Bab 24
Jason Garvino merengkuh Raisyah begitu erat. Kondisinya yang setengah mabuk membuat penglihatannya buram. Dalam kesadarannya yang samar, ia mengira perempuan yang ada di pelukannya adalah Mita Mardiana.
Raisyah berusaha melepaskan diri, suaranya pelan dan dipenuhi kegugupan. “Jason… lepaskan… ini aku, Kak Raisyah… kakak iparmu… bukan Mita.”
Namun tenaga Jason jauh lebih kuat. Pelukannya justru semakin mengencang, napas hangatnya menyentuh leher Raisyah. “Mita… kamu datang… aku sudah menunggumu. Ayo…”
Raisyah mencoba mendorong dada Jason, tetapi tubuhnya sendiri masih lemah karena pengaruh alkohol. “Jason… jangan… ini salah… aku kakakmu…”
Jason seakan tidak mendengar. Ia mulai mengecup leher Raisyah perlahan. Sentuhan itu membuat Raisyah menggigil, desahan kecil lolos tanpa ia sadari. Ia masih berusaha menolak, tetapi tubuhnya mulai bereaksi berbeda. Sudah lama ia tidak merasakan kedekatan seperti ini sejak suaminya tiada.
“Jason… ah… jangan… kita tidak boleh…” bisik Raisyah lirih, suaranya bergetar antara penolakan dan keinginan yang terpendam.
Jason terus melanjutkan, tangannya menjelajahi tubuh Raisyah tanpa ragu. Raisyah tak mampu lagi menahan diri sepenuhnya. Air mata mengalir di pipinya, tetapi tubuhnya perlahan ikut larut dalam situasi yang tak seharusnya terjadi.
“Jason… ini salah… jangan lanjutkan…” ucapnya lagi, namun suaranya semakin melemah.
Malam itu menjadi batas yang terlewati. Keduanya terseret dalam arus yang sulit dihentikan, hingga akhirnya mereka mencapai puncak emosi yang sama.
Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Jason terkulai, napasnya berat. Raisyah bangkit dengan tergesa, air matanya masih jatuh, namun wajahnya menyimpan perasaan yang bercampur. Ia mengenakan kembali pakaiannya dengan tangan gemetar, lalu pergi dari kamar tanpa sepatah kata.
**
Pagi hari, Jason terbangun dengan kepala sedikit berat. Cahaya matahari masuk melalui sela tirai kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya, dan menyadari dirinya tanpa busana. Potongan ingatan semalam perlahan muncul, pelukan, suara, dan nama Mita yang terus ia ucapkan.
Ia menggeleng, lalu segera mandi air dingin untuk menyegarkan diri. Setelah itu, ia mengenakan kemeja putih rapi dan celana formal sebelum keluar kamar.
Di ruang tamu, Elita Marlindo sedang merapikan sisa pesta. Ia tersenyum saat melihat Jason.
“Jason, sudah bangun,” sapanya lembut. “Cindy ada di dapur. Raisyah sudah pergi ke pasar sejak pagi. Mau sarapan dulu?”
Jason mengangguk singkat. “Terima kasih, Kak Elita. Tapi saya sarapan di luar saja. Hari ini harus ke kantor.”
Cindy Zaskria keluar dari dapur membawa sepiring nasi goreng. “Jason, duduk dulu. Makan dulu.”
Jason tersenyum tipis. “Terima kasih, Kak Cindy. Tapi saya sedang terburu-buru.”
Cindy menatapnya penuh perhatian. “Kamu tidak apa-apa? Semalam kamu cukup mabuk. Ada yang terjadi?”
Jason menggeleng ringan. “Tidak ada apa-apa.”
Ia pun berpamitan dan langsung mengemudikan mobil menuju Grup Djurta. Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. Pesan dari Leona Djurta.
Leona: Jason, pagi ini ada serah terima saham enam persen di ruang rapat utama. Aku sudah siapkan semuanya. Datang tepat waktu.
Jason membalas singkat: Baik, Nona Leona. Saya segera ke sana.
Setibanya di gedung, Leona sudah menunggu di lobi dengan senyum elegan. Beberapa karyawan turut berkumpul.
“Jason,” ucap Leona hangat. “Hari ini kita resmikan penyerahan enam persen saham untukmu. Ini bentuk terima kasihku.”
Jason mengangguk hormat. “Terima kasih, Nona Leona. Saya menghargainya.”
Leona tersenyum. “Kamu pantas mendapatkannya. Selain itu, aku juga menyiapkan hunian cluster terbaik untukmu dan keluargamu.”
Di ruang rapat utama, pengumuman itu disambut tepuk tangan meriah. Namun di sudut ruangan, Yurman hanya memandang dengan ekspresi tidak suka.
Setelah acara selesai, Jason menuju ruangan Mita Mardiana. Ia mengetuk pintu lalu masuk.
Mita duduk di balik meja dengan wajah dingin. “Ada apa?”
Jason berdiri tegak. “Bu Mita, saya ingin minta maaf atas kejadian semalam. Saya kebablasan.”
Mita menghela napas. “Lupakan saja. Anggap tidak pernah terjadi.”
Jason tetap bersikap serius. “Saya ingin memperbaikinya. Izinkan saya mengajak Anda keluar lagi, kali ini tanpa gangguan.”
Mita menatapnya sejenak, lalu menggeleng. “Saya tidak tertarik.”
Jason mengangguk. “Baik, saya mengerti.”
Ia pun keluar dan melanjutkan perjalanan ke kantor pemasaran untuk menemui calon pembeli serta Zanita.
Di tengah jalan, dua mobil tiba-tiba menghadang. Jason memperlambat kendaraan dan berhenti. Sekelompok pria berbadan besar turun, beberapa membawa senjata.
Jason keluar dengan tenang. “Siapa yang menyuruh kalian?”
Pemimpin mereka tertawa. “Tidak perlu tahu. Ikut kami baik-baik, atau kami tembak di sini.”
Jason tetap dingin. “Sebutkan nama, atau kalian yang akan celaka.”
Tanpa banyak bicara, mereka menyerang. Jason bergerak cepat, menghindar dan membalas dengan presisi. Dalam hitungan detik, lima orang sudah terkapar.
Sisa mereka mulai ragu.
“Tembak saja!” teriak pemimpin mereka.
Namun tangan mereka gemetar. Aura Jason membuat mereka kehilangan keberanian.
Pemimpin itu akhirnya menembak.
DOOR!
Peluru mengenai dada Jason, tetapi hanya meninggalkan goresan tipis.
Wajah mereka langsung pucat. “Dia bukan manusia biasa…”
Mereka pun kabur tanpa menoleh lagi.
Jason hanya menyentuh luka kecil di dadanya, lalu melanjutkan perjalanan seolah tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya di kantor pemasaran, Zanita menyambut dengan senyum yang langsung berubah panik saat melihat luka tersebut.
“Jason! Kamu terluka?” suaranya meninggi. “Kamu ditembak?”
Jason menggeleng santai. “Hanya goresan kecil.”
Zanita menghela napas kesal. “Masuk ke ruanganku sekarang. Aku harus obati dulu sebelum kamu kerja!”
Di dalam ruangan, Zanita dengan cekatan membuka kancing kemeja Jason dan membersihkan lukanya dengan antiseptik.
“Jason… ini baru hari pertama kerja, tapi kamu sudah seperti ini,” gumamnya. “Siapa yang berani menyerangmu?”
Jason tetap tenang. “Tidak tahu. Mungkin hanya orang iseng.”
*****
Nama pena: Tamvan
Genre: Perkotaan, Supernatural, 18+
Platform: Max Novel
Editorial:
Tamvan menghadirkan dinamika cerita yang cukup berani sekaligus kompleks pada karyanya, terutama dalam menggambarkan konflik batin para tokoh. Tampaknya Tamvan ingin membawa pembaca masuk ke wilayah emosi yang tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kekuatan narasi ini.
Adegan pembuka langsung menempatkan pembaca pada situasi yang intens dan penuh ketegangan, di mana batas antara kesadaran dan dorongan bawah sadar menjadi kabur. Kondisi Jason yang mabuk dijadikan alat untuk membuka sisi rapuh sekaligus gelap dari dirinya, sementara Raisyah ditampilkan sebagai sosok yang terjebak dalam dilema moral dan kebutuhan emosional yang lama terpendam. Bagian ini menunjukkan keberanian Tamvan dalam mengangkat tema yang sensitif, meskipun pada saat yang sama juga berisiko menimbulkan kontroversi jika tidak ditangani dengan keseimbangan yang tepat.
Tamvan cukup berhasil menggambarkan konflik internal Raisyah, terutama melalui reaksi yang bertolak belakang antara penolakan secara logika dan respons tubuh yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Ini memberikan nuansa manusiawi, meski di sisi lain pembaca mungkin merasa perlu adanya penegasan yang lebih kuat terkait konsekuensi emosional dari peristiwa tersebut.
Transisi menuju pagi hari terasa cukup halus, dengan perubahan suasana dari intensitas malam menuju ketenangan yang lebih reflektif. Jason yang perlahan mengingat kejadian semalam memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat sisi tanggung jawabnya, meskipun belum sepenuhnya tergali secara mendalam.
Interaksi dengan karakter lain seperti Elita dan Cindy menambah lapisan keseharian yang kontras dengan kejadian sebelumnya, seolah mengingatkan bahwa kehidupan tetap berjalan meski ada sesuatu yang telah berubah di balik layar.
Masuk ke bagian dunia kerja, cerita mulai bergerak ke arah yang lebih luas. Pengembangan karakter Jason sebagai sosok yang mendapatkan kepercayaan dan penghargaan dari Leona memberi dimensi baru, menunjukkan bahwa ia bukan hanya tokoh dengan konflik personal, tetapi juga memiliki posisi penting dalam lingkup profesional. Pemberian saham dan hunian menjadi simbol pengakuan, namun juga membuka potensi konflik baru, terutama dengan hadirnya karakter seperti Yurman yang menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan.
Adegan konfrontasi dengan para penyerang menjadi titik perubahan tempo yang cukup signifikan. Dari drama emosional, cerita bergeser ke aksi yang cepat dan tegas. Tamvan mampu menggambarkan kemampuan Jason dengan gaya yang lugas dan tanpa bertele-tele, sehingga adegan pertarungan terasa ringkas namun tetap berdampak. Fakta bahwa Jason mampu menahan tembakan menambah elemen misteri sekaligus menguatkan kesan bahwa ia bukan sosok biasa. Ini menjadi hook yang efektif untuk menjaga rasa penasaran pembaca terhadap latar belakangnya.
Di bagian akhir, interaksi dengan Zanita kembali membawa cerita ke ranah yang lebih personal. Kepedulian Zanita memberikan keseimbangan emosional setelah rangkaian aksi yang intens. Dialog yang digunakan terasa natural dan tidak berlebihan, sehingga hubungan antar karakter tetap terasa hidup.
Secara keseluruhan, karya ini memiliki kekuatan pada keberagaman emosi dan ritme yang dinamis. Tamvan mampu menggabungkan drama, konflik moral, intrik profesional, hingga aksi dalam satu alur yang relatif mengalir.
by Hayyi Ze
.jpg)