DELICATE FRAILTY ANOTHER BITTER SWEET - M_NoOne

DELICATE FRAILTY ANOTHER BITTER SWEET - M_NoOne


0

Bab 14 - Held by a Stranger, Recognized by a Heart

​Pintu ruang privat tertutup pelan, menyisakan kesunyian tegang antara mereka berdua. Mela, dengan topeng perak yang menutupi separuh parasnya, membeku sejenak. Darahnya sempat berdesir dingin sebelum kembali mengalir deras. Rasa malu beradu dengan profesionalisme; pria itu sudah membayar harga tinggi, lengkap dengan bonus besar. Ini adalah transaksi, dan ia harus menepati bagiannya.

​Mela melangkah anggun menuju tiang panggung di tengah ruangan, sebisa mungkin menghindari tatapan tajam sang aktor yang duduk di sofa. Tubuhnya mulai meliuk mengikuti irama musik lembut. Jemari rampingnya meraih besi dingin, berputar perlahan seperti hembusan angin. Setiap gerakannya memancarkan keindahan yang tragis—sensual namun menyimpan luka mendalam. Ia membelakangi pria itu, meluncur ke lantai dengan punggung melengkung indah, lalu bangkit dengan kekuatan memukau.

​Pria itu duduk kaku dengan tangan mengepal. Amarah dan keprihatinan bergejolak dalam dadanya melihat keindahan yang ia anggap sedang dinistakan ini. Begitu tarian tiang usai, Mela turun dan mendekat. Ia bergerak mengelilingi sofa, mempersempit jarak hingga punggungnya hampir bersentuhan dengan tubuh sang aktor.

​Tiba-tiba, pria itu membungkuk. Napas hangatnya menyentuh telinga Mela saat ia berbisik penuh emosi. "Apa ini yang selama ini kamu sembunyikan?"

​Mela tidak berhenti. Dengan nekat, ia justru berbalik dan duduk di pangkuan pria itu sambil melingkarkan lengan di lehernya. Dari balik topeng, suaranya terdengar getir. "Aku tidak perlu menjelaskan alasanku. Nikmati saja, Tuan Maeda. Ini adalah pertunjukan yang Anda bayar."

​Saat Mela hendak bangkit, pergelangan tangannya ditarik paksa hingga ia jatuh kembali ke dekapan pria itu. "Apa ini yang kamu sebut dengan seni?" tanya pria itu dengan suara bergetar.

​Mela menelan ludah. Lesung pipinya yang biasanya manis kini tampak menyedihkan. "Hidup penuh pilihan, Tuan Maeda. Kebetulan pilihanku harus seperti ini."

​Jemari pria itu terulur, mengusap lembut lesung pipi Mela yang menyembul di balik topeng. Tatapannya sendu, menyimpan ribuan tanya. Mela menahan tangan itu dengan jari gemetar. "Terima kasih atas pemberiannya. Sesi ini sungguh membantuku malam ini."

​Mela pun melepaskan diri dan melangkah keluar dengan sisa-sisa keanggunan, meski batinnya hancur. Di koridor, ia bersandar pada dinding sambil mengatur napas yang tersengal. Belum sempat ia menenangkan diri di ruang ganti, manajer kembali memanggilnya.

​"M! Ada yang memesanmu lagi di aula untuk menemani minum di meja VIP!"

​Sasha, rekannya, mendekat dengan cemas. "Kamu bisa menolak, M. Kamu terlihat sangat lelah."

​Mela mengusap sudut matanya di balik topeng. "Tidak apa-apa. Aku bisa," jawabnya lirih namun teguh.

​Di meja VIP, sang aktor kembali dengan wajah muram. Hiroshi, sang manajer, menyambutnya dengan sindiran. Namun, perhatian sang aktor teralih saat mendengar Mark, seorang produser, berniat memesan penari bertopeng bernama M untuk menemani minum.

​Sontak, sang aktor bereaksi. Ia menepuk bahu Mark dengan tegas. "Maaf, Mark. Boleh dia untukku saja?"

​Hiroshi terperanjat. "Apa-apaan ini?" desisnya. Mark yang melihat keseriusan di wajah sang aktor akhirnya mengalah dan meminta pelayan membawa penari lain untuknya, sementara si penari bertopeng khusus untuk pria di sampingnya.

​"Malam ini aku ingin menjadi gila. Tolong bayar dulu, jangan sampai Aiko tahu aku di sini," bisik sang aktor pada Hiroshi. Ia merasa kesal pada situasi ini, namun lebih kesal lagi pada ketidakberdayaannya sendiri.

​Mela melangkah berat menuju meja VIP. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari identitas orang-orang di sana. Seorang pelayan membisikinya untuk duduk di samping pria yang tadi bersamanya di ruang privat. Namun, Mark mendadak menghadangnya dan mengajak berjabat tangan.

​"Ah, si penari misterius! Akhirnya bertemu langsung. Saya Mark," sapanya.

​Mela terpaksa membalas dengan nama samaran "M." Sebelum obrolan berlanjut, sebuah lengan familiar melingkari pinggangnya dengan protektif. Sang aktor hadir di sampingnya, suaranya rendah namun penuh peringatan. "Madam M, ada minuman khusus yang kamu mau? Kamu akan menemaniku."

​Mark segera melepas tangan Mela dengan kikuk. Di bawah rangkulan itu, Mela merasa kaku namun sedikit lega. Sang aktor kemudian menggiringnya ke sofa dan memesan sebotol wiski premium melalui Hiroshi.

​"Kamu benar-benar tidak aman di sini. Mau pindah?" bisik sang aktor kemudian, menyadari kegelisahan Mela yang takut identitasnya terbongkar oleh rekan kerja mereka. Mela mengangguk dan menunjuk ke arah bar yang lebih tersembunyi.

​Kini mereka bertiga duduk di bar yang tenang. Hiroshi menuangkan minuman, namun keraguan mulai merayap di benaknya saat mendengar suara sang penari yang terasa akrab. Ketika Mela hendak meminum alkohol yang disodorkan, sang aktor sempat melarangnya, meski Mela tetap menerimanya demi formalitas.

​Suasana terasa janggal. Di tengah keriuhan klub, mereka bertiga terjebak dalam rahasia masing-masing. Sang aktor akhirnya memecah keheningan dengan suara rendah. "Maaf jika aku mencampuri urusan pribadimu."

​"Tuan Maeda..."

​"Panggil aku Kenny," potongnya.

​Mela terdiam sejenak. "Kenny, aku tidak bisa menjelaskan apa pun. Namun mengenai pertanyaanmu tadi, aku tidak pernah menganggap apa yang kulakukan ini murah. Ini rumit. Kumohon, jangan berpikiran buruk tentang pilihanku."

​Suara Mela bergetar hebat. Kenny menatapnya dalam, ingin sekali menyentuh wajah di balik topeng itu. Tangannya sempat terulur namun tertahan di udara sebelum akhirnya mengepal kembali.

​"Baiklah," jawab Kenny singkat sebagai bentuk penerimaan. Di bawah lampu remang klub malam, dua jiwa yang terluka itu saling berbagi kesunyian, terhubung oleh pemahaman yang tak terucap meski terpisah oleh topeng dan status sosial.

*****

Napen : M_NoOne

Judul: DELICATE FRAILTY ANOTHER BITTER SWEET

Genre : Rumah Tangga, Romance, 21+

Platform: Victie

Editorial:

Novel ini menyajikan suasana yang sangat emosional dan penuh ketegangan antara Mela dan sang aktor, Kenny Maeda. Mela yang menyamar sebagai penari bertopeng harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa identitas rahasianya mulai terendus oleh orang yang ia kenal. Konflik batin Mela antara tuntutan pekerjaan demi uang dan rasa malunya sebagai seorang wanita digambarkan dengan sangat menyentuh.

Pertemuan di ruang privat menjadi puncak ketegangan saat Kenny mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa sedih melihat Mela harus menari dengan cara yang menurutnya merendahkan harga diri, namun Mela dengan tegas membela pilihannya sebagai bentuk bertahan hidup. Dialog di antara mereka terasa sangat dalam, menunjukkan adanya luka lama yang belum sembuh dari kedua belah pihak.

Ketegangan tidak berhenti di situ karena Mela harus kembali bekerja di area VIP untuk menemani tamu minum. Kehadiran produser lain yang mencoba mendekati Mela membuat suasana semakin panas. Di sini, sisi protektif Kenny muncul, ia tidak membiarkan pria lain menyentuh Mela dan memilih untuk "memesan" Mela demi melindunginya dari situasi yang lebih berbahaya.

Kehadiran manajer bernama Hiroshi menambah bumbu kecurigaan dalam cerita. Meskipun Mela berusaha keras menyembunyikan jati dirinya di balik topeng dan nama samaran "M", suara dan gerak-geriknya tetap terasa akrab bagi orang-orang di sekitarnya. Hal ini membangun rasa penasaran pembaca tentang kapan dan bagaimana rahasia besar Mela akan terbongkar sepenuhnya di depan publik.

Momen menarik terjadi saat mereka berpindah ke bar yang lebih tenang dan Kenny meminta Mela memanggilnya dengan nama aslinya. Permintaan ini menandakan bahwa Kenny ingin melepas batasan status antara aktor dan penari, serta ingin mengenal sosok asli Mela tanpa prasangka. Meskipun suasana terasa kaku, ada rasa pengertian yang mulai tumbuh di antara keduanya di tengah hiruk-pikuk klub malam.

Secara keseluruhan, cerita ini berhasil mengaduk emosi pembaca melalui tema pengorbanan dan perlindungan. Penulis dengan apik menggambarkan bahwa di balik gemerlapnya dunia malam, ada jiwa-jiwa yang sedang berjuang melawan rasa sakit hati dan tekanan sosial. Hubungan antara Mela dan Kenny pun menjadi semakin kompleks dan menarik.

by Nada Maya



1 Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama