Pesona yang Mematikan - Rahmat Ry

Pesona yang Mematikan - Rahmat Ry


0

Pesona yang Mematikan

Sinopsis:

Kirana Rinta ingin hidup mewah dan dia memilih cara tercepat dengan memanfaatkan dua pria paling berkuasa di Jakarta yang menginginkannya. 

Damar Kintara adalah direktur utama Kintara Group yang mengikatnya dengan kontrak kerja ketat dan aturan yang melarangnya mendekati pria lain. Lukas Vedos adalah penguasa dunia bawah tanah Jakarta yang awalnya ingin menggunakan Kirana untuk menghancurkan Damar dan justru jatuh hati padanya. 

Kedua pria ini saling berperang memperebutkan Kirana. Kirana yang awalnya hanya korban perebutan kini menyadari dia bisa mengendalikan keduanya untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang selama ini dia impikan.

Bab 1 Lift VIP

"Kirin, cepat sedikit! Rapat direksi dimulai sepuluh menit lagi dan kamu masih sibuk menata sendok?"

Suara Pak Rahmat menggelegar di dapur kafetaria, membuat Kirana Rinta hampir menjatuhkan cangkir porselen di tangannya. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang sudah berpacu sejak jam enam pagi tadi.

"Iya, Pak. Ini sudah siap semua. Lima americano tanpa gula, satu latte rendah lemak, dan air mineral suhu ruangan. Semuanya sesuai pesanan sekretarisnya Pak Damar," jawab Kirin sambil memastikan nampan peraknya stabil.

"Ingat ya, jangan sampai ada noda sedikit pun di nampan itu. Kalau Pak Damar komplain karena kopinya dingin atau pelayanannya lelet, bukan cuma kamu yang keluar dari gedung ini, tapi saya juga ikut terseret. Mengerti?"

Kirin mengangguk patuh. "Mengerti, Pak. Saya berangkat sekarang."

Dia melangkah keluar dari kafetaria dengan langkah cepat. Namun, terjaga. Dalam hatinya, Kirin menggerutu. Dia baru bekerja tiga bulan di Kintara Group sebagai tenaga katering kontrak, tapi tekanan di gedung ini terasa seperti sedang berada di medan perang. Semua orang memuja dan ketakutan pada satu nama, Damar Kintara.

Kirin sampai di depan lift servis. Dia menekan tombol naik berulang kali. Namun, lampu indikatornya tetap mati.

Seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel di dekat sana menoleh padanya dengan tatapan kasihan.

"Mbak, lift servisnya macet total dari tadi. Katanya ada kerusakan teknis di lantai sepuluh. Teknisi baru mau datang sepuluh menit lagi," kata petugas itu.

Kirin membelalak. "Sepuluh menit lagi? Saya harus ke lantai lima belas sekarang juga. Kalau saya terlambat, manajer saya bisa mengamuk."

"Ya mau bagaimana lagi, Mbak. Pakai tangga darurat juga tidak mungkin kan ke lantai lima belas sambil bawa nampan begitu?"

Kirin melihat jam tangannya. Delapan lewat lima belas menit. Dia tidak punya pilihan lain. Dia berbalik dan berlari menuju area lift utama, tempat yang biasanya terlarang bagi staf katering seperti dirinya. Pikirannya hanya satu, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Uang sewa apartemennya di Tebet sudah menunggak dua minggu, dan dia tidak mau tidur di emperan toko hanya karena masalah lift.

Lobi lift utama sangat ramai, tapi ada satu lift di ujung lorong yang pintunya baru saja akan tertutup. Lift VIP. Tanpa memikirkan konsekuensi panjang, Kirin menyelipkan tubuhnya masuk tepat sebelum pintu besi itu mengatup sempurna.

"Tunggu!" teriaknya pelan.

Pintu terbuka kembali karena sensor. Kirin masuk dengan napas tersengal. Aroma di dalam lift ini sangat berbeda dengan lift servis yang bau pembersih lantai. Di sini, udara terasa dingin dan wangi kayu cendana yang mahal merasuki indra penciumannya.

"Siapa yang memberimu izin menggunakan lift ini?"

Pertanyaan itu terdengar rendah, tenang. Namun, memiliki otoritas yang sanggup membuat bulu kuduk Kirin berdiri. Kirin menoleh ke arah sudut lift. Di sana, seorang pria berdiri dengan punggung tegak dan tangan masuk ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus.

Kirin menelan ludah dengan susah payah. Dia mengenali wajah itu. Rahang tegas, mata hitam yang tajam, dan aura dominan yang tidak bisa disembunyikan. Damar Kintara ada di hadapannya, hanya berjarak dua meter.

"Maaf, Pak. Lift servis sedang rusak total. Saya membawa pesanan kopi untuk rapat direksi Bapak di lantai lima belas. Saya tidak punya pilihan lain karena waktunya sudah sangat mepet," jawab Kirin seberani mungkin.

Damar memperhatikan Kirin dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tingginya yang tampak sudah lama. Matanya berhenti sejenak pada noda kopi kecil di apron Kirin.

"Jadi kamu pikir dengan melanggar aturan protokol gedung, kamu sedang melakukan hal yang benar?" tanya Damar. Dia melangkah satu langkah, mendekati Kirin.

Kirin mencoba tetap berdiri tegak, meski kakinya mulai gemetar. "Saya pikir memberikan kopi hangat tepat waktu lebih penting daripada mematuhi protokol lift saat keadaan darurat, Pak. Bukankah efisiensi adalah hal yang selalu Bapak tekankan di setiap pidato bulanan?"

Damar mengangkat sebelah alisnya. "Kamu mendengarkan pidato saya?"

"Tentu saja. Semua karyawan di sini wajib mendengarkannya lewat pengeras suara lobi, Pak," sahut Kirin jujur.

"Menarik. Kamu tahu risiko dari tindakanmu ini?"

"Tahu, Pak. Mungkin saya akan dipecat."

"Bagus kalau kamu sadar. Kopi dingin di meja rapat saya adalah sebuah penghinaan, tapi staf yang masuk ke area privasi saya tanpa izin adalah pelanggaran keamanan," kata Damar dengan nada yang sulit ditebak.

Tiba-tiba, lift berguncang hebat. Lampu di dalam lift VIP itu berkedip dua kali sebelum akhirnya padam total. Hanya ada lampu darurat berwarna kemerahan yang menyala, memberikan suasana yang mencekam sekaligus intim.

"Astaga!" Kirin memekik pelan. Nampan perak di tangannya bergoyang mengikuti guncangan lift yang berhenti mendadak.

"Tetap di tempatmu. Jangan bergerak," perintah Damar dengan suara yang tetap tenang, seolah terjebak di lift rusak adalah kejadian biasa baginya.

"Maaf, tapi kopinya, Pak! Ini mulai tumpah!" Kirin panik. Dia berusaha menyeimbangkan nampannya di tengah kegelapan yang remang. Cangkir-cangkir itu berdenting keras satu sama lain.

Guncangan kedua terjadi lebih keras. Tubuh Kirin terlempar ke depan karena dia tidak memiliki pegangan. Dia sudah membayangkan nampan itu hancur dan tubuhnya menghantam lantai lift yang keras. Namun, rasa sakit itu tidak datang.

Sepasang lengan yang sangat kuat menangkap bahunya. Kirin merasakan dada bidang yang keras menahan wajahnya. Di saat yang sama, tangan pria itu yang lain dengan gerakan sangat cepat menyangga bagian bawah nampan perak yang dibawa Kirin, mencegah semua cangkir itu terjun bebas ke lantai.

*****

Nama pena: Rahmat Ry

Genre: Romansa, 18+

Tag: CEO, Cinta Beda Usia, Perebutan Kekuasaan, Romansa Gelap, Adrenalin, Pria Dominan, Mafia.

Platform: Kutubuku 

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama