Bab 1: Rayuan Mama Dan Papa
“Arga, kamu itu pulang cuma bawa prestasi terus. Kapan bawa calon istri?” ucap Mila, mama Arga sambil meletakkan jus jeruk kesukaan putranya di meja.
Langkah Arga yang baru saja melepas sepatu boots di depan pintu langsung terhenti. Tangannya masih menggenggam tas ransel, napasnya belum sepenuhnya turun dari ritme cepat setelah latihan terbang sore tadi. Bau avtur seperti masih menempel di seragamnya.
Ia mengangkat kepala perlahan.
“Mama… baru juga masuk rumah.”
Mamanya berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap, tatapan yang sudah sangat pria itu kenal, campuran antara sayang dan tuntutan. Di belakang wanita itu, Papa duduk di kursi kayu, membaca koran, tapi jelas menyimak setiap kata.
“Masuk rumah iya,” lanjut Mama, “tapi status kamu itu loh, nggak berubah-ubah.”
Arga menghela napas pelan. Ia berjalan masuk, meletakkan tasnya dengan rapi di dekat sofa, lalu berdiri tegap seperti sedang laporan.
“Latihan hari ini berjalan lancar, Ma. Maneuver low altitude berhasil tanpa kendala. Evaluasi instruktur...”
“Arga,” potong Mama, “Mama nggak nanya soal pesawat.”
Sunyi sejenak.
Papa menurunkan korannya, menatap Arga dari balik kacamata. “Kamu umur berapa sekarang?”
“Dua puluh delapan, Pa,” jawab Arga tanpa memandang ayahnya.
“Teman-teman kamu, sebagian sudah menikah,” Mama Mila berkomentar dengan santainya.
“Sebagian?” Papa mengangkat alis.
Arga terdiam.
Mama mendengus kecil. “Sebagian besar, maksud Papa kamu.”
Arga mengangguk pelan. Ia menarik kursi dan duduk, punggung tetap tegak. Bahkan di rumah, kebiasaan militernya sulit dilepas.
“Arga fokus karier dulu, Ma, Pa.”
Mama langsung mendekat. “Fokus karier itu bagus. Tapi hidup itu bukan cuma soal kerja.”
“Betul,” timpal Papa, “pesawat kamu bisa terbang tinggi, tapi kamu sendiri kok nggak pernah ‘mendarat’?”
Arga hampir tersemukan senyum mendengar perumpamaan itu, tapi ia tahan. Situasinya tidak memungkinkan untuk bercanda.
“Arga belum menemukan orang yang tepat.”
Mama menggeleng. “Atau kamu yang nggak tahu cara mendekati orang.”
Kalimat itu menancap lebih dalam dari yang Arga kira.
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap lurus. “Arga sudah mencoba.”
“Contohnya?” Mama langsung menyergap.
Arga terdiam lagi. Contohnya?
Ia mencoba mengingat. Beberapa kali dikenalkan oleh teman. Dua kali ikut acara kumpul keluarga yang penuh dengan “calon-calon potensial”. Sekali diajak makan malam oleh senior yang berniat menjodohkan.
Hasilnya? Kaku. Sunyi. Canggung.
“Ya itu,” kata Mama, “nggak ada jawabannya kan?”
Arga terdiam sejenak.
“Arga memang nggak pandai berbasa-basi,” jawabnya jujur.
Papa menutup koran sepenuhnya sekarang.
“Di udara kamu bisa ambil keputusan dalam hitungan detik. Kenapa di darat malah ragu setengah mati?”
Arga mengusap tengkuknya pelan. “Situasinya berbeda, Pa.”
“Berbeda di mana?” tanya sang ayah setengah menggoda anaknya itu.
“Di udara semuanya jelas. Ada prosedur. Ada instruksi. Ada target.”
“Dan perempuan bukan target?” Mama menyela.
Arga langsung menggeleng. “Bukan begitu maksudnya.”
“Lalu?”
Arga mencari kata-kata. Ia selalu bisa menjelaskan sistem navigasi kompleks, bisa menjabarkan strategi manuver dengan detail, tapi untuk hal ini… kosong.
“Arga takut salah bicara.”
Mama melembut sedikit. “Semua orang juga pernah salah bicara.”
“Tapi kalau di udara, salah sedikit bisa fatal.”
“Ini bukan pesawat, Arga.”
Mama menarik kursi dan duduk di depannya. “Kamu itu terlalu serius. Hidup nggak harus selalu sempurna.”
Papa mengangguk pelan. “Kadang kamu harus berani terlihat bodoh sedikit.”
Arga hampir tersedak mendengarnya.
“Bodoh, Pa?”
“Iya,” jawab Papa santai, “masa pendekatan kayak briefing militer?”
Arga langsung teringat satu kejadian. Ia pernah, tanpa sadar, menjelaskan rencana makan malam dengan susunan seperti laporan, waktu, lokasi, estimasi durasi, bahkan alternatif jika terjadi “kendala”.
Perempuan itu tidak pernah membalas setelahnya.
Mama menatapnya lekat-lekat. “Kamu pernah pacaran, nggak sih?”
Arga menggeleng pelan.
“Sekali pun?”
“Tidak, Ma,” jawab Arga singkat dan pelan.
Mama memijat pelipisnya. “Ya Allah… ini anak Mama benar-benar jomblo kronis. Kamu itu ganteng, Arga.”
Arga menunduk sedikit, tapi tidak membantah.
Papa berdiri, berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Arga. “Dengar, kamu anak yang baik. Disiplin. Bertanggung jawab. Itu semua nilai plus dan bener mamamu… kamu itu punya wajah dan postur di atas rata-rata.”
Arga mengangkat wajahnya.
“Tapi,” lanjut Papa, “perempuan itu bukan cuma butuh itu. Mereka butuh kenyamanan. Kehangatan.”
Arga mengangguk pelan. “Arga mengerti, Pa.”
“Tapi kamu belum bisa melakukannya.”
Arga tidak menjawab.
Mama berdiri lagi, lalu berjalan ke dapur.
“Mama capek ngomong begini terus tiap kamu pulang.”
“Ma…” ucap Arga pelan.
“Tiap lihat anak orang bawa pasangan, Mama iri. Bukan iri yang jelek, tapi Mama pengen lihat kamu bahagia.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam lebih lama.
Ia bukan tidak ingin bahagia. Ia hanya… tidak tahu caranya.
Di udara, semuanya bisa ia kendalikan. Kecepatan, arah, ketinggian. Tapi di darat, terutama dalam urusan hati, ia seperti kehilangan instrumen.
Papa kembali duduk. “Kamu pernah coba cara lain?”
“Cara lain?”
“Ya… zaman sekarang banyak cara kenalan. Nggak harus lewat teman atau keluarga.”
Arga mengernyit. “Maksud Papa?”
Papa melirik Mama yang kembali dari dapur sambil membawa segelas air.
“Dating app.”
Arga langsung menggeleng. “Tidak.”
Jawabannya cepat, tegas, refleks.
Mama menaikkan alis. “Kenapa?”
“Tidak sesuai dengan prinsip Arga.”
“Prinsip apa lagi?” Mama mulai kesal.
“Itu… terlalu bebas. Tidak terstruktur.”
Papa tertawa kecil. “Memang harus terstruktur ya? Mau kenalan atau operasi militer?”
Arga menghela napas. “Arga tidak terbiasa.”
“Justru itu,” kata Mama, “kamu harus belajar.”
“Arga bisa cari cara lain,” Arga tampak ragu.
“Cara lain yang mana?” Mama menantang.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Mama mendekat lagi, kali ini berdiri tepat di depan Arga. “Dengar ya, Mama nggak minta kamu langsung nikah. Mama cuma minta kamu membuka diri.”
Arga menatap mata ibunya.
“Coba saja dulu,” lanjut Mama lebih lembut, “nggak ada salahnya.”
Papa ikut menimpali, “Kalau nggak cocok, ya sudah. Tapi kalau kamu bahkan nggak pernah mencoba…”
Kalimat itu menggantung.
Arga menelan ludah.
Ia bukan takut mencoba. Ia takut gagal.
Di dunia yang selama ini ia kuasai, kegagalan punya konsekuensi yang jelas. Tapi dalam hal ini… ia bahkan tidak tahu apa yang disebut berhasil.
“Pikirkan saja dulu,” kata Papa akhirnya.
Arga mengangguk pelan. “Siap, Pa.”
Mama menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Makan dulu sana. Mama sudah masak.”
“Terima kasih, Ma.”
Arga berdiri, lalu berjalan ke meja makan. Gerakannya tetap rapi, terukur. Ia duduk, mengambil piring, dan mulai makan dalam diam.
Suasana sedikit mencair, tapi tidak sepenuhnya.
Di kepalanya, kata-kata tadi masih berputar.
Dating app.
Ia bahkan belum pernah mengunduh satu pun.
Baginya, berkenalan dengan orang asing tanpa konteks jelas terasa… aneh. Tidak ada briefing. Tidak ada latar belakang. Tidak ada kepastian.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.
Tatapan Mama tadi.
Dan cara Papa berbicara memang tidak memaksa, tapi penuh harap.
Setelah makan, Arga pamit masuk ke kamarnya.
Kamar itu rapi, nyaris tanpa cela. Tempat tidur terlipat sempurna, meja kerja bersih, semua barang tersusun sesuai posisi.
Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu duduk di tepi ranjang.
Sunyi.
Arga menatap layar ponselnya.
Beberapa notifikasi muncul, grup skuadron, pesan dari rekan kerja, update jadwal latihan.
Tidak ada satu pun yang bersifat personal.
Ia membuka galeri sebentar. Foto-foto yang ada kebanyakan pesawat, langit, dan beberapa dokumentasi kegiatan.
Hampir tidak ada foto dirinya sendiri.
Arga menghela napas.
“Buka diri…” gumamnya pelan.
Tangannya bergerak mengambil ponsel.
Ia membuka aplikasi store.
Jarinya berhenti di kolom pencarian.
Beberapa detik.
Satu menit.
Lima menit.
Ia mengetik perlahan: “dating…”
Muncul berbagai pilihan aplikasi.
Arga menatap layar itu lama.
Sangat lama.
Seolah-olah ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang jauh lebih menegangkan daripada menerbangkan pesawat tempur.
Jarinya melayang di atas layar.
Ragu.
Ia menarik napas dalam.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari grup skuadron:
“Besok briefing dipercepat. 05.00 sudah harus siap.”
Arga langsung refleks menegakkan punggungnya.
Fokusnya seketika beralih.
Ia menatap kembali layar aplikasi tadi… lalu ke notifikasi tugas.
Dua dunia yang sangat berbeda.
Satu penuh kepastian.
Satu lagi… sama sekali tidak.
Arga mematikan layar ponselnya perlahan.
Ia bersandar ke dinding, menatap langit-langit kamar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa… bingung harus memilih.
Dan di meja, ponselnya kembali bergetar, kali ini dengan notifikasi y
ang belum sempat ia lihat.
...
Judul: Dating App Perwira Jomblo
Penulis: Nada Mata
Genre: Aksi, Dewasa, Romansa, Urban
Platform: Novel Laris
Editorial:
Novel ini menyuguhkan sebuah awal cerita yang sangat menghibur dan terasa dekat dengan kehidupan nyata, di mana pembaca diajak mengintip obrolan santai namun penuh tuntutan di dalam sebuah keluarga. Penulis berhasil membangun komedi situasi yang segar ketika seorang perwira militer yang tangguh di udara ternyata harus mati kutu saat diinterogasi oleh orang tuanya mengenai urusan jodoh. Kontras antara dunia penerbangan yang serba terstruktur dan rumitnya dunia pendekatan asmara langsung memancing senyum sejak awal lembar cerita.
Karya berjudul "Dating App Perwira Jomblo" ini merupakan buah pena dari Nada Maya. Sebagai salah satu penulis yang kreatif di platform Novel Laris, ia berhasil meramu perpaduan genre yang cukup unik, mulai dari Aksi, Dewasa, Romansa, hingga Urban. Melalui gaya penceritaan yang ringan dan penuh humor, Nada Mata menampilkan karakter utama pria yang berwibawa namun memiliki sisi polos yang menggemaskan dalam urusan hati.
Keunggulan utama novel ini terletak pada kekuatan dialognya yang sangat hidup, mengalir alami, dan penuh dengan sindiran kocak khas orang tua. Karakter Arga sebagai pilot pesawat tempur yang serba kaku dan disiplin digambarkan dengan sangat konsisten, termasuk bagaimana kebiasaan militernya terbawa hingga ke meja makan. Komedi yang dihadirkan lewat kilas balik saat Arga memperlakukan kencan seperti briefing militer menjadi daya tarik yang sangat menghibur.
Mengenai kekurangan, suasana cerita yang hanya berfokus pada obrolan di dalam kamar dan ruang makan mungkin akan terasa sedikit monoton bagi pembaca yang mengharapkan ketegangan aksi atau petualangan fisik yang cepat. Namun, kekurangan latar tempat yang sempit ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam membangun konflik batin yang kuat di akhir cerita. Pilihan dilematis Arga antara tugas Skuadron yang pasti atau mencoba mengunduh aplikasi jodoh yang penuh ketidakpastian sukses memicu rasa penasaran pembaca tanpa perlu adegan aksi yang berlebihan.
Secara keseluruhan, bagian pembuka novel ini sangat cerdik dalam meletakkan dasar cerita komedi romantis yang segar dan modern. Penulis berhasil menutup pengenalan ini dengan sebuah getaran notifikasi misterius di ponsel Arga yang menjadi umpan sempurna untuk memicu rasa ingin tahu. Pembaca dibuat tidak sabar untuk melihat bagaimana seorang perwira tangguh menavigasi "medan perang" baru yang bernama dating app.
Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu pencinta kisah romansa komedi, drama urban, atau cerita tentang dunia militer yang dikemas secara santai. Jika kamu mencari bacaan yang ringan, menghibur, sekaligus bikin gemas dengan tingkah karakter pria yang kaku tapi polos, karya Nada Mata ini adalah pilihan yang sangat tepat. Segera ikuti kelanjutan kisahnya dan saksian perjuangan Arga dalam menaklukan misi asmara terbesarnya!
By: Rahmat Ry
