D H A R M A Y O G A
BAB 1
AROMA LILIN DI PERPUSTAKAAN SUNYI
Ayunda menarik napas dalam, aroma kayu cendana dan debu berusia enam bulan yang masih melekat di udara dingin ruang baca itu seperti pelukan hampa yang mencekik. Ia menatap tumpukan buku-buku tebal yang Dhamar tinggalkan, warisan intelektual yang kini terasa bagai beban sejarah. Enam bulan. Sebuah periode yang cukup panjang untuk mengubah kesedihan menjadi kebas, namun tidak cukup lama untuk menguapkan jejak suaminya dari perpustakaan ini.
“Harusnya aku sudah selesai dengan semua ini,” bisik Ayunda pada dirinya sendiri, suaranya serak karena lama tak terpakai. Ia membersihkan rak paling atas, tempat Dhamar menyimpan koleksi peta dan atlas kuno. Ini adalah ritualnya: membersihkan, menyentuh, dan berharap menemukan logika di balik kepergian yang kejam itu.
“Kamu tahu benar aku benci debu, Dhamar. Kenapa kamu tidak pernah mau memanggil petugas kebersihan?” Ayunda mengelap sampul kulit atlas Jawa Timur yang menguning. Tangan Ayunda berhenti tepat di sebuah peta Kediri kuno yang ia ingat Dhamar selalu larang untuk dipindahkan. Peta itu besar, digambar tangan dengan tinta yang pudar, dan anehnya, di sudut kanan bawahnya terdapat robekan yang tidak rapi.
“Aneh,” gumamnya, jari-jarinya menelusuri tepi robekan itu. Dhamar adalah seorang perfeksionis klinis dalam hal artefak dan dokumen. Ia tidak akan pernah membiarkan peta bersejarahnya robek, apalagi dengan cara yang kasar, “Ini bukan kamu!”
Ayunda menarik peta itu, berniat untuk menempelnya dengan pita khusus. Saat ia melakukannya, sebuah celah terungkap dibalik peta tersebut; sebuah ruang tersembunyi yang disamarkan dengan lapisan kayu tipis yang di-cat sesuai warna dinding.
Jantung Ayunda mulai berdebar tak menentu. Ini bukan lagi tentang membersihkan debu. Ini adalah rahasia.
Tangannya gemetar saat merogoh celah itu. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin, dibungkus kain beludru hitam yang terasa kasar. Ayunda menariknya keluar. Itu adalah sebuah kotak kayu kecil, berukirkan motif Majapahit yang sangat halus. Kotak itu tidak dikunci, hanya diselipkan rapat.
Di dalamnya, terdapat dua benda.
Yang pertama adalah sebuah surat, digulung rapi, dan disegel dengan lilin merah tua yang telah mengering.
Yang kedua adalah cincin. Batu akik besar, berwarna hitam pekat dengan guratan merah darah di tengahnya. Cincin yang Dhamar selalu kenakan, dan yang ia larang Ayunda sentuh, bahkan saat ia memintanya menjauhkan benda-benda pribadinya sebelum perjalanan terakhirnya ke Kediri. Cincin yang, setelah Dhamar tewas, entah bagaimana kembali ke laci perhiasan Ayunda tanpa ia sadari. Ia telah mengira itu adalah ilusi dari kesedihannya, tetapi kini, ia melihatnya tersemat di tempat rahasia ini, seolah Dhamar ingin memastikan ia menemukannya.
Ayunda mengambil surat itu, mengabaikan cincin yang memancarkan aura dingin di telapak tangannya.
“Surat. Dilapisi lilin?” Ayunda tertawa getir, tawa yang terdengar asing di ruangan sunyi itu, “Siapa yang masih menggunakan segel lilin di era 5G ini, Dhamar? Ini bukan gaya surel mu. Ini... melodrama macam apa?”
Pikirannya langsung melayang ke skenario terburuk, ke lubang hitam yang ia coba hindari selama enam bulan: pengkhianatan.
Apakah ini surat pengakuan?
Ayunda berjalan ke kursi baca kulit Dhamar, menjatuhkan dirinya di sana. Aroma kulit dan cendana beradu. Ia menatap segel lilin itu, merasakan panas amarah dan dinginnya ketakutan.
“Jika ini tentang Laksmi, aku tidak mau tahu,” Ayunda berkata keras, seolah Dhamar ada di sana, di antara tumpukan buku sejarah yang menjulang tinggi. Laksmi. Mantan kekasih Dhamar, seorang wanita misterius yang selalu menjadi bayangan di sudut perkawinan mereka.
“Jika kamu meninggalkan surat cinta perpisahan untukku, kenapa kamu harus menyegelnya seperti dokumen negara? Kenapa kamu harus menyembunyikannya? Kamu pengecut, Dhamar.”
Ayunda meletakkan surat itu di meja kayu, tangannya gemetar. Logika Ayunda, logika seorang wanita modern yang terbiasa dengan transparansi, menuntut agar ia merobek segel itu sekarang juga. Tetapi ada bagian dari dirinya yang takut akan kebenaran. Kebenaran apapun itu, pasti akan lebih menyakitkan daripada keheningan yang ia nikmati selama ini.
“Mari kita hadapi ini,” ia menarik napas, “Aku sudah melewati pemakaman, pembagian harta, dan ratusan jam terapi duka. Apalagi yang bisa kamu ambil dariku?”
Dengan tekad yang tiba-tiba muncul, Ayunda mengambil surat itu kembali. Ia mematahkan segel lilin merah yang rapuh. Suara krek kecil itu terasa seperti suara retaknya pondasi hidupnya.
Ia membuka gulungan kertas perkamen tipis itu. Tulisan tangan Dhamar yang rapi dan elegan menyambutnya.
Ayunda, jika kamu membaca ini, berarti aku telah gagal dalam hal yang paling penting.
Ayunda menahan napas. Gagal? Gagal dalam apa?
Internal Monologue: “Tolong jangan bilang ini tentang uang. Tolong jangan bilang kamu terlibat pinjaman online atau semacamnya!”
Ia memaksa matanya membaca baris demi baris, matanya menyapu kata-kata yang terasa asing, seperti bahasa yang hanya dipahami oleh suaminya.
Dhamar menulis tentang 'kewajiban', tentang 'garis keturunan Dharmayoga', tentang 'pusaka yang harus dijaga'. Ayunda mengerutkan kening.
“Dharmayoga? Apa ini, nama klub arung jeram barumu, Dhamar?”
Dhamar, dalam surat itu, menjelaskan bahwa ia bukanlah sekadar arkeolog. Ia adalah Penjaga Cincin, keturunan Kuncen yang telah bersumpah untuk melindungi situs-situs kuno Kediri dari ancaman yang ia sebut ‘Modernisasi Serakah’ dan ‘Murka Kuno’.
Ayunda menggeleng, “Kamu pasti bercanda. Ini novel fiksi yang kamu tulis, kan? Kamu selalu bermimpi menjadi penulis!”
Namun, nada dalam surat itu terlalu serius, terlalu mendesak untuk menjadi fiksi. Dhamar menulis tentang sebuah organisasi rahasia yang mengakar di Kediri, yang berjuang di balik layar politik dan proyek properti.
“Aku tahu ini terdengar gila, Ayunda. Tapi cincin yang kamu temukan; cincin yang selalu aku kenakan… adalah kunci, alat, dan beban. Aku menyembunyikannya di sana, di tempat yang aku tahu kamu akan bersihkan, karena aku tidak ingin cincin itu jatuh ke tangan Wibowo!”
Nama Wibowo muncul. Wibowo, rekan Dhamar di asosiasi arkeolog, yang selalu Ayunda anggap terlalu ambisius dan memiliki pandangan yang terlalu tradisionalis tentang pelestarian.
“Wibowo percaya pada tradisi yang kaku. Ia akan menjual pusaka ini, atau menggunakannya untuk kepentingan politik sekte. Ia berkolusi dengan Konsorsium Properti yang akan menghancurkan Surowono!”
Ayunda merasa pusing. Konsorsium Properti? Candi Surowono? Semua ini terasa seperti intrik yang terlalu besar untuk Dhamar, suaminya yang sederhana dan canggung dalam hal sosial.
Internal Monologue: “Ini adalah rahasia terbesar yang kamu sembunyikan? Bukan perselingkuhan, tapi sekte rahasia yang melindungi candi? Aku tidak tahu harus merasa lega atau gila!”
Ia membaca bagian yang membuatnya terhenti, bagian yang menjelaskan enam bulan keheningan dan kepergiannya.
Dhamar menjelaskan bahwa ia tahu Konsorsium akan bergerak cepat. Ia tidak punya waktu untuk mengumpulkan Dewan Kuno Dharmayoga, yang dipimpin oleh Simbah Joyo, kuncen Tegowangi yang keras kepala.
“Aku mengambil keputusan yang terlarang, Ayunda. Aku tahu Wibowo akan segera mendapatkan izin untuk menghancurkan segel alam di Surowono. Aku harus bertindak,”
Ayunda menekan bibirnya, air mata yang selama ini ia tahan mulai menggenang. Keputusan terlarang apa?
“Cincin itu memiliki kekuatan untuk menstabilkan energi yang telah lama tertahan. Energi dari Kelud. Surowono adalah segel, Ayunda, dan jika segel itu rusak, Kelud akan melepaskan murka yang jauh melampaui erupsi biasa. Aku mencoba menstabilkannya, sendirian. Itu adalah ritual yang terlarang, yang menuntut harga yang sangat mahal!”
Ayunda sudah bisa menebak ke mana arah surat ini. Selama ini, ia percaya Dhamar tewas karena kecelakaan tunggal saat melakukan survei lapangan yang berbahaya. Media memberitakan ia jatuh ke jurang di lereng Kelud.
Ia menutup mata, mencoba mengusir gambar Dhamar, sosoknya yang penuh debu dan keringat, selalu mencintai pekerjaannya lebih dari segalanya.
“Aku minta maaf. Aku tidak bisa memberitahumu. Aku harus memastikan kamu aman dan jauh dari ini. Tapi kini, kamu harus mengambil alih. Kamu adalah satu-satunya yang tersisa yang tahu rahasia ini. Ambillah cincin itu. Pergilah ke Kediri. Temui Simbah Joyo di Tegowangi!”
Ayunda menghela napas, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ia kembali ke baris terakhir surat itu, baris yang mengakhiri semua keraguan, semua harapan palsu, dan semua skenario pengkhianatan emosional. Baris yang mengubahnya dari seorang janda pasif menjadi pewaris beban takdir kuno.
“Kematianku bukanlah kecelakaan, Sayang. Ini adalah pengorbanan yang harus kulakukan, bukan untuk diriku, tetapi untuk menjaga Candi Surowono, segel yang menahan murka…
________
Napen : Dwinda
Judul : D H A R M A Y O G A
Genre : Misteri, Urban Fantasi, Saga Mistis
Platform : NOVEA
Editorial:
--
