Misi Panas Sang Bodyguard
1. Target di tengah pesta.
Lampu kristal ballroom hotel bintang lima Jakarta memantulkan cahaya seperti lautan berlian.
Musik jazz lembut mengalir dari quartet kecil di panggung. Tamu berpakaian mewah tertawa, gelas champagne berkilau.
Raka tidak peduli.
Dia berdiri di sudut gelap, gelas whiskey di tangan hanya kamuflase. Tidak diminum. Matanya menyapu ruangan: pintu masuk, pintu keluar, jendela besar, setiap wajah mencurigakan. Ritme terlatih. Dingin. Fokus.
Bekas tembakan di bahu kiri masih nyeri kalau hujan. Tapi malam ini dia abaikan. Tato ular piton di lengan kanan mengingatkannya: sekali melilit, tidak lepas.
Informan bilang malam ini mereka datang. Sindikat “Si Kecoak” muak dengan ayah Clara yang mengganggu bisnis narkoba dan senjata. Satu peluru di kepala putri menteri—pesan selesai.
Raka melihatnya sekarang.
Clara Wijaya berdiri di tengah kerumunan. Gaun merah darah menempel ketat, menonjolkan payudara penuh di belahan rendah, pinggang ramping, pinggul melengkung yang membuatnya terlihat rapuh sekaligus menggoda. Rambut pirang panjang tergerai, bibir merah tertawa sambil mengangkat gelas champagne. Manja. Ceroboh. Dan sama sekali tidak sadar malam ini bisa jadi malam terakhirnya.
Raka menggeser posisi. Mendekat pelan melalui celah tamu. Jarak 7 meter. Parfumnya sudah tercium—manis, floral, mahal. Kontras dengan bau mesiu samar yang selalu menempel di ingatannya.
Jam tangannya bergetar: 22:47.
Pintu utama terbuka sedikit. Dua pria berjas hitam masuk. Mata mereka tidak ikut tertawa. Satu lagi dari pintu dapur. Gerakan terlalu terkoordinasi. Raka melihat kilau logam: AK-47 compact, dipotong pendek.
“Sudah mulai,” gumamnya dalam hati.
Dia bergerak lebih cepat. Tetap tenang. Seperti predator yang tidak ingin mangsa lari terlalu dini. Clara membalik badan, berbicara dengan pria paruh baya yang terlalu dekat. Raka hampir sampai di belakangnya.
Tiba-tiba—
Brak! Brak! Brak! Brak!
Tembakan pecah seperti petir. Kaca jendela besar di belakang Clara hancur berderai. Serpihan tajam beterbangan seperti hujan es. Tamu berteriak histeris. Meja terbalik. Lampu kristal bergoyang liar, beberapa pecah jatuh ke lantai marmer.
Clara membeku. Mata hijau lebar ketakutan. Gelas champagne jatuh, pecah.
Raka sudah berlari.
Dia menerjang Clara dari samping seperti pemain rugbi. Menjatuhkannya keras ke lantai. Tubuhnya menindih sepenuhnya—dada keras menekan payudara lembut yang naik-turun cepat karena napas panik. Paha berotot menjepit pinggul Clara agar tidak bergerak. Napas Raka panas di telinga gadis itu, bercampur bau kulit dan keringat segar.
“Turun! Jangan gerak!” bentaknya. Suara dalam. Tegas. Seperti perintah militer.
Clara tersengal. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa di dada Raka. Bau pria asing ini—kulit jaket, mesiu samar, aroma maskulin kuat—membuat kepalanya pusing. Tubuhnya berat. Keras. Tapi anehnya… aman. Seperti benteng hidup.
Astaga, kenapa aku mikirin ini sekarang? pikir Clara. Dia baru saja selamatkan aku… tapi tubuhnya terlalu dekat. Panas. Keras. Jantungku kenapa berdegup begini?
Tubuhnya terlalu lembut di bawahku, pikir Raka cepat. Fokus. Ini tugas, bukan kesempatan.
Raka menarik Glock 19 dari holster pinggang. Tangan kirinya masih menekan punggung Clara agar tetap rendah. Dia membidik melalui celah meja terbalik.
Brak! Brak!
Dua peluru keluar presisi. Bahu penembak pertama—darah muncrat, pria itu jatuh berlutut. Lutut penembak kedua—jeritan memecah kegaduhan, pria itu ambruk memegang kaki berdarah.
Clara berbisik panik. “Siapa… kau?!”
“Bodyguardmu sekarang,” jawab Raka dingin. Tanpa menoleh. Matanya masih memindai. “Jangan bicara. Ikut aku.”
Dia menarik Clara bangun dengan tarikan kuat di lengan. Clara tersandung sekali. Tumit stiletto nyaris patah. Raka tidak memberi waktu. Tangannya mencengkeram lengan gadis itu—cukup kuat untuk memar, tapi aman.
Mereka berlari ke pintu belakang ballroom. Melewati dapur kosong. Piring berserakan di lantai.
Di lorong sempit, suara tembakan masih bergema. Raka mendorong Clara ke dinding beton dingin. Tubuhnya menempel rapat lagi untuk melindungi. Dada Clara naik-turun cepat, menekan dada Raka. Napas mereka bercampur di ruang sempit.
“Jantungmu cepat sekali,” gumam Raka. Suara rendah. Hampir bisikan. Dia merasakan degup Clara melalui gaun tipis—cepat, liar, penuh adrenalin.
Clara menatapnya dari bawah. Napas terengah. Bibir sedikit terbuka. Mata hijau melebar. “Kau… dingin sekali.”
Raka tersenyum tipis—senyum pertama malam itu. Dingin, tapi ada kepuasan kecil. “Biasa menghadapi yang lebih buruk daripada pesta rusak.”
Mereka bergerak lagi. Menuruni tangga darurat, tumit Clara berderit di beton. Bau asap dan darah masih menempel di udara. Keluar ke parkiran bawah tanah. SUV hitam sudah menunggu. Mesin menyala pelan. Raka membuka pintu belakang, mendorong Clara masuk tegas. Lalu melompat ke kursi pengemudi.
Ban meraung. Mobil meluncur keluar. Di kaca spion, dua mobil hitam mengejar—lampu jauh menyala terang, seperti mata predator di kegelapan.
Clara di belakang memeluk lutut. Gaun merah naik sedikit, memperlihatkan paha mulus berkilau keringat dan adrenalin. Rambut acak-acakan. Lipstik luntur. Tapi matanya tak lepas dari punggung Raka.
Dia baru saja bunuh dua orang… demi aku.
Pikirannya berputar liar. Takut. Kagum. Dan… panas aneh di perut. Dari adrenalin. Dari tubuh asing yang menindihnya tadi. Dari napas pria itu yang masih membakar kulit lehernya.
Kenapa aku mikirin ini sekarang? Kenapa jantungku masih berdegup begini?
Bahu Raka lebar. Otot menegang saat mengemudi. Bekas luka samar di leher jaket. Semuanya… magnetis.
Raka menginjak gas lebih dalam. Mobil melesat ke jalan tol malam yang sepi. Lampu kota berlalu cepat.
“Pegang erat,” katanya tanpa menoleh. “Ini baru permulaan.”
Clara menelan ludah. Jantung masih berdegup kencang. Bukan hanya ketakutan. Ada sesuatu yang lain—panas yang lahir dari adrenalin, dari tubuh yang baru saja menyelamatkannya, dari napas pria itu yang masih terasa di kulitnya.
Di kaca spion, mata Raka sekilas bertemu mata Clara. Tatapan dingin. Tapi ada bara kecil di dalamnya—bara yang sama seperti yang Clara rasakan di dadanya sekarang.
Dia menatapku, pikir Raka. Dan aku… tidak bisa berpaling.
Mobil melaju ke jalanan malam
Dan di antara desing ban dan detak jantung mereka, api itu mulai menyala—api yang takkan padam meski darah tumpah lebih banyak lagi. Besok pagi, mereka mungkin sudah mati. Atau… sudah terbakar bersama.
*****
Nama Penulis: Cutiepie18
Genre: Aksi, Erotika, Misteri, 21+
Platform: Victie
Editorial:
--

Mantep lah ini genre, bikin nyantai minum kopi, gerah mah udah biasa haha ;)
BalasHapus