[Karya Tamat]
Bab 4
Suara gesekan kain terdengar dari radio panggil di genggaman Sagara. Nada suara Ningrum muncul kembali, terdengar lebih pelan seolah sedang membicarakan sesuatu yang mistis.
"Aku cukup baik di sini," lapornya. "Ketua suku menerima kehadiranku, walaupun beberapa tetua masih menolak."
Sagara menegakkan tubuh. Punggung lelaki itu menempel pada batang pohon besar sementara uap napasnya naik perlahan di udara lembap. Dia menatap hutan di sekelilingnya yang diselimuti kabut rendah dan sisa hujan yang menetes dari dahan tinggi.
"Kenapa? Apa kau melakukan sesuatu?" tanya Sagara lirih.
"Tidak," jawab Ningrum. "Namun ketua suku percaya para peneliti harus diajak bicara, sementara para tetua masih menyimpan amarah. Mereka ingin berperang. Aku bahkan mendengar mereka berencana mengusir semua pendatang."
Sagara memandang langit kelam. Awan bergerak berat menghimpit puncak pohon. Rintik hujan mulai jarang, menyisakan bunyi gemericik di daun besar. "Itu berbahaya, Ning. Apa kau yakin bisa melanjutkan ini sendirian?"
"Tentu," sahut Ningrum mantap meski suaranya terdengar jauh. "Aku bersama beberapa warga yang mendukung ketua suku. Mereka baik. Jangan khawatir."
Sagara menatap tanah berlumpur di depannya. Dia tahu rekan wanitanya itu tidak mudah gentar, namun kata perang terus bergema di kepalanya. Pria itu menelan ludah, mencoba menyelaraskan napas dengan detak hujan.
"Baiklah. Selalu hati-hati di sana. Over and out."
"Over and out, Profesor."
Sambungan terputus. Sagara menatap alat komunikasi itu cukup lama sebelum menyimpannya ke saku jaket. Dia mengangkat pandangan ke arah tebing yang kini tampak lebih mengancam. Hutan kembali hening saat hujan berhenti sepenuhnya.
"Untung hutan ini punya semua yang kubutuhkan," gumamnya. Sagara memperhatikan balutan daun di lengannya. Darah sudah berhenti mengalir meski rasa nyeri masih berdenyut. Sagara tersenyum samar, memanggul tasnya, lalu mulai melangkah lagi dengan mantap.
Waktu berjalan lambat dalam kelembapan yang kental. Sagara terus berjalan hingga langit memucat menjadi abu-abu. Menjelang senja, dia memutuskan kembali ke perkemahan. Tubuhnya terasa kaku seperti kayu yang ditarik paksa. Begitu tiba di tenda, dia segera meletakkan ransel dan memastikan peralatan penelitiannya tetap kering. Lelaki itu kemudian berbaring, membiarkan kelelahan menenggelamkan kesadarannya dalam tidur yang lelap.
Tengah malam, suara gemeretak pelan mengguncang tidurnya. Sagara menggeliat dengan dahi berkerut. Suara itu muncul lagi, kali ini berasal dari radio panggil di samping kepalanya yang menyala dengan lampu hijau berkedip. Dari pengeras suara, terdengar suara yang penuh ketakutan.
"Gar? Gar, kamu di sana?" Suara Ningrum bergetar hebat diiringi napas yang berat. "Gar, tolong! Aku butuh bantuanmu! Sagara!"
Darah Sagara membeku seketika. Rasa kantuknya lenyap tanpa sisa. "Ningrum?" sahutnya dengan suara serak. Dia menggenggam alat itu erat. "Ningrum! Ada apa? Halo, Ningrum!"
Hening. Hanya sisa air hujan yang menetes dari atap tenda.
"Sial!" Sagara menyambar jaket, parang, dan senter. Tanpa pikir panjang, dia menerjang keluar. Udara malam yang tajam menempel di kulitnya. Tanah yang licin tidak menghentikan langkahnya. Sagara berlari menembus kegelapan menuju arah utara, arah perkampungan Yamokai.
Hutan Abo’ra terasa lebih berat malam itu. Sagara terus memacu larinya mengikuti peta naluriah di kepalanya. "Tunggu aku, Ningrum. Bertahanlah," bisiknya terengah. Bau tanah yang segar bercampur aroma getir yang asing memenuhi penciumannya.
Di kejauhan, asap putih menjulang dari arah utara. Itu asap api. Sagara mempercepat langkah, namun seruan keras penuh amarah dalam bahasa Yamokai menghentikannya. Itu bukan suara ritual, melainkan tanda bahaya.
Tiba-tiba, sebuah tombak melesat dari kegelapan dan menancap di tanah, hanya beberapa jengkal dari paha Sagara. Pria itu terpaku. Belum sempat dia mencerna keadaan, terdengar tiga kali letusan senjata api yang dingin.
"Apa yang terjadi? Siapa yang menembak?" teriaknya panik. Sagara berputar arah, berlari menghindari ancaman yang tidak terlihat. Langkahnya menghantam akar-akar tajam sementara radio panggilnya hanya mengeluarkan suara statis yang menyiksa.
Dari belakang, suara langkah kaki yang banyak mulai mengejarnya dengan cepat. Sagara terus berlari, melompati rintangan hingga tiba-tiba tanah di depannya menghilang. Ada parit alami yang hitam dan licin di sana. Dia mencoba berhenti, namun kakinya terpeleset.
"Sial!" tubuhnya tergelincir menuruni lereng curam. Dunia seolah berputar. Langit dan tanah bertukar tempat dalam sekejap sebelum tubuhnya jatuh menghantam air yang dingin. Kegelapan membungkam segalanya. Dalam sunyi yang mencekam itu, Sagara tidak tahu apakah dia masih bermimpi atau justru baru saja jatuh ke dalam mimpi buruk yang sesungguhnya.
*****
Nama pena: SleepyFace
Judul: Rimba Maut
Genre: Adventure / Fantasy Urban / Misteri
Platform: Fizzo
Editorial:
Novel ini langsung dibuka dengan membawa pembaca masuk ke dalam suasana hutan yang mencekam dan penuh misteri. Penulis berhasil menggambarkan ketegangan melalui dialog radio antara Sagara dan Ningrum, di mana ancaman dari suku lokal mulai terasa nyata. Deskripsi lingkungan seperti kabut rendah, hujan yang menetes, dan langit kelam menciptakan atmosfer yang gelap dan isolatif, membuat pembaca ikut merasakan kecemasan yang dialami oleh para peneliti tersebut.
Karakter Sagara digambarkan sebagai sosok yang tenang namun waspada. Meskipun terluka dan lelah, ia tetap berusaha menjaga komunikasi dengan rekan timnya, Ningrum, yang sedang berada di tengah konflik internal suku Yamokai. Dinamika antara ketua suku yang terbuka dan para tetua yang ingin berperang menambah lapisan konflik politik dan budaya dalam cerita. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya alam liar, tetapi juga interaksi manusia dengan masyarakat adat yang tertutup.
Perubahan suasana terjadi drastis ketika malam tiba. Dari keheningan yang menenangkan, cerita berubah menjadi aksi darurat saat Sagara terbangun oleh panggilan minta tolong dari Ningrum yang terdengar ketakutan. Transisi ini dilakukan dengan sangat efektif, mengubah ritme cerita dari lambat dan reflektif menjadi cepat dan panik. Keputusan Sagara untuk segera berlari menembus hutan tanpa pikir panjang menunjukkan loyalitas dan keberaniannya, sekaligus meningkatkan taruhannya bagi keselamatan karakter.
Elemen petualangan dan bahaya fisik semakin kental saat Sagara memasuki hutan di malam hari. Deskripsi tentang tanah licin, akar tajam, dan asap api di kejauhan membuat adegan pengejaran terasa hidup dan berbahaya. Munculnya tombak yang melesat dan letusan senjata api mengejutkan pembaca, menegaskan bahwa ancaman di Hutan Abo’ra tidak lagi sekadar isu atau gosip, melainkan kekerasan nyata yang mengancam nyawa.
Klimaks cerita ini berakhir dengan cliffhanger yang kuat. Sagara terpeleset ke dalam parit alami dan jatuh ke air dingin, meninggalkan nasibnya menggantung di ujung tanduk. Akhiran yang abrupt ini sangat efektif dalam genre misteri dan petualangan, memaksa pembaca untuk bertanya-tanya. Apakah Sagara selamat? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ningrum? Dan siapa yang menembak? Rasa penasaran ini dirancang agar pembaca segera melanjutkan ke bab berikutnya.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan pengalaman baca yang intens dan mendebarkan. SleepyFace, penulis di platform Fizzo, menunjukkan kemampuannya dalam merangkai elemen adventure, misteri, dan sedikit nuansa fantasi urban menjadi satu kesatuan yang padat. Dengan bahasa yang sederhana namun deskriptif, novel Rimba Maut cocok bagi penggemar kisah survival dan eksplorasi tempat-tempat terlarang. Bagi Anda yang menyukai cerita dengan tempo cepat dan bahaya yang tak terduga, karya ini layak untuk diikuti di Fizzo.
by Nada Maya
