Garuda Tanpa Rantai: Menolak Akademi Elit - Spica Rigel

Garuda Tanpa Rantai: Menolak Akademi Elit - Spica Rigel


0

Bab 5: Penolakan

Gemuruh mesin hover-limousine milik elit Pulau Satria Nusantara merobek kesunyian gang sempit. Sorot lampu neon menyilaukan mata, membingkai siluet Raksa yang masih bergetar menahan nyeri. Di sampingnya, Abah Empin hanya mengetukkan tongkat kayu sekali, tatapannya tenang menghadap armada mewah yang baru saja mendarat dengan angkuh.

Pintu kendaraan terdepan mendesis, mengeluarkan hembusan gas pendingin. Seorang wanita berseragam putih kaku dengan lencana emas berkilauan turun. Langkahnya tegas, penuh wibawa. "Raksa Dirgantara?" suaranya lembut namun tajam. "Aku Kirana dari Akademi Arungbuana. Kami di sini bukan untuk menghakimimu."

Raksa menyeka sudut bibirnya yang berlumuran darah perak. Ia bersandar lemas pada tembok kotor. "Aku tidak ingat ada pesan jemputan," jawabnya parau. Di visi augmented reality-nya, data muncul: [Kirana Dewanti. Kepala Perekrutan Akademi Arungbuana. Status: Bahaya Level Menengah. Dipasangi Cakra Stabilizer Kelas A.]

"Kami semua melihat evaluasimu," kata Kirana sambil melangkah mendekat, sepatu botnya mengetuk aspal basah. "Damar mungkin menyebutmu anomali sampah, tapi bagi kami, status Undefined adalah potensi tanpa batas. Kami bisa memberimu segalanya yang tak bisa diberikan oleh tempat kumuh ini."

Raksa menyipitkan mata, waspada. "Segalanya?"

"Rumah di Sektor Elit, suplai Mana tak terbatas, dan..." Kirana menjeda, matanya menatap luka menganga di leher Raksa. "...perbaikan saraf sirkuitmu. Prioritas medis terbaik. Tidak ada lagi muntah darah metalik, Raksa. Tidak ada lagi nyeri tulang yang menusuk setiap kali kau menggunakan modul gravitasi."

Raksa terdiam. Hidup tanpa rasa sakit. Untuk satu detik, keraguannya muncul. Bayangan tentang tempat tidur bersih, makanan layak, dan tubuh yang tidak terasa seperti mesin rusak sangatlah menggoda. Namun, ia melirik Abah yang masih membisu. Pak tua itu hanya tersenyum tipis, seolah membiarkan Raksa menimbang beratnya rantai emas yang sedang ditawarkan.

"Kenapa tiba-tiba tertarik?" tanya Raksa sambil mengertakkan gigi, mencoba mengusir godaan itu.

"Kekuatan tanpa nama adalah aset terbaik," Kirana memutar hologram kontrak di udara. "Kami akan mendidikmu jadi tombak terdepan. Kamu bukan anomali lagi... kamu akan jadi pahlawan bersertifikasi."

"Pahlawan," Raksa tertawa kecil, suara tawanya perih dan sinis. "Maksudmu pahlawan yang bisa kalian matikan tombolnya kalau aku mulai membangkang? Seperti robot?"

Ekspresi Kirana membeku sejenak. Keheningan itu adalah konfirmasi paling jujur. "Semua kekuatan harus diatur agar tidak merusak publik," bela Kirana, suaranya kini lebih dingin. "Kami memberimu kestabilan, kau memberi kami hasil. Adil, kan?"

"Nggak," ucap Raksa datar.

Suasana gang mendadak mendingin drastis. Cahaya drone-drone pengintai yang melayang berubah menjadi biru, pertanda protokol pencatatan negosiasi telah aktif. "Kau paham situasimu?" Kirana kehilangan kesabaran. "Jika kau menolak akademi resmi, statusmu beralih jadi Subjek Ilegal. Perusahaan elit punya hak hukum untuk membedahmu di laboratorium sebagai spesimen berbahaya. Pilihannya: sekolah kami, atau meja operasi."

Raksa melepaskan punggungnya dari tembok. Ia berdiri tegak, membiarkan rasa sakit di kepalanya justru menguatkan keputusannya. "Jadi itu cara kerjanya? Kalau bukan bagian dari pajangan lemari emas kalian, berarti musuh? Kalian bukan mau menolong, kalian mau beli nyawaku biar Damar tidak cemas saat tidurnya?"

"Ini tawaran terakhir, Raksa Dirgantara."

Raksa menatap kontrak digital itu. Klausul-klausulnya padat, intinya menghapus identitasnya yang sekarang. Dengan gerakan cepat, ia menepis hologram itu dengan punggung tangan hingga buyar. "Sasmita, Cakra, dan Mana yang kubuka... aku merasakannya sendiri. Itu bukan untuk jadi barang pameran."

"Jangan bodoh! Apa rencanamu? Mati kaku di tumpukan kardus?!" seru Kirana geram.

"Nggak. Aku sudah pilih satu tempat," gumam Raksa sambil melirik kegelapan di sudut gang.

"Di mana?" geram Kirana. "Tak ada akademi lain yang berani mengambilmu."

"Namanya nggak terdaftar di server kementerian kalian," Raksa menyeringai tipis. Matanya menyala emas intens sesaat, bukti sistem sirkuitnya berevolusi lepas kendali. "Sasana Garuda Bhakti. Pernah dengar?"

Kirana tertawa merendah. "Sasana Garuda Bhakti? Gubuk tua penuh pemimpi yang gagal? Kau menolak kami demi bergabung ke gudang rongsokan itu?"

"Rongsokan jauh lebih jujur dibanding gudang emas kalian yang palsu," timpal Raksa tajam.

[Target melakukan penolakan resmi. Mengubah klasifikasi Subjek: BURONAN KRITIS.]

Mata Kirana berubah sedingin es. "Tadinya kupikir kau cukup pintar buat jadi pahlawan kami." Ia memberikan kode serangan.

"Pakai seragam akademi elit cuma bikin bahuku makin bungkuk," Raksa melompat mundur saat gelombang kejut menerjang dari arah drone. Debu beterbangan. Abah Empin menghilang di tengah kekalutan, meninggalkan Raksa bertarung sendirian.

Namun Raksa tidak lari. Ia menghantam beton, mengaktifkan modul internal secara manual. "Koneksikan ke frekuensi rendah! Nala, cari sinyal Sasana!"

Belum selesai Nala melakukan pemindaian, tanah di bawah kaki Raksa mendadak merekah. Lubang hitam terbuka, menghisap tubuhnya ke dalam kegelapan kanal bawah tanah tepat sebelum serangan laser Kirana membelah tempatnya berdiri.

Raksa meluncur di lorong gelap yang bau menyengat. Ia mendarat kasar di sebuah aula kosong. Di depannya terpampang papan nama kayu retak: Selamat Datang di Sasana Garuda Bhakti.

Seorang pria dengan kaki besi sebelah sedang menimang rokok klembak di sana. Ia menatap Raksa dengan bosan. "Pilihan bagus," kata pria itu. "Tapi ujian masuk sini bukan pakai komputer. Lihat di belakangmu."

Raksa berbalik. Dari ventilasi udara, cairan hitam merembes—bukan mesin atau data, melainkan liur makhluk Derau yang baunya membuat mual.

"Selamat datang di tempat sampah, Nak," gumam pria itu. "Sekarang, buktikan kalau kau bukan cuma rongsokan."

*****

Napen: Spica Rigel

Genre: Sistem, Aksi, Fiksi Ilmiah

PF: Novea

Editorial:

Novel ini berrcerita dengan ketegangan yang langsung terasa. Kedatangan mobil mewah milik elit Pulau Satria Nusantara ke gang sempit menciptakan kontras visual yang kuat antara kemewahan dan kemiskinan. Raksa, tokoh utama, digambarkan dalam kondisi lemah namun tetap waspada, sementara kehadiran Abah Empin yang tenang menambah nuansa misterius. 

Penulis berhasil membangun atmosfer dunia fiksi ilmiah yang gelap dan penuh tekanan sejak paragraf pertama, membuat pembaca langsung penasaran dengan dinamika kekuasaan di dunia tersebut.

Konflik utama dalam novel ini adalah tawaran dari Kirana, perwakilan Akademi Arungbuana, kepada Raksa. Tawaran itu terdengar menggiurkan yaitu hidup nyaman, perawatan medis terbaik, dan status sebagai "pahlawan bersertifikasi". Namun, di balik kata-kata manis itu terselip ancaman halus. Raksa dengan cerdas menyadari bahwa tawaran tersebut sebenarnya adalah jerat untuk mengontrolnya. Dialog antara keduanya sangat tajam, menunjukkan kecerdasan Raksa dalam membaca niat tersembunyi Kirana. Ini memperlihatkan karakter Raksa bukan sekadar korban, tetapi seseorang yang memiliki prinsip kuat.

Penolakan Raksa terhadap akademi elit menjadi titik balik yang menarik. Ia memilih untuk tidak menjadi "robot" atau alat bagi para elit, meskipun artinya ia harus menghadapi risiko besar, bahkan dianggap sebagai buronan. Pilihan ini menegaskan tema kebebasan dan integritas diri. Raksa lebih menghargai identitasnya yang "undefined" atau tak terdefinisi oleh sistem, daripada dijual sebagai pahlawan palsu. Sikap ini membuat pembaca merasa hormat pada keberanian moralnya, meski situasinya sangat berbahaya baginya.

Aksi pelarian Raksa juga dikemas dengan gaya yang dinamis. Penggunaan teknologi seperti visi augmented reality, modul gravitasi, dan asisten AI bernama Nala memberikan nuansa fiksi ilmiah yang kental. Adegan ketika tanah merekah dan menelan Raksa ke dalam kanal bawah tanah sebelum serangan laser mengenai posisinya ditulis dengan ritme cepat, menciptakan rasa urgensi dan bahaya. Transisi dari permukaan gang yang terang benderang ke lorong bawah tanah yang gelap dan bau menyengat juga efektif dalam mengubah suasana cerita secara drastis.

Akhir cerita ini memperkenalkan lokasi baru. Sasana Garuda Bhakti. Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang jauh dari kesan mewah, bahkan disebut sebagai "gudang rongsokan" oleh Kirana. Namun, justru di sinilah Raksa mencari perlindungan. Pertemuan Raksa dengan pria berkaki besi di cerita membuka pintu bagi konflik baru. Ujian masuk yang bukan berupa tes komputer, melainkan pertarungan melawan makhluk Derau, menunjukkan bahwa kekuatan di tempat ini diukur dari kemampuan bertahan hidup, bukan sertifikat atau status sosial. Ini memberi kesan bahwa jalan yang dipilih Raksa memang keras, tapi mungkin lebih jujur.

Secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan alur yang padat dan bahasa yang mudah dipahami, cocok untuk pembaca yang menyukai genre aksi dan fiksi ilmiah. 

Spica Rigel, penulis di platform Novea, menunjukkan kemampuannya dalam menggabungkan elemen teknologi futuristik dengan drama manusia yang relatable. Karakter Raksa digambarkan dengan kedalaman emosi yang baik, sementara dunia ceritanya dibangun dengan detail yang cukup tanpa berlebihan. Bagi penggemar cerita tentang perlawanan terhadap sistem yang korup dan pencarian jati diri di tengah tekanan, karya ini layak untuk diikuti perkembangannya di Novea.

by Nada Maya




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama