Hadir di Pernikahan Suamiku
Bab 1
"Mas, aku hamil."
Kalimat itu meluncur begitu saja, memotong keheningan ruang kerja yang sejak tadi hanya diisi suara detak jam dinding.
Haikal, yang sedang duduk di kursi kebesarannya, seketika membeku. Tangan kanannya yang baru saja terulur memegang sebuah map cokelat di atas meja—berniat menyodorkannya pada Nea untuk pembicaraan serius—mendadak berhenti di udara.
Tanpa menunggu respons, Nea meletakkan benda kecil memanjang itu tepat di hadapan suaminya. Dua garis merah terpampang nyata di sana.
Nea masih tersenyum, menunggu. Ia membayangkan skenario klise drama romantis, Haikal akan terkejut, lalu berdiri, memeluknya, atau setidaknya tersenyum lega. Tiga tahun pernikahan mereka terasa hambar, dan Nea berharap janin ini adalah penyedap rasa yang mereka butuhkan.
Perlahan, Haikal menarik tangannya kembali. Jemarinya mencengkeram ujung map cokelat itu, lalu dengan gerakan cepat namun halus, ia menggesernya menjauh, menyembunyikannya kembali ke dalam laci meja. Seolah benda itu adalah barang haram yang tak boleh dilihat Nea saat ini.
Wajah Haikal yang sebelumnya tegang karena isi map tersebut, kini perlahan mengendur. Namun, bukan kelegaan yang terpancar di sana. Tatapannya kembali ke setelan pabrik, dingin, kaku, dan tak tersentuh.
Senyum di bibir Nea yang tadinya merekah, perlahan ikut luntur melihat respon itu.
Haikal memungut test pack itu dengan ujung jari, menatapnya sebentar dengan kening berkerut, lalu meletakkannya kembali dengan kasar.
"Kok bisa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Datar. Tanpa nada tanya, lebih terdengar seperti tuduhan.
Dada Nea serasa dihantam batu. "Maksud kamu, Mas?"
Haikal bersandar pada kursi kerjanya, menatap Nea dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan pada klien nakal.
"Kamu minum pilnya, kan?" tanya Haikal tajam. "Setiap malam aku liat kamu minum itu. Aku pastiin kamu telan obat itu depan mataku. Terus ini apa?" Ia menunjuk test pack itu dengan dagunya.
Jantung Nea berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan jawaban ini ribuan kali di kepalanya.
"Aku... aku juga nggak tahu, Mas," jawab Nea, berusaha agar suaranya tidak bergetar. "Mungkin emang udah rezeki? Katanya kan nggak ada alat kontrasepsi yang seratus persen berhasil."
Bohong. Itu semua bohong besar.
Nea ingat betul bagaimana setiap malam, setelah Haikal memastikan ia menelan 'pil' itu, Nea akan masuk ke kamar mandi dan memuntahkannya jika sempat. Atau yang lebih sering ia lakukan akhir-akhir ini, menukar isi botol pil pencegah kehamilan itu dengan vitamin asam folat yang bentuknya serupa.
Nea lelah. Tiga tahun menikah, ia lelah ditanya oleh Mama, Papa, dan mertuanya. "Kapan ngisi? Si Fulan udah punya dua anak, lho." Nea mencintai Haikal. Sangat mencintainya sejak ia masih remaja berseragam putih abu-abu. Ia pikir, jika ada buah hati di antara mereka, dinding es yang dibangun Haikal akan mencair.
Haikal mendengus kasar. Ia memijat pelipisnya. "Harusnya nggak gini, Nea. Rencana aku berantakan."
"Rencana apa sih, Mas?" Nea memberanikan diri. Matanya mulai panas. "Punya anak itu anugerah. Kita udah tiga tahun nikah. Wajar kalau—"
"Wajar kalau kita punya anak?" potong Haikal cepat. "Aku udah bilang dari awal pernikahan ini, kan? Aku belum siap jadi Ayah. Aku nggak mau ada anak dulu."
Kata-kata itu menghujam dada Nea. Sakit, tapi ia sudah kebal. Pernikahan mereka memang hasil perjodohan bisnis antar orang tua. Klise. Tapi bagi Nea, ini adalah impian yang jadi nyata. Ia berusaha menjadi istri sempurna. Bangun sebelum subuh, memasak makanan favorit Haikal—yang seringkali berakhir dingin di meja makan karena Haikal lembur—memakai baju-baju cantik, merawat diri hingga wangi.
Semua demi apa? Demi setitik perhatian Haikal.
Awal pernikahan, Haikal bahkan tak sudi menyentuhnya. Mereka tidur dipisahkan guling, punggung saling membelakangi. Hingga suatu malam, Haikal pulang dalam keadaan mabuk berat. Malam itu pertahanan Haikal runtuh, dan Nea dengan sukarela menyerahkan dirinya.
Sejak malam itu, Haikal berubah. Ia mulai menuntut haknya sebagai suami. Rutin.
Haikal menyentuhnya hanya untuk pelepasan. Pria itu egois. Ia tak pernah bertanya apakah Nea menikmatinya, apakah Nea kesakitan, atau sekadar memeluknya setelah selesai. Haikal akan langsung berbalik badan memunggungi Nea tanpa satu pun kecupan di kening atau ucapan selamat tidur. Nea menerimanya, berharap sentuhan fisik itu lama-lama akan menumbuhkan cinta.
Ternyata ia salah.
Drrt... Drrt...
Ponsel Haikal di atas meja bergetar panjang. Nama kontak 'Lawyer - Pak Hadi' tertera di layar. Haikal melirik sekilas, lalu buru-buru membalik ponselnya.
"Keluar dulu, Nea" usir Haikal tanpa menatap istrinya. "Aku ada telepon penting."
Nea tidak beranjak. Kakinya seperti dipaku ke lantai. Rasa sakit di dadanya sudah mencapai ubun-ubun. Sikap Haikal barusan yang lebih mementingkan telepon daripada kabar kehamilannya adalah puncaknya.
"Nea, aku bilang keluar," ulang Haikal, nadanya meninggi.
"Nggak," jawab Nea lirih.
Haikal menatapnya tajam. "Apa?"
Nea mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi tatapannya nyalang. "Aku nggak mau keluar, Mas. Sampai kapan kita mau kayak gini?"
"Nea, aku lagi pusing. Jangan mancing keributan."
"Keributan apa?!" suara Nea meninggi, membuat Haikal sedikit terhenyak. Nea yang selama ini penurut, lembut, dan tak banyak bicara, kini berdiri dengan tangan terkepal.
"Tiga tahun, Mas! Tiga tahun aku hidup sama kamu di atap yang sama. Tapi rasanya aku tinggal sama orang asing!" air mata Nea akhirnya tumpah. "Aku ngelakuin semuanya. Aku dandan, aku masak, aku urus rumah, aku layanin kamu di ranjang tiap kamu mau... tapi kamu anggep aku apa? Pemuas nafsu kalau kamu lagi stres kerja?"
"Nea, jaga omongan kamu," desis Haikal, ia mulai berdiri.
Nea menunjuk perutnya. "Di sini ada anak kamu, Mas! Darah daging kamu! Bisa nggak sih, sekali aja kamu senyum? Sekali aja kamu bilang 'Alhamdulillah'? Apa nggak ada sedikitpun rasa cinta kamu buat aku, atau seenggaknya buat anak ini?"
Haikal terdiam. Wajahnya merah padam menahan amarah. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat.
"Cinta?" desis Haikal pelan, namun terdengar menyakitkan.
Napas Nea memburu. "Iya, cinta! Kita suami istri, Mas! Bukan temen yang cuma numpang tidur!"
Haikal tiba-tiba menyambar cangkir kopi keramik yang masih setengah penuh di mejanya.
PRAAANG!!!
Cangkir itu menghantam dinding di samping lukisan abstrak. Pecah berkeping-keping. Kopi hitam menciprat, mengotori tembok putih yang bersih, meninggalkan noda gelap yang jelek—seperti pernikahan mereka saat ini.
Nea tersentak mundur, menjerit tertahan, menutup telinganya.
Napas Haikal memburu. Ia menatap Nea yang gemetar ketakutan dengan tatapan nyalang. Ia mendengus kasar, meraup wajahnya dengan frustrasi.
Tanpa sepatah kata pun, Haikal melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya, membanting pintu begitu keras hingga bingkai foto pernikahan mereka di dinding ikut bergetar miring.
Nea merosot ke lantai. Di depannya, pecahan keramik berserakan. Di laci meja yang sedikit terbuka, ujung map cokelat yang tadi disembunyikan Haikal terlihat mengintip. Di sana tertulis samar sebuah judul dokumen yang Nea belum sadari.
Map itu berisi gugatan cerai yang sudah disiapkan oleh Haikal.
Nama pena: AmeyMey
Genre: Romansa, Rumah tangga, 18+
Platform: KBM
Editorial:
Buku ini menampilkan suara penulis yang langsung dan tidak berputar-putar.
Penulis sepertinyanya sadar bahwa konflik emosional tidak selalu membutuhkan pembukaan panjang.
Kalimat pertama sudah menempatkan pembaca di titik yang paling rawan dalam sebuah hubungan dimana saat kabar yang seharusnya membawa harapan justru menyingkap jarak yang selama ini ditahan.
Dari situ, narasi bergerak dengan fokus yang jelas pada dinamika dua orang yang hidup dalam satu rumah, tetapi tidak benar-benar berbagi dunia yang sama. Ritme kalimatnya terasa rapat dan terkendali, sebagian besar ditopang oleh dialog yang tajam.
Percakapan antara dua tokoh ini tidak sekadar bertukar kata, setiap kalimat membawa lapisan emosi yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
Penulis tidak mengandalkan deskripsi yang berlebihan untuk menunjukkan ketegangan. Justru melalui jeda, respons singkat, dan perubahan nada suara, suasana ruang itu terasa semakin sempit dan penuh tekanan. Yang menarik adalah bagaimana ketegangan dibangun dari hal-hal yang tidak diucapkan secara terbuka.
Ada sejarah relasi yang tampak lebih panjang dari sekadar perdebatan yang terjadi saat itu.
Pembaca bisa merasakan bahwa persoalan yang muncul bukan hanya tentang satu keputusan atau satu kesalahan, melainkan tentang pola hubungan yang telah lama membeku.
Penulis menahan sebagian informasi, dan dari penahanan itu muncul kesan bahwa konflik yang sebenarnya jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Secara tematik, buku ini menyentuh wilayah yang cukup dewasa, pernikahan tanpa kedekatan emosional, ekspektasi keluarga, serta usaha seseorang mempertahankan harapan yang mungkin sudah lama retak.
Penulis tidak berusaha memperhalus ketegangan yang ada. Hubungan suami istri digambarkan dengan kejujuran yang kadang terasa tidak nyaman, tetapi justru itulah yang memberi bobot pada cerita. Ini bukan potret romansa yang ideal, melainkan gambaran hubungan yang berjalan di atas kompromi, tekanan, dan keinginan yang tidak selalu sejalan.
Kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini adalah atmosfer yang dingin namun penuh energi terpendam.
Penulis sepertinya lebih tertarik mengeksplorasi keretakan emosional daripada menghadirkan romansa yang manis di permukaan.
Bagi pembaca yang mulai lelah dengan cerita cinta yang terlalu rapi dan mudah ditebak, pembukaan seperti ini memberi sinyal bahwa novel ini mungkin bergerak ke arah yang lebih jujur dan karena itu layak diikuti dengan perhatian yang lebih serius.
By Peniti Kecil

Geramnya... ad pria model begitu huhf
BalasHapusSemangat kak... Sukses sll dengan karya-karya nya🥰🙏
BalasHapus