Pintu dengan papan nama Kepala Sekolah berada di ujung lorong. Ibunya mengetuk sekali, lalu langsung membuka pintu.
Di dalam ruangan, seorang pria bertubuh agak gemuk duduk di balik meja besar, dikelilingi berkas-berkas. Ia mengangkat kepala dan menatap mereka.
“Ada apa, Bu?” tanyanya heran.
Ibunya melangkah masuk lebih dulu.
“Saya mau minta tanda tangan, Pak,” ujarnya sopan.
Kepala sekolah mengernyit. Ia melirik jam di dinding, lalu ke map di tangan ibu Rangga.
“Lho, ini belum waktunya tanda tangan ijazah,” katanya bingung.
Pandangan matanya kemudian bergeser ke belakang, ke arah Rangga yang berdiri diam di dekat pintu.
Ekspresinya berubah. Alisnya yang semula terangkat perlahan turun. Ia sedikit berdiri dari kursinya, nadanya ikut berubah.
“Oh Orang tuanya Rangga … silakan, silakan masuk.”
Mereka duduk di kursi yang disediakan di depan meja. Kepala sekolah membuka map dan melihat ijazah yang masih baru, kertasnya bahkan belum sepenuhnya kering.
Ia menatap Rangga.
“Rangga,” katanya hati-hati, “kamu mau ambil sekarang?”
Rangga membalas tatapan itu dengan wajah kosong. Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.
“Iya, Pak.”
Kepala sekolah mengangguk pelan. Ia lalu menoleh ke arah ibunya dan tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.
“Kok buru-buru banget, Bu?”
Ibunya ikut tersenyum, senyum yang rapi dan terkendali.
“Iya, Pak. Ijazahnya mau dipakai buat jaminan, supaya Rangga bisa langsung kerja.”
Kalimat itu membuat Rangga refleks menoleh ke arahnya.
Dadanya mendadak terasa sesak. Ada panas yang naik pelan, bercampur antara bingung, marah, dan sesuatu yang lebih berat untuk diberi nama. Ia menatap kertas di tangan ibunya—ijazah itu—tiga cap jari hitam masih terlihat jelas, tintanya mengilap, belum benar-benar kering.
Kertas itu baru saja menjadi miliknya beberapa menit lalu. Baru saja menutup masa tiga tahun hidupnya. Tapi sekarang sudah disebut sebagai jaminan, seolah nilainya bukan lagi sebagai hasil belajar, melainkan benda yang bisa ditukar dengan kerja.
Rangga ingin bicara. Ingin bertanya. Ingin bilang kalau itu ijazahnya. Tapi tenggorokannya terasa kaku. Tidak ada kata yang keluar. Yang ada hanya pandangannya yang terus tertahan di kertas itu, sementara pikirannya berantakan, berputar tanpa arah.
‘Jaminan?’
‘Memang bisa ijazah dijaminkan?’
'Kenapa ijazah gue yang dijadiin jaminan?'
'Itu ijazah gue kan?'
*****
Nama pena: SleepyFace
Genre: Slice Of Life / Misery Lite
Platform: Fizzo
Editorial:
Cerita ini langsung membawa pembaca ke dalam situasi yang terasa sangat nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Adegan di ruang kepala sekolah digambarkan dengan sederhana namun penuh ketegangan halus. Penulis tidak menggunakan kata-kata yang rumit, tetapi berhasil menyampaikan kegelisahan tokoh Rangga melalui gerakan kecil dan keheningan yang mengambang. Pembaca langsung bisa merasakan suasana canggung antara ibu, anak, dan pihak sekolah tanpa perlu penjelasan panjang lebar.
Konflik dalam cerita ini tidak datang dari pertengkaran keras, melainkan dari tekanan yang tersimpan rapat di balik diam. Sang ibu digambarkan sangat terburu-buru dan memandang ijazah sebagai alat jaminan kerja, sementara Rangga hanya bisa menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Kepala sekolah yang awalnya bingung lalu berubah sikap juga menambah kesan bahwa situasi ini memang tidak biasa. Dinamika ketiga tokoh ini menunjukkan bagaimana harapan orang tua sering kali membebani anak tanpa disadari.
Cerita ini sangat sesuai dengan genre slice of life dan misery lite yang diusungnya. Alih-alih menghadirkan drama berlebihan, penulis memilih untuk menyoroti momen kecil yang justru menyakitkan secara emosional. Penggambaran ijazah yang tintanya belum kering namun sudah dianggap sebagai jaminan kerja memberi pesan kuat tentang bagaimana masa depan anak sering kali dikendalikan oleh kebutuhan praktis orang dewasa. Tema ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Gaya penulisan yang digunakan sangat lugas dan mudah dipahami. Penulis mengandalkan kalimat pendek dan dialog yang minim namun penuh makna. Pergolakan batin Rangga yang diakhiri dengan serangkaian pertanyaan dalam hati berhasil mewakili kebingungan banyak remaja yang merasa tidak punya suara dalam keputusan hidup mereka sendiri. Teknik ini membuat pembaca tidak hanya menonton, tetapi juga ikut merasakan beban yang dipikul tokoh utama.
Novel ini ditulis oleh SleepyFace, seorang penulis yang aktif berkarya di platform Fizzo dengan fokus pada cerita kehidupan sehari-hari yang menyentuh sisi emosional pembaca. Melalui gaya bertutur yang tenang dan observatif, SleepyFace menunjukkan kepekaan dalam menangkap tekanan tersembunyi yang sering dialami generasi muda. Karya-karyanya cenderung mengangkat kisah nyata yang direfleksikan ke dalam fiksi ringan, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh berbagai kalangan pembaca.
Secara keseluruhan, cerita ini menawarkan bacaan yang singkat namun meninggalkan kesan mendalam. Pesan tentang pentingnya menghargai proses belajar dan memberi ruang bagi suara anak tersampaikan dengan halus tanpa terasa menggurui. Bagi pembaca yang menyukai cerita realistis tentang pergulatan hidup remaja dan hubungan keluarga yang penuh tekanan, Buah Karbitan karya SleepyFace sangat layak untuk diikuti perkembangannya di platform Fizzo. Cerita ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap keputusan besar, selalu ada perasaan yang perlu didengarkan.
By Nada Maya
