Cinta Brutal Mafia Insaf
Bab 1 Jatuhnya Dua Dunia
Hujan turun sejak sore, membasahi dinding kaca besar rumah sakit internasional "The Cure" Jakarta.
Cahaya neon putih memantulkan warna dingin di lantai, membuat malam terasa seperti ruangan steril tanpa jiwa.
Ruang ICU sesak oleh aroma obat, antiseptik dan tangis tertahan.
Ibu Nadine terisak di sudut ranjang, air mata berlinang, bahunya bergetar hebat.
“Tuhan… jangan anakku, jangan…”
Suster mengganti infus dengan tangan gemetar, dokter berusaha menenangkan keluarga yang nyaris histeris.
Di tengah hiruk itu, Antasena berdiri paling tenang, di samping Nadine.
Kemejanya kusut, dasinya longgar, wajahnya pucat di bawah cahaya putih. Jemarinya menggenggam tangan Nadine yang mulai dingin di ujung jari, melebihi desiran AC.
“Sayang…” suaranya berat, parau, nyaris patah. Tapi tak ada air mata, berusaha kuat. Ia menatap perempuan tercinta itu seolah masih bisa menahannya di dunia hanya dengan pandangannya saja.
Mata Nadine terbuka sedikit, berat. Bibirnya yang pucat retak bergetar, tapi masih sempat berucap pelan, nyaris seperti bisikan terakhir, patah-patah.
“Mas, kalau kau...kau nggak...bisa jadi orang baik… setidaknya jadilah...orang yang berani menyesal...”
Antasena mematung, ia menjawab dengan tatapan sayang tanpa berkedip. Senyumnya dipaksakan sedikit tersungging. Namun kemudian menghilang saat mata Nadine kembali menutup.
Suara monitor mulai tak teratur. Grafik melambat, hampir menyentuh dasar horisontal. Tak ada semenit...
Tit...tit...tit...
Lalu hanya garis lurus.
Suara jerit pecah di sekelilingnya.
"Naadiiiiiiiiine...!"
Ibu Nadine merosot ke lantai, dokter mengecek manual nadinya. Ayahnya menghantam dinding keras sampai buku jarinya lecet, berdarah.
“Kalian bilang dia bisa sembuh!” pekiknya bergetar.
Suster berlari keluar mengambil obat pacu jantung tambahan, tapi sudah terlambat.
Antasena tetap di tempat. Matanya masih membekas gambar hembusan napas terakhir Nadine. Kekasih yang diharapkannya hidup bersama di dunia terang.
Tapi kini, dunia di sekelilingnya seperti bergerak lambat.
Tangisan, langkah kaki, bunyi mesin indikator, suara alat logam medis, semuanya lenyap di balik kepalanya yang berdenyut hebat.
Yang tersisa hanya satu kalimat, justru suara ayahnya bertahun lalu,
“Kelemahan terbesar keluarga mafia kita bukan hukum. Tapi cinta. Tapi itu sepadan.”
Ia menatap wajah Nadine untuk terakhir kali. Damai, tanpa rasa kesakitan lagi, tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meninggalkan dunia.
Lalu ia menegakkan badan, menoleh ke arah dokter.
“Jangan ganggu dia lagi, Dok,” ucapnya pelan.
Ia lantas melangkah keluar dari ruang ICU.
Di koridor, dua pria bersetelan hitam berdiri tegak menunduk hormat.
“Persiapkan pemakaman,” perintahnya tanpa ekspresi. Mereka mengangguk tanpa suara.
Setelah jeda singkat, suaranya turun satu nada. “Dan cari siapa yang bertanggung jawab atas obat itu.
Langkahnya menjauh. Suara sol sepatu kulit mengkilat bergema di koridor panjang, beradu dengan deru isak yang memudar di belakangnya.
Di luar, hujan makin deras. Kota Jakarta seperti ikut berkabung.
Tak jauh di ujung lorong, seorang perempuan menunggunya, Alexa, step sister-nya, beda usia empat tahun di bawahnya.
Gaun hitamnya basah terkena cipratan hujan, helai rambut depan sedikit menempel di wajah ayunya. Tatapannya tajam tapi rapuh.
“Mas…” suaranya pelan, seperti takut menembus duka itu.
Antasena berhenti di depannya, menatap sebentar, lalu melewati tanpa sepatah kata.
Alexa menatap punggungnya yang menjauh.
Ia tahu, malam itu bukan cuma Nadine yang pergi, bagian lembut dari Antasena juga ikut dikubur bersama hujan.
"Sena...tunggu..." kejarnya.
Basement rumah sakit itu sunyi seperti kuburan batu raksasa.
Lampu neon berkedip di langit-langit, menyorot mobil hitam mewah yang berhenti serong, pintunya terbuka separuh. Antasena duduk di kursi depan, menyalakan mesin dalam posisi "Parking", lalu diam seperti patung. Matanya kosong, napasnya tersengal.
Alexa menghampiri dengan langkah cepat, rok hitamnya membelah di samping hingga ke paha putih mulusnya.
“Sena… cukup, jangan lagi,” suaranya bergetar tapi tegas. Ia membuka pintu kiri penumpang, masuk, menutupnya keras.
Hujan di luar menetes dari celah beton di atas, menimpa kaca depan. Suara itu seperti jarum-jarum kecil yang menikam kepala.
“Dia udah pergi, Lex.” Nada Antasena datar. “Semuanya berhenti. Selesai."
Alexa menggigit bibir. “Aku tahu...”
Antasena memotongnya cepat.
“Enggak. Kamu gak tahu rasanya kehilangan orang yang bikin dunia lo punya arah.”
Alexa menatapnya lama. “Kalau aku bilang aku tahu gimana?”
Sena menoleh pelan, mata mereka bertemu di tengah kegelapan dashboard. Ada kemarahan, ada luka, ada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada belas kasihan.
Alexa mengulurkan tangan kanannya, menepuk bahunya. Tapi Sena malah memegang pergelangannya, keras, nyaris menyakitkan.
“Jangan pura-pura ngerti,” ucapnya lirih.
Alexa tak menarik tangannya. “Aku gak pura-pura.”
Sekejap hening. Lalu napas mereka bertabrakan. Alexa condong ke kanan, memeluknya melewati panel transmisi matic, spontan, tubuhnya gemetar.
“Kalau kamu terus diam kayak gini, kamu bakal gila,” bisiknya.
“Biarin,” jawab Sena sekenanya.
Alexa menatap wajahnya dari jarak sedekat itu, mata yang basah, bibir yang retak. “Aku gak mau kamu hancur.”
Dan dalam satu tarikan napas, dunia mereka berdua pecah, bukan karena cinta bersambut, tapi karena kehilangan yang mencari cara untuk meledak.
Alexa mencium Sena, cepat, panik, penuh luka. Sena tak mendorongnya, tapi juga tak membalas. Dunia terasa berhenti sesaat, hanya ada hujan dan dua manusia dewasa telat menikah yang saling menggenggam, karena sama-sama takut jatuh.
"Jangan gila, Lex. Kamu saudaraku."
"Iya, tiri...bukan sedarah," desahnya mengimbangi suara lirih Antasena.
Alexa meneruskan pagutannya.
"Lupakan sebentar, Sen. Kamu butuh ini..." suaranya pelan di sela serangannya. Ia lalu melompati panel tengah, mengangkan duduk di pangkuan Sena, punggungnya terhimpit stir, pepaya kembar padatnya menempel rapat di dada bidang Sena.
"Mau apa, Lex?" ucapnya sedikit berontak, tapi kabin itu sangat sempit.
"Menghiburmu sebentar..." sahutnya seraya meraba handle setelan jok, lalu mendorong tubuh Sena menciptakan ruang...
Judul: Cinta Brutal Mafia Insaf
Nama pena: Lyren Kael
Genre: Perkotaan, 18+, Harem, Aksi, Mafia
Platform: MaxNovel
Editorial:
Buku ini memperlihatkan kontrol suara penulis yang sadar arah tenang di permukaan, namun menyimpan tekanan emosional yang terus menumpuk.
Kalimat-kalimatnya tidak berusaha menjadi puitis secara berlebihan, justru memilih jalur yang lebih dingin dan langsung sebuah pilihan yang terasa tepat untuk menggambarkan situasi yang kehilangan kendali.
Ada kesan bahwa penulis tidak sedang “meminta simpati”, melainkan membiarkan pembaca berdiri cukup dekat untuk merasakannya sendiri, tanpa dipaksa.
Ritme narasi bergerak dengan disiplin. Ia dimulai dari ruang yang steril dan terukur, lalu perlahan mengendur menjadi sesuatu yang lebih personal, lebih rapuh. Peralihan dari suasana klinis menuju wilayah emosi yang lebih gelap terjadi tanpa loncatan dramatis, semuanya terasa seperti konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Ini menciptakan atmosfer yang tidak meledak-ledak, tetapi justru menekan dari dalam jenis ketegangan yang jarang diandalkan dalam cerita populer yang cenderung eksplisit.
Yang paling menarik adalah apa yang tidak diucapkan. Reaksi tokoh utama tidak dilebih-lebihkan, bahkan cenderung ditahan, dan justru di situlah bobotnya terasa. Keputusan-keputusan emosional muncul bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai pergeseran kecil yang terasa final.
Penulis tampaknya memahami bahwa kehilangan terbesar bukan hanya pada peristiwa, tetapi pada perubahan halus dalam diri seseorang setelahnya. Di titik ini, narasi menunjukkan kedewasaan, ia tidak menghakimi, tidak pula menawarkan pembenaran yang mudah.
Tema yang diangkat bergerak di wilayah yang tidak nyaman tentang duka, kekuasaan, dan batas moral yang mulai kabur ketika seseorang kehilangan pegangan. Penyajiannya tidak mencoba merapikan konflik tersebut agar terasa “aman” bagi pembaca.
Sebaliknya, ia dibiarkan terbuka, bahkan sedikit mengganggu. Ada kesadaran bahwa manusia tidak selalu memilih dengan jernih saat berada di titik terendahnya, dan teks ini tidak berusaha menyangkal itu.
Kesan yang tertinggal bukan sekadar kesedihan, melainkan semacam keheningan yang berat seolah ada sesuatu yang baru saja retak, dan tidak akan kembali utuh.
Ini bukan buku yang mengandalkan kejutan, melainkan kepercayaan diri pada nuansa. Bagi pembaca yang sudah lelah dengan dramatisasi berlebihan, pendekatan seperti ini terasa lebih jujur dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
By Peniti Kecil

Emang paling keren tuh cerita tentang Mafia ya.. Gak pernah gagal bikin alur ceritanya semakin menarik. Keren Thor. Semangat 🥰
BalasHapusPlotnya menarik dan tidak mudah ditebak, setiap bab selalu ada sesuatu yang bikin pembaca tetap ingin lanjut membaca
BalasHapusSeru dan memang bikin ingin baca lebih lanjut deh. Seputar dunia gelap mafia tapi dia juga bermoral tinggi. Hmm hitam atau putih? Lanjutkan.
BalasHapus