Lirih Hati yang Merindu - mislysa97

Lirih Hati yang Merindu - mislysa97


0

Bab 6

​Wardah berdiri di depan kamar nomor 24 dengan jantung berdebar. Ia mengetuk pintu perlahan. Saat pintu terbuka, ia melangkah masuk dan seketika membeku. Sosok pria di hadapannya membuat napasnya tertahan.

​"Tuan Bram," ucapnya lirih seraya meremas ujung gaun. Wardah ingin lari, namun tubuhnya kaku. Pintu di belakangnya tertutup rapat. Bahaya mengintai. Bram menghampirinya dengan sorot mata penuh gairah akibat pengaruh obat perangsang yang diberikan Vio. Tubuh pria itu polos, memancarkan hawa panas yang menyesakkan.

​"Tidak perlu basa-basi, ayo kita mulai," ajak Bram kasar.

​"Saya bukan wanita penghibur, Tuan, meski saya bekerja di tempat ini," balas Wardah penuh amarah.

​Bram tertawa mengejek. Baginya mustahil ada perempuan yang masih suci di klub malam seperti ini. Ia memaksa Wardah, namun sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bram terkejut; tidak ada yang berani melawannya hingga sejauh itu. Wardah gemetar, menegaskan bahwa dirinya bukan perempuan yang bisa dibeli dengan uang.

​Bram tidak peduli. Ia mendorong Wardah ke ranjang mewah dan merobek gaunnya tanpa ampun. Wardah dipaksa menenggak alkohol hingga kesadarannya mengabur. Dalam isak tangis, ia memohon agar Bram berhenti, namun pengaruh minuman membuatnya tak berdaya mengikuti keinginan pria itu.

​Malam panjang itu menjadi saksi kehancuran Wardah. Bram menikmati setiap detik, menghamburkan uang demi kepuasan sesaat. Namun, di tengah pergulatan itu, Bram tersentak. Ia melihat jejak darah. Wanita ini ternyata masih gadis. Rasa bangga menyelinap di benaknya; Wardah berbeda dari wanita mana pun yang pernah ia temui.

​Kediaman Al-Fath

​Pukul satu dini hari, Bu Devina masih terjaga. Hatinya gundah menunggu kepulangan Bram. Bayangan buruk menghantui pikirannya. Pak Hendra yang menyadari kecemasan istrinya segera menghampiri dan duduk di sampingnya.

​"Ma, kenapa belum tidur?" tanya Pak Hendra lembut.

​"Aku gelisah, Pa. Bram belum pulang," jawab Bu Devina sembari bersandar di bahu suaminya. Pak Hendra berusaha menenangkan, tidak ingin penyakit darah tinggi istrinya kambuh karena terlalu banyak pikiran.

​Klub Beauty Secret

​Cahaya matahari membangunkan Wardah. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan kepalanya berat. Ia terisak saat menyadari dirinya terbangun tanpa busana di balik selimut tebal. Di sampingnya, Bram masih terlelap. Wardah merasa hancur. Ia ingin mengakhiri hidup, namun iman dalam hatinya melarang perbuatan dosa itu.

​Dengan langkah gontai, ia mengenakan pakaiannya yang sudah robek dan mencoba membuka pintu. Sial, pintunya terkunci.

​"Cari ini?" suara Bram memecah keheningan. Pria itu tersenyum penuh kemenangan sambil menunjukkan kunci di tangannya. Ia membisikkan kata-kata yang membuat Wardah merasa jijik pada dirinya sendiri. Setelah berpakaian, Bram melemparkan sejumlah uang ke atas ranjang sebagai upah.

​"Tolong saya, Tuan. Saya dipaksa di sini. Selamatkan saya," pinta Wardah tiba-tiba sembari berlutut. Baginya, hanya Bram yang bisa membawanya keluar dari neraka ini, meski pria itu pula yang telah merenggut kesuciannya.

​Bram menimbang permohonan itu. Ia teringat keistimewaan tubuh Wardah semalam. Saat Ronald dan anak buahnya datang hendak mengambil Wardah, Bram menghalanginya.

​"Aku mau dia selamanya untukku," tegas Bram pada Ronald. Meski sempat ada ketegangan, Ronald akhirnya setuju karena menghormati hubungan baik mereka.

​Pagi itu juga, Bram membawa Wardah ke sebuah apartemen rahasia di Jakarta Selatan. Sesampainya di sana, Bram mendorong Wardah turun tanpa sedikit pun kelembutan. Meski diperlakukan kasar, Wardah bersyukur bisa keluar dari klub tersebut. Namun, harapannya akan kebebasan segera pupus saat Bram menatapnya dengan dingin.

​"Aku menyelamatkanmu bukan karena cinta," ujar Bram sambil duduk di sofa. "Hanya ada dua pilihan untukmu: menjadi simpananku atau kembali menjadi wanita penghibur di sana."

​Wardah terpaku. Keputusasaan kembali merayap di hatinya.

*****

​Nama pena: mislysa97

Genre: Romansa Urban

Platform: Fizzo

Editorial:

Kehadiran Mislysa97 melalui karyanya di genre romansa urban menyajikan narasi yang lugas mengenai realitas gelap kehidupan malam dan konsekuensi dari sebuah keterpaksaan. Penulis tidak menggunakan bahasa yang berbunga bunga untuk menggambarkan penderitaan tokoh utamanya, melainkan memilih diksi yang langsung pada pokok persoalan sehingga pembaca dapat merasakan keteguhan sekaligus kerapuhan karakter Wardah secara nyata. Fokus utama dalam cuplikan ini adalah transisi kekuasaan atas hidup seseorang, di mana kebebasan dari satu jeratan justru menjadi awal dari keterikatan baru yang tidak kalah berat.

​Ketegangan dalam cerita dibangun melalui interaksi yang didominasi oleh ketimpangan status sosial dan ekonomi. Bram digambarkan sebagai sosok laki laki yang menggunakan kekuasaannya untuk memuaskan keinginan pribadi, sementara Wardah mewakili sosok yang kehilangan hak atas tubuhnya sendiri demi keselamatan fisik yang bersifat sementara. Penggunaan dialog yang tegas dan minim deskripsi panjang membuat alur cerita bergerak cepat, menciptakan suasana yang menyesakkan bagi pembaca yang mengikuti nasib tokoh perempuan tersebut.

​Penulis juga menyoroti aspek moralitas melalui sudut pandang keluarga dan batin tokoh utama. Munculnya karakter Bu Devina dan Pak Hendra memberikan kontras antara kasih sayang orang tua yang tulus dengan perilaku anak yang menyimpang di luar rumah. Sementara itu, pergulatan batin Wardah saat menghadapi kenyataan pahit menunjukkan bahwa penulis ingin menekankan sisi kemanusiaan yang hancur akibat eksploitasi, tanpa perlu memberikan bumbu drama yang berlebihan.

​Secara teknis, naskah ini menggunakan struktur kalimat yang efektif untuk menyampaikan pesan tentang kerasnya pilihan hidup di kota besar. Pilihan kata yang digunakan sangat umum dan mudah dipahami, sehingga pesan mengenai jeratan gaya hidup simpanan atau eksploitasi seksual tersampaikan dengan sangat gamblang. Tidak ada ruang untuk interpretasi lain selain kenyataan bahwa tokoh utama sedang berada dalam posisi yang sangat terjepit.

​Keseluruhan narasi ini memperlihatkan bahwa keselamatan sering kali datang dengan harga yang sangat mahal. Mislysa97 berhasil menunjukkan bahwa dalam dunia yang keras, setiap pertolongan sering kali memiliki motif tersembunyi yang menuntut imbalan besar. Naskah ini menjadi pengingat tentang sisi kelam hubungan manusia yang didasari oleh transaksi kekuasaan dan hilangnya kemerdekaan diri bagi mereka yang tidak berdaya secara finansial.

​Naskah ini menggambarkan secara eksplisit bagaimana seorang perempuan kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri demi keluar dari lingkungan yang dianggap lebih buruk. Penulis menekankan bahwa perpindahan Wardah dari tempat hiburan malam ke apartemen pribadi Bram bukanlah sebuah penyelamatan melainkan perpindahan status kepemilikan. Realitas ini disajikan sebagai fakta sosial yang dingin tanpa upaya untuk memperhalus situasi traumatis yang dialami oleh karakter utama dalam cerita tersebut.

by Sweet Moon




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama