Pengantin Kain Kafan Terkutuk
Chapter 1: Bisikan Kenikmatan Terlarang
Dira terjaga, napasnya tersengal diantara selimut sutra yang entah mengapa terasa berat. Sebuah erangan tertahan lolos dari bibirnya. Mimpi itu lagi. Bukan sekadar mimpi, melainkan serangkaian gambaran dan sensasi yang terlampau nyata, seolah-olah jiwanya baru saja kembali dari pelukan hasrat terlarang. Di seberang ranjang, suaminya; Bram, terlelap tenang dalam posisinya yang kaku, tanpa menyentuhnya sama sekali. Selalu begitu. Dingin dan hampa.
"Gila," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau, "Kok bisa se-nyata itu? Apa... apa itu bukan cuma mimpi lagi?"
Telapak tangannya bergerak pelan, menyentuh kulit leher, lalu turun ke dadanya. Merasakan sisa-sisa jejak tak terlihat namun begitu mendalam. Jejak yang bukan miliknya, akan tetapi telah dikenalnya. Sebuah sentuhan fantom yang mengundang candu.
"Nggak mungkin," gumamnya sembari menggeleng samar, "Ini cuma delusi, Dira. Cuma delusi!"
Tapi dia tahu. Jauh di dalam hati yang kian gelisah, Dira tahu ini lebih dari sekadar delusi. Ini adalah bagian darinya yang perlahan bangkit, ditarik paksa dari tidur panjangnya, dihujani gairah yang tak ia kenal dari dirinya sendiri. Matanya melirik ke arah lemari kayu mahoni tua di sudut kamar, yang sejak dua bulan terakhir tak pernah lagi ia anggap sebagai perabot biasa.
Seolah ada sinyal tak terlihat, sebuah getaran samar menyusup dari dasar ranjang, merambat melalui tubuhnya. Awalnya ringan, seperti desah angin di kaca. Lalu makin kuat, vibrasi halus yang mengalir langsung ke syaraf-syarafnya.
"Kamu..." Dira menatap lemari itu. Matanya menyipit penuh kecurigaan, sekaligus hasrat yang aneh, "Ini ulahmu, kan?"
Bukan jawaban yang muncul, melainkan kehangatan menjalar dari ulu hatinya, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Aroma kayu gaharu dan rempah-rempah kuno memenuhi rongga hidungnya, menekan aroma parfum Bram yang mahal. Aroma Kain Kafan Ketiga. Aroma hasrat. Semakin sering ia menciumnya, semakin adiktif Dira merasa.
Dia tak sanggup lagi berbohong pada diri sendiri. Malam itu, di Bali, saat ia dan Aryan memulai 'hubungan kerja' mereka, dia menemukan kotak tua. Di dalam kotak itu terdapat Kain Kafan lusuh dengan rajah kuno dan yang lebih anehnya lagi, ada sesuatu justru memanggilnya. Buku panduan ritual sederhana yang terselip di baliknya tampak seperti kebetulan. Tapi kini Dira tahu, tidak ada yang kebetulan.
Tiba-tiba ponsel di meja samping tempat tidur bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Dari Aryan. Jantung Dira berdebar makin cepat, perpaduan antara rasa takut, gelisah, dan dorongan kenikmatan. Dia membuka pesan itu.
[Aryan: Udah bangun?]
Dira terdiam sesaat, jemarinya menari di atas layar. Perasaan mimpinya yang baru saja memuncak masih melekat erat. Apakah Aryan merasakan hal yang sama?
[Dira: Baru aja.]
Tidak sampai sepuluh detik, balasan langsung datang.
[Aryan: Kenapa? Kangen aku ya? Aku juga. Barusan aku mimpiin kamu lagi.]
Mimpiin kamu. Kalimat itu menampar Dira. Bukan karena rasa senang, melainkan sebuah kekhawatiran yang dingin menusuk hatinya.
"Yang mana, Yan?" bisiknya pelan, seolah Aryan ada di sampingnya. Lalu jarinya mengetik, setengah takut pada apa yang akan didapatkan.
[Dira: Yang... yang itu. Kamu ada ngerasa sesuatu nggak?]
Balasan Aryan membuat napas Dira tercekat. Persis. Detail mimpinya, hasratnya, seolah itu mimpi yang sama. Sebuah teror perlahan melingkupi dirinya, tapi dibalik teror itu ada dorongan lain yang tak kalah kuat: hasrat, kebutuhan, kecanduan.
[Aryan: Ngerasa apa, Sayang? Sensasinya... dahsyat banget, kan? Aku sampe pengen langsung lompat ke Bali sekarang juga.]
"Dahsyat," ulang Dira lirih. Senyuman tipis, pahit, tercetak di bibirnya. Dia sudah menduga ini. Semua sensasi itu, perasaan terhubung ini, bukan hanya ulah dari hatinya. Kain Kafan Ketiga itu... telah mengikatnya juga pada Aryan. Bukan saja hasrat Dira, tapi juga hasrat Aryan.
"Nggak," ucapnya lagi, memaksa dirinya, "Aku nggak mau terus-terusan jadi seperti ini,"
Pikirannya kembali melayang pada malam itu. Suaminya yang selalu pulang larut, mata yang dingin, sentuhan yang formal. Kosong… Kain Kafan itu memberinya sesuatu yang Bram tidak pernah bisa berikan. Sebuah gairah tak terduga yang mengisi relung hati yang sepi. Apakah itu buruk?
[Aryan: Hei? Kok diem? Atau jangan-jangan, kamu kaget sendiri ya, aku bisa tau persis mimpi kamu gimana? Haha. Artinya kita emang berjodoh, Sayang. Takdir!]
"Takdir pala lo!" Dira menggerutu, namun hatinya sendiri mengakui ada sesuatu yang ‘membenarkan’ itu. Ini lebih dari sekadar jodoh. Ini seperti sebuah ikatan paksa. Diikat oleh sehelai kain kuno yang menyimpan kutukan.
Vibrasi di ranjang makin kuat. Kali ini bukan cuma getaran, melainkan seperti dentuman lembut, seperti detak jantung yang membara. Pusatnya bukan di ranjang, tapi dari balik lemari tua. Dira menatap lemari itu lagi, kegelapan kamar terasa menekan, berdesir dengan aura tak kasat mata. Aroma gaharu makin pekat, menelusup ke tiap serat pakaian tidurnya, ke kulitnya, masuk ke pori-pori.
Seketika Dira merasakan sakit diantara dua pangkal kakinya. Ngilu. Seperti rasa hampa yang diperah, diubah menjadi haus yang tak terpuaskan. Mimpi-mimpi itu... terasa membuainya hingga batas akhir. Memberinya janji yang tak berujung.
Dia tak kuasa melawan dorongan itu. Pelan-pelan, seperti seseorang dalam trans, Dira turun dari ranjang. Setiap langkahnya terasa dipandu, ditarik oleh suatu kekuatan tak terlihat menuju lemari mahoni tua. Ia tahu tempat rahasia di baliknya. Lemari itu bergerak sedikit saat Dira menyentuh ukirannya. Ada celah tersembunyi, sebuah pintu kecil yang mengarah ke brankas dinding antik. Bukan tempat menyimpan perhiasan, melainkan artefak kutukan.
"Kamu lagi," katanya lirih saat pintu brankas terbuka dan cahaya remang-remang memancar dari dalam, menerangi Kain Kafan lusuh itu, "Apa maumu dariku, sebenarnya? Kenapa kamu terus menghantuiku seperti ini?"
Kain itu berdesir. Tidak ada angin, tapi Kain Kafan itu tampak beriak, bergerak seolah bernapas. Menggeliat, merentangkan diri, memamerkan rajah aneh yang kini seolah menatap Dira dan… hidup. Dira melangkah maju, tangannya gemetar. Tanpa sadar, jemarinya terjulur.
Suhu di ruangan terasa turun drastis, tapi kulit Dira malah meremang karena hawa panas yang membakar. Semacam gairah membabi buta, rasa lapar yang baru. Hasrat yang menjerit meminta dipuaskan.
"Ini salah," katanya. Suaranya berubah jadi rintihan, "Semuanya salah. Aku tahu. Bram... pernikahan kami..."
Tetapi desiran Kain Kafan terasa lebih meyakinkan, lebih nyata dari perkataan dirinya sendiri. Dari lubuk hati yang terdalam, Dira merasakan bisikan asing masuk ke benaknya. Kata-kata tak terdengar, namun dipahami.
"Bukan cinta hampa itu, Dira..."
"Diam!" sergah Dira, menutup telinga. Tapi suara itu ada di kepalanya. Tidak bisa diredam.
"Bukan cinta yang membosankan dan terkunci dalam janji kosong..."
"Ini... ini yang terjadi kalau aku melanggar!" Dira menatap Kain Kafan. Ada semacam rasa tertekan dalam dadanya. Rasa sesak yang merobek. Lalu datang sensasi lega yang gila, sensasi yang hanya bisa Kain Kafan berikan.
"...Aku memberimu yang asli. Yang membakar. Tanpa batas. Seperti dirimu,"
Tubuh Dira merinding, gairah yang bergejolak membuat kakinya lemas. Ia hampir jatuh terduduk. Dia terhuyung mundur, tetapi kakinya malah membawa maju lagi, maju lagi.
Dira merasakan dirinya terbagi. Satu bagian ingin menjerit ketakutan, membakar kain ini. Bagian lainnya, bagian yang lebih gelap dan sudah begitu lama tidur, meronta untuk menyerah pada bisikan itu.
"Aku... aku tidak mau terikat lagi," gumam Dira, meski suaranya penuh keraguan.
Desir Kain Kafan semakin membara, aura panas menjalar ke seluruh tubuh Dira. Gambar-gambar mimpi itu muncul kembali di benaknya, lebih jelas, lebih mendalam. Aryan. Sentuhan. Tawa. Janji kenikmatan abadi.
Sebuah kehangatan lain mengalir di tangannya. Dira terkejut melihat seuntai benang halus berwarna keperakan yang tak kasat mata keluar dari kain, perlahan melilit jari telunjuknya, seolah kain itu mencoba menjabatnya, merayunya.
"Benang... ini...?" Dira hampir menangis, merasa lemah. Ia memandang ke arah tempat tidur, pada Bram yang masih tidur. Suami yang berjarak, suami yang menjaga semua rahasianya sendiri. Kenapa tidak ada satupun yang berusaha menyentuhnya? Mencairkannya?
"Sudahlah," bisiknya, "Aku... aku sungguh lelah!" Dia membiarkan benang itu melilit makin erat, "Aku lelah berpura-pura baik-baik saja,"
Benang perak itu semakin erat melilit, tidak menyakitkan, justru seperti memberi ketenangan. Dira menutup mata, menarik napas dalam, merasakan gairah dan energi baru membanjiri dirinya. Untuk pertama kali setelah sekian lama, dia merasa 'hidup'.
Keputusasaan menguap, digantikan oleh dorongan egois. Rasa lelah, rasa dingin, rasa hampa, semuanya lenyap dalam panas yang membakar. Api hasrat dan kemarahan kini yang memimpinnya. Kepalanya kembali memutarkan adegan mesra dengan Aryan. Betapa bersemangat dan bergairahnya Aryan. Berbeda dengan Bram. Ini perbandingan yang tidak adil, tapi Dira tak peduli. Dia hanya menginginkan sesuatu yang lebih.
"Bukan aku yang mencari ini!" katanya, kini nada suaranya tegas. Ada kemarahan yang membara, "Bukan aku yang menciptakan jarak ini! Mereka yang menyulutnya duluan!"
Pandangannya jatuh pada bingkai foto perkawinan mereka, Bram dan dirinya, di atas meja. Raut wajah Bram dalam foto itu, yang tadinya terkesan bahagia, kini terasa seperti topeng kaku. Senyum paksaan yang hambar, hampa. Sama seperti pernikahan mereka.
Dira mendengus, sorot matanya yang baru dipenuhi kilatan hasrat dan egois yang mempesona. Dia menatap Kain Kafan, tak ada lagi ketakutan di matanya, hanya rasa ingin tahu yang tak berujung. Ingin merasakan sampai batas akhir. Bagian dalam Kain Kafan tampak gelap, berkedip, seperti gua tak berdasar yang menjanjikan segalanya. Hasrat terlarang yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini terasa dipanggil, diajak menari di ujung kegelapan.
Dia tak mau melawan lagi. Dia ingin tenggelam. Menari sampai batas akhir yang belum pernah ia bayangkan. Suara Bram terdengar samar-samar, seperti sebuah hantu yang jauh dari dunianya, ketika Dira sepenuhnya mengambil keputusan.
Benang keperakan dari Kain Kafan Ketiga itu seolah menjadi benang takdirnya yang baru, menggeliat dalam kesendirian yang pahit, yang membisikkan janji manis kenikmatan tak berujung. Dira memejamkan mata… membiarkan semua hasratnya menembus masuk.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah luar pintu kamar tidur mereka. Samar. Berat. Bram? Dira buru-buru menutup kembali brankas itu. Ada sedikit kegugupan yang menusuk, tetapi kali ini rasa gugup itu bercampur dengan sedikit kenakalan, sedikit kegembiraan terlarang.
Ia kembali naik ke ranjang, pura-pura tertidur. Tepat sebelum pintu kamar dibuka oleh Bram, dan Dira masih berdebar-debar.
"Dira, Bangun!"
"Kita mau kemana lagi sih, pagi-pagi begini aku udah dibangunin kayak anak kecil! Kenapa kau–"
******
Author: Dwinda
Judul: Pengantin Kain Kafan Terkutuk
Genre: Horor (Thriller Psikologis, Supranatural, Kontrak Jiwa, Kutukan, Rahasia Keluarga)
Platform: Novea
Editorial:
Buku ini menampilkan suara penulis yang cukup berani dalam mengolah wilayah batin yang tidak nyaman, tanpa jatuh menjadi sensasional. Ada kontrol yang terasa jelas dalam cara narasi mengalir, ia tidak tergesa menjelaskan, tetapi membiarkan kegelisahan tokoh tumbuh perlahan melalui detail kecil yang konsisten.
Suara ini terasa sadar akan dirinya sendiri tahu kapan harus mendekat, dan kapan menahan jarak.
Ritme kalimat bergerak dengan pola yang hampir repetitif, namun justru di situlah atmosfer dibangun. Desakan emosional tidak datang dari ledakan besar, melainkan dari akumulasi sensasi yang diulang dan dipertebal.
Ada semacam denyut yang terus hadir antara kesadaran dan dorongan yang tidak sepenuhnya dipahami. Pembaca tidak didorong untuk bereaksi cepat, melainkan dipaksa bertahan di ruang yang tidak sepenuhnya nyaman, dan itu dilakukan dengan disiplin.
Ketegangan yang paling terasa bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada apa yang tidak diselesaikan.
Penulis menahan resolusi moral maupun emosional, membiarkan konflik tetap terbuka dan ambigu. Relasi antara tubuh, ingatan, dan keinginan tidak diberi label yang sederhana.
Justru ketidak jelasan itulah yang menciptakan tekanan halus sebuah perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser, namun belum sepenuhnya tampak.
Secara tematik, buku ini menunjukkan kedewasaan dalam memperlakukan hasrat sebagai sesuatu yang kompleks, bukan sekadar pemicu konflik. Ia ditempatkan berdampingan dengan kesepian, kebiasaan, dan kelelahan emosional.
Tidak ada upaya untuk menghakimi, juga tidak ada upaya untuk membenarkan. Yang ada hanyalah pengamatan yang cukup jujur untuk membuat pembaca berpikir, mungkin juga sedikit tidak nyaman.
Kesan yang tertinggal adalah sebuah karya yang memilih untuk tidak memanjakan. Ia tidak menawarkan kepastian cepat atau emosi yang mudah diurai. Sebaliknya, ia memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan sendiri ketegangan yang tidak selesai itu.
Bagi mereka yang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar alur yang bergerak cepat, pendekatan seperti ini terasa seperti ajakan yang tenang, tidak memaksa, tapi cukup meyakinkan untuk diikuti lebih jauh.
By Peniti Kecil
