Cinta Brutal Mafia Insaf - Lyren Kael

Cinta Brutal Mafia Insaf - Lyren Kael


0

Bab 1: Jatuhnya Dua Dunia

Hujan turun sejak sore, membasahi dinding kaca besar rumah sakit internasional di Jakarta. Cahaya neon putih memantulkan warna dingin di lantai, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ruang ICU sesak oleh aroma antiseptik dan tangis yang tertahan. Di sudut ranjang, ibu Nadine terisak hebat dengan bahu yang bergetar.

"Tuhan, jangan anakku," ratap wanita itu.

Suster mengganti infus dengan tangan gemetar, sementara dokter berusaha menenangkan keluarga yang nyaris histeris. Di tengah keriuhan itu, Antasena berdiri paling tenang di samping Nadine. Kemejanya kusut dan wajahnya pucat. Jemari pria itu menggenggam tangan Nadine yang mulai mendingin, lebih dingin daripada embusan udara pendingin ruangan.

"Sayang," suaranya berat dan nyaris patah.

Antasena tidak menangis. Ia menatap perempuan tercinta itu seolah sanggup menahannya di dunia hanya dengan kekuatan pandangan. Mata Nadine terbuka sedikit. Bibirnya yang pucat bergetar saat membisikkan kata-kata terakhir yang terputus-putus.

"Mas, kalau kau tidak bisa jadi orang baik, setidaknya jadilah orang yang berani menyesal."

Lelaki itu mematung, menjawab dengan tatapan sayang tanpa berkedip. Senyumnya dipaksakan muncul sebelum akhirnya menghilang saat mata Nadine kembali tertutup. Grafik di monitor melambat hingga akhirnya membentuk garis lurus yang panjang. Suara jeritan pecah seketika. Ibu Nadine merosot ke lantai, sementara ayahnya menghantam dinding hingga buku jarinya berdarah.

Antasena tetap bergeming. Baginya, dunia seakan bergerak lambat. Tangisan dan bunyi mesin medis lenyap di balik kepalanya yang berdenyut hebat. Yang tersisa hanyalah memori akan ucapan ayahnya bertahun-tahun lalu mengenai kelemahan terbesar keluarga mafia mereka, yakni cinta.

Ia menatap wajah Nadine untuk terakhir kali. Sangat damai. Antasena kemudian menegakkan badan dan menoleh ke arah dokter.

"Jangan ganggu dia lagi, Dok," ucapnya pelan.

Pria itu melangkah keluar. Di koridor, dua pria bersetelan hitam menunduk hormat menyambutnya.

"Persiapkan pemakaman," perintah Antasena tanpa ekspresi. "Dan cari siapa yang bertanggung jawab atas obat itu."

Langkahnya menjauh, suara sol sepatu kulitnya bergema di koridor panjang. Di ujung lorong, Alexa menantinya. Adik tirinya itu berdiri dengan gaun hitam yang basah terkena cipratan hujan. Tatapannya tampak tajam namun rapuh.

"Mas," sapa Alexa pelan.

Antasena melewati wanita itu tanpa sepatah kata pun. Alexa tahu bahwa malam itu bukan hanya Nadine yang pergi, tetapi bagian lembut dari diri kakaknya juga ikut terkubur bersama hujan. Ia segera mengejar hingga ke area parkir bawah tanah yang sunyi.

Lampu neon berkedip menyorot mobil hitam mewah milik Antasena. Lelaki itu duduk di kursi pengemudi dengan mesin menyala, diam membeku seperti patung. Alexa menghampiri dengan langkah cepat dan langsung masuk ke kursi penumpang.

"Sena, cukup. Jangan lagi," tegas Alexa meski suaranya bergetar.

"Dia sudah pergi, Lex. Semuanya selesai," sahut Antasena datar.

Alexa menggigit bibir. "Aku tahu rasanya."

"Tidak. Kamu tidak tahu rasanya kehilangan orang yang menjadi arah dunia ini," potong Antasena cepat.

Mereka saling menatap dalam kegelapan kabin mobil. Ada kemarahan dan luka yang rumit di sana. Saat Alexa mengulurkan tangan untuk menenangkan, Antasena justru mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan keras.

"Jangan pura-pura mengerti," lirihnya.

Alexa tidak menarik tangannya. Keheningan mencekam menyelimuti mereka sebelum akhirnya Alexa condong ke arah Antasena dan memeluknya erat. Tubuh wanita itu gemetar.

"Kalau kamu terus diam seperti ini, kamu bisa gila," bisik Alexa.

"Biar saja," jawab Antasena sekenanya.

Alexa menatap wajah kakaknya dari jarak yang sangat dekat. Dalam satu tarikan napas, pertahanan mereka pecah. Alexa mencium Antasena dengan panik, sebuah luapan emosi yang lahir dari rasa kehilangan. Antasena tidak mendorongnya, namun juga tidak membalas. Dunia seakan berhenti sesaat.

"Jangan gila, Lex. Kamu saudaraku."

"Iya, tiri. Kita tidak sedarah," desah Alexa. Ia terus memagut bibir pria itu, berusaha mengalihkan duka yang terlampau berat. "Lupakan sejenak, Sen. Kamu butuh ini."

Alexa kemudian berpindah posisi ke pangkuan Antasena dalam kabin yang sempit itu. Ia meraba tuas setelan jok dan mendorong tubuh Antasena ke belakang, menciptakan ruang di tengah duka yang masih menyelimuti mereka.

*****

Nama pena: Lyren Kael

Genre: Perkotaan, 18+, Harem, Aksi, Mafia

Platform: MaxNovel

Editorial:

Membaca naskah karya Lyren Kael di platform MaxNovel ini seperti berjalan di bawah guyuran hujan Jakarta yang membawa aroma antiseptik dari lorong rumah sakit. Penulis memiliki kemampuan yang tajam dalam membangun atmosfer melalui detail sensorik yang spesifik, seperti dinginnya ujung jari yang mulai kehilangan nyawa atau bunyi sol sepatu kulit yang bergema di koridor sunyi. Suasana steril yang dibangun bukan sekadar latar, melainkan sebuah ruang kedap yang memisahkan tokoh utama dari riuhnya kedukaan di sekelilingnya, menciptakan sebuah isolasi emosional yang terasa sangat nyata.

Ritme narasi dalam fragmen ini bergerak dengan keheningan yang mencekam sebelum akhirnya beralih ke ruang privat yang sempit di area parkir. Ada keseimbangan yang menarik antara hiruk-pikuk kedukaan keluarga besar dengan ketenangan dingin seorang pria yang mewakili dunia gelap. Ketegangan tidak dibangun melalui ledakan amarah yang teatrikal, melainkan lewat hal-hal kecil seperti tarikan napas yang tersengal atau lampu neon yang berkedip di langit-langit lantai bawah tanah. Hal ini memberikan bobot pada genre Aksi dan Mafia yang diusung, menunjukkan bahwa bahaya paling nyata sering kali muncul dalam keheningan.

Dialog yang dihadirkan terasa sangat fungsional namun sarat dengan beban emosional yang jujur. Kalimat terakhir dari sosok yang berpulang menjadi jangkar moral yang akan terus menghantui, sebuah pesan yang lebih kuat daripada sekadar janji setia. Fungsi emosional di sini bekerja sangat efektif saat kata-kata mulai kehilangan tenaganya dan digantikan oleh bahasa tubuh, seperti cengkeraman tangan yang keras atau kontak fisik yang canggung namun mendesak. Penulis berhasil menangkap kerentanan manusia dewasa yang sedang mencari pelarian sesaat dari kenyataan yang terlalu pahit untuk dihadapi.

Dinamika hubungan antara Antasena dan Alexa menghadirkan kerumitan tersendiri dalam balutan genre Harem dan 18+. Hubungan saudara tiri ini dieksplorasi bukan sekadar sebagai bumbu sensasi, melainkan sebagai bentuk pelampiasan rasa kehilangan yang ekstrem. Ketegangan dalam kabin mobil yang sempit menggambarkan bagaimana batas-batas moralitas sering kali menjadi kabur saat seseorang berada di titik terendah. Kehadiran sosok wanita yang menawarkan penghiburan fisik di tengah duka menunjukkan sisi gelap kehidupan perkotaan yang penuh dengan kompromi dan pencarian ketenangan yang instan.

Meskipun terdapat beberapa bagian yang mungkin terasa sedikit terburu-buru dalam perpindahan emosinya, Lyren Kael menunjukkan keahlian yang mumpuni dalam merajut tema kedewasaan di tengah kekerasan dunia Perkotaan. Ada keanggunan dalam caranya menggambarkan kerapuhan seorang lelaki yang seharusnya tidak terkalahkan. Penulis berhasil menjaga kualitas prosa tetap elegan di tengah premis yang eksplosif, menjadikan karya ini memiliki daya tarik intelektual bagi pembaca yang menginginkan kedalaman rasa di balik hiruk-pikuk aksi dan intrik kekuasaan.

By Caberawit



6 Komentar

Ulasan buku

  1. Emang paling keren tuh cerita tentang Mafia ya.. Gak pernah gagal bikin alur ceritanya semakin menarik. Keren Thor. Semangat 🥰

    BalasHapus
  2. Plotnya menarik dan tidak mudah ditebak, setiap bab selalu ada sesuatu yang bikin pembaca tetap ingin lanjut membaca

    BalasHapus
  3. Seru dan memang bikin ingin baca lebih lanjut deh. Seputar dunia gelap mafia tapi dia juga bermoral tinggi. Hmm hitam atau putih? Lanjutkan.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama