DALAM SENTUHAN CANDU YANG MULIA KAISAR - KIRANA LARASATI

DALAM SENTUHAN CANDU YANG MULIA KAISAR - KIRANA LARASATI


0

Bagian 9

Lily berlutut di atas hamparan rumput taman dan mencengkram ujung gaun Rosalynd dengan tangan yang gemetar hebat.

Napasnya memburu dan memutus kalimat yang berusaha ingin ia sampaikan.

"N—Nona. Permaisuri Cassandra— beliau sudah ada di aula depan!" isak tangis Lily dengan suara tertahan. Air matanya membasahi pipinya.

Jantung Rosalynd berdegup kencang, namun ia tetap memaksa rahangnya untuk tetap kaku.

"Tenang, Lily. Tarik napas mu perlahan. Katakan dengan jelas, untuk apa Permaisuri Cassandra datang malam-malam begini?"

"Beliau membawa puluhan puluhan pengawal bersenjata lengkap, Nona!"

"Dayang Nina dan pelayan lainnya tak bisa mencegahnya," terang Lily. "Permaisuri juga berkata bahwa ada penyusup klan asing yang bersembunyi di Paviliun Mawar. Beliau datang untuk melakukan penggeledahan total, Nona!"

"Penggeledahan?" Raut wajah Rosalynd seolah sedang menahan amarahnya.

Netranya berkilat tajam di bawah temaram nya cahaya bulan.

"Alasan yang sangat klasik. Dia sebenarnya hanya mencari celah untuk menjatuhkan harga diriku setelah berita tentang Paviliun Mawar ini menyebar." Gerutu Rosalynd.

Akan tetapi, tak butuh waktu lama jemarinya refleks meraba saku gaunnya. 

Di sana, ada dua benda yang bisa menjadi pusat masalah yaitu pisau lipat yang masih ada noda darah dan botol kaca kecil berisi penawar racun pemberian Leon.

Jika Cassandra sampai menemukan salah satu barang itu, maka Rosalynd akan langsung dituduh melakukan makar atau kepalanya akan dipenggal malam ini juga atas perintah Ibu Suri karena menyelundupkan senjata.

"Bagaimana ini, Nona. Dimana kita harus menyembunyikan benda-benda ini?" bisik Lily yang tampaknya sudah menyadari bahaya besar apa yang menunggu mereka.

Rosalynd mencari cara dimana ia harus menyembunyikan benda-benda itu.

"Ikut aku, Lily. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!" perintah Rosalynd tegas.

Dengan gerakan cepat, Rosalynd berlari kecil menuju pancuran yang berada di tengah taman.

Tanpa disadari, pancuran itu memiliki celah kecil di bagian bawah fondasinya yang tertutup lumut dan sulur tanaman air.

Ia segera berlutut. Tangannya mulai menarik pisau hitam dan botol penawar dari sakunya, lalu meletakkan ke dalam celah batu yang gelap dan berair. Setelah dirasa benda itu tak terlihat dari luar, ia mengambil segenggam kelopak mawar yang gugur untuk menutupi permukaannya.

"Nona, gawat. Mereka sudah mulai bergerak ke arah taman!" Pekik Lily dari balik pilar.

***

Suara derap langkah sepatu yang berat dan gemerincing baju zirah besi mulai terdengar mendekat. 

Rosalynd segera bangkit. Ia merapikan sedikit gaunnya yang sedikit kusut, lalu sengaja mengacak-acak sedikit rambutnya agar terlihat seperti seorang selir malang yang baru saja beristirahat setelah malam pertama yang melelahkan.

"Ingat Lily. Buat wajahmu itu seperti sedang ketakutan. Jangan mengatakan satu patah katapun kecuali aku yang memintanya," bisik Rosalynd pelan penuh tekanan.

"Dimengerti Nona." Lily langsung menundukkan kepalanya dan tubuhnya dibuat gemetar alami karena ketakutan yang sesungguhnya.

Tepat setelah Lily mengangguk, rombongan pengawal berbaju zirah khas klan Shanza masuk paksa ke area taman. 

Mereka langsung membentuk baris barikade dan mengunci seluruh jalan keluar. 

Di tengah-tengah barisan itu, keluarlah permaisuri Cassandra dengan gaun sutra megah berwarna merah menyala.

"Astaga, selir Rosalynd. Ternyata kau ada di sini," ujar Cassandra dengan nada suara yang manis, namun penuh dengan intimidasi.

"Adikku sayang, apa yang sedang kau lakukan di tengah taman yang gelap ini?"

Rosalynd hanya tertunduk ketakutan.

"Saya menghadap, Yang Mulia Permaisuri Agung. Saya—saya hanya sedang mencari udara segar karena tidak bisa tidur, Yang Mulia."

Cassandra terkekeh kecil. Perlahan, ia mendekati Rosalynd.

"Tidak bisa tidur, atau sedang menyembunyikan sesuatu di paviliun mewah ini, Rosalynd?" Cecar Cassandra.

"Saya tidak berani menyembunyikan apapun dari anda, Permaisuri." Jawab Rosalynd.

"Periksa setiap inci dari kamar ini! Jangan sampai terlewat satu celah pun."

"Aku mendapat laporan bahwa telah menyusup orang asing yang memasuki kediaman baru Selir Rosalynd malam ini."

Semua para pengawal serentak menyebar ke seluruh penjuru taman.

Rosalynd menatap Cassandra yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan senyum kemenangan yang sumringah.

"Kenapa, adikku. Sepertinya kau sangat pucat."

Cassandra mencibir Rosalynd sembari menyentuh memar di rahang Rosalynd dengan ujung kukunya yang panjang.

"Apakah kau takut aku menemukan sesuatu?" Cassandra kembali menyelidik.

Rosalynd tak bergeming. Ia menahan rasa sakit di pipinya, lalu kembali menatap kakaknya dengan binar mata yang berkaca-kaca.

"Saya hanya terkejut dengan kedatangan anda yang mendadak, Yang Mulia. Saya tidak menyangka bahwa Anda begitu perhatian pada keselamatan saya."

"Perhatian?" 

Pelan-pelan, Cassandra mendekati wajahnya dan berbisik dengan nada yang sangat kejam di depan wajah Rosalynd.

"Aku datang hanya untuk memastikan bahwa kau tidak melupakan posisimu yang sebenarnya di istana ini, Ular Kecil. Kau hanya alat dari klan Shanza dan jangan bermimpi untuk mengambil tahtaku!"

Di saat bersamaan, salah satu pengawal yang berada di dekat pancuran air tiba-tiba memekik keras.

"Kami menemukan sesuatu yang mencurigakan di balik pancuran ini, Yang Mulia Permaisuri!"

***

Nama pena : Kirana Larasati

Genre : Historical Romansa

Platform: Good Novel

Editorial:

Kehadiran Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar di platform Good Novel menawarkan sebuah ketegangan yang kuat di tengah kompetisi fiksi sejarah romansa yang sering kali bergerak lambat. Dalam cuplikan ini, penulis tidak berusaha menunda konflik politik, melainkan langsung melemparkan pembaca ke dalam situasi intimidasi istana yang mendesak melalui rencana penggeledahan mendadak. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menangkap detail tindakan fisik yang konkret seperti tangan yang gemetar hebat, saku gaun yang menyimpan benda rahasia, hingga celah batu pancuran yang berlumut, yang membangun atmosfer begitu mencekam sehingga pembaca seolah ikut merasakan kepanikan di dalam taman tersebut.

​Ritme narasi dibangun dengan cerdas melalui kontras taktik antara kepanikan pelayan dan ketenangan buatan yang dipaksakan oleh karakter utama. Tindakan Rosalynd yang sengaja mengacak rambut dan merapikan gaun untuk berakting sebagai selir yang tidak berdaya tidak hanya berfungsi sebagai pelindung diri, tetapi juga menjadi penanda kecerdasan karakter yang kuat tanpa perlu penjelasan latar belakang yang panjang. Penulis berhasil menyeimbangkan kepasifan respons Rosalynd dengan keangkuhan Permaisuri Cassandra, menciptakan dinamika rivalitas perempuan istana yang terasa nyata dan berbahaya.

​Tema perebutan kuasa dan pertahanan hidup disajikan dengan pendekatan yang langsung dan penuh intimidasi. Kontras antara posisi Rosalynd sebagai selir baru dengan Cassandra sebagai permaisuri yang berkuasa digambarkan sebagai benturan hierarki yang tajam, di mana gaun sutra merah menyala milik Cassandra menjadi simbol dominasi yang nyata. Ketegangan muncul dari upaya Rosalynd menyembunyikan pisau bernoda darah dan botol penawar racun di bawah tumpukan kelopak mawar gugur, sebuah tindakan taktis yang dikemas dengan cepat namun menyimpan risiko hukuman mati yang besar jika sampai gagal.

​Meskipun demikian, transisi menjelang akhir adegan ketika pengawal menemukan sesuatu di balik pancuran terasa sedikit mendadak, dan beberapa dialog intimidasi antara kedua tokoh utama bisa dipadatkan lagi untuk menjaga momentum ketakutan tetap terjaga. Namun, kekurangan teknis minor ini tidak mengurangi esensi cerita yang justru mengandalkan kecepatan momentum. Pilihan kata yang digunakan cenderung tegas, lugas, dan mudah dipahami, namun dirangkai dengan struktur kalimat yang efektif, memungkinkan pembaca dewasa untuk meresapi nuansa kecemasan dan taktik bertahan hidup tanpa merasa terganggu oleh diksi yang rumit.

​Secara keseluruhan, karya Kirana Larasati ini meninggalkan kesan naratif yang kuat, mengesankan bahwa keselamatan di lingkungan istana sering kali ditentukan oleh keputusan cepat dalam hitungan detik. Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar berhasil membuktikan bahwa genre sejarah romansa tidak harus selalu fokus pada romansa yang manis, melainkan bisa menjadi panggung intrik politik yang menegangkan. Bagi pembaca di Good Novel yang mencari literatur dengan konflik yang rapat dan karakter utama yang adaptif terhadap bahaya, novel ini adalah pilihan yang tepat untuk diikuti.

by Sweet Moon




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama