Kai The Mafia Psycho - Frengky e-book

Kai The Mafia Psycho - Frengky e-book


0

Kai The Mafia Psycho

Bab 1: Malam yang Berdarah

Hujan deras turun seperti air mata langit yang tak henti-henti, membasahi jalanan yang gelap dan sunyi. Di sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran kota, suasana terasa tegang dan mencekam. Cahaya lampu yang redup berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding yang kotor dan berlumut.

Di tengah gudang itu, berdiri seorang pria dengan postur tubuh yang tegap dan gagah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, dengan kemeja hitam dan dasi merah yang kontras. Rambutnya hitam legam dan sedikit berantakan, menambah kesan misterius pada wajahnya yang tampan namun dingin. Matanya berwarna merah darah, memancarkan aura kekuasaan dan keberanian yang tak tertandingi. Ia adalah Kai, ketua mafia yang paling ditakuti di seluruh dunia.

Di hadapan Kai, terbaring beberapa orang yang terikat dan terluka. Mereka adalah anggota geng saingan yang telah berani mencoba menyerang wilayah kekuasaan Kai. Wajah mereka penuh dengan rasa takut dan keputusasaan, mengetahui bahwa nasib mereka sudah ditentukan.

"Kalian pikir kalian bisa dengan mudah mengambil apa yang menjadi milikku?" tanya Kai dengan suara yang rendah namun tegas, matanya menatap tajam ke arah orang-orang yang terbaring itu. "Kalian salah besar. Siapa yang mengirim kalian?"

Salah satu dari orang-orang itu mencoba berbicara, namun suaranya terhenti karena rasa sakit yang hebat. "Kami... kami hanya mengikuti perintah," jawabnya dengan terengah-engah. "Bos kami... dia ingin menguasai wilayah ini."

Kai tersenyum sinis. "Bos kalian? Siapa dia? Beri tahu aku namanya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan kalian hidup."

Orang itu menatap Kai dengan mata yang penuh dengan ketakutan. "Aku... aku tidak bisa memberitahumu. Dia akan membunuhku dan keluargaku jika aku memberitahumu."

Kai menghela nafas panjang. "Baiklah, jika kalian tidak mau bicara, maka aku harus menggunakan cara lain." Ia mengangkat tangannya, dan segera, beberapa orang anak buahnya muncul dari kegelapan, membawa senjata-senjata yang mematikan.

"Tunggu! Tunggu!" teriak salah satu dari orang-orang itu. "Aku akan memberitahumu! Namanya adalah Marco! Dia adalah ketua geng 'Naga Hitam'!"

Kai mengangguk perlahan. "Marco... Aku sudah mendengar namanya sebelumnya. Dia adalah orang yang sombong dan kejam. Tapi dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan." Ia menatap kembali ke arah orang-orang yang terbaring itu. "Kalian boleh pergi. Tapi beritahu Marco bahwa aku akan datang untuknya. Dan ketika aku datang, dia akan menyesal pernah berani melawanku."

Orang-orang itu tampak lega, dan segera, anak buah Kai melepaskan ikatan mereka. Mereka berlari keluar dari gudang itu secepat mungkin, seolah-olah takut bahwa Kai akan berubah pikiran.

Setelah mereka pergi, Kai menatap ke arah anak buahnya. "Bersiaplah. Kita akan pergi ke markas 'Naga Hitam' malam ini juga. Kita akan mengakhiri ini sekali dan untuk selamanya."

Anak buahnya mengangguk patuh. "Siap, Bos!"

Kai berjalan keluar dari gudang itu, dan hujan deras membasahi wajahnya. Ia menatap ke langit yang gelap, dan dalam hatinya, ia merasa bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang dan berdarah. Namun, ia tidak takut. Ia adalah Kai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu wilayah kekuasaannya.

Sementara itu, di sebuah kantor polisi yang terletak di pusat kota, seorang detektif bernama Sarah sedang duduk di mejanya, menatap tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Ia adalah detektif yang cerdas dan berani, dan ia telah berusaha selama bertahun-tahun untuk memberantas kejahatan yang ada di kota itu. Namun, kejahatan itu selalu ada, dan seolah-olah tidak ada habisnya.

Sarah menghela nafas panjang, dan ia mengambil secangkir kopi yang ada di mejanya. Ia meminumnya sedikit, dan kemudian ia menatap ke arah jendela yang ada di hadapannya. Di luar, hujan deras masih turun, dan jalanan terasa sepi dan sunyi.

Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Sarah mengangkatnya, dan mendengar suara seorang petugas polisi yang terdengar cemas. "Detektif Sarah! Kami baru saja menerima laporan bahwa ada pertempuran yang terjadi di sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran kota. Beberapa orang telah terluka, dan kami khawatir bahwa ada lebih banyak lagi yang akan terjadi."

Sarah segera berdiri. "Aku akan segera ke sana!" katanya, dan kemudian ia menutup telepon. Ia mengambil jaketnya dan berlari keluar dari kantornya, menuju ke tempat kejadian.

Ketika Sarah tiba di gudang itu, ia melihat bahwa polisi sudah berada di sana, dan mereka sedang mengamankan tempat kejadian. Sarah berjalan masuk ke dalam gudang itu, dan ia melihat bahwa lantainya berlumuran darah, dan ada beberapa senjata yang tergeletak di sana.

Sarah menatap ke arah salah satu petugas polisi yang ada di sana. "Apa yang terjadi di sini?" tanyanya.

Petugas itu menatap Sarah dengan mata yang penuh dengan ketakutan. "Kami tidak tahu pasti, Detektif. Ketika kami tiba di sini, tidak ada siapa-siapa. Tapi kami menemukan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa ada pertempuran yang cukup besar yang terjadi di sini. Dan kami juga menemukan beberapa orang yang terikat dan terluka, tapi mereka sudah berlari pergi."

Sarah mengangguk perlahan. "Baiklah, teruskan penyelidikan. Aku ingin tahu siapa yang terlibat dalam pertempuran ini, dan apa yang sebenarnya terjadi di sini."

Petugas itu mengangguk patuh. "Siap, Detektif!"

Sarah berjalan keluar dari gudang itu, dan ia menatap ke arah jalanan yang gelap dan sunyi. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi, dan ia harus mengetahuinya apa itu. Ia tahu bahwa kejahatan itu selalu ada, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus berjuang untuk memberantasnya, sampai kejahatan itu benar-benar hilang dari dunia ini.

Sementara itu, di sebuah mobil yang sedang melaju di jalanan yang gelap dan sunyi, Kai sedang duduk di kursi belakang, menatap ke arah jendela yang ada di hadapannya. Di luar, hujan deras masih turun, dan jalanan terasa sepi dan sunyi.

Kai menatap ke arah anak buahnya yang sedang mengemudi. "Berapa lama lagi kita akan sampai di markas 'Naga Hitam'?" tanyanya.

Anak buahnya menatap Kai melalui kaca spion. "Sekitar sepuluh menit lagi, Bos."

Kai mengangguk perlahan. "Baiklah. Bersiaplah. Ketika kita sampai di sana, kita akan menyerang mereka dengan sekuat tenaga. Kita tidak akan membiarkan siapa pun lolos."

Anak buahnya mengangguk patuh. "Siap, Bos!"

Kai menatap kembali ke arah jendela, dan dalam hatinya, ia merasa bahwa malam ini akan menjadi malam yang menentukan. Ia tahu bahwa ia akan menghadapi musuh yang kuat dan berbahaya, tapi ia tidak takut. Ia adalah Kai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu wilayah kekuasaannya.

Ketika mobil itu akhirnya sampai di markas 'Naga Hitam', Kai dan anak buahnya segera turun dari mobil. Mereka melihat bahwa markas itu adalah sebuah bangunan besar dan megah, dengan pagar yang tinggi dan kuat. Di depan pagar itu, ada beberapa penjaga yang sedang berdiri, membawa senjata-senjata yang mematikan.

Kai menatap ke arah anak buahnya. "Serang!" teriaknya, dan segera, mereka semua berlari menuju pagar itu, menembakkan senjata-senjata mereka ke arah penjaga-penjaga yang ada di sana.

Penjaga-penjaga itu terkejut, dan mereka segera menembakkan senjata-senjata mereka ke arah Kai dan anak buahnya. Pertempuran pun terjadi, dan suara tembakan terdengar keras dan memekakkan telinga. Darah berlumuran di mana-mana, dan jeritan orang-orang yang terluka dan mati terdengar di mana-mana.

Kai bertarung dengan sekuat tenaga, menembakkan senjatanya ke arah musuh-musuhnya dengan akurasi yang tinggi. Ia bergerak dengan cepat dan lincah, menghindari tembakan-tembakan yang datang ke arahnya, dan membalasnya dengan tembakan-tembakan yang mematikan.

Dalam waktu singkat, sebagian besar penjaga-penjaga itu sudah mati atau terluka parah. Kai dan anak buahnya kemudian menerobos pagar itu, dan masuk ke dalam bangunan markas 'Naga Hitam'.

Di dalam bangunan itu, mereka bertemu dengan lebih banyak lagi anggota geng 'Naga Hitam', yang sudah bersiap untuk melawan mereka. Pertempuran pun kembali terjadi, dan kali ini, pertempuran itu lebih keras dan lebih berdarah daripada sebelumnya.

Kai bertarung dengan sekuat tenaga, dan ia berhasil mengalahkan banyak musuh-musuhnya. Namun, ia juga terluka beberapa kali, dan darah mengalir dari luka-luka itu. Namun, ia tidak berhenti. Ia terus bertarung, sampai akhirnya, semua anggota geng 'Naga Hitam' yang ada di dalam bangunan itu sudah mati atau terluka parah.

Kai kemudian berjalan menuju ruang kerja Marco, yang terletak di lantai atas bangunan itu. Ia mendorong pintu ruang kerja itu terbuka, dan ia melihat bahwa Marco sedang duduk di mejanya, menatapnya dengan mata yang penuh dengan ketakutan dan keputusasaan.

"Kai... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Marco dengan suara yang gemetar.

Kai tersenyum sinis. "Kamu tahu apa yang aku lakukan di sini, Marco. Kamu berani melawanku, dan sekarang, kamu harus membayarnya."

Marco mencoba berdiri, tapi ia terlalu takut untuk bergerak. "Tunggu! Kai! Kita bisa bicara tentang ini! Aku akan memberimu apa pun yang kamu inginkan! Uang, kekuasaan, apa pun!"

Kai menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang bisa kamu berikan padaku, Marco. Kamu sudah melanggar aturan, dan kamu harus membayarnya dengan nyawamu."

Kai mengangkat senjatanya, dan menunjukkannya ke arah Marco. "Selamat tinggal, Marco."

Terdengar suara tembakan, dan Marco jatuh ke lantai, mati seketika.

Kai menatap ke arah mayat Marco, dan dalam hatinya, ia merasa puas. Ia telah membalas dendam, dan ia telah mengakhiri ancaman yang datang dari geng 'Naga Hitam'.

Namun, saat itu, ia mendengar suara sirene polisi yang terdengar dari luar. Kai menatap ke arah jendela, dan ia melihat bahwa mobil-mobil polisi sudah datang, dan mereka sedang mengelilingi bangunan itu.

Kai menatap ke arah anak buahnya. "Kita harus pergi! Sekarang!" teriaknya, dan mereka semua berlari menuju pintu keluar bangunan itu.

Ketika mereka keluar dari bangunan itu, mereka melihat bahwa polisi sudah berada di sana, dan mereka sedang menembakkan senjata-senjata mereka ke arah mereka. Kai dan anak buahnya segera menembakkan senjata-senjata mereka ke arah polisi, dan pertempuran pun kembali terjadi.

Dalam kekacauan itu, Kai dan sebagian besar anak buahnya berhasil lolos dari tempat kejadian. Namun, beberapa dari mereka tertangkap oleh polisi, dan beberapa lagi mati dalam pertempuran itu.

Kai dan anak buahnya yang tersisa kemudian berlari menuju mobil mereka, dan mereka segera melaju pergi dari tempat kejadian, meninggalkan belakang mereka kekacauan dan darah.

Sementara itu, di tempat kejadian, Sarah dan petugas polisi lainnya sedang mengamankan tempat. Sarah melihat bahwa ada banyak mayat yang tergeletak di sana, dan darah berlumuran di mana-mana. Ia juga melihat bahwa beberapa anggota geng 'Naga Hitam' yang masih hidup telah ditangkap oleh polisi, dan mereka sedang diinterogasi.

Sarah berjalan menuju ruang kerja Marco, dan ia melihat bahwa mayat Marco sedang tergeletak di lantai. Ia menatap ke arah mayat itu, dan dalam hatinya, ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tahu bahwa Marco adalah ketua geng 'Naga Hitam', tapi ia juga tahu bahwa Marco tidak akan berani melawan Kai tanpa alasan yang kuat.

Sarah kemudian menatap ke arah salah satu petugas polisi yang ada di sana. "Cari tahu siapa yang terlibat dalam pertempuran ini, dan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Aku ingin tahu segalanya."

Petugas itu mengangguk patuh. "Siap, Detektif!"

Sarah berjalan keluar dari ruang kerja itu, dan ia menatap ke arah jalanan yang gelap dan sunyi. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi, dan ia harus mengetahuinya apa itu. Ia tahu bahwa kejahatan itu selalu ada, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus berjuang untuk memberantasnya, sampai kejahatan itu benar-benar hilang dari dunia ini.

Bersambung!...

*****

Nama Pena: Frengky e-book

Genre: Action, Drama, Fantasi

Platform: Novea

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama