Kiamat Telah Tiba



0

14 Januari

“Aku ingin tahu apakah dalam hidupku akan menyaksikan Betelgeuse menjadi supernova,” kata Cyg pada Tom, menatap konstelasi Orion. Mereka berdua sedang menatap langit malam yang bersih, nyaris tak berawan.

Sang Pemburu bersama anjingnya Sirius yang meringkuk di kakinya, tegak berdiri di langit Januari yang cerah, siap memukul Banteng Taurus di antara kedua matanya dengan sebilah tongkat.

Bukan tindakan yang bijaksana, pikir Cyg. Tetapi gerakan benda-benda langit yang hampir tak terlihat itu sedemikian rupa sehingga membutuhkan ribuan tahun lagi sebelum senjata itu menemukan sasarannya sehingga si banteng besar punya banyak waktu untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Matanya menelusuri bintang di bahu kanan Orion.

Desa Outreau, Pas-de-Calais, cukup jauh dari polusi cahaya kota besar dan memungkinkan langit malam berkualitas sangat baik. Bintang maharaksasa merah itu dengan mudah dilihat dengan mata telanjang.

"Mungkin ada sesuatu yang bisa dilihat di Orion lebih cepat dari yang kau kira," jawab Tom penuh teka-teki.

“Apa maksudmu?” tanya Cyg.

"Aku tak bisa bercerita lebih banyak," jawab pria tua itu, "tetapi semuanya ada dalam kitab, Cyg. Semuanya ada di dalam kitab,” Tom mengulangi perkataannya saat berjalan menjauh dari sahabatnya yang lebih muda usia.

Cyg mengagumi bintang-bintang selama beberapa menit sebelum berbalik ke arah yang berlayanan, menuju La Terrasse Rouge.

Sambil berjalan, pria muda itu memikirkan Thomas Lambert. Cyg mengenal lelaki tersebut sepanjang hidupnya. Pensiun sembilan belas tahun yang lalu dan kini usia Tom tujuh puluh tujuh tahun. Cyg pertama kali bertemu dengannya saat kakek itu masih merupakan arkeolog profesional dengan reputasi internasional.

Pada masa itu, Cyg hanya melihat Tom sesekali, karena pria berumur tersebut menghabiskan waktu berbulan-bulan setiap tahunnya di Timur Tengah atau Afrika, melakukan penggalian di situs-situs arkeologis.

Thomas sepertinya pakar budaya kuno, khususnya agama dan kepercayaan masyarakatnya.

Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Cyg menghabiskan lebih banyak waktu bersama tetangganya itu dibandingkan orang lain. Tom adalah tetangga sebelah rumahnya, dan sering berkunjung secara mendadak tanpa pemberitahuan, setidaknya sekali dalam seminggu.

Salah satu tujuan kunjungan Tom tampaknya adalah untuk memastikan bahwa koleksi minuman Cyg dalam kondisi baik. Pria tua itu memastikan hal ini dengan mengambil sampel yang lumayan banyak.

Tom sudah lama mendeteksi kebosanan Cyg dengan diskusi tentang agama dan sejarah, tetapi mereka berdua sudah bekerja sama mengolah kebun dengan tanaman sayuran, dan bersamaan dengan breaking news di televisi, membuat keduanya ngobrol selama berjam-jam selama Tom berkunjung ke rumah sahabatnya tersebut.

'Semuanya ada di dalam kitab' adalah frasa yang paling disukai Tom.

“Aku tahu itu akan terjadi,” Thomas sering mengumumkan saat keduanya membahas beberapa peristiwa yang terjadi di dunia. "Semuanya ada di dalam kitab."

Meskipun begitu, Tom tidak pernah menyebutkan nama 'kitab' yang dimaksud.

...


Judul: Kiamat Telah Tiba

Penulis: Ikhwanul Halim

Genre: Aksi

Platform: Novel Laris

Editorial:

Novel ini menyuguhkan sebuah awal cerita yang sangat misterius dan penuh teka-teki dengan memadukan keindahan langit malam dan rahasia kuno yang mendebarkan. Penulis berhasil membangun atmosfer yang sunyi namun mencekam di sebuah desa terpencil yang jauh dari polusi cahaya kota. Melalui obrolan santai dua orang sahabat tentang bintang-bintang di langit, pembaca perlahan diajak merasakan adanya sebuah ramalan besar yang sedang mengintai dunia.

Karya berjudul "Kiamat Telah Tiba" ini merupakan buah pena dari Ikhwanul Halim. Sebagai salah satu penulis yang memiliki gaya penceritaan unik di platform Novel Laris, ia mencoba membawakan genre Aksi dengan sentuhan latar belakang sejarah dan arkeologi yang kuat. Gaya bahasanya yang tenang namun sarat akan teka-teki membuat pembaca langsung penasaran dengan rahasia masa lalu yang dibawa oleh karakter-karakternya.

Keunggulan utama novel ini terletak pada kemampuannya membangun rasa penasaran lewat dialog yang penuh teka-teki dan latar belakang dunia yang terasa nyata. Penggunaan istilah astronomi seperti konstelasi Orion dan bintang Betelgeuse dipadukan dengan profesi arkeolog kuno secara cerdas, memberikan kesan cerdas dan berbobot pada cerita. Selain itu, penggambaran hubungan persahabatan beda usia antara Cyg dan Tom terasa sangat hangat sekaligus menyimpan misteri besar.

Mengenai kekurangan, alur penceritaan di awal novel ini yang lebih banyak didominasi oleh penjelasan latar belakang tokoh dan kilas balik ingatan mungkin akan terasa sedikit lambat bagi sebagian pembaca yang mengharapkan ketegangan aksi yang cepat. Namun, kekurangan tempo yang santai ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam menciptakan kalimat penutup yang penuh tanda tanya mengenai kalimat misterius 'Semuanya ada di dalam kitab'. Fokus pembaca langsung dialihkan pada rasa penasaran yang mendalam tentang rahasia kitab tersebut, sehingga awal cerita yang lambat justru berubah menjadi fondasi rasa ingin tahu yang kuat.

Secara keseluruhan, bagian pembuka novel ini sangat sukses meletakkan batu pertama untuk sebuah kisah fiksi aksi-misteri yang menjanjikan pengungkapan rahasia besar tentang akhir zaman. Penulis sangat cerdik karena tidak langsung membeberkan konflik utamanya, melainkan memberikan petunjuk-petunjuk kecil yang membuat pembaca ingin terus membalik halaman. Misteri tentang isi kitab yang dirahasiakan oleh sang kakek arkeolog menjadi umpan yang sangat berhasil untuk mengikat perhatian pembaca.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu pencinta kisah misteri, konspirasi sejarah, atau cerita aksi yang membutuhkan pemikiran mendalam. Jika kamu menyukai cerita yang memadukan keindahan astronomi, rahasia budaya kuno, dan tanda-tanda besar akhir dunia, karya Ikhwanul Halim ini adalah bacaan yang wajib masuk daftar bukumu. Segera ikuti perjalanannya dan bersiaplah mengungkap rahasia besar yang tersembunyi di dalam kitab misterius tersebut!

By: Rahmat Ry




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama