PESONA SI BURUK RUPA - Lazuardi

PESONA SI BURUK RUPA - Lazuardi


0

Bab 37: Amuk di Tengah Bara

[Bab Terkunci]

Hawa panas yang menyengat menyentak kesadaran Aksa sepenuhnya. Asap hitam pekat menggulung di langit-langit gubuk, turun perlahan seperti tirai kematian yang siap mencekik siapa pun di bawahnya. Aksa terbatuk hebat, dadanya terasa terbakar. Setiap tarikan napasnya kini bercampur dengan abu rumbia dan kayu jati yang terbakar hebat di bagian depan gubuk.

"Sial ... pintu depan ketutup api!" geram Aksa, suaranya parau.

Ia menoleh ke arah meja kayu kecil tempat ia meletakkan sisa pemberian Juragan Rusli. Rantang dan karung beras itu sudah dijilat api yang merambat cepat. Hatinya perih. Kebaikan yang baru saja ia rasakan sore tadi, kini hangus dalam waktu cepat. Namun, rasa perih itu segera berganti dengan denyutan kencang di pergelangan tangan kirinya. Gelang hitam itu berpijar redup, memancarkan hawa panas yang aneh, seolah-olah energi di dalam gelang itu sedang bereaksi dengan kobaran api di sekelilingnya.

Aksa merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh kemarahan yang mendidih. Ia tidak akan mati di sini, tidak di tangan pengecut yang bermain api di kegelapan malam.

Tanpa ragu, Aksa menerjang ke arah dinding samping yang terbuat dari bambu lapuk. Dengan satu hantaman bahu yang dibalut otot padat, dinding itu jebol seketika. Aksa berguling keluar, jatuh di atas tanah kering yang dingin, tepat saat atap rumbia gubuknya ambruk dengan suara berdentum keras.

Gubuk itu rata dengan tanah dalam sekejap. Aksa terengah-engah, wajahnya penuh oleh jelaga, namun matanya yang tajam langsung menyisir kegelapan di balik barisan pohon yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Indranya kini jauh lebih tajam, ia menangkap suara gesekan kaki di atas daun kering dan bisik-bisik yang tertahan.

"Mampus kamu, Jenglot! Rasakan itu!"

Suara itu melengking rendah, penuh kebencian.

Aksa mengenalinya, itu suara Jaka, pemuda desa yang sejak awal paling vokal menghinanya dan menjadi kaki tangan Pak Surip entah sejak kapa.

Ia bangkit berdiri, di bawah sinar bulan yang tertutup asap, siluet tubuhnya tampak mengerikan, tinggi, tegap, dan diselimuti aura kemarahan yang pekat. Ia melangkah perlahan menuju sumber suara.

"Siapa di sana?"

Suara Aksa berat dan dingin, membelah kesunyian malam yang hanya diiringi gemertak api.

Dua sosok pria keluar dari balik bayang-bayang pohon. Jaka berdiri di depan, memegang jeriken bensin yang sudah kosong, didampingi oleh satu orang suruhan Pak Surip yang tempo hari ikut mencegat Aksa di hutan. Wajah Jaka yang tadinya menyeringai puas, mendadak pucat pasi saat melihat Aksa berdiri tegak tanpa luka bakar sedikit pun.

"Lo ... gimana bisa keluar?!" Jaka terbata, langkahnya mundur teratur.

"Kamu yang bakar rumahku, Jaka?"

Aksa bertanya, langkahnya tetap tenang namun pasti. Setiap langkahnya seolah menekan mental lawan.

"I-itu perintah Pak Surip! Dia bilang desa ini harus dibersihkan dari pemuja setan kayak lo!" Jaka berteriak, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia mencabut sebilah golok dari pinggangnya. "Jangan mendekat! Atau gua tebas kepala lo itu!"

Aksa tidak berhenti, "Hanya karena tanah? Hanya karena rasa iri kalian, kalian tega membakar peninggalan nenekku?"

"Bacot! Hajar dia!" Jaka memerintah temannya.

Pria bertubuh gempal di samping Jaka menerjang maju, mengayunkan balok kayu besar ke arah kepala Aksa. Namun, di mata Aksa, gerakan itu tampak lambat. Dengan refleks yang tidak manusiawi, Aksa menangkap balok itu dengan tangan kirinya.

Bunyi benturan kayu dengan telapak tangan Aksa terdengar keras dan tajam, namun Aksa bahkan tidak bergerak. Ia mencengkeram balok itu, menariknya dengan satu sentakan kuat hingga lawan kehilangan keseimbangan, lalu melayangkan tendangan lurus tepat ke ulu hati pria itu.

BUGH!

Pria itu terpental tiga meter, menghantam batang pohon jati dan langsung pingsan dengan mulut mengeluarkan cairan kuning. Jaka gemetar hebat, golok di tangannya bergetar.

"S-setan! Lo benar-benar setan!" Pekik Jaka.

Ia mengayunkan goloknya secara membabi buta ke arah dada Aksa.

Aksa menghindar dengan gerakan efisien. Ia menangkap pergelangan tangan Jaka, memutarnya hingga bunyi patah yang terdengar memilukan. Golok itu jatuh ke tanah. Aksa tidak berhenti di sana; ia mencengkeram leher Jaka dan membenturkannya ke arah sisa dinding rumahnya yang masih membara.

"AKKH!"

"Panas, Jaka? Kamu suka api, kan?!" geram Aksa tepat di telinga Jaka. "Ini yang kamu berikan padaku malam ini!"

"Ampun, Sa! Ampun! Pak Surip yang suruh! Dia janji kasih gua duit kalau rumah lo rata!"

Jaka merintih, wajahnya memerah karena cekikan dan hawa panas api di dekatnya. Aksa menatap mata Jaka yang dipenuhi ketakutan. Di dalam kepalanya, suara dingin dari gelangnya seolah berbisik untuk menghabisi nyawa pria di depannya ini. Namun, bayangan wajah Juragan Rusli dan nasi hangat sore tadi terlintas, ia tidak boleh menjadi monster yang mereka tuduhkan.

Tidak sekarang.

Aksa melempar Jaka ke tanah dengan kasar.

"Pergi, bilang pada sama orang serakah itu, api itu nggak membakarku. Api ini justru membakar habis sisa kesabaranku. Awas kalian, aku akan membalas dendam!" Peringat Aksa mengerikan.

Jaka merangkak pergi secepat mungkin, meninggalkan temannya yang masih terkapar. Aksa berbalik, menatap gubuknya yang kini tinggal puing-puing membara. Air mata mengalir melewati pipinya yang kotor, meninggalkan jejak bersih di antara jelaga. Kenangan masa kecil, aroma masakan nenek, dan tempat tidurnya yang keras, semuanya hilang.

Tiba-tiba, warga mulai berdatangan dengan membawa ember-ember air, dipimpin oleh Pak RT dan Pak Eman. Mereka tertegun melihat pemandangan di depan mereka, gubuk yang hancur, satu preman pingsan, dan Aksa yang berdiri di tengah bara api seperti sosok malaikat maut.

"Aksa! Kamu tidak apa-apa?!" Pak Eman berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan.

Pemuda kotor itu tidak menjawab, ia hanya menatap Pak RT dengan tatapan kosong namun tajam.

"Rumah saya dibakar, Pak RT," ucap Aksa datar, namun setiap katanya sarat akan ancaman. "Jaka dan anak buah Surip pelakunya. Sekarang, apa desa ini masih mau melindungi mereka?"

"Siapa yang setan sebenarnya? Liat apa yang orang serakah itu lakukan pada rumah saya." Suaranya bergetar, siapa pun yang mendengarnya tahu kalau Aksa sangat marah.

Pak RT terdiam, ia melihat jerigen bensin yang tertinggal dan kondisi rumah Aksa yang mustahil terbakar sendiri. Warga yang tadinya hendak memaki Aksa, kini tertunduk. Ada rasa bersalah yang terselip di antara ketakutan mereka.

"Kami ... kami akan urus ini, Sa," jawab Pak RT pelan.

Aksa mendengus sinis, ia berjalan menuju puing-puing kamarnya. Di balik abu yang masih panas, ia merogoh sesuatu, kotak kayu jati yang ia temukan beberapa waktu lalu. Ajaibnya, kotak itu hanya sedikit menghitam di bagian luar, namun isinya tetap utuh. Gelang di tangannya seolah melindungi kotak itu.

Aksa menggendong kotak itu, menatap Pak Eman dan Widya yang baru saja sampai dengan wajah pucat.

"Sa, kamu mau ke mana?" Tanya Widya lirih.

"Mbak, terima kasih untuk semuanya. Tapi Aksa yang kalian kenal sudah mati terbakar di dalam sana," ucap Aksa tanpa menoleh. "Sampaikan salam saya pada Juragan Rusli. Nasi darinya adalah makanan terakhir saya sebagai orang desa ini, sungguh saya berterima kasih."

Aksa melangkah pergi menembus kegelapan malam, menuju jalan raya yang mengarah ke luar desa. Ia tidak membawa apa pun selain kotak kayu di tangan dan dendam yang membara di dada.

"Maaf Nek, Mbah, aku nggak bisa jaga rumah kalian," ucapnya lirih.

Perih rasanya, tapi ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Aksa pergi meninggalkan desa, ia yakin Pak RT akan membereskan Pak Surip. Pak RT orang yang bertanggung jawab dan adil, walau sikap dinginnya pada dirinya terlihat jelas.

*****

Nama pena: Lazuardi

Judul : Pesona Si Buruk Rupa

Genre: Urban, Supernatural, Harem

Platform: MaxNovel

Editorial:

Penulis novel berjudul Pesona Si Buruk Rupa ini membuka cerita dengan suasana tegang dan penuh aksi. Penulis berhasil menggambarkan kebakaran gubuk Aksa dengan detail yang membuat pembaca ikut merasakan panik dan kepanasan. Alih-alih hanya mengandalkan deskripsi panjang, cerita langsung bergerak cepat menuju konfrontasi antara Aksa dan pelaku pembakaran. Alur yang padat ini membuat pembaca tidak mudah bosan dan langsung tertarik untuk mengetahui kelanjutan nasib tokoh utama.

Karakter Aksa digambarkan sebagai sosok yang kuat namun tetap manusiawi. Meskipun memiliki refleks dan kekuatan yang tidak biasa, kemungkinan berasal dari gelang hitam misterius di pergelangan tangannya, ia tetap menunjukkan emosi yang wajar seperti sedih, marah, dan kecewa. Aksi pertarungannya melawan Jaka dan anak buahnya ditulis dengan jelas dan mudah dibayangkan. Pembaca bisa melihat bagaimana Aksa mengendalikan amarahnya untuk tidak membunuh, yang menunjukkan bahwa ia bukan monster seperti yang dituduhkan warga selama ini.

Konflik tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga menyentuh hubungan sosial di desa. Reaksi warga yang awalnya curiga berubah menjadi rasa bersalah setelah melihat bukti jeriken bensin dan mendengar pengakuan Jaka. Penulis pintar menyisipkan ketegangan psikologis melalui dialog Aksa dengan Pak RT dan Pak Eman. Pertanyaan sederhana seperti siapa yang sebenarnya bersalah menjadi tamparan keras bagi warga, mengingatkan pembaca bahwa kejahatan sering kali bersembunyi di balik anggapan masyarakat yang keliru.

Unsur misteri mulai menguat melalui kotak kayu jati yang selamat dari api. Fakta bahwa gelang Aksa seolah melindungi kotak ini memberi petunjuk bahwa benda tersebut memiliki hubungan erat dengan kekuatan supernatural atau masa lalu tokoh utama. Keputusan Aksa untuk meninggalkan desa dengan membawa kotak dan dendam menjadi titik balik penting. Langkah ini membuka jalan bagi petualangan baru di luar desa, sesuai dengan genre urban dan supernatural yang diusung cerita ini.

Novel ini ditulis oleh Lazuardi, seorang penulis yang aktif berkarya di platform MaxNovel. Gaya penulisan Lazuardi cenderung lugas, langsung pada inti, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Dialog-dialognya terdengar natural dan tidak bertele-tele, sementara alur ceritanya berjalan dengan ritme yang pas antara aksi, emosi, dan pengembangan misteri. Kekuatan penulis terletak pada kemampuannya menyeimbangkan elemen supranatural dengan konflik kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, novel ini menawarkan pengalaman baca yang seru dan penuh emosi. Pesan tentang pentingnya tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan gosip tersampaikan dengan baik tanpa terasa menggurui. Bagi pembaca yang menyukai kisah protagonis yang bangkit dari keterpurukan, memiliki kekuatan tersembunyi, dan siap menghadapi dunia luar, karya Lazuardi ini sangat layak diikuti. Novel dengan genre urban, supernatural, dan harem ini bisa menjadi pilihan hiburan yang menarik untuk dinikmati di MaxNovel.




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama