DHARMAYOGA: Napas Terakhir di Kaki Kelud - Dwinda

DHARMAYOGA: Napas Terakhir di Kaki Kelud - Dwinda


0

______________________________________

BAB 1: AROMA LILIN DI PERPUSTAKAAN SUNYI

Ayunda menarik napas panjang. Aroma cendana dan debu yang mengendap selama enam bulan di ruang baca itu terasa seperti pelukan hampa. Ia menatap tumpukan buku tebal peninggalan Dhamar, warisan intelektual yang kini menjadi beban sejarah. Enam bulan adalah waktu yang cukup untuk mengubah kesedihan menjadi rasa kebas, namun tidak cukup lama untuk menghapus jejak suaminya dari perpustakaan ini.

"Harusnya aku sudah selesai dengan semua ini," bisik Ayunda dengan suara serak.

Ia mulai membersihkan rak paling atas, tempat Dhamar menyimpan koleksi peta dan atlas kuno. Ini adalah ritualnya: menyentuh dan berharap menemukan logika di balik perpisahan yang kejam itu. Sambil mengelap sampul kulit atlas Jawa Timur yang menguning, Ayunda bergumam seolah suaminya ada di sana.

"Kamu tahu benar aku benci debu, Dhamar. Kenapa kamu tidak pernah mau memanggil petugas kebersihan?"

Tangan Ayunda terhenti pada sebuah peta Kediri kuno yang dulu dilarang keras untuk dipindahkan. Peta besar itu digambar tangan dengan tinta pudar. Di sudut kanan bawah, terdapat robekan yang tidak rapi. Ayunda merasa ada yang ganjil. Dhamar adalah seorang perfeksionis dalam merawat artefak. Ia tidak akan membiarkan dokumen bersejarah robek secara kasar.

"Aneh. Ini bukan gaya kamu," gumamnya sambil menelusuri tepi robekan tersebut.

Saat Ayunda menarik peta itu untuk diperbaiki, sebuah celah terungkap di baliknya. Ada ruang tersembunyi yang disamarkan dengan lapisan kayu tipis. Jantung Ayunda berdebar kencang. Ini bukan lagi soal debu, melainkan sebuah rahasia.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh celah itu. Jari-jarinya menyentuh benda keras dan dingin yang dibungkus kain beludru hitam. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran motif Majapahit yang sangat halus. Kotak itu tidak terkunci. Di dalamnya terdapat dua benda: sebuah surat yang digulung rapi dengan segel lilin merah, serta sebuah cincin batu akik hitam dengan guratan merah darah di tengahnya.

Ayunda terpaku. Itu adalah cincin yang selalu dikenakan Dhamar dan tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Setelah kematian Dhamar, Ayunda sempat mengira cincin itu hilang, atau mungkin hanya ilusi kesedihannya saat ia merasa melihat benda itu di laci perhiasan. Namun sekarang, cincin itu nyata ada di hadapannya.

Ia mengambil surat itu dan tertawa getir.

"Surat dilapisi lilin? Siapa yang masih menggunakan segel lilin di era modern ini, Dhamar? Ini bukan gaya surel kamu. Ini melodrama macam apa?"

Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan terburuk: pengkhianatan. Apakah ini surat pengakuan tentang wanita lain? Ia segera duduk di kursi baca milik suaminya. Aroma kulit dan cendana di sana seolah menghimpitnya.

"Jika ini tentang Laksmi, aku tidak mau tahu," ujar Ayunda lantang ke arah tumpukan buku yang menjulang.

Laksmi adalah mantan kekasih Dhamar yang selalu menjadi bayangan di sudut pernikahan mereka. Ayunda merasa marah sekaligus takut. Logikanya sebagai wanita modern menuntut transparansi, namun hatinya gentar menghadapi kebenaran. Ia menarik napas panjang untuk menguatkan diri.

"Mari kita hadapi ini. Aku sudah melewati pemakaman dan terapi duka. Apalagi yang bisa kamu ambil dariku?"

Ayunda mematahkan segel lilin merah tersebut. Suara patahannya terdengar seperti retaknya pondasi hidupnya. Ia membuka gulungan perkamen itu dan mengenali tulisan tangan Dhamar yang elegan.

Ayunda, jika kamu membaca ini, berarti aku telah gagal dalam hal yang paling penting.

Ayunda menahan napas. Gagal dalam hal apa? Ia berharap ini bukan soal masalah keuangan atau pinjaman tersembunyi. Namun, saat membaca baris demi baris, ia menemukan kata-kata yang asing. Dhamar menulis tentang kewajiban, garis keturunan Dharmayoga, dan pusaka yang harus dijaga.

"Dharmayoga? Apa ini nama klub barumu?" tanya Ayunda pada keheningan.

Dalam surat itu, Dhamar menjelaskan bahwa ia bukan sekadar arkeolog. Ia adalah Penjaga Cincin, keturunan kuncen yang bersumpah melindungi situs kuno Kediri dari ancaman modernisasi dan kekuatan lama. Ayunda menggelengkan kepala, menganggap ini mungkin hanya draf novel fiksi yang sedang ditulis suaminya. Namun, nada tulisan itu terlalu mendesak.

Dhamar menulis tentang organisasi rahasia di Kediri dan menyebut nama Wibowo, rekan kerjanya. Wibowo dianggap berkolusi dengan konsorsium properti yang ingin menghancurkan situs Surowono demi kepentingan politik dan bisnis. Ayunda merasa pusing. Suaminya yang canggung ternyata menyimpan intrik sebesar ini.

"Ini rahasia besarmu? Bukan perselingkuhan, tapi sekte rahasia?" Ayunda merasa antara lega dan gila.

Dhamar menjelaskan bahwa ia tidak punya waktu untuk mengumpulkan Dewan Kuno yang dipimpin oleh Simbah Joyo di Tegowangi. Ia terpaksa mengambil keputusan terlarang untuk menstabilkan energi dari Gunung Kelud melalui ritual di Candi Surowono.

"Cincin itu memiliki kekuatan untuk menstabilkan energi yang telah lama tertahan. Surowono adalah segel, Ayunda. Jika segel itu rusak, Kelud akan melepaskan murka yang luar biasa. Aku mencoba melakukannya sendirian. Itu adalah ritual yang menuntut harga yang sangat mahal," tulis Dhamar dalam suratnya.

Air mata Ayunda mulai mengalir. Selama ini ia percaya suaminya tewas karena kecelakaan tunggal di lereng Kelud saat bertugas. Ia menutup mata, mencoba mengusir bayangan kematian suaminya. Namun, bagian akhir surat itu menghancurkan semua keraguannya.

Aku minta maaf tidak bisa memberitahumu. Tapi sekarang, kamu harus mengambil alih. Kamu adalah satu-satunya yang tahu rahasia ini. Ambillah cincin itu. Pergilah ke Kediri dan temui Simbah Joyo di Tegowangi.

Ayunda merasakan sesak yang luar biasa di dadanya saat membaca kalimat penutup.

Kematianku bukanlah kecelakaan, Sayang. Ini adalah pengorbanan yang harus kulakukan untuk menjaga Candi Surowono, segel yang menahan murka.

________

Napen : Dwinda

Judul : D H A R M A Y O G A

Genre : Misteri, Urban Fantasi, Saga Mistis

Platform : NOVEA


Editorial:

Membaca baris-baris awal dalam naskah ini seperti memasuki sebuah ruang yang pengap namun akrab. Penulis Dwinda memiliki ketelitian yang menarik dalam menangkap sisa-sisa kehadiran seseorang yang telah tiada melalui aroma cendana dan debu yang mengendap. Ada semacam rasa hormat yang sunyi saat tokoh Ayunda berinteraksi dengan benda-benda peninggalan suaminya. Detail sensorik seperti tekstur kain beludru yang kasar atau dinginnya batu akik hitam tidak sekadar menjadi pelengkap latar, melainkan jembatan emosional yang menghubungkan duka personal dengan misteri yang lebih besar.

Ritme narasinya mengalir dengan tenang, memberikan ruang bagi pembaca untuk bernapas di sela-sela tumpukan buku dan atlas kuno. Ketegangan yang dibangun tidak muncul dari ledakan dramatis, melainkan dari hal-hal kecil yang terasa ganjil, seperti sebuah robekan tidak rapi pada peta yang seharusnya dirawat dengan presisi klinis. Dwinda tampak sangat memahami bahwa bagi orang dewasa, ancaman yang paling menggetarkan sering kali datang dari pergeseran detail dalam keseharian yang kita anggap mapan. Perubahan suasana dari sekadar ritual membersihkan debu menjadi penemuan ruang rahasia dilakukan dengan transisi yang halus dan terjaga.

Dialog dalam naskah ini terasa organik, berfungsi sebagai jangkar realitas di tengah elemen urban fantasi yang mulai merayap masuk. Celetukan Ayunda tentang segel lilin di era 5G atau dugaannya mengenai pinjaman online menunjukkan sisi pragmatis seorang wanita modern yang mencoba merasionalisasi situasi yang tidak masuk akal. Fungsi emosional dialog ini sangat krusial karena ia membenturkan logika masa kini dengan beban tradisi kuno yang tiba-tiba hadir di depan mata. Interaksi satu arah antara Ayunda dan bayangan suaminya di perpustakaan itu memperlihatkan dinamika hubungan yang kompleks, penuh kasih sekaligus menyimpan lapisan rahasia yang dalam.

Tema yang diangkat membawa kedewasaan tersendiri, di mana sebuah kehilangan tidak hanya menyisakan ruang kosong, tetapi juga tanggung jawab yang tidak pernah diminta. Dwinda berhasil mengemas genre misteri dan saga mistis ini tanpa harus terjebak dalam klenik yang berlebihan. Fokus pada konflik kepentingan antara pelestarian tradisi dan modernisasi serakah melalui sosok Wibowo memberikan bobot sosial yang relevan. Meskipun beberapa istilah teknis mengenai ritual terasa sedikit ekspositoris dalam surat tersebut, hal itu terbayar dengan cara penulis menggambarkan keguncangan batin Ayunda saat menyadari bahwa suaminya bukan sekadar arkeolog biasa.

Secara keseluruhan, Dharmayoga yang hadir di platform Novea ini merupakan sebuah tawaran literasi yang matang bagi penyuka prosa yang mengutamakan suasana. Dwinda menunjukkan kemampuannya dalam menjahit elemen mistis ke dalam keseharian dengan jahitan yang rapi. Pilihan diksinya yang elegan namun tetap membumi membuat cerita ini terasa seperti sebuah refleksi tentang warisan dan pengorbanan. Penulis berhasil membuktikan bahwa dalam genre urban fantasi sekalipun, kekuatan karakter dan ketajaman observasi terhadap detail kecil adalah kunci utama untuk memikat pembaca yang mencari kedalaman makna.

By Caberawit



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama