0
0
Bab 1: Playlist Malaikat Maut
Raya Langit Arum tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi sprei satin merahnya yang beraroma sisa alkohol dan asap rokok semalam. Ia meraba lehernya, memastikan kerongkongannya tidak benar-benar tersumbat mikrofon panas seperti dalam mimpinya yang mengerikan.
Ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Mami Elly’ berkedip di layar, menuntut perhatian. Raya menatapnya dengan ngeri, teringat sosok berjubah hitam dalam mimpinya yang memegang daftar putar lagu berjudul ‘Siksaan Ratu Room 07’.
"Halo, Mi?" jawab Raya parau.
"Arum! Lo di mana? Pak Broto sudah menunggu di Room 07! Dia sudah pesan dua botol Black Label dan nggak mau ditemani siapa pun kecuali lo buat nyanyi ‘Kandas’!" teriak Mami Elly di seberang telepon.
Raya memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aduh, Mi... gue nggak enak badan. Perut gue melilit."
"Nggak enak badan atau kurang setoran? Jangan manja! Pak Broto itu pelanggan VVIP. Cepat dandan yang menor, pakai baju merah yang belahan rendah itu. Sepuluh menit!"
"Mi, dengerin dulu. Gue mimpi mati. Gue lihat malaikat bawa iPad berisi daftar dosa-dosa gue selama kerja di tempat lo. Isinya rekaman gue lagi joget disawer bapak-bapak buncit. Gue mau tobat!"
Mami Elly tertawa sinis. "Tobat? Terus cicilan mobil dan apartemen mewah lo siapa yang bayar? Mau makan pakai doa? Lo itu 'Ratu Room 07', Arum. Mandi sana biar otak lo waras!"
Klik. Sambungan diputus sepihak. Raya menatap pantulan dirinya di cermin; maskara hitam yang luntur membentuk garis gelap di bawah matanya, membuatnya tampak seperti hantu yang kelelahan.
"Gue kenapa sih? Cuma mimpi, kan?" bisiknya ragu.
Tiba-tiba, pintu apartemennya digedor kasar. Sisil, rekan sesama pemandu lagu (LC), masuk dengan napas terengah. "Rum! Mami Elly ngamuk di bawah! Lo kenapa sih?"
"Gue dapet hidayah, Sil. Gue mimpi ditanya malaikat kenapa mau nemenin om-om genit nyanyi tiap malam. Gue nggak bisa jawab!"
Sisil tertawa kencang. "Lo kebanyakan nonton film azab! Kita kan cuma nemenin nyanyi, nggak jual diri yang gimana-gimana banget. Halal nggak halal yang penting dapur ngebul."
"Tapi kita minum alkohol dan ketawa di atas penderitaan istri-istri mereka di rumah, Sil. Gue merasa kotor," balas Raya sambil mematikan rokok Sisil di asbak. "Gue mau berhenti."
Sisil mendengus. "Oke, lo berhenti. Terus utang tiga puluh juta ke Mami Elly buat operasi hidung lo gimana? Mau jual tas bermerek lo? Harganya anjlok kalau orang tahu itu punya LC!"
Raya tertegun. Kalimat Sisil menghantam telak. Namun, ketakutan akan "playlist" malaikat maut itu jauh lebih besar. Ia segera menarik koper besar dan mulai memasukkan baju-baju kerjanya dengan kalut.
"Lo mau ke mana?" tanya Sisil panik.
"Pulang ke rumah nyokap. Gue mau minta maaf."
"Nyokap lo tahunya lo sekretaris perusahaan kontraktor, Rum! Kalau lo jujur lo itu LC, dia bisa serangan jantung!"
Langkah Raya terhenti sejenak. Tiga tahun ia hidup dalam kebohongan yang rapi. Namun, ia tetap menyeret kopernya keluar, mengabaikan teriakan Sisil. Ia berlari menuju lift dengan satu tekad: lari dari kehidupan ini secepat mungkin.
Namun, tepat saat pintu lift terbuka, Raya justru berpapasan dengan seorang pria yang baru saja akan keluar.
*****
Nama pena: Dwi Septina●Dwinda
Genre: Religi Kontemporer, Romansa Komedi, Hijrah, Komedi Satire.
Platform: KBM
Editorial :
Pembuka cerita ini sangat kuat dalam menggambarkan konflik batin seorang wanita yang terjebak dalam dunia gemerlap namun hampa. Penulis berhasil menggunakan elemen "mimpi buruk" sebagai pemicu perubahan karakter yang sangat manusiawi. Dialog antara Raya, Mami Elly, dan Sisil terasa sangat hidup, mencerminkan realita sosial mengenai jeratan utang dan gaya hidup yang sering kali menjadi penghalang seseorang untuk berubah.
Kontras antara barang-barang bermerek milik Raya dengan perasaan "kotor" yang ia rasakan memberikan kedalaman emosi pada cerita ini. Penulis tidak hanya menyajikan drama, tapi juga sentuhan satir tentang bagaimana hidayah terkadang datang dalam bentuk yang paling tak terduga.
Kisah yang penuh makna dan keberanian ini merupakan karya dari Dwinda. Penulis berbakat ini memang dikenal mahir dalam meramu genre religi kontemporer dengan latar kehidupan urban yang keras. Melalui tokoh Raya, Dwinda mengajak pembaca merenungi arti kejujuran dan kesempatan kedua.
Gaya bercerita Dwinda sangat lugas dan tidak bertele-tele, membuat pembaca langsung masuk ke dalam ketegangan yang dialami tokoh utama. Ia piawai membangun tempo cerita yang cepat namun tetap menyisakan ruang bagi pembaca untuk merasakan kegelisahan batin karakternya.
Ini menunjukkan bahwa "Playlist Malaikat Maut" bukan sekadar cerita pertobatan biasa, melainkan sebuah refleksi tentang konsekuensi dari setiap pilihan hidup. Dwinda berhasil mengemas isu berat menjadi bacaan yang sangat relatable dan menarik untuk diikuti hingga akhir.
By Nada Maya
