Bab 1: Target di Tengah Pesta
Lampu kristal ballroom hotel mewah di Jakarta memantulkan cahaya layaknya hamparan berlian. Musik jazz lembut mengalir dari panggung, mengiringi tawa para tamu yang menggenggam gelas sampanye berkilau. Raka tidak peduli pada kemewahan itu. Pria itu berdiri di sudut gelap dengan segelas wiski sebagai penyamaran. Matanya menyapu ruangan, memindai setiap wajah dengan ritme terlatih. Fokus dan dingin.
Bekas luka di bahu kirinya terasa nyeri, namun ia abaikan. Tato ular piton di lengan kanannya menjadi pengingat bahwa sekali ia melilit, ia tidak akan pernah melepasnya. Malam ini, sindikat musuh berencana mengirim pesan berdarah kepada ayah Clara Wijaya melalui nyawa putrinya.
Raka melihat targetnya sekarang. Clara berdiri di tengah kerumunan mengenakan gaun merah darah yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambut pirangnya tergerai, bibirnya merah tertawa manja. Gadis itu tampak ceroboh, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai di balik pintu.
Raka mendekat pelan, memangkas jarak hingga tujuh meter. Aroma parfum floral yang mahal mulai tercium, kontras dengan bau mesiu yang biasa ia hirup. Jam tangannya bergetar menunjukkan pukul 22:47. Tepat saat itu, beberapa pria berjas hitam masuk dengan gerakan terkoordinasi. Raka melihat kilau senjata otomatis yang dipotong pendek.
"Sudah mulai," gumamnya dalam hati.
Pria itu bergerak cepat namun tenang, layaknya predator. Clara baru saja membalikkan badan saat rentetan tembakan pecah seperti petir. Kaca jendela besar hancur berantakan. Serpihan tajam beterbangan diikuti teriakan histeris para tamu. Clara membeku dengan mata hijau yang membelalak ketakutan.
Raka berlari dan menerjang Clara dari samping. Ia menjatuhkan gadis itu ke lantai dan menindihnya untuk memberikan perlindungan maksimal. Tubuh kekar Raka menekan tubuh lembut Clara yang napasnya memburu panik. Paha berototnya menjepit posisi Clara agar tetap diam di bawah lindungannya.
"Turun! Jangan gerak!" bentak Raka dengan suara tegas khas militer.
Clara tersengal. Jantungnya berdegup kencang hingga getarannya terasa di dada pria yang menindihnya. Aroma maskulin yang kuat dan bau jaket kulit dari pria asing ini membuatnya pusing, namun anehnya, ia merasa aman. Raka segera menarik senjata dari balik pinggangnya, membidik melalui celah meja yang terbalik.
Dua tembakan dilepaskan dengan presisi.
Penembak pertama jatuh berlutut bersimbah darah, sementara yang kedua ambruk memegangi kakinya yang tertembak.
"Siapa... kau?!" bisik Clara panik.
"Pengawalmu sekarang," jawab Raka dingin tanpa menoleh. "Jangan bicara. Ikut aku."
Raka menarik lengan Clara dengan kuat, memaksa gadis itu berdiri dan berlari menuju pintu belakang. Mereka melewati dapur yang berantakan hingga tiba di lorong sempit. Suara tembakan masih menggema di kejauhan. Raka mendorong Clara ke dinding beton dan kembali merapatkan tubuhnya untuk melindungi gadis itu.
"Jantungmu cepat sekali," gumam Raka pelan. Ia bisa merasakan detak jantung Clara yang liar melalui kain gaun yang tipis.
Clara menatap pria itu dengan napas terengah dan bibir sedikit terbuka. "Kau... dingin sekali."
Raka tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. Senyum yang getir namun penuh kepuasan. "Biasa menghadapi yang lebih buruk daripada sekadar pesta yang rusak."
Mereka kembali bergerak menuruni tangga darurat menuju area parkir bawah tanah. Sebuah SUV hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Raka mendorong Clara masuk ke kursi belakang sebelum ia melompat ke kursi pengemudi.
Ban mobil meraung saat kendaraan itu meluncur keluar. Di kaca spion, dua mobil hitam mengejar dengan lampu jauh yang menyilaukan. Clara duduk memeluk lututnya dengan rambut yang acak-acakan dan lipstik yang luntur. Matanya tidak lepas menatap punggung lebar pria yang baru saja menyelamatkannya.
Pikirannya berputar liar antara rasa takut dan kekaguman yang aneh. Adrenalin yang memuncak menciptakan sensasi panas di perutnya. Mengapa jantungnya masih berdegup sekencang ini meski bahaya langsung sudah terlewati?
Raka menginjak pedal gas lebih dalam, membawa mobil melesat ke jalan tol yang sepi. Lampu-lampu kota berlalu dengan cepat di balik jendela.
"Pegang erat," ucap Raka tanpa menoleh sedikit pun. "Ini baru permulaan."
Clara menelan ludah. Ketakutannya kini bercampur dengan perasaan lain yang lahir dari kontak fisik mendadak tadi. Di kaca spion, tatapan mereka sempat bertemu.
Mata Raka tetap dingin, namun ada bara kecil yang memancar di sana, bara yang sama dengan yang dirasakan Clara di dalam dadanya.
Mobil itu terus melaju membelah kegelapan malam. Di antara desing ban dan detak jantung yang belum stabil, sebuah ikatan mulai terbentuk. Sebuah api yang mungkin tidak akan padam meski lebih banyak darah yang harus tumpah di hari-hari mendatang.
*****
Nama Penulis: Cutiepie18 - (Rahmat Ry)
Genre: Aksi, Erotika, Misteri, 21+
Platform: Victie
Editorial:
Melalui naskah bertajuk Target di Tengah Pesta, penulis Rahmat Ry yang menggunakan nama pena Cutiepie18 di platform Victie ini mengajak kita memasuki sebuah semesta yang dibangun di atas kontras yang tajam. Suasana ballroom yang mewah tidak hanya digambarkan sebagai latar statis, melainkan sebuah ruang sensorik yang hidup melalui pantulan cahaya kristal dan alunan jazz yang tipis. Ketegangan justru lahir bukan dari riuhnya pesta, melainkan dari kehadiran aroma mesiu yang samar serta dinginnya gelas wiski di tangan sang protagonis. Penulis cukup terampil dalam menangkap detail kecil, seperti nyeri pada bekas luka saat hujan atau getaran jam tangan, yang memberikan kedalaman pada genre Aksi dan Misteri yang diusungnya.
Ritme narasi dalam fragmen ini bergerak dengan kepastian yang tenang sebelum akhirnya meledak dalam kekacauan yang terukur. Ada keseimbangan yang menarik antara perspektif predator yang waspada dan kepolosan figur yang menjadi target. Pergerakan karakter terasa sangat koreografis, di mana transisi dari keheningan sudut gelap menuju riuhnya pecahan kaca digambarkan dengan transisi yang halus. Pembaca seolah diajak untuk menahan napas bersamaan dengan setiap detik yang berdetak menuju ambang konflik, menciptakan sebuah dinamika yang tidak terburu-buru namun tetap terasa mendesak.
Kekuatan emosional dalam tulisan ini justru sering kali muncul di sela-sela dialog yang singkat dan fungsional. Interaksi antara Raka dan Clara tidak memerlukan banyak penjelasan untuk menyampaikan urgensi situasi. Dialog yang minimalis, seperti perintah militer yang tegas, justru memperkuat kesan kedewasaan dalam dinamika hubungan antarkarakter. Fungsi emosional di sini bekerja melalui apa yang tidak terucapkan, di mana ketakutan dan rasa aman yang ganjil bercampur menjadi satu dalam napas yang memburu di lorong beton yang dingin. Kedekatan fisik yang tercipta bukan sekadar bumbu, melainkan sebuah respons biologis yang jujur terhadap ancaman nyawa.
Dinamika antara pelindung dan yang dilindungi dieksplorasi melalui hal-hal kecil yang bersifat manusiawi. Cengkeraman tangan yang cukup kuat untuk meninggalkan memar atau tatapan mata melalui kaca spion menjadi penanda adanya tarikan gravitasi yang tak terelakkan di antara mereka. Meski genre ini kerap bersentuhan dengan elemen Erotika, penulis mampu menjaga ketegangan tersebut tetap elegan dengan fokus pada sensasi adrenalin dan naluri bertahan hidup. Ketegangan halus ini terasa lebih nyata daripada sekadar adu senjata, karena ia menyentuh sisi kerentanan manusia yang paling dasar dalam situasi ekstrem.
Mungkin terdapat sedikit ruang untuk lebih mengeksplorasi lapisan psikologis karakter agar tidak terjebak pada arketipe yang terlalu linier, namun secara keseluruhan, Cutiepie18 menunjukkan kematangan dalam mengolah genre 21+ menjadi sebuah narasi yang berkelas. Penulis berhasil membuktikan bahwa keintiman bisa dibangun melalui bahasa tubuh yang spesifik dan suasana yang mencekam. Sebuah karya yang menjanjikan bagi mereka yang mencari pelarian dalam kisah urban yang kelam, penuh teka-teki, namun tetap memiliki sisi emosional yang hangat di balik dinginnya peluru.
By Caberawit
Mantep lah ini genre, bikin nyantai minum kopi, gerah mah udah biasa haha ;)
BalasHapus