Restu yang Dirampas - Velqiane

Restu yang Dirampas - Velqiane


0

Restu yang Dirampas

Bab 1

“Aku tidak datang untuk bertahan,” kata Casie pelan. “Aku datang untuk mengakhiri”

Hujan turun tiba-tiba sore itu, tanpa tanda, tanpa aba-aba.

Manggala berdiri terpaku, tahu bahwa kalimat itu tidak bisa ditarik kembali.

Langit kelabu, sama seperti pikirannya. Percakapan di kafe terus berulang di kepalanya kata-kata Cassie yang tenang, keputusan yang belum ia ucapkan tapi sudah ia terima dalam diam.

Ponselnya tergeletak di atas meja. Nama Cassie masih berada di barisan teratas. Ia belum mengirim apa pun sejak pagi. Ia tidak tahu bagaimana menulis perpisahan tanpa terdengar seperti pengecut.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” kata Manggala.

Bhava berdiri di ambang pintu. Jasnya rapi, seolah hari ini hanyalah hari kerja biasa. Ia masuk tanpa menunggu undangan, menutup pintu di belakangnya.

“Kau sudah membuat keputusan,” ujar Bhava. Bukan pertanyaan.

Manggala tidak menoleh. “Aku belum mengatakannya.”

“Tidak perlu,” kata ayahnya. “Aku bisa membaca sikap.”

Manggala tersenyum pahit. “Sejak kapan?”

“Sejak kau berhenti melawan,” jawab Bhava. “Itu tanda yang jelas.”

Manggala akhirnya menoleh. “Ayah puas?”

Bhava menatapnya singkat. “Ini yang terbaik.”

“Untuk siapa?” Manggala bertanya.

“Untukmu,” kata ayahnya. “Dan keluarga ini.”

Manggala tertawa pendek. “Ayah selalu menyebut keluarga, tapi aku tidak pernah merasa ditanya.”

Bhava mendekat satu langkah. “Kau akan berterima kasih suatu hari nanti.”

Manggala tidak menjawab. Ia meraih ponselnya, menggenggamnya erat. Jemarinya gemetar.

“Aku akan menyelesaikannya,” kata Manggala pelan.

Bhava mengangguk. “Pastikan bersih. Jangan beri harapan.”

Pintu tertutup kembali. Ren Shen sendirian.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang menyala. Ia mengetik pesan panjang, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Tidak ada kalimat yang terasa cukup jujur tanpa membuka seluruh luka.

Akhirnya, ia mengetik sederhana.

Kita perlu bicara. Malam ini.

Balasan datang cepat.

Baik. Di mana?

— Cassie

Di taman kecil dekat apartemenmu.

Taman itu sepi. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya redup di jalan setapak yang basah oleh hujan. Ren Shen datang lebih dulu. Ia berdiri di bawah pohon besar, menunggu dengan dada yang terasa kosong.

Cassie datang beberapa menit kemudian, membawa payung hitam. Gaunnya sederhana. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah bersiap menerima kabar buruk.

“Kau ingin bicara apa?” tanyanya.

Manggala membuka mulut. Tidak ada suara. Ia menunduk, menarik napas panjang.

“Aku tidak bisa,” katanya akhirnya.

Cassie tidak langsung menjawab. Ia menatap Manggala, menunggu kelanjutannya.

“Aku tidak bisa melawan ayahku,” lanjut Manggala. “Aku tidak cukup kuat.”

Kejujuran itu terasa kejam, tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi.

Cassie mengangguk pelan. “Jadi ini keputusanmu.”

“Ini… kenyataanku,” Manggala membetulkan.

Hening turun di antara mereka. Hujan kembali turun rintik-rintik, membasahi tanah di sekitar kaki mereka.

“Aku tidak akan memintamu berubah,” kata Cassie akhirnya. “Dan aku tidak akan memaksamu memilih.”

Manggala mengangkat kepala. Matanya merah. “Maaf.”

Cassie tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Ia melangkah mendekat. Untuk sesaat, Manggala berharap Cassie akan marah, akan menangis, akan berteriak apa pun yang membuat perpisahan ini terasa nyata. Tapi Cassie hanya berdiri di depannya, tenang.

“Jaga dirimu,” kata Cassie. “Dan jangan benci dirimu sendiri karena ini.”

“Aku akan,” bisik Manggala. Ia tahu itu bohong.

Cassie berbalik. Langkahnya mantap, tanpa ragu. Setiap langkah menjauh seperti mencabut sesuatu dari dada Ren Shen.

“Cassie,” panggil Ren Shen.

Cassie berhenti, menoleh.

“Aku mencintaimu.”

Cassie tersenyum, kali ini lebih lembut. “Aku tahu. Itu sebabnya aku pergi.”

Ia berjalan pergi, payungnya menghilang di balik cahaya lampu taman. Manggala berdiri sendirian, hujan membasahi rambut dan pakaiannya. Ia tidak bergerak. Ia merasa pantas merasakan dingin itu.

Malam itu, Manggala pulang ke rumah yang besar dan sunyi. Di meja makan, lampu masih menyala. Ren Yaojun duduk sendirian, membaca koran.

“Sudah?” tanya ayahnya tanpa menoleh.

Manggala mengangguk.

Bhava melipat koran. “Bagus.”

Satu kata itu terasa seperti palu terakhir.

Manggala naik ke kamar, menutup pintu, lalu menjatuhkan diri ke lantai. Tangisnya pecah tanpa suara. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang perlu.

Di luar, hujan terus turun, membersihkan jalanan. Tapi di dalam diri Manggala, sesuatu telah ditinggalkan dan luka itu tidak akan hilang hanya karena sebuah keputusan yang disebut keluarga.

Di dalam kamar yang terkunci, Manggala menangis tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ia sadar ia tidak kehilangan Casie.

Ia kehilangan dirinya sendiri.

*****

Nama pena : Velqiane 

Genre : Romance, 18+

Platform: Dreame

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama