Buah Karbitan - SleepyFace

Buah Karbitan - SleepyFace


0

Buah Karbitan

Pintu dengan papan nama Kepala Sekolah berada di ujung lorong. Ibunya mengetuk sekali, lalu langsung membuka pintu.

Di dalam ruangan, seorang pria bertubuh agak gemuk duduk di balik meja besar, dikelilingi berkas-berkas. Ia mengangkat kepala dan menatap mereka.

“Ada apa, Bu?” tanyanya heran.

Ibunya melangkah masuk lebih dulu.

“Saya mau minta tanda tangan, Pak,” ujarnya sopan.

Kepala sekolah mengernyit. Ia melirik jam di dinding, lalu ke map di tangan ibu Rangga.

“Lho, ini belum waktunya tanda tangan ijazah,” katanya bingung.

Pandangan matanya kemudian bergeser ke belakang, ke arah Rangga yang berdiri diam di dekat pintu.

Ekspresinya berubah. Alisnya yang semula terangkat perlahan turun. Ia sedikit berdiri dari kursinya, nadanya ikut berubah.

“Oh Orang tuanya Rangga … silakan, silakan masuk.”

Mereka duduk di kursi yang disediakan di depan meja. Kepala sekolah membuka map dan melihat ijazah yang masih baru, kertasnya bahkan belum sepenuhnya kering.

Ia menatap Rangga.

“Rangga,” katanya hati-hati, “kamu mau ambil sekarang?”

Rangga membalas tatapan itu dengan wajah kosong. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.

“Iya, Pak.”

Kepala sekolah mengangguk pelan. Ia lalu menoleh ke arah ibunya dan tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.

“Kok buru-buru banget, Bu?”

Ibunya ikut tersenyum, senyum yang rapi dan terkendali.

“Iya, Pak. Ijazahnya mau dipakai buat jaminan, supaya Rangga bisa langsung kerja.”

Kalimat itu membuat Rangga refleks menoleh ke arahnya.

Dadanya mendadak terasa sesak. Ada panas yang naik pelan, bercampur antara bingung, marah, dan sesuatu yang lebih berat untuk diberi nama. Ia menatap kertas di tangan ibunya—ijazah itu—tiga cap jari hitam masih terlihat jelas, tintanya mengilap, belum benar-benar kering.

Kertas itu baru saja menjadi miliknya beberapa menit lalu. Baru saja menutup masa tiga tahun hidupnya. Tapi sekarang sudah disebut sebagai jaminan, seolah nilainya bukan lagi sebagai hasil belajar, melainkan benda yang bisa ditukar dengan kerja.

Rangga ingin bicara. Ingin bertanya. Ingin bilang kalau itu ijazahnya. Tapi tenggorokannya terasa kaku. Tidak ada kata yang keluar. Yang ada hanya pandangannya yang terus tertahan di kertas itu, sementara pikirannya berantakan, berputar tanpa arah.

‘Jaminan?’

‘Memang bisa ijazah dijaminkan?’

'Kenapa ijazah gue yang dijadiin jaminan?'

'Itu ijazah gue kan?'

*****

Nama pena: SleepyFace 

Genre: Slice Of Life / Misery Lite

Platform: Fizzo

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama