Ya Tuhan."

Malam yang biasanya damai kini koyak. Lusinan bola api meluncur dari langit, membelah hutan seperti meteor. Cahaya oranye menerangi pepohonan, menciptakan bayangan yang menari liar. Satu kapsul jatuh menghantam tanah hanya berjarak dua ratus meter dari gubuknya. Gelombang kejutnya melemparkan Finnian ke belakang. Suara mesin menderu saat pintu kapsul itu terbuka, memuntahkan uap panas.

Ini bukan meteor. Ini invasi.

"Mereka menemukanku," desis Finnian. Dia segera memakai celana kargo tanpa sempat mencari baju. "Lima tahun aku menghilang, dan mereka masih bisa mencium keberadaanku? Kurang ajar!"

Finnian berlari ke lemari senjata rahasia di bawah lantai. Kosong. Dia mengutuk diri sendiri karena telah menjual sebagian besar senjatanya untuk membeli mesin pembangkit listrik minggu lalu. Akhirnya, dia hanya meraih busur panah dan segenggam anak panah peledak yang tersisa.

Wuuung.

Finnian membeku. Telinganya mengenali suara itu sebagai suara peluru kendali yang sedang mengunci target.

"Keluar! Sekarang!"

Instingnya mengambil alih. Dia berlari menendang pintu belakang gubuk hingga lepas. Udara dingin hutan menusuk kulitnya, namun adrenalin membuatnya mati rasa. Dia menerobos semak belukar dengan kecepatan tinggi.

Boom!

Ledakan itu meledakkan keheningan. Gelombang panas menghantam punggung Finnian, melemparkannya seperti daun kering. Gubuk kayu tempat persembunyiannya selama lima tahun kini musnah menjadi bola api. Serpihan kayu yang terbakar berhamburan ke segala arah.

"Argh!" Finnian mengerang saat serpihan panas menggores bahunya.

Dia bangkit dan terus berlari. Hutan di sekelilingnya kacau. Pohon pohon tumbang dan terbakar. Di atas sana, sebuah pesawat tempur hitam melayang rendah. Lampu sorotnya menyapu permukaan tanah, mencari tanda tanda kehidupannya. Finnian bersembunyi di balik akar beringin raksasa dengan napas memburu. Matanya fokus pada lambang di badan pesawat itu; serigala mekanik dengan taring berdarah.

Jantung Finnian seakan berhenti sesaat.

"Tidak mungkin," bisiknya penuh amarah. "Iron Fang? Kupikir aku sudah menghabisi kalian semua di Berlin!"

Suara mekanik dari pengeras suara pesawat menggema dingin. "Perhatian, Subjek Omega. Menyerah adalah pilihan logis. Lokasi Anda sudah dikunci. Zona ini akan diratakan dalam tiga puluh detik."

"Persetan dengan pilihan logis," ludah Finnian.

Di depannya terdapat jurang dengan air terjun deras setinggi lima puluh meter. Itu satu satunya jalan keluar. Melompat dan mungkin mati, atau tetap di sini dan pasti jadi abu. Lampu sorot pesawat mengarah tepat padanya.

"Di sana! Di balik akar!" teriak pilot. Senjata mesin di hidung pesawat mulai berputar.

Finnian menyeringai liar. Ekspresi iblis yang sama saat dia menghabisi Katya di Dubai kini muncul kembali. Monster dalam dirinya telah bangun.

"Kalau kalian menginginkanku," teriak Finnian ke langit sambil menantang pesawat itu, "ambil aku di neraka!"

Moncong senjata mesin menyala terang. Tanah di sekitar Finnian meledak menjadi debu. Namun Finnian sudah tidak di sana. Dia berlari sekuat tenaga menuju tepi jurang dan melompat ke dalam kegelapan di atas air terjun. Saat tubuhnya melayang jatuh menuju air hitam di bawah, dia tidak memikirkan kematian. Dia hanya memikirkan siapa yang akan dia habisi terlebih dahulu saat dia berhasil merangkak naik nanti.

***

Penulis : Larass

Judul : The Last Guardian Of Greyfenwood 

Platform: Meganovel

Genre: Action, Sci-Fi Multiverse, Erotica, dan Saga Crime

Editorial :

Menelusuri bab pembuka karya Larass yang bertajuk The Last Guardian Of Greyfenwood di Meganovel memberikan pengalaman membaca yang kontras, seperti berpindah dari kehangatan ruang eksklusif menuju dinginnya tanah basah. Penulis dengan sangat piawai membangun suasana melalui detail sensorik yang tidak hanya sekadar visual. Kita diajak merasakan beratnya aroma sampanye mahal dan parfum feromon di sebuah griya tawang Dubai, lalu seketika dilemparkan ke dalam sesaknya bau belerang dan tanah yang bergetar di tengah hutan. Transisi ini menciptakan efek kejut yang elegan, membuat pembaca dewasa menyadari bahwa kenyamanan dalam narasi ini hanyalah sebuah selaput tipis yang siap robek kapan saja.

Ritme narasi yang dibangun terasa terjaga, terutama saat cerita bergeser dari keintiman yang manipulatif menuju aksi bertahan hidup yang mendesak. Dinamika hubungan antar karakter, meski diperkenalkan secara singkat, memberikan gambaran yang cukup dalam mengenai sisi gelap manusia. Ada kesepian yang menyedihkan di balik mata seorang putri mafia, namun di sisi lain, ada kekosongan predator yang dingin pada diri sang protagonis. Dialog yang hadir pun terasa sangat organik, tidak berfungsi untuk sekadar memberikan informasi, melainkan sebagai alat untuk menunjukkan dominasi dan fungsi emosional yang kompleks dalam dunia yang keras.

Ketegangan yang dihadirkan Larass justru sering kali muncul dari hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Perhatikan bagaimana bunyi gelas yang diletakkan hati-hati agar tidak pecah atau getaran cangkir kopi kaleng di atas meja kayu yang menandakan bahaya besar sedang mendekat. Fokus pada detail-detail kecil ini memberikan bobot pada tema kedewasaan mengenai pilihan dan konsekuensi. Pembaca tidak hanya disuguhi ledakan besar, melainkan rasa cemas yang merayap perlahan dari bawah lantai kayu sebuah gubuk terpencil, mengingatkan kita bahwa masa lalu selalu memiliki cara untuk mencium keberadaan kita.

Ada sedikit catatan kecil mengenai perpindahan latar yang begitu cepat, yang mungkin menuntut konsentrasi ekstra dari pembaca untuk segera menyesuaikan diri dengan hukum fisika di lingkungan yang baru. Namun, cara penulis menangkap emosi melalui respons fisik, seperti rasa kebas akibat adrenalin atau goresan serpihan kayu panas, menyeimbangkan perpindahan tersebut dengan sangat baik. Gaya bercerita seperti ini menghargai kecerdasan pembaca, memberikan ruang bagi kita untuk merasakan sendiri kepingan-kepingan penderitaan batin yang berusaha disembunyikan di balik seringai liar sang tokoh utama.

Secara keseluruhan, Larass menunjukkan kematangan yang menarik dalam meramu berbagai elemen genre, mulai dari Action hingga Saga Crime, menjadi sebuah kesatuan yang padat dan berisi. Penulis memiliki kepekaan yang tajam dalam memotret sisi gelap kemanusiaan tanpa harus menjadi vulgar atau berlebihan. Keberaniannya menyatukan aspek erotisme yang subtil dengan ketegangan fiksi ilmiah multiverse membuktikan bahwa penulis sangat memahami ritme cerita yang ia bangun. Ini adalah sebuah awal yang menjanjikan, di mana kualitas prosa menjadi alasan utama bagi pembaca untuk tetap tinggal dan menelusuri rahasia di balik hutan Greyfenwood.

By Caberawit



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama