LA EMPERATRIZ DEL MARIACHI OSCURO - Dwinda

LA EMPERATRIZ DEL MARIACHI OSCURO - Dwinda


0

LA EMPERATRIZ DEL MARIACHI OSCURO

SERI-1: EL DESPERTAR DEL DIABLO (KEBANGKITAN IBLIS)

Bab 1: Suara di Menara Gading

"Lihat ke bawah, Alrana. Katakan padaku, apa yang kau lihat di ujung sana, tepat di depan gerbang utama gedung ini?" suara Lucyano terdengar begitu tenang, namun getarannya mengirimkan hawa dingin yang jauh lebih menusuk daripada angin malam Mexico City yang berhembus di lantai lima puluh itu.

Alrana dipaksa melangkah maju hingga tubuhnya nyaris menempel pada pagar kaca balkon yang transparan. Di ketinggian ini, lampu-lampu jalan di bawah sana terlihat seperti butiran permata yang berserakan, namun bagi Alrana, semua itu tampak seperti jurang yang siap menelan siapa pun yang goyah. Ia menggeleng pelan, tangannya yang gemetar mencengkeram besi pelindung.

"Aku tidak melihat apa-apa selain kegelapan, Señor," bisik Alrana dengan nada suara yang bergetar. Hatinya mencelos. Ia masih mengenakan gaun tradisional Oaxaca yang berwarna cerah, kain tenun buatan ibunya yang kini terasa seperti identitas yang sedang dilecehkan di atas takhta beton ini.

"Perhatikan lebih dekat. Di dekat lampu sorot kiri. Ada seorang wanita dengan mantel bulu yang terlihat kumal, bukan?" Lucyano berdiri tepat di belakangnya. Begitu dekat hingga Alrana bisa mencium aroma kayu cendana dan alkohol mahal yang menguar dari tubuh pria itu.

Alrana menyipitkan mata. Memang benar. Di bawah sana, di antara barisan penjaga bersenjata yang menjaga pintu masuk Reyes Tower, seorang wanita sedang meronta. Ia didorong, tasnya dilempar ke aspal, dan dua petugas keamanan tampak menghalaunya seolah wanita itu adalah tikus selokan yang mencoba menyelinap ke dalam pesta perak. Padahal, gaun yang ia kenakan dari jauh masih menyisakan sisa-sisa kemewahan.

"Siapa dia?" tanya Alrana, nyaris tak terdengar.

"Itu adalah Lucia Elena. Tiga bulan yang lalu, wajahnya memenuhi setiap papan iklan di Paseo de la Reforma. Seluruh negeri memuja suaranya. Dia adalah 'Gadis Emas' industri Pop Meksiko," jawab Lucyano, jari-jarinya yang panjang sekarang bermain di atas tepian pagar kaca, hanya beberapa sentimeter dari jemari Alrana yang memucat.

Alrana menoleh, matanya melebar karena terkejut. "Lucia Elena? Penyanyi yang memenangkan Grammy tahun lalu? Kenapa dia diperlakukan seperti itu?"

"Karena dia pikir dia bisa berdiri sendiri," Lucyano terkekeh, sebuah suara rendah yang kering dari emosi. "Dia pikir bakat yang ia miliki memberinya hak untuk mengaturku. Dia melanggar klausul loyalitas dalam kontraknya. Dan sekarang? Lihat sendiri. Hanya butuh satu jam bagiku untuk membatalkan semua royaltinya, menarik semua albumnya dari peredaran, dan memastikan tidak ada satu pun bar di negara ini yang mau menerimanya bahkan untuk menyanyi di hari pemakaman sekalipun."

Alrana terkesiap saat melihat salah satu petugas keamanan mendorong wanita itu hingga tersungkur ke aspal yang keras. Mobil-mobil mewah para tamu undangan melewati wanita itu begitu saja, seolah ia hanya tumpukan sampah di pinggir jalan. Hati Alrana terasa diremas. Penderitaan wanita itu terasa begitu nyata, meski dari jarak ribuan kaki di bawah mereka.

"Señor, itu terlalu kejam. Dia hanya manusia biasa," suara Alrana meninggi, keberanian nekat khas gadis pegunungan mulai muncul kembali.

Lucyano membalikkan tubuh Alrana dengan satu gerakan cepat, mencengkeram bahu gadis itu agar mereka saling berhadapan. Mata hitam pria itu tampak seperti sumur tanpa dasar yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun. Gadis ini benar-benar tidak paham di dunia mana dia berada sekarang, pikir Lucyano.

"Dengarkan aku baik-baik, Alrana Ixchel," tekan Lucyano, suaranya jatuh setingkat di atas bisikan. "Di dunia ini, bakat tanpa perlindunganku hanyalah sampah. Suaramu mungkin bisa menggetarkan surga, tapi tanpa izin dariku, suara itu tidak akan pernah terdengar melampaui puncak gunungmu yang berdebu. Tanpa namaku di belakangmu, kau hanyalah objek eksotis lainnya yang akan dilupakan setelah satu malam."

Alrana berusaha melepaskan cengkeraman Lucyano, namun kekuatan pria itu seperti rantai besi. "Anda ingin menunjukkan bahwa Anda bisa menghancurkanku dengan cara yang sama? Jika begitu, kenapa repot-repot membawaku kemari? Kenapa tidak kau biarkan saja keluargaku hancur bersama rumah mereka?"

"Karena aku menginginkan mahakarya, bukan rongsokan," Lucyano melepaskan bahu Alrana dan berjalan perlahan menuju sebuah kursi beludru di sudut balkon, meninggalkan Alrana yang masih terengah di tepi jurang. "Aku ingin menunjukkan bahwa setiap langkah yang kau ambil di sini, setiap helai kain yang menutupi tubuhmu, dan setiap napas yang kau ambil untuk mencapai nada tinggi, adalah pemberian dariku. Jika kau mengkhianatiku, jatuhmu akan jauh lebih menyakitkan daripada wanita malang di bawah sana."

Ketakutan yang belum pernah dirasakan Alrana sebelumnya kini menjalar melalui aliran darahnya. Di Oaxaca, musuh adalah badai atau tanah yang gersang. Di sini, musuh adalah seorang pria elegan dengan setelan tuksedo yang bisa menghapus eksistensi seseorang hanya dengan sekali sentuhan di layar ponselnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup dan mati keluarganya sekarang benar-benar berada di telapak tangan pria ini.

"Kenapa Anda begitu yakin saya akan mengikuti aturan gila ini?" Alrana menantang, meski lututnya terasa goyah.

Lucyano hanya tersenyum tipis, sebuah senyum predator yang sedang memuji kecantikan mangsanya sebelum taringnya menancap di leher. Ia meraih gelas anggur merah yang tergeletak di meja kecil dan meminumnya dengan gerakan yang sangat lambat.

"Sederhana saja, Querida. Karena kau menyukai perasaan ini," jawab Lucyano telak. "Kau benci melihatku, kau takut akan kekuasaanku, tapi darahmu berdesir saat kau menyadari bahwa suara yang kau miliki adalah satu-satunya hal di dunia ini yang sanggup membuatku menatapmu tanpa berpaling. Kau menginginkan kejayaan ini sebesar aku menginginkan suaramu."

"Aku ingin pulang," rintih Alrana, keberaniannya mulai luntur oleh kebenaran brutal yang diucapkan Lucyano.

"Tidak ada rumah untuk kembali, Alrana. Yang ada hanyalah panggung ini, atau aspal dingin tempat Lucia Elena merangkak sekarang. Pilih panggungmu, dan aku akan melindungimu dari segalanya. Pilih sebaliknya, dan kau akan mengharapkan maut datang lebih cepat daripada hari esok."

Lucyano berdiri dan berjalan mendekat lagi. Kali ini ia tidak menyentuh bahu Alrana, melainkan berdiri tepat di sisi gadis itu, menatap panorama kota yang seolah menjadi miliknya sendiri. Sejarah CDMX terhampar di hadapan mereka, korup dan berkilauan dalam waktu yang sama.

Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa menit, hanya suara sirene ambulans di kejauhan yang membelah udara malam. Alrana menyadari bahaya fisik yang mengancamnya bukan satu-satunya masalah; bahaya emosional, jeratan yang dipasang Lucyano melalui kontrak iblis itu, jauh lebih mencekik. Pria ini tidak hanya menginginkan suaranya untuk dijual sebagai piringan hitam, pria ini menginginkan kepasrahan totalnya.

"Berikan aku ponselmu," perintah Lucyano tiba-tiba.

"Untuk apa?"

"Lihat ini sebagai satu jam pertama pelajaran kepatuhan," Lucyano menjulurkan tangannya yang bersih. "Berikan saja."

Dengan berat hati, Alrana mengeluarkan ponsel usang dari saku gaunnya. Lucyano mengambil benda itu, menimbangnya sebentar, lalu dengan santai melemparkannya ke bawah balkon. Alrana menjerit pendek, berlari menuju pagar, namun ponsel itu sudah hilang di dalam kegelapan.

"Identitas lamamu baru saja mati bersama ponsel itu," ujar Lucyano tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Mulai jam ini, komunikasimu adalah instruksiku. Kau akan mendapatkan tim yang akan mengatur setiap kata yang kau ucapkan pada dunia."

Alrana berbalik, amarah dan keputusasaan campur aduk dalam tatapannya. "Kau tidak bisa membelengguku selamanya seperti ini."

Lucyano tidak menjawab. Ia malah melangkah maju, memperpendek jarak hingga dada bidangnya hampir menyentuh ujung gaun Alrana. Ia merunduk, mendekatkan wajahnya ke sisi leher Alrana. Hembusan napas panasnya membuat bulu kuduk gadis itu berdiri, namun bukan karena udara dingin. Alrana merasa seperti berada dalam cengkeraman binatang buas yang sangat lapar.

Lucyano berbisik dengan nada yang sensual sekaligus menghancurkan jiwa, membuat jantung Alrana berdegup liar karena kengerian yang murni. "Dengarkan aku baik-baik, Querida. Dengan pena yang baru saja kau gunakan di bawah sana, kau bukan hanya menjual suaramu padaku. Kau telah menyerahkan sisa napasmu, hakmu atas tubuhmu sendiri, dan yang paling penting..." jedanya sebentar, sementara jarinya menyentuh helaian rambut hitam Alrana yang tergerai, "...kau baru saja resmi menjual jiwamu kepadaku. Dan aku tidak pernah membagikan milikku kepada siapapun!"

___

Napen       : Dwinda

Genre        : Romansa Gelap, 18+,       Erotis, Drama.

Platform  : Buenovela

Editorial:

Buku ini menunjukkan kendali suara yang tegas sejak kalimat pertama. Penulis tidak berusaha membujuk pembaca dengan keindahan yang berlebihan, melainkan langsung menempatkan kita dalam ruang yang dingin, tinggi, dan penuh hierarki. 

Ada keyakinan dalam cara narasi bergerak tenang, terukur, dan sadar akan kekuasaan yang sedang dibicarakan. Dialog menjadi tulang punggung, bukan sekadar alat percakapan, tetapi medium dominasi. Setiap kalimat terasa memiliki tujuan, tidak ada yang benar-benar netral.

Ritme tulisan berjalan stabil dengan tekanan yang konsisten. Tidak terburu-buru, namun juga tidak memberi ruang lega. 

Penulis memahami bahwa ketegangan tidak harus dibangun lewat peristiwa besar, melainkan melalui posisi siapa yang berdiri di mana, siapa yang berbicara lebih dulu, dan siapa yang terpaksa mendengar. 

Atmosfer yang dihasilkan bukan sekadar mencekam, tetapi menekan secara perlahan, seolah pembaca diajak merasakan keterjebakan yang sama tanpa perlu dijelaskan secara eksplisit.

Yang menarik adalah bagaimana ancaman tidak pernah benar-benar diucapkan secara langsung, tetapi selalu hadir di balik pilihan kata. 

Ada banyak hal yang sengaja tidak dijabarkan secara gamblang, dan justru dari situlah ketegangan bekerja lebih dalam. 

Penulis tampaknya memahami bahwa rasa takut yang paling efektif bukan yang terlihat, melainkan yang disadari pembaca sendiri dari potongan-potongan kecil yang disusun rapi.

Secara tematik, buku ini berbicara tentang kuasa dan kepemilikan dengan pendekatan yang cukup dingin dan realistis. Tidak ada glorifikasi, juga tidak ada upaya untuk melembutkan dampaknya. 

Relasi yang dibangun terasa tidak nyaman, namun disengaja sebuah pilihan yang menunjukkan kedewasaan dalam penyajian. 

Ini bukan sekadar konflik personal, melainkan gambaran tentang bagaimana sistem bisa membentuk, menekan, dan menghapus identitas seseorang.

Kesan yang tertinggal adalah rasa terkurung yang halus namun menetap. Bukan jenis ketegangan yang meledak, melainkan yang perlahan mengendap dan sulit dilepaskan. 

Buku ini tidak menawarkan pelarian atau penghiburan, tetapi justru menghadirkan ruang yang ingin dipahami lebih jauh. Dan bagi pembaca yang mencari sesuatu yang lebih terukur, lebih sadar, dan tidak sekadar dramatis, pendekatan seperti ini terasa cukup menjanjikan untuk diikuti.

By Peniti Kecil



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama