Aku Anchor yang Diburu Dunia
Bab 1: Warisan di Antara Reruntuhan
"Jangan sekarang, kumohon jangan sekarang!" Ren mengumpat sembari menarik paksa lempengan baja yang menjepit kotak hitam itu.
Suara sirene melengking membelah langit Distrik Bawah yang kelabu, disusul raungan mekanis yang bukan berasal dari mesin mana pun di bumi. Null Beasts. Mereka datang lebih cepat dari prediksi radar kota.
"Deteksi ancaman: Tipe Scout. Jarak: empat ratus meter dan mendekat," suara robotik dari alat pemindai usang di pergelangan tangan Ren berderak statis.
"Aku tahu, diamlah!" bentak Ren pada alatnya sendiri. Tangannya berdarah, tergores pinggiran baja yang tajam, tapi dia tidak peduli. Kotak hitam itu adalah segalanya. Peninggalan terakhir ayahnya yang disembunyikan di bawah reruntuhan rumah mereka yang lama.
Dengan satu sentakan terakhir, kotak itu terlepas. Ren nyaris terjungkal ke belakang. Dia tidak sempat bernapas lega karena di ujung jalanan yang hancur, ruang seakan terlipat. Sebuah entitas muncul—makhluk tanpa wajah dengan tubuh yang tampak seperti potongan kaca hitam yang melayang, membentuk siluet serigala setinggi dua meter. Scout.
"Sial, sial, sial!" Ren mendekap kotak itu di dadanya dan mulai berlari.
Langkah kakinya menghantam aspal yang retak, mengirimkan rasa nyeri ke seluruh sendinya. Di belakangnya, suara cakar yang beradu dengan logam terdengar semakin dekat. Dia bisa mencium bau ozon yang tajam, pertanda energi kosmik sang monster sedang mengisi daya untuk melompat.
Ren terpojok di sebuah gang buntu yang tertutup reruntuhan gedung pencakar langit. Dia berbalik, napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar. Makhluk itu melambat, seolah menikmati ketakutan mangsanya.
"Hanya ini? Akhir yang menyedihkan untuk pemulung sepertiku?" Ren tertawa getir. Dia menunduk menatap kotak hitam di tangannya. "Yah, kalau aku harus mati, setidaknya aku ingin tahu apa yang kau sembunyikan selama ini."
Dia menekan tombol pelepas pada kotak itu. Tutupnya terbuka dengan bunyi klik pelan, mengungkapkan sebuah benda yang terlihat seperti jam pasir kuno, namun kacanya retak dan pasir di dalamnya berwarna perak berkilau yang bergerak melawan gravitasi.
ZING.
Saat jemari Ren menyentuh relik itu, dunia seakan berhenti. Suara raungan Null Beast melambat menjadi dengungan rendah yang berat.
"Apa ini?" bisik Ren.
Tiba-tiba, jam pasir itu hancur. Bukan hancur menjadi puing, melainkan meleleh menjadi untaian cahaya cair yang merayap naik ke telapak tangannya. Ren berteriak saat rasa panas yang luar biasa membakar kulitnya. Cahaya itu memahat simbol jam pasir di tengah telapak tangan kanannya, menyatu dengan daging dan sarafnya.
Otoritas Chronos Anchor terdeteksi. Inisialisasi sinkronisasi jiwa... Gagal. Subjek tunggal ditemukan.
"Keluar dari kepalaku!" Ren menjerit sembari memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
Di depannya, Null Beast itu melompat. Cakar transparannya mengarah tepat ke leher Ren. Secara insting, Ren mengangkat tangan kanannya yang bersinar terang.
KLIK.
Waktu tidak berhenti, tapi bergerak dalam slow motion. Ren bisa melihat setiap partikel debu yang melayang di udara. Dia bisa melihat retakan pada tubuh sang monster. Tanpa berpikir panjang, dia bergeser ke samping, menghindari serangan yang seharusnya mustahil dielakkan.
Null Beast itu menghantam dinding dengan keras, tampak bingung karena mangsanya tiba-tiba menghilang dari jalur serangannya.
"Aku... aku bisa melihatnya," gumam Ren. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut. Ada aliran energi yang asing namun terasa akrab mengalir di pembuluh darahnya. "Aku tidak akan mati di sini!"
Dia mengambil sepotong besi tajam dari reruntuhan di sampingnya. Saat makhluk itu berbalik untuk menyerang lagi, Ren bergerak. Dia tidak lagi merasa seperti pemulung yang lemah. Setiap gerakannya terasa presisi, seolah-olah dia telah melakukan latihan ini ribuan kali dalam mimpi.
Besi itu menembus inti energi di dada sang Scout. Cahaya ungu meledak, dan makhluk itu hancur menjadi debu kosmik.
Ren jatuh terduduk, gemetar. "Apa yang terjadi padaku?"
Belum sempat dia mencerna kekuatannya, sebuah ledakan besar terjadi di gedung sebelah. Sesosok tubuh terpental keluar dari kepulan asap dan mendarat tidak jauh dari Ren.
Itu adalah seorang wanita. Dia mengenakan baju zirah perak yang elegan namun kini retak di berbagai sisi. Rambut pirangnya yang panjang kotor oleh debu, dan sebuah pedang besar tergeletak di sampingnya.
"Aria von Valerius?" Ren mengenali wajah itu dari siaran propaganda kota. Sang ksatria jenius, pelindung umat manusia.
Aria mencoba bangkit, tapi tangannya gemetar hebat. Yang membuat Ren ngeri adalah lengan wanita itu; sebagian kulitnya mulai terlihat seperti batu abu-abu yang dingin. Petrification. Efek samping dari penggunaan kekuatan Echo yang berlebihan.
"Jangan... mendekat," rintih Aria. Napasnya tersengal, dan uap biru keluar dari mulutnya. "Energi ini... akan menghancurkanmu..."
"Kau terluka parah!" Ren merangkak mendekat, mengabaikan peringatannya.
"Pergi! Aku akan meledak!" teriak Aria. Matanya mulai bersinar dengan cahaya biru yang tidak stabil. Gelombang panas terpancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar mereka bergetar hebat.
Ren bisa melihatnya dengan mata Anchor-nya. Energi di dalam tubuh Aria sedang mengamuk, seperti badai yang mencari jalan keluar. Jika dibiarkan, wanita itu tidak hanya akan mati, tapi juga akan meratakan seluruh blok ini.
Saran: Stabilitasi diperlukan. Gunakan resonansi untuk menyerap surplus mana.
Ren melihat tanda jam pasir di tangannya yang berdenyut selaras dengan detak jantung Aria yang kacau.
"Aku tidak tahu apa yang kulakukan," kata Ren pada dirinya sendiri. Dia menatap wajah Aria yang menahan kesakitan luar biasa. "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja."
Ren menjangkau dan menggenggam tangan Aria.
Seketika itu juga, dunia meledak dalam warna keemasan.
"Argh!" Aria memekik saat kontak fisik itu terjadi.
Ren merasa seolah-olah dia sedang mencoba menggenggam aliran listrik murni. Energi biru yang liar dari tubuh Aria mulai mengalir ke dalam dirinya melalui tanda di telapak tangannya. Rasanya perih, seperti ribuan jarum menusuk sarafnya, tapi dia tidak melepaskannya.
Perlahan, bagian tubuh Aria yang membatu mulai kembali menjadi kulit manusia yang lembut. Cahaya biru yang tidak stabil di matanya meredup, digantikan oleh ketenangan yang aneh.
Aria menatap Ren dengan sisa-sisa kesadarannya. Matanya membelalak kaget saat melihat aliran energi yang mengalir di antara mereka.
"Kau... seorang Anchor?" bisiknya tidak percaya.
Ren tidak bisa menjawab. Kepalanya terasa pening karena beban energi yang dia serap. Namun, di tengah rasa sakit itu, dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah ikatan. Dia bisa merasakan ketakutan Aria, kesepiannya, dan tekadnya yang membara.
Saat energi itu akhirnya tenang, Aria jatuh pingsan ke pelukan Ren.
Ren terengah-engah, menatap tangannya yang kini masih menyisakan sisa-sisa cahaya keemasan. Dia baru saja menyelamatkan nyawa orang paling penting di kota ini, tapi dia tahu, ini barulah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Di kejauhan, suara mesin pesawat militer mulai terdengar mendekat. Ren tahu dia harus lari, tapi kakinya tidak mau bergerak. Dia baru saja menyadari bahwa hidupnya sebagai pemulung rendahan telah berakhir selamanya.
Relik di tangannya berdenyut sekali lagi, memberikan sebuah penglihatan singkat tentang jam pasir yang berputar terbalik.
Waktu sedang menghitung mundur, Ren.
*****
Nama Pena: Spica Rigel
Genre: Fantasy, Action, Harem.
Platform: MaxNovel
Editorial:
Suara penulis dalam buku ini terasa yakin sejak baris pertama karna langsung menempatkan pembaca di dalam tekanan tanpa perlu banyak penjelasan awal.
Ada keberanian dalam cara narasi memprioritaskan pengalaman inderawi dan respons spontan karakter, sehingga dunia yang dibangun tidak terasa seperti latar yang dipaparkan, melainkan situasi yang harus dihadapi.
Gaya ini menunjukkan kontrol penulis tahu kapan harus menjelaskan, dan lebih sering memilih untuk tidak melakukannya.
Ritme kalimat disusun dengan kesadaran tempo yang kuat. Bagian-bagian intens bergerak cepat dengan potongan kalimat pendek yang efisien, lalu sesekali diperlambat untuk memberi ruang pada detail yang lebih halus bukan untuk memperindah, tetapi untuk menegaskan konsekuensi.
Perpindahan ini terasa organik, tidak dipaksakan, sehingga atmosfernya konsisten, tegang, padat, tetapi tidak melelahkan. Pembaca tidak hanya mengikuti kejadian, tetapi juga merasakan bagaimana waktu seolah menekan dari berbagai arah.
Ketegangan yang paling efektif justru muncul dari hal-hal yang tidak sepenuhnya dijelaskan. Ada lapisan informasi yang sengaja dibiarkan setengah terbuka tentang mekanisme kekuatan, tentang relasi antar karakter, tentang skala ancaman yang membuat setiap tindakan terasa memiliki bobot lebih besar.
Penulis tidak terburu-buru memberi kepastian, ia membiarkan ketidaklengkapan itu bekerja sebagai sumber tekanan psikologis. Ini pendekatan yang lebih matang dibanding sekadar memamerkan aksi.
Secara tematik, buku ini tidak berhenti pada dinamika bertahan hidup. Ada indikasi kuat tentang pergeseran identitas, tentang beban kekuatan yang datang tanpa persiapan, dan tentang relasi manusia yang dibangun di tengah kondisi ekstrem.
Penyajiannya tidak menggurui, tetapi juga tidak dangkal ia memberi cukup ruang bagi pembaca untuk menangkap implikasi tanpa harus diarahkan secara eksplisit. Kesan intelektualnya hadir dari struktur, bukan dari klaim.
Yang tertinggal setelah membaca bukanlah ledakan atau kemenangan, melainkan rasa bahwa sesuatu yang lebih besar sedang mulai bergerak.
Buku ini tidak mencoba menutup dirinya dengan kepuasan instan. Ia memilih berhenti di titik yang terasa terkendali, seolah mengatakan bahwa apa yang terlihat baru permukaan.
Bagi pembaca yang mencari narasi dengan arah yang jelas dan disiplin dalam eksekusi, pendekatan seperti ini memberi alasan yang cukup untuk melanjutkan bukan karena dipancing, tetapi karena diyakinkan.
By Peniti Kecil
