KLAIM KOSMIK GUNCANG GALAKSI
Bab 1: Penalti Tiga Tahun dan Desain Crane yang Dibajak
Layar konsol kerjanya berkedip, bukan dengan data diagnostik yang biasa, tapi dengan notifikasi merah menyala yang Lucky sudah kenal betul, dingin menusuk seperti pisau bedah yang salah sasaran.
"Sialan. Lagi?" Lucky menggerutu, membanting kunci pas ke meja besi yang berantakan. Bunyinya nyaring di bengkelnya yang sepi, memantul dari dinding-dinding metal yang lusuh.
"Kau lihat ini, Miko?" Lucky menoleh ke arah sebuah drone utilitas kecil yang mengambang di pojok, sensornya berkedip malas, "Mereka bahkan nggak repot-repot ganti alasannya lagi. 'Pelanggaran hak cipta konstruksi modular fiktif.' Fiktif, tahu nggak? Kalau fiktif, terus apa yang mau mereka gugat?"
Drone Miko hanya membalas dengan bunyi 'bip' pelan, seolah ikut merasakan keputusasaan Lucky. Dia menghela napas, mengusap wajahnya yang berminyak. Tangannya yang kasar terbiasa dengan oli dan sirkuit. Selama tiga tahun terakhir, ini sudah jadi ritual bulanan. Zentex, korporasi raksasa yang menguasai hampir semua infrastruktur di sektor ini, memang punya cara sendiri untuk memeras para teknisi independen sepertinya.
"Baiklah, kita lihat kali ini berapa. Semoga cuma ganti rugi pemakaian sirkuit udara di toilet umum mereka. Itu yang paling murah!" Lucky bergumam, mendekati konsol, jarinya menari di atas haptic screen yang berkedip. Matanya menyipit membaca deretan angka dan teks hukum yang rumit. Kemudian matanya melebar, pupilnya mengecil.
"Tiga... tiga tahun?" suaranya tercekat, "Ini gila. Mereka nggak pernah begini sebelumnya!"
"Lihat ini, Miko. Kali ini bukan denda. Ini... ini final notice penalti raksasa," Lucky membaca lagi, seolah tak percaya, "Ganti rugi atas 'kerugian potensial pemakaian desain konstruksi modular dasar'. Tiga tahun, Miko! Itu sama dengan seluruh pendapatan bengkel ini selama tiga tahun!"
Lucky menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Tangannya mengepal, sendi-sendi di jarinya memutih. Ini bukan lagi soal denda kecil yang bisa dia cicil. Ini adalah vonis mati untuk bisnisnya, untuk hidupnya. Zentex sedang berusaha membunuhnya secara finansial.
"Dasar bajingan. Mereka pikir mereka siapa?" desis Lucky, matanya memancarkan amarah yang membara. Dia melirik ke arah crane angkut otomatis yang sedang teronggok setengah telanjang di tengah bengkelnya. Itulah pekerjaan yang sedang dia tangani. Crane Zentex, tentu saja. Ada masalah di mekanisme pengunci kargo, macet. Ironisnya, dia sedang memperbaiki mesin dari perusahaan yang sedang berusaha menghancirkannya.
Pikirannya kalut. Dia menatap layar konsol lagi, angka-angka penalti itu serasa menertawakannya. Tiga tahun. Sebuah kehancuran total. Dia akan kehilangan bengkelnya, rumahnya. Semuanya. Keputusasaan mulai merayap, mencengkeram.
"Apa yang harus aku lakukan, Miko?" Dia bertanya pada drone, suaranya lebih seperti bisikan, "Melarikan diri? Memulai lagi di sektor lain? Tapi mereka akan menemukanmu, kan? Zentex punya tangan dimana-mana!"
Tiba-tiba, pandangannya jatuh pada mekanisme pengunci di crane yang sedang dia perbaiki. Sebuah bagian yang sederhana, tapi vital. Dua cakar logam yang saling terkait, mengunci kargo dengan presisi militer. Desainnya standar, puluhan tahun tidak berubah, digunakan di seluruh galaksi. Semua orang tahu desainnya, tapi siapa yang benar-benar memilikinya?
Sebuah dorongan aneh muncul dari benak Lucky, sesuatu yang tidak masuk akal, tapi terasa begitu kuat. Seperti ide gila yang tiba-tiba melesat di tengah keputusasaan. Apa jadinya jika...
"Kalau mereka bisa mengklaim 'hak cipta konstruksi modular fiktif', kenapa aku tidak bisa mengklaim sesuatu yang nyata?" Lucky bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya terpaku pada mekanisme pengunci itu, pikirannya berpacu.
Dia melangkah mendekat ke crane, meraih datapad kecil dari saku jaket kerjanya. Jari-jarinya menekan beberapa tombol, mengaktifkan antarmuka sistem bengkelnya, yang terhubung ke jaringan lokal tapi terisolasi dari jaringan utama Zentex—sebuah trik kecil yang selalu dia banggakan. Antarmuka itu menunjukkan diagram 3D dari crane, dengan semua komponennya terdaftar.
"Oke, oke, fokus Lucky," dia berbicara pada dirinya sendiri, "Mekanisme pengunci kargo. Desainnya. Hak cipta. Itu konyol, kan?"
Tapi dorongan itu semakin kuat. Seperti bisikan dari alam semesta yang menuntut untuk didengar. Dia melihat detail komponennya. Rangkaian gigi, tuas, dan sistem kait yang presisi. Desain mekanisme pengunci tipe Alpha-7Z standar. Itulah namanya dalam diagram.
"Aku bisa gila gara-gara ini," dia menggelengkan kepala, tapi tangannya tetap bekerja. Dia mulai mengetik, memasukkan serangkaian perintah ke datapad-nya, mengakses protokol klaim hak cipta yang biasanya digunakan oleh Zentex sendiri untuk memperbarui paten mereka. Sebuah ide sangat bodoh, tapi otaknya yang frustasi tidak bisa melepaskannya.
"Miko, ini mungkin hal paling tolol yang pernah kulakukan!"
Drone itu berkedip lagi.
"Oke, kalau begitu, Miko. Ini dia!"
Dia mulai mengisi formulir digital, melewati semua peringatan dan klausul hukum yang biasanya membutuhkan tim pengacara untuk memahaminya. Pengklaim: Lucky Santana. Objek Klaim: Desain mekanisme pengunci tipe Alpha-7Z standar pada crane angkut otomatis. Dasar Klaim: (Dia terdiam sesaat, lalu seringai tipis muncul di bibirnya) "Penggunaan tak sadar atas inspirasi intuitif dari pengamat yang telah mengembangkan pemahaman intrinsik tentang fungsi dan bentuknya!"
Itu terdengar sok ilmiah dan ngawur. Benar-benar kalimat paling bodoh yang pernah dia ketik. Tapi kenapa rasanya benar? Kenapa ada rasa lega yang aneh saat dia mengetikkan itu?
"Ya, itu. Inspirasi intuitif. Mereka punya hak cipta atas modul fiktif, aku punya hak cipta atas 'inspirasi intuitif' dari benda yang aku sentuh setiap hari," Lucky mendengus. "Fair enough!"
Tangannya gemetar saat dia mengarahkan kursor ke tombol "Kirim Klaim". Ini adalah lompatan keyakinan, atau lebih tepatnya, lompatan ke jurang kegilaan. Tidak ada yang akan menerima ini. Zentex pasti akan menertawakannya, atau lebih buruk, melipatgandakan dendanya. Tapi entah kenapa, dorongan itu tetap kuat.
"Baiklah, Zentex. Kalian mau main-main? Aku akan ikut main-main!"
Dia menekan tombolnya.
Seketika, seluruh sistem bengkelnya berkedip hijau, lalu kembali normal. Tidak ada alarm. Tidak ada notifikasi peringatan. Tidak ada yang meledak. Hanya keheningan yang sedikit lebih berat, seolah udara di bengkel itu sendiri baru saja menahan napas.
Lucky menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada reaksi.
"Nah, kan," dia menghela napas, "Aku sudah bilang ini bodoh. Tidak ada yang terjadi. Sama sekali tidak ada—"
Tiba-tiba, dari layar utama konsolnya yang masih menampilkan pemberitahuan penalti Zentex, sebaris teks kecil muncul di sudut bawah, hampir tidak terlihat.
"Pembaruan Status Hak Cipta: Desain Mekanisme Pengunci Tipe Alpha-7Z Standar (Sektor 7-G) – Di bawah peninjauan klaim pribadi."
Lucky mengerjap. Di bawah peninjauan? Itu aneh. Sistem Zentex tidak pernah mengakui klaim dari pihak luar, apalagi klaim yang konyol ini.
"Miko, kau lihat itu?" Lucky menunjuk ke layar, "Ada yang aneh. Itu bukan balasan otomatis Zentex. Itu... itu dari sistemnya!"
Dia menatap layar, kemudian kembali menatap mekanisme pengunci di crane. Rasanya seperti ada gelombang energi halus yang baru saja bergerak melalui ruang hampa, mengubah sesuatu yang fundamental.
"Apakah aku baru saja... melakukan sesuatu yang sebenarnya..."
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya berputar. Dia belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Ada campuran kebingungan, ketakutan, dan yang paling aneh, kekuatan yang baru terbangun. Sistem itu baru saja mengakui klaimnya, sekonyol apapun itu.
Apa artinya ini? Apa yang sebenarnya baru saja dia lakukan? Dan yang lebih penting, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Lucky melihat lagi ke arah crane, lalu ke notifikasi penalti Zentex yang masih terpampang di layar. Perasaan aneh itu masih ada, dan sekarang, itu tidak lagi terasa seperti sebuah dorongan gila, melainkan seperti sebuah kebenaran yang baru saja dia temukan.
"Ini belum berakhir, Zentex. Pertandingan baru saja..."
***
Author : Dwinda
Genre: Sci-Fi, Action
Tags: young adult, malebook, sci-fi adventure, cyber, action comedy
Platform : Novea
Editorial:
--
