Restu yang Dirampas - Velqiane

Restu yang Dirampas - Velqiane


0

Bab 1

Kaca di depan sana hanya memantulkan bayangan yang asing. Pria itu menatap pantulannya sendiri tanpa bisa mengenali siapa yang sebenarnya sedang berdiri di balik permukaan dingin itu. Matanya kosong. Sorot pandangan yang dulu tajam kini berubah menjadi kabur, seolah tertutup lapisan debu yang tak kunjung dibersihkan. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi yang terasa datar dan kaku. Bukan kehangatan yang ia rasakan, melainkan jarak yang semakin lebar antara jiwa dan raga. Semua ingatan tentang siapa dirinya dulu mulai retak, terkikis oleh waktu dan pilihan yang dipaksakan oleh keadaan.

Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki ringan terdengar menghampiri dari belakang. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, membawa secangkir teh yang masih mengepul. Aroma melati perlahan menyebar, namun tidak mampu menembus kehampaan yang menyelimuti ruangan.

Sudah pagi. Kau belum tidur sama sekali sejak kemarin malam, ucap wanita itu lembut sambil meletakkan cangkir di atas meja rias. Suara itu familiar, namun terdengar seperti gema dari tempat yang jauh. Pria itu tidak menoleh. Bahunya hanya sedikit merosot, seolah beban yang tak terlihat semakin menekan tulang belakangnya.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa utuh, jawabnya lirih. Kata-kata itu keluar dengan suara serak, hampir tak terdengar di antara heningnya pagi. Wanita itu menghela napas, menarik kursi kayu untuk duduk di sampingnya. Matanya memperhatikan garis wajah yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

Kau terlalu banyak menanggung harapan orang lain. Ingat, kau bukan hanya apa yang mereka butuhkan. Kau adalah dirimu sendiri sebelum semua ini dimulai. Wanita itu menyentuh lengan pria itu dengan lembut. Sentuhan itu seharusnya menenangkan, namun justru memicu gelombang kegelisahan yang lebih dalam. Pria itu menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme yang berantakan di dalam dadanya.

Diriku sendiri yang mana, Bu. Ia menatap tangan yang saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jari-jarinya tampak asing, seolah milik orang lain yang meminjam tubuh ini untuk sementara waktu. Aku sudah lupa apa yang dulu membuatku tertawa. Aku lupa apa yang dulu membuatku marah. Aku hanya tahu cara mengangguk, tersenyum sopan, dan menuruti apa yang dianggap benar oleh semua orang. Sekarang, ketika aku berdiri sendiri di depan kaca, aku hanya melihat bayangan yang patuh. Tidak lebih, tidak kurang.

Wanita itu terdiam sejenak. Ia mengerti bahwa kehilangan diri bukan soal amnesia medis, melainkan proses perlahan yang terjadi ketika seseorang terus-menerus mengorbankan keinginannya demi menjaga kedamaian orang lain. Ia berdiri, meraih jaket yang tergantung di kursi, dan meletakkannya di bahu pria itu.

Kalau kau belum tahu siapa dirimu saat ini, berhentilah sejenak. Jangan langsung kembali ke rutinitas yang menguras tenagamu. Pergilah ke tempat di mana kau dulu merasa bebas. Mungkin jawaban itu tidak akan datang dalam satu malam, tapi setidaknya kau akan mulai mencari lagi.

Pria itu mengangguk pelan. Ia tidak berjanji apa pun, karena janji terasa terlalu berat untuk diucapkan saat ia masih tersesat di dalam pikirannya sendiri. Ia berdiri, melangkah keluar dari kamar, dan menuruni tangga dengan langkah yang ragu. Udara pagi menyapa kulitnya, membawa serta suara burung yang berkicau di halaman. Ia berhenti sejenak di teras, menutup mata, dan membiarkan angin menerpa wajah.

Di kejauhan, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang tetangga menyapa dengan ramah, menanyakan kabar dan rencana hari ini. Pria itu membuka mata, membalas sapaan itu dengan senyuman tipis yang sudah terbiasa ia kenakan sebagai topeng. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di balik senyum tersebut. Sebuah pertanyaan kecil yang mulai tumbuh di dalam hati.

Siapa aku sebenarnya ketika tidak ada yang menonton, bisiknya dalam hati. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban segera. Cukup menjadi penanda bahwa perjalanan untuk menemukan kembali diri yang hilang telah resmi dimulai. Ia tidak lagi berlari menghindari kehampaan. Ia mulai berjalan pelan, satu langkah demi satu langkah, menuju tempat di mana ia mungkin bisa bertemu dengan dirinya sendiri lagi.

*****

Nama pena : Velqiane 

Genre : Romance, 18+

Platform: Dreame

Editorial:

Cerita ini langsung membawa pembaca masuk ke dalam pergulatan batin tokoh utamanya. Pria yang berdiri di depan kaca merasa asing dengan dirinya sendiri, seolah kehilangan jati diri setelah lama memaksakan diri untuk memenuhi harapan orang lain. Penulis berhasil menggambarkan rasa hampa dan kebingungan itu dengan cara yang sangat mudah dipahami. Banyak pembaca pasti pernah merasakan tekanan untuk menjadi orang lain demi menyenangkan lingkungan sekitar, dan penggambaran ini membuat cerita langsung terasa dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari.

Gaya penulisan yang digunakan sangat sederhana namun penuh makna. Tidak ada kata-kata yang berbelit atau terlalu puitis, justru kalimatnya mengalir tenang dan fokus pada perasaan tokoh. Deskripsi tentang teh yang masih mengepul, suara langkah kaki yang pelan, hingga udara pagi yang menyentuh wajah, semuanya berfungsi untuk membangun suasana yang mendalam dan introspektif. Pembaca diajak untuk ikut merasakan keheningan ruangan dan detak hati tokoh utama yang sedang berusaha mencari kembali keseimbangan hidupnya.

Interaksi antara tokoh pria dan wanita paruh baya menjadi titik terang dalam cuplikan ini. Dialog yang terjadi tidak panjang lebar, namun setiap ucapannya mengandung nasihat yang menenangkan dan realistis. Wanita tersebut tidak memaksakan solusi instan, melainkan menyarankan agar pria itu berhenti sejenak dan mengingat kembali tempat di mana ia dulu merasa bebas. Percakapan ini menunjukkan dinamika hubungan yang sehat dan penuh empati, yang kemungkinan besar akan menjadi fondasi penting dalam perkembangan alur romansa selanjutnya.

Meskipun bergenre romance dan 18+, cuplikan ini tidak langsung menampilkan adegan dewasa, melainkan fokus pada pembangunan karakter dan konflik emosional terlebih dahulu. Pendekatan ini justru membuat cerita terasa lebih matang dan berbobot. Pembaca diajak memahami alasan di balik kehampaan tokoh utama sebelum nantinya ia menemukan hubungan yang bisa memulihkan dirinya. Langkah ini sangat cocok untuk platform Dreame yang biasa menyajikan kisah dengan alur emosional yang kuat dan perkembangan karakter yang bertahap.

Novel ini ditulis oleh Velqiane, seorang penulis yang dikenal mampu menyelipkan kedalaman psikologis ke dalam kisah cinta yang umumnya mengutamakan ketegangan romansa. Melalui karya berjudul Restu yang Dirampas, Velqiane menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai narasi yang fokus pada penyembuhan diri dan pencarian identitas. Gaya bertuturnya yang kalem namun tajam membuat setiap kalimat terasa berbobot tanpa terasa menggurui. Penulis tampak memahami bahwa cerita romansa yang baik tidak hanya soal ketertarikan fisik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa belajar mencintai dirinya sendiri sebelum menyambut orang lain.

Secara keseluruhan, cerita ini menawarkan awal yang kuat dan penuh janji untuk sebuah kisah romansa dewasa. Bahasa yang mudah dipahami, konflik batin yang realistis, serta pesan tentang pentingnya tidak kehilangan diri sendiri di tengah tekanan sosial, membuat cerita ini layak diikuti. Bagi pembaca yang menyukai novel dengan alur emosional yang dalam, karakter yang bertumbuh secara perlahan, dan sentuhan romansa yang tidak terburu-buru, Restu yang Dirampas karya Velqiane di platform Dreame adalah pilihan yang sangat tepat untuk dinikmati.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama