Dibalik Wajah Kemewahan
Setelah kematian ibunya yang diselimuti rahasia korporasi, Selar Ayenest kembali ke GreenDolt, kota yang pernah membesarkan sekaligus mengasingkannya. Kepulangan itu menyeretnya ke pusat dinasti LuxChain Haute Group, tempat kekuasaan dipertahankan melalui manipulasi, bukan semata garis darah.
Di tengah perang investor, konflik saudara tiri, dan permainan citra publik, Selar bertekad mengungkap kebenaran kematian sang ibu serta merebut kembali hak warisnya. Aliansinya dengan Yendra Basura, konsultan keamanan bermasa lalu kelam, mengaburkan batas antara perlindungan dan ketergantungan.
Di dunia LuxChain, kebenaran bukan penyelamat. Ia hanya menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang harus tumbang, sementara satu langkah salah dapat menghancurkan segalanya tanpa ampun.
---
{Preview 5 bab}
BAB 1 – KEMBALINYA SELAR
Selar Ayenest turun dari taksi hitam tepat di depan gerbang besi berlapis emas yang tak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Angin sore menerbangkan ujung mantel wol kremnya, membawa aroma hujan yang hampir tiba bersama kepahitan asap kendaraan di Greenway Boulevard. Ia berdiri sejenak, membiarkan pandangannya menyapu fasad mansion neo-klasik yang menjulang di balik pagar. Lima tahun ia menghindar dari tempat ini. Dari orang-orang yang memanggil namanya dengan kasih sayang palsu.
Namun ibunya sudah tidak ada.
Seorang satpam baru membuka gerbang tanpa banyak bicara. Selar melangkah masuk, setiap langkahnya bergema di atas batu granit yang dingin. Di ambang pintu utama, Diane Bruist sudah menunggu — dress hitam ketat, sanggul sempurna, senyum yang terlalu hangat untuk dipercaya.
"Aku datang karena panggilan notaris," kata Selar sebelum Diane sempat membuka mulut. "Bukan karena kangen."
Di ruang kerja, Vincent Ayenest tidak mengangkat kepala ketika Selar masuk. Ia menyelesaikan tanda tangannya lebih dulu, baru kemudian menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tanpa basa-basi, ia melempar amplop cokelat tebal ke lantai tepat di kaki Selar.
"Delapan belas persen saham LuxChain. Wasiat ibumu."
Selar membungkuk, mengambilnya perlahan. Cukup untuk didengar. Tidak cukup untuk mengendalikan apa pun.
Ketika ia bertanya soal laporan kecelakaan, jawaban yang ia dapat hanya dinding. Diane tertawa kering. Vincent tersenyum tanpa kehangatan. “Kebenaran di keluarga ini tidak pernah gratis,” kata ayahnya. “Kamu harus membayarnya dengan hidupmu sendiri.“
Selar keluar tanpa sepatah kata. Di koridor, ia menyandarkan tubuh ke dinding dingin, mengeluarkan ponsel, dan menghubungi satu nama yang lama ia hindari.
Yendra Basura.
"Aku butuh bantuanmu."
Jeda panjang. Lalu, "Keluar dari rumah itu. Sekarang."
Selar hendak bertanya kenapa. Namun, lampu koridor tiba-tiba padam, dan dari kegelapan, langkah berat Ruga Andest mendekat perlahan.
…
BAB 2 – BAYANGAN DI LORONG
Gelap menelan koridor dalam sekejap.
Selar membekukan tubuhnya. Hanya cahaya redup dari jendela ujung lorong yang membentuk siluet Ruga — berdiri tiga meter di depannya, seolah kegelapan ini sudah ia antisipasi.
"Listrik di mansion ini memang sering bermasalah," ujar Ruga santai, melangkah maju. "Atau mungkin ada yang tidak ingin kau terlalu nyaman di sini."
Selar tidak mundur. Ia tahu permainan ini. Intimidasi. Dan ia tidak akan kalah. Ketika Ruga menyebut soal warisan dan kekuatan, Selar menatap langsung ke matanya — dan menemukan sesuatu yang tidak ia duga.
Ketakutan.
"Jika aku tidak punya kekuatan apa-apa," ujar Selar pelan, "kenapa kau repot-repot mengancamku?"
Ruga terdiam. Senyumnya memudar. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata, langkahnya bergema di lorong gelap hingga siluetnya hilang.
Lampu menyala kembali. Selar bersandar sebentar ke dinding, membiarkan tangannya yang gemetar menjadi satu-satunya saksi ketakutannya. Lalu ia meluruskan tubuh, berjalan keluar dengan langkah terukur.
Di depan gerbang, sedan hitam sudah menunggu. Yendra Basura. Rahangnya lebih tegas dari yang Selar ingat, matanya gelap dan waspada.
Di dalam mobil, Yendra bicara singkat namun berat. Tiga orang militer baru di sekuritas mansion — dibayar rekening anonim, terhubung perusahaan offshore di Cayman Islands. Bukan pekerjaan Ruga. Terlalu canggih.
“Diane”, pikir Selar.
Laporan kecelakaan ibunya sudah disegel kepala polisi distrik bernama Marhen. Yendra punya cara lain untuk mendapatkannya — cara tanpa izin resmi. Selar menyetujuinya tanpa ragu.
Malam itu, di apartemen aman lantai dua puluh lima, Selar menatap foto terakhir ibunya di layar ponsel.
Lalu sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Berhenti mencari, atau kau akan menyusul ibumu."
---
BAB 3 – PESAN TANPA PENGIRIM
Selar tidak langsung bereaksi. Ia membaca ulang kalimat itu sekali, dua kali, lalu mengambil tangkapan layar dan meneruskannya ke Yendra.
Ponsel berdering dalam hitungan detik.
"Jangan balas. Jangan hapus. Aku butuh nomornya." Suara Yendra tajam, tanpa basa-basi. Ia menjelaskan dengan cepat, siapa pun yang mengirim pesan itu tahu Selar sudah kembali ke GreenDolt, tahu ia ada di mansion, tahu ia mulai bertanya soal kematian ibunya. Orang dalam, atau pengintai. Kemungkinannya sama besar.
Setelah sambungan terputus, Selar mematikan GPS, mengunci semua pintu, lalu duduk di tepi kasur dengan buku catatan tipis di pangkuannya.
Ia mulai menulis. Vincent. Diane. Ruga. Karto. Marhen. Dan satu nama yang ia garisbawahi dua kali, THE VEIL NETWORK.
Ia pernah mendengar nama itu dari ibunya, bertahun-tahun lalu. Percakapan telepon yang tidak sengaja ia dengar, suara ibunya rendah dan tegang. Saat itu Selar terlalu muda untuk mengerti. Sekarang, kepingan-kepingan itu mulai menyambung. Jaringan yang beroperasi di balik layar, mengendalikan korporasi, menghilangkan penghalang.
Dan ibunya mungkin salah satu dari penghalang itu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Yendra —nomor pengirim ancaman adalah prabayar beridentitas palsu, buntu. Namun ada kabar lain: Karto terlihat di distrik pelabuhan tiga hari lalu.
Selar mengetik “aku ikut” sebelum sempat berpikir panjang. Yendra menolak. Ia memaksa. Akhirnya Yendra menyerah dengan syarat: ikut aturannya, tidak bergerak tanpa izin.
Pukul satu dini hari, lampu kota masih berkelip di luar jendela. Selar menatap pantulannya di kaca.
Bukan lagi gadis yang kabur lima tahun lalu.
---
BAB 4 – MEJA PERANG DIREKSI
Blazer navy, celana gembrong hitam, rambut tergerai rapi. Selar menatap pantulannya di cermin sekali saja, lalu berjalan keluar.
Yendra sudah menunggu di lobby. Tidak banyak yang ia katakan di dalam mobil, hanya satu kalimat yang cukup: "Mereka akan mencari celah sekecil apa pun."
Selar tahu.
Ruang rapat lantai tiga puluh delapan sudah penuh ketika ia masuk. Vincent di ujung meja. Diane dalam dress merah marun. Ruga tanpa dasi, tanpa senyum. Dan satu wajah baru — Aldric Vern, penasihat hukum dengan jas abu-abu dan rambut tersisir sempurna — yang langsung membuka map begitu Selar duduk.
Jebakan pertama datang dari Vincent. Saham 18% milik Selar dilengkapi klausul: jika tidak aktif dalam enam bulan, saham dikembalikan ke pemegang mayoritas.
Selar tidak berkedip. "Bisa dilakukan."
Ruga mendengus. "Kau bahkan tidak tahu apa-apa soal bisnis fashion."
"Aku tidak perlu tahu cara menjahit untuk memahami strategi bisnis." Selar menatapnya datar. "Dan aku cukup yakin aku lebih cerdas darimu dalam hal itu."
Ruangan terdiam.
Ketika Diane memaparkan proyeksi ROI 35% untuk ekspansi ke Asia Tenggara, Selar menyanggahnya dengan data — laporan McKinsey, angka realistis 20-25%, saran uji pasar sebelum komit ratusan miliar. Aldric mencatat. Diane mengeraskan rahang. Vincent mengangguk pelan.
“Pengakuan diam-diam.“ Cukup untuk saat ini.
Setelah rapat bubar, Vincent tertinggal. Ia menatap keluar jendela, punggungnya membelakangi Selar.
"Ibumu dulu duduk di kursi itu," ucapnya pelan. "Dia juga sering menantangku."
Jeda panjang.
"Berhati-hatilah, Selar. Ada banyak orang yang tidak ingin kau di sini."
Lalu ia pergi. Dan Selar duduk sendirian di ruangan sunyi itu, menatap skyline GreenDolt yang membentang luas di balik kaca.
---
BAB 5 – JEJAK DI PELABUHAN
Yendra sudah menunggu di kafe seberang gedung LuxChain, kopi hitamnya tinggal setengah. Ia menatap Selar masuk tanpa berdiri, namun matanya membaca segalanya dalam sekejap.
"Aku berhasil."
"Aku tidak pernah meragukan itu." Yendra menggeser ponselnya ke tengah meja.
Foto buram. Pria paruh baya, topi baseball, gudang tua dengan cat mengelupas. Dermaga di latar belakang.
"Karto," kata Yendra. "Tiga hari lalu. Informanku mengenali tato naga hitam di lengan kirinya."
Selar menatap foto itu. Postur pendek, bahu lebar. Cocok. "Kapan kita ke sana?"
"Jam enam. Setelah gelap."
Mereka kembali ke apartemen, bersiap dalam diam. Yendra mengisi ransel hitam — senter taktis, pisau lipat, sarung tangan karet, alat yang Selar tidak tahu namanya. Pukul lima, Yendra menyuruh Selar ganti pakaian. Hoodie abu-abu tua, jeans hitam, sepatu kets kusam, topi baseball.
"Kau terlihat seperti mahasiswa biasa," ujar Yendra singkat. Pujian paling efisien yang pernah Selar dengar.
Distrik pelabuhan empat puluh menit dari pusat kota. Semakin jauh, semakin berubah wajah kota — gedung tinggi berganti bangunan tua berdinding mengelupas, jalan menyempit, sampah berserakan. Aroma amis laut bercampur solar menusuk begitu mereka keluar dari mobil.
Gudang tua di ujung dermaga. Cat hijau lumut. Pintu setengah terbuka, diganjal batu.
Di dalam, gelap dan pengap. Senter Yendra menyapu ruangan — karung bekas, drum minyak, keheningan.
Lalu ada gerakan di sudut belakang.
Selar melepas topinya. Membiarkan cahaya senter menerangi wajahnya.
Mata Karto melebar. "Miss Selar?"
Pria itu kurus, cekung, gemetar. Namun sebelum ia sempat menjawab pertanyaan “siapa mereka”.
Suara tembakan menggema keras dari luar gudang.
----------
Judul: Di Balik Wajah Kemewahan
Penulis: Rahmat Ry
Genre: Drama Rumah Tangga
Tag: Perempuan, wanita tangguh, Balas Dendam, Kekuatan Uang, Rahasia Gelap, Perebutan Kekuasaan
Platform: KutuBuku
Editorial:
--
