[Karya Tamat]
Ledakan dahsyat dari kamp Putra Mahkota mengguncang langit. Api hitam menjulang tinggi, membentuk naga kegelapan yang meraung sebelum akhirnya hancur berkeping dan lenyap. Gelombang energi menelan seluruh barak, melelehkan senjata, dan meninggalkan kawah raksasa di tanah.
Para prajurit dari kedua kubu terdiam dengan tubuh gemetar. Tanpa ada perang maupun serangan balasan, perkemahan Putra Mahkota musnah begitu saja. Beberapa jenderal yang semula siap bertarung justru berlutut dengan wajah pucat.
"Langit marah. Ini hukuman para dewa," bisik salah satu dari mereka.
"Bukan dewa! Itu orang misterius yang datang ke kubu Putri kemarin. Aku melihatnya sendiri!" sahut yang lain.
Dalam sekejap, desas-desus itu menyebar ke seluruh barisan prajurit. Berita tersebut berubah menjadi legenda dalam waktu kurang dari satu jam. Rakyat mulai percaya bahwa seorang dewa telah turun untuk membantu Putri Mingzhu dan menghukum Putra Mahkota dengan api surgawi demi keadilan negeri.
Di tenda utama, Putri Mingzhu berdiri terpaku. Suara ledakan masih terngiang di telinganya. Seorang pengintai masuk dengan napas tersengal dan wajah seputih kertas.
"Yang Mulia, kamp Putra Mahkota sudah tidak ada. Seluruh pasukan mereka hilang," lapor pengintai itu terbata.
Putri menatap kosong. "Apa maksudmu hilang?"
"Lenyap disapu badai api, Yang Mulia. Tidak ada sisa, bahkan tanahnya menghitam."
Ruangan mendadak hening. Seorang jenderal tua tiba-tiba berlutut dengan mata berkaca-kaca. "Dewi Langit menjawab doa kita! Orang yang datang bersama Anda semalam pasti utusan surga!"
Wajah Mingzhu memerah saat menyadari siapa yang dimaksud. "Utusan surga? Maksudmu Guru Wuzhi?"
Mendengar nama itu, para prajurit langsung bersujud dengan penuh kekaguman. Mereka mulai memanggilnya Dewa Penolong Negara.
Sementara itu, Wuzhi sedang duduk santai di atas batu besar sambil menikmati teh dari termosnya.
"Sepertinya urusan sudah beres," gumamnya tenang.
"Host, seluruh kerajaan kini menganggap Anda Dewa Penolong Negara," lapor sistem di kepalanya.
Wuzhi hampir tersedak. "Dewa apa? Aku cuma menyentil sedikit, dia yang meledak sendiri!"
"Fakta itu tidak penting bagi rakyat. Sekarang Anda adalah ikon nasional," balas sistem dingin.
Wuzhi menghela napas sambil menatap sisa asap di kejauhan. "Jadi, tanpa sengaja aku memulai revolusi dan menjadi dewa hanya karena ingin membantu muridku?"
"Tepat sekali. Kejadian ini juga menambah delapan puluh juta poin sistem dari kepercayaan massal."
Wuzhi menyeringai kecil. "Setidaknya hasilnya bagus."
Keesokan paginya, suasana ibu kota meriah. Bendera kerajaan kembali berkibar dan rakyat bersorak merayakan kemenangan. Di podium tertinggi, Putri Mingzhu yang mengenakan jubah putih emas menatap Wuzhi di kerumunan bawah.
"Demi kehormatan negeri, aku menobatkan Guru Wuzhi sebagai Penasihat Agung sekaligus Pelindung Negara Langit Timur!" seru Mingzhu lantang.
Rakyat bersorak histeris sementara Wuzhi berdiri kaku di tempatnya.
"Selamat, Host. Anda kini dewa bagi negara ini," goda sistem.
"Astaga, ini makin parah," keluh Wuzhi.
"Atau makin kaya, tergantung sudut pandang Anda."
Wuzhi tertawa kecil. "Benar juga. Kalau begini terus, satu benua bisa menjadi cabang sekteku."
Setelah hiruk pikuk perayaan mereda, Wuzhi memilih bersantai di paviliun taman belakang istana. Ia duduk di kursi batu dengan sepoci teh harum dan beberapa camilan di depannya.
"Akhirnya tenang juga," ucapnya sambil memejamkan mata.
"Anda baru saja menggulingkan pemerintahan, wajar jika suasana ramai," sahut sistem.
"Itu sebabnya aku butuh teh. Aku bukan tipe dewa yang mau kerja lembur."
Langkah kaki lembut terdengar mendekat. Mingzhu, yang kini telah menjadi ratu, datang dengan pakaian kebesaran yang anggun. Ia membungkuk dalam di hadapan Wuzhi.
"Guru, saya berutang nyawa pada Anda. Tanpa bimbingan Guru, negeri ini sudah hancur," katanya tulus.
Wuzhi membuka satu mata. "Jangan membungkuk begitu. Kau sekarang penguasa kerajaan ini. Seorang pemimpin tidak boleh terlihat lemah."
Mingzhu menegakkan tubuh meski matanya masih berkaca-kaca. "Bimbingan Guru tidak akan bisa saya balas."
"Kalau ingin membalas, pimpinlah rakyatmu dengan benar. Aku membantu agar dunia ini sedikit lebih waras, bukan untuk kekuasaan," pesan Wuzhi.
Mingzhu mengangguk patuh. "Saya akan menenangkan rakyat dan memulihkan ekonomi. Negara ini masih goyah."
Wuzhi tersenyum miring. "Kalau butuh bantuan ekonomi, aku punya cara sederhana untuk membuat negara ini makmur dalam seminggu."
Mingzhu menatap curiga. "Cara boros itu lagi, Guru?"
Wuzhi terkekeh. "Kau sudah bisa menebak pikiranku rupanya."
"Host, murid Anda belajar dengan sangat baik. Anda sukses mencetak generasi boros baru," lapor sistem.
Mingzhu tersenyum lembut lalu berpamitan untuk melanjutkan tugas kenegaraan. Setelah ia pergi, suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara gemericik air kolam.
"Akhirnya semua tenang," desah Wuzhi.
"Untuk saat ini," balas sistem singkat.
"Jangan ganggu aku, Sistem. Biarkan aku tidur siang sebentar."
"Ingat tujuan satu triliun poin belum tercapai, Host."
"Iya, iya. Setelah tidur. Dunia bisa menunggu."
Wuzhi meletakkan cangkirnya dan perlahan terlelap di bawah hangatnya matahari sore. Bunga teratai di kolam bermekaran seiring dengan kedamaian yang kini menyelimuti seluruh negeri.
*****
Nama pena: SleepyFace
Genre: Action / Fantasy Timur / Sistem
Platform: Fizzo
Editorial:
Novel ini menampilkan puncak aksi yang dramatis namun diselesaikan dengan cara yang sangat tidak terduga. Ledakan dahsyat yang menghancurkan kamp Putra Mahkota digambarkan dengan visual yang kuat, seperti api hitam berbentuk naga dan kawah raksasa di tanah. Namun, alih-alih pertarungan epik yang panjang, konflik utama justru berakhir dalam sekejap mata. Hal ini menciptakan kontras yang menarik antara keseriusan perang politik dan kemudahan solusi yang ditawarkan oleh tokoh utama, Wuzhi, melalui kekuatannya yang misterius.
Reaksi para prajurit dan rakyat terhadap kejadian tersebut menambah lapisan humor sosial dalam cerita. Mereka yang awalnya takut dan gemetar, dengan cepat mengubah ketakutan menjadi kekaguman buta, menyebut Wuzhi sebagai "Dewa Penolong Negara" atau utusan surga. Penulis berhasil menyindir bagaimana massa sering kali mencari sosok penyelamat mistis daripada memahami logika di balik sebuah peristiwa. Kesalahpahaman ini menjadi sumber komedi utama, karena Wuzhi sendiri merasa aneh dianggap dewa padahal ia hanya melakukan tindakan kecil.
Karakter Wuzhi digambarkan sebagai protagonis yang santai, pragmatis, dan sedikit sarkastik. Ia tidak haus kekuasaan atau pujian, baginya, semua keributan itu hanyalah cara untuk membantu muridnya, Putri Mingzhu. Interaksinya dengan "Sistem" di kepalanya menunjukkan dinamika khas novel bergenre system, di mana Wuzhi lebih peduli pada kenyamanan pribadi daripada kemuliaan menjadi pahlawan nasional. Sikap acuh tak acuhnya terhadap gelar "Penasihat Agung" membuatnya terasa unik dan menghibur dibandingkan tokoh pahlawan konvensional yang biasanya terlalu serius.
Hubungan antara Wuzhi dan Putri Mingzhu juga berkembang dengan manis dalam cerita ini. Mingzhu, yang kini menjadi Ratu, menunjukkan rasa hormat dan utang budi yang mendalam kepada gurunya. Namun, Wuzhi menolaknya dengan bijak, mengingatkan Mingzhu bahwa tanggung jawab terbesar seorang pemimpin adalah mengurus rakyatnya, bukan menyembah guru. Pesan moral tentang kepemimpinan yang bertanggung jawab disisipkan dengan halus di tengah candaan, memberikan kedalaman pada hubungan mentor-murid mereka.
Elemen fantasi timur dan sistem poin dimainkan dengan cerdas untuk mendukung alur cerita. Kenaikan 80 juta poin kepercayaan dari rakyat menunjukkan mekanik dunia di mana popularitas setara dengan kekuatan atau kekayaan. Godaan Sistem tentang "satu triliun poin" dan potensi membuka cabang sekte di seluruh benua memberi gambaran besar tentang arah cerita selanjutnya. Ini menjanjikan petualangan yang lebih luas, di mana Wuzhi mungkin akan secara tidak sengaja membangun kerajaan atau organisasi besar hanya karena ingin hidup santai.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan hiburan yang ringan, lucu, dan memuaskan. SleepyFace, penulis di platform Fizzo, mahir dalam menggabungkan elemen aksi spektakuler dengan komedi situasional yang cerdas. Dengan bahasa yang sederhana dan alur yang cepat, novel Kaya dan Santai Di Dunia Kultivasi cocok bagi pembaca yang menyukai kisah overpowered protagonist (tokoh utama yang sangat kuat) tanpa drama yang berlebihan. Bagi penggemar genre fantasi timur dengan sentuhan modern berupa sistem game, karya ini layak untuk diikuti di Fizzo.
by Nada Maya
