BAYANGAN DI BALIK LENCANA - Sanz Fy

BAYANGAN DI BALIK LENCANA - Sanz Fy


0

Bab 20. Membuka Kisah Lalu

Lama Naufal terpaku sebelum akhirnya menyahut sapaan Chintya. "Tante Chintya," jawabnya datar. Sapaan itu tertuju pada wanita yang telah menghancurkan keluarganya. Sahabat ibunya yang tega membawa lari sang ayah beserta uang hasil penjualan rumah dan tabungan pendidikannya. Luka itu masih menganga, perihnya terasa meski bertahun-tahun berlalu. Ia ingat jelas betapa Adelia, ibunya, begitu memercayai Chintya layaknya saudara sendiri. Hancur hati ibunya saat pengkhianatan itu terungkap, berjuang sendirian membesarkan dia dan Akhzam dalam kepiluan.

​Chintya yang kini mengenakan seragam pembersih ruangan masih tampak jelita. Waktu seolah tidak mampu menghapus paras menawannya, namun gagal pula melenyapkan bayang pengkhianatan yang menghantui Naufal.

​"Mama kamu... Bagaimana?" tanya Chintya dengan suara gemetar. Dua tahun sudah ia kembali ke kota ini, membawa segudang kenangan pahit. Ia ingin bertemu Adelia untuk memohon ampun, namun jejak wanita itu seakan hilang ditelan waktu.

​"Tidak tahu rumah Mama saat ini, tapi Tante kan tahu rumah Kakek?" balas Naufal tetap dengan nada dingin.

​Chintya menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. Ia sadar permintaan maafnya tidak akan pernah cukup menebus dosa masa lalu. Ia ingin mengisahkan penyesalannya, tentang perjuangan hidup sebagai petugas kebersihan demi mengharap belas kasihan. Suaranya mulai parau, “Naufal... aku sangat menyesal. Aku tahu kesalahanku besar. Aku hanya ingin meminta maaf pada Mamamu.” Air mata mulai membasahi pipinya yang kusam akibat terik matahari dan kerja keras. Ia mengulurkan tangan, seolah memohon ampunan.

​Namun, sebelum penyesalan tulus itu tersampaikan sepenuhnya, Naufal memotong kalimatnya.

​"Maaf, aku harus pulang. Permisi," ujar Naufal tegas dan tanpa ampun. Ia bergegas tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk menuntaskan bicaranya. Wajah Chintya mendadak pucat. Tangannya yang terulur membeku di udara. Keinginannya untuk bertaubat terasa hancur seketika oleh kata-kata Naufal yang menusuk. Ia hanya bisa terpaku di parkiran hotel yang ramai, menyaksikan kepergian Naufal dengan rasa putus asa yang menggerogoti jiwa.

​Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil senyap, hanya ditemani alunan musik radio yang pelan. Naufal terdiam, pikirannya melayang pada wajah sedih ibunya dan perjuangan berat mereka di masa lalu. Ia merasa bersalah karena belum bisa memberi kebahagiaan lebih bagi ibunya, juga merasa terbebani karena harus menyembunyikan pertemuan ini dari Sinta.

​Mereka tiba di hunian sederhana milik Adelia. Pintu ruang tamu terbuka, menyambut mereka dengan keceriaan Akhzam, adik Naufal.

​"Abang pulang!" seru Akhzam gembira sambil berlari mendekat. "Adek tadi ke rumah Kakek, dibelikan pesawat tempur!" Bocah itu memamerkan mainan biru tuanya dengan bangga.

​"Salam sama Kak Sinta," tutur Naufal sembari tersenyum lembut melihat kegembiraan sang adik. Akhzam segera mencium tangan Sinta dan memuji kecantikannya dengan polos.

​"Mama mana?" tanya Naufal mencari keberadaan sang ibu.

​"Di belakang, masak ayam goreng untuk Adek," sahut Akhzam riang.

​Naufal menggandeng tangan Sinta menuju dapur. Adelia terlihat baru saja menata hidangan ke piring. Aroma masakan yang menggugah selera memenuhi ruangan. Saat menyadari kehadiran putranya, wajah Adelia yang semula tampak lelah langsung berubah cerah. Senyum penuh kelegaan merekah, membuat matanya berbinar dan parasnya tampak lebih muda. Ia mengulurkan tangan untuk memeluk Naufal, sebuah bahasa kasih yang tak terucap.

​"Ma..." panggil Naufal lembut.

​Adelia menoleh dengan tatapan penuh kelembutan. "Sudah pulang?" tanyanya tenang. Naufal mencium tangan ibunya, lalu memperkenalkannya pada gadis di sampingnya.

​"Ini Sinta, Ma. Kekasihku."

​Adelia tersenyum hangat, "Oh, yang kemarin kamu ceritakan?" Ia menyambut Sinta dengan ramah. Ketegangan yang sempat menyelimuti Naufal perlahan mereda, digantikan kehangatan keluarga kecil yang penuh kasih.

​"Aku mandi dulu, Ma. Tolong temani Sinta ya," pinta Naufal.

​Adelia mengajak Sinta ke ruang tamu. Di sana, Akhzam masih asyik bermain di lantai. Sinta menawarkan diri untuk menemani bocah itu bermain sementara Naufal bersiap-siap. Adelia tetap bersikeras ingin membuatkan teh untuk tamu mereka.

​Saat kembali ke dapur, Adelia melewati kamar Naufal yang pintunya sedikit terbuka. Ia melihat putranya termenung dengan handuk di bahu. Adelia melangkah masuk dengan perlahan.

​"Abang kenapa?" tanya Adelia lembut. Ia bisa merasakan beban berat yang sedang disembunyikan putranya.

​Naufal menoleh, mencoba mengulas senyum. "Tidak apa-apa, Ma. Hanya lelah."

​"Benar?" Adelia menatap dalam, tidak sepenuhnya percaya. Naufal meyakinkan ibunya sekali lagi. Ia enggan mengungkit perihal Chintya karena khawatir akan melukai hati sang ibu kembali.

​"Ya sudah, cepat mandi. Nanti ajak Sinta makan malam di sini ya," ucap Adelia sembari memungut kemeja Naufal di tempat tidur. Ia tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati putranya, entah itu urusan pekerjaan atau pribadi. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa agar segala sesuatunya baik-baik saja.

*****

Nama Pena: Sanz Fy

Genre : Action

PF : Novea

Editorial:

Novel ini sebenarnya lebih condong ke arah drama keluarga dan emosi daripada aksi fisik, namun ketegangan batin yang ditampilkan sangat kuat. Pertemuan antara Naufal dan Chintya di parkiran hotel menciptakan suasana yang mencekam secara psikologis. Penulis berhasil menggambarkan luka masa lalu yang masih terasa perih melalui dialog singkat dan tatapan dingin Naufal. Meskipun tidak ada perkelahian atau ledakan, rasa "aksi" di sini hadir dalam bentuk konfrontasi emosional antara korban pengkhianatan dan pelaku yang kini hidup dalam penyesalan.

Karakter Naufal digambarkan sebagai pria yang teguh pada pendirian dan sangat protektif terhadap keluarganya. Sikapnya yang tegas menolak permintaan maaf Chintya menunjukkan kedewasaan sekaligus rasa sakit yang belum sembuh. Penulis menggunakan bahasa tubuh, seperti tangan Chintya yang membeku di udara, untuk memperkuat dampak penolakan tersebut. Ini adalah jenis action internal, di mana tokoh utama bertarung melawan kenangan pahit dan godaan untuk melupakan masa lalu demi kenyamanan semu.

Kontras antara kehidupan Chintya yang kini menjadi petugas kebersihan dengan kemewahan masa lalunya menambah lapisan dramatis cerita. Deskripsi fisik Chintya yang masih jelita namun terlihat lelah dan kusam akibat kerja keras memberikan dimensi moral pada cerita. Pembaca diajak untuk merasakan kompleksitas situasi. Apakah Chintya layak dimaafkan? Ataukah luka yang ditimbulkan terlalu dalam untuk ditutupi hanya dengan air mata? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat alur cerita menjadi menarik dan tidak datar.

Bagian lain novel ini membawa pembaca masuk ke dalam kehangatan rumah Adelia, ibu Naufal. Suasana berubah drastis dari dinginnya parkiran hotel menjadi hangatnya dapur yang penuh aroma masakan. Kehadiran adik Naufal, Akhzam, dan kekasihnya, Sinta, memberikan warna cerah yang kontras dengan beban pikiran Naufal. Penulis pintar dalam mengatur tempo emosi, menurunkan ketegangan setelah adegan konfrontasi, lalu membangun kembali kecurigaan halus saat Naufal mencoba menyembunyikan pertemuan tadi dari ibunya.

Interaksi antara Naufal dan ibunya, Adelia, menunjukkan ikatan batin yang sangat kuat. Adelia digambarkan sebagai sosok ibu yang intuitif. Ia bisa merasakan ada yang mengganjal di hati putranya meskipun Naufal berusaha menutupinya. Momen ketika Adelia menemukan Naufal termenung di kamar menambah kedalaman karakter mereka. Ini bukan sekadar cerita tentang balas dendam, tetapi juga tentang perlindungan seorang anak kepada ibunya agar tidak terluka lagi oleh masa lalu.

Secara keseluruhan, novel  ini menawarkan narasi yang padat emosi dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Sanz Fy, penulis di platform Novea, menunjukkan kemampuannya dalam membangun konflik karakter yang realistis dan menyentuh hati. Meskipun diberi label genre Action, kekuatan cerita ini terletak pada dinamika hubungan antarmanusia dan resolusi konflik batin.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama