Bukan Salahku, Dunia Yang Sial - SleepyFace

Bukan Salahku, Dunia Yang Sial - SleepyFace


0

[KARYA TAMAT]

Arga menunduk dan menahan napas sambil bergerak perlahan di balik reruntuhan. Dia menggenggam pedangnya erat-erat. Lelaki itu melangkah sangat hati-hati, namun tiba-tiba terdengar suara patahan ranting di bawah kakinya. Sial, umpatnya dalam hati.

​Monster goblin di depannya langsung menoleh dengan mata kuning yang menyala tajam. Arga membeku sesaat sebelum makhluk itu berteriak nyaring. Dalam kepanikan, Arga menerjang maju sambil berteriak kencang. Dia mengayunkan pedang sekuat tenaga, namun pegangannya justru terlepas. Senjata itu melayang di udara dan menancap di tanah, tepat di samping kaki goblin.

​Arga terpaku menatap tangannya yang kosong. Goblin itu tersenyum mengejek sebelum menghantam perut Arga dengan tongkatnya. Tubuh pemuda itu terpental hingga menabrak pohon apel. Akibat guncangan tersebut, buah-buah apel berjatuhan menghujani kepalanya.

​"Apa sih maunya hidupku ini?" keluh Arga sambil memegangi perut yang nyeri.

​Si monster berjalan santai dan memungut pedang milik Arga. Melihat hal itu, Arga membelalak panik. "Itu pedang sewaan! Ganti ruginya lima juta, goblin bodoh!" teriaknya.

​Goblin itu mengangkat pedang meski dengan posisi tangan yang salah dan bersiap menyerang. Namun, tepat saat akan menerjang, makhluk itu menginjak buah apel dan terpeleset hebat. Tubuhnya terbang mundur. Pedang di tangannya terlepas, berputar di udara, lalu jatuh menghunjam tepat di leher si goblin.

​Hening sejenak. Arga menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. "Aku benar-benar membunuhnya?" bisiknya tidak percaya. Dia menyadari bahwa keberuntungan terkutuknya atau Devil’s Luck baru saja bekerja lagi. Arga bangun dengan badan sakit dan menarik pedangnya yang masih utuh dari jasad lawan.

​Lelaki itu sempat mencoba mengendalikan keberuntungannya dengan melempar pedang ke atas, berharap sesuatu yang hebat terjadi. Namun, pedang itu justru tersangkut di dahan pohon yang tinggi. Arga mengusap wajah dengan jengkel. Belum sempat dia memanjat, seekor babi hutan raksasa muncul dari semak-semak dan langsung menyeruduknya.

​Arga kembali terlempar ke pohon yang sama. Tabrakan itu membuat pohon berguncang hebat hingga pedang yang tersangkut tadi jatuh tepat di atas kepala si babi hutan. Hewan besar itu ambruk seketika.

​Arga terduduk lemas sambil menutup wajah. "Kenapa selalu begini? Aku harus ditabrak dulu sebelum musuhku mati?" gumamnya lirih. Dia merasa ini bukan keberuntungan, melainkan kesialan yang berujung pada hasil yang aneh.

​Hari menjelang siang ketika Arga memutuskan untuk pulang. Dengan tubuh penuh luka, dia menyeret mayat goblin dan babi hutan raksasa itu menuju gerbang kota Jayakarta. Sepanjang jalan, para pemburu lain menertawakannya karena dia menyeret monster secara manual tanpa kendaraan atau tim. Arga hanya bisa menunduk menahan malu.

​Sesampainya di gudang pemotongan Asosiasi, petugas memeriksa kedua monster tersebut. Sayangnya, tidak ditemukan inti sihir atau magic core yang berharga mahal. Petugas hanya menawarkan harga untuk daging dan kulitnya saja.

​"Goblin dihargai tiga ratus ribu dan babi hutan delapan ratus ribu. Biaya prosesnya seratus ribu," jelas petugas itu.

​Arga menghitung cepat. Setelah dipotong biaya sewa alat, uang yang tersisa sangat sedikit. Dia teringat harapan ibunya untuk makan daging hari ini. Namun, demi bisa terus berburu esok hari, Arga harus bersikap realistis.

​"Saya jual semuanya," kata Arga dengan berat hati. Saat menerima uang tersebut, dia hanya bisa membatin meminta maaf kepada ibunya karena belum bisa membawa pulang daging hari ini.

*****

​Nama pena: SleepyFace

Genre: Action / Fantasy Urban / Apocalypse

Platform: Fizzo

Editorial:

Novel ini memperkenalkan tokoh utama, Arga, dengan cara yang sangat unik dan menghibur. Alih-alih menampilkan pahlawan yang kuat dan gagah, penulis justru menggambarkan Arga sebagai sosok yang sial namun memiliki "keberuntungan terkutuk" atau Devil’s Luck. Adegan pertarungan dengan goblin tidak berjalan mulus, pedang Arga malah terlepas dan menancap di tanah. Hal ini langsung membangun karakter Arga sebagai orang biasa yang sering mengalami nasib naas, membuat pembaca merasa dekat dan simpati padanya sejak awal.

Humor menjadi elemen kunci yang membuat cerita ini menonjol di antara novel fantasi lainnya. Situasi di mana Arga lebih khawatir tentang biaya ganti rugi pedang sewaan sebesar lima juta rupiah daripada nyawanya sendiri adalah momen komedi yang cerdas. Reaksi panik Arga terhadap utang, bukan terhadap monster, memberikan sentuhan realistis dan lucu tentang tekanan ekonomi dalam dunia berburu monster. Ini menunjukkan bahwa masalah keuangan bisa sama menakutkannya dengan ancaman jiwa bagi seorang pemburu pemula.

Konsep "keberuntungan sial" dieksekusi dengan sangat baik melalui serangkaian kejadian kebetulan yang absurd. Goblin yang seharusnya membunuh Arga justru terpeleset kulit apel dan tewas oleh pedangnya sendiri. Kemudian, babi hutan raksasa yang menyeruduk Arga malah terbunuh oleh pedang yang jatuh dari pohon akibat guncangan tabrakan. Pola berulang di mana Arga harus menderita fisik (ditabrak/dipukul) dulu sebelum musuhnya mati menciptakan ritme komedi slapstick yang konsisten dan mudah ditebak namun tetap menyenangkan.

Latar belakang dunia cerita juga mulai terlihat jelas melalui interaksi Arga dengan lingkungan sekitarnya. Kota Jayakarta digambarkan memiliki asosiasi pemburu, gudang pemotongan, dan sistem ekonomi berbasis daging serta inti sihir (magic core). Detail seperti harga daging goblin dan babi hutan, serta biaya prosesnya, menambah kedalaman dunia fantasi urban ini. Pembaca diajak memahami bahwa berburu monster di sini adalah pekerjaan sehari-hari yang penuh risiko finansial, bukan sekadar petualangan epik tanpa konsekuensi nyata.

Hubungan emosional Arga dengan ibunya menjadi penyeimbang dari suasana aksi dan komedi yang ada. Di akhir cerita keputusan Arga untuk menjual semua hasil buruan demi modal besok, meski ia ingin membawa pulang daging untuk ibunya, menunjukkan sisi tanggung jawab dan kasih sayangnya. Momen ini memberikan kedalaman pada karakter Arga, bahwa di balik kelucuan kesialannya, ia adalah seorang anak yang berusaha keras bertahan hidup dan membahagiakan keluarganya di tengah dunia apokaliptik yang keras.

Secara keseluruhan, novel ini sukses mencampurkan genre aksi, fantasi, dan komedi dengan seimbang. SleepyFace, penulis di platform Fizzo, berhasil menciptakan narasi yang ringan, cepat, dan mudah dicerna. Dengan gaya bahasa sederhana dan alur yang tidak berbelit, novel Bukan Salahku, Dunia Yang Sial cocok bagi pembaca yang mencari hiburan segar tanpa terlalu banyak beban pikiran. Bagi penggemar kisah underdog atau tokoh utama yang menang karena keberuntungan aneh daripada kekuatan otot, karya ini sangat layak untuk diikuti di Fizzo.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama