0
0
BAB 1 – KEMBALINYA SELAR
Selar Ayenest turun dari taksi tepat di depan gerbang besi berlapis emas yang tidak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Angin sore menerbangkan ujung mantelnya, membawa aroma hujan dan kepahitan asap di Greenway Boulevard. Perempuan itu berdiri sejenak, menatap mansion neoklasik yang menjulang di balik pagar. Lima tahun dia menghindar dari tempat ini dan dari orang-orang yang memanggil namanya dengan kasih sayang palsu. Namun, sang ibu sudah tiada.
Seorang penjaga membuka gerbang. Selar melangkah masuk, setiap langkahnya bergema di atas batu granit yang dingin. Di ambang pintu utama, Diane Bruist sudah menunggu dengan dress hitam ketat dan senyum yang terlalu hangat untuk dipercaya.
"Aku datang karena panggilan notaris," kata Selar sebelum Diane sempat bicara. "Bukan karena rindu."
Di ruang kerja, Vincent Ayenest tidak mengangkat kepala saat putrinya masuk. Dia menyelesaikan tanda tangannya, baru kemudian menatap Selar dengan ekspresi sulit dibaca. Pria itu melempar amplop cokelat tebal ke lantai.
"Delapan belas persen saham LuxChain. Wasiat ibumu."
Selar mengambilnya perlahan. Jumlah itu cukup untuk didengar, tapi tidak cukup untuk mengendalikan apa pun. Ketika dia bertanya soal laporan kecelakaan ibunya, Vincent hanya memberikan jawaban dingin.
"Kebenaran di keluarga ini tidak pernah gratis," ujar ayahnya. "Kamu harus membayarnya dengan hidupmu sendiri."
Selar keluar tanpa kata. Di koridor, dia menghubungi satu nama yang lama dihindarinya, Yendra Basura.
"Aku butuh bantuanmu," bisik Selar.
"Keluar dari rumah itu sekarang," jawab Yendra tegas. Namun, lampu koridor tiba-tiba padam, dan dari kegelapan, langkah berat Ruga Andest mendekat.
BAB 2 – BAYANGAN DI LORONG
Gelap menelan koridor dalam sekejap. Selar membekukan tubuhnya. Cahaya redup dari jendela membentuk siluet Ruga yang berdiri tiga meter di depannya.
"Listrik di sini memang sering bermasalah," ujar Ruga santai sembari melangkah maju. "Atau mungkin ada yang tidak ingin kau terlalu nyaman di sini."
Selar tidak mundur. Dia menatap langsung ke mata laki-laki itu dan menemukan sesuatu yang tidak terduga, yaitu ketakutan.
"Jika aku tidak punya kekuatan, kenapa kau repot-repot mengancamku?" tanya Selar pelan.
Ruga terdiam, lalu berbalik pergi. Lampu menyala kembali. Selar bersandar ke dinding, membiarkan tangannya yang gemetar menjadi saksi ketakutannya sebelum berjalan keluar. Di depan gerbang, Yendra Basura sudah menunggu dengan sedan hitam. Di dalam mobil, Yendra bicara singkat. Ada tiga orang militer baru di sekuritas mansion yang terhubung ke perusahaan lepas pantai.
"Diane," pikir Selar.
Laporan kecelakaan ibunya ternyata disegel oleh kepala polisi bernama Marhen. Yendra menawarkan cara ilegal untuk mendapatkannya dan Selar menyetujui tanpa ragu. Malam itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Selar dari nomor tidak dikenal. Isinya singkat, yaitu berhenti mencari atau kau akan menyusul ibumu.
BAB 3 – PESAN TANPA PENGIRIM
Selar tidak langsung bereaksi. Dia meneruskan pesan ancaman itu kepada Yendra. Ponselnya berdering dalam hitungan detik.
"Jangan balas. Aku butuh nomornya," perintah Yendra tajam. Dia menjelaskan bahwa siapa pun pengirimnya, orang itu tahu Selar sudah kembali dan mulai bertanya soal kematian sang ibu.
Selar mematikan GPS lalu duduk di tepi kasur dengan buku catatan. Dia menuliskan nama Vincent, Diane, Ruga, dan satu nama yang digarisbawahinya dua kali, The Veil Network. Dia pernah mendengar nama itu dari ibunya bertahun-tahun lalu. Sebuah jaringan yang mengendalikan korporasi dari balik layar.
Pesan dari Yendra kembali masuk. Nomor pengirim ancaman itu buntu, namun ada kabar lain bahwa pria bernama Karto terlihat di distrik pelabuhan. Selar mengetik bahwa dia ingin ikut. Yendra sempat menolak, namun akhirnya menyerah dengan syarat Selar harus mematuhi aturannya. Selar menatap pantulannya di kaca. Dia bukan lagi gadis yang melarikan diri lima tahun lalu.
BAB 4 – MEJA PERANG DIREKSI
Mengenakan blazer navy, Selar berjalan masuk ke ruang rapat lantai tiga puluh delapan. Ruangan itu sudah penuh. Vincent duduk di ujung meja, sementara Diane dan Ruga tampak waspada. Aldric Vern, sang penasihat hukum, langsung membuka map.
Jebakan pertama datang dari Vincent. Saham Selar dilengkapi klausul bahwa jika tidak aktif dalam enam bulan, saham akan kembali ke pemegang mayoritas.
"Bisa dilakukan," jawab Selar tenang.
Ruga mendengus. "Kau bahkan tidak tahu apa-apa soal bisnis fesyen."
"Aku tidak perlu tahu cara menjahit untuk memahami strategi bisnis," balas Selar datar. "Dan aku cukup yakin aku lebih cerdas darimu."
Ketika Diane memaparkan proyeksi ekspansi yang tidak masuk akal, Selar menyanggahnya dengan data McKinsey yang realistis. Diane mengeraskan rahang, sementara Vincent mengangguk pelan. Setelah rapat bubar, Vincent tetap tinggal dan menatap keluar jendela.
"Ibumu dulu duduk di kursi itu," ucapnya pelan. "Berhati-hatilah, Selar. Ada banyak orang yang tidak ingin kau di sini."
BAB 5 – JEJAK DI PELABUHAN
Yendra sudah menunggu di kafe dengan kopi hitamnya. Dia menunjukkan foto buram seorang pria bertato naga hitam di lengan kirinya. Itulah Karto.
"Kapan kita ke sana?" tanya Selar.
"Jam enam, setelah gelap," jawab Yendra.
Pukul lima, mereka bersiap. Yendra mengisi ransel dengan peralatan taktis sementara Selar mengganti pakaian dengan hoodie dan topi baseball. Mereka berkendara menuju distrik pelabuhan yang pengap oleh aroma amis laut dan solar. Gudang tua tujuan mereka memiliki pintu yang setengah terbuka. Di dalam, suasana gelap dan sunyi. Senter Yendra menyapu ruangan hingga menemukan gerakan di sudut belakang.
Selar melepas topinya, membiarkan cahaya senter menerangi wajahnya sendiri. Mata Karto melebar saat melihatnya.
"Nona Selar?" bisik pria yang tampak kurus dan gemetar itu.
Namun, sebelum dia sempat menjawab pertanyaan tentang siapa yang mengirimnya, suara tembakan menggelegar keras dari luar gudang.
*****
Nama pena: Rahmat Ry
Genre: Drama Rumah Tangga
Tag: Perempuan, wanita tangguh, Balas Dendam, Kekuatan Uang, Rahasia Gelap, Perebutan Kekuasaan
Platform: KutuBuku
Editorial:
Membaca naskah bertajuk LuxChain: Takhta dan Rahasia karya Rahmat Ry di platform KutuBuku terasa seperti berjalan di atas lantai granit yang dingin namun dipoles sempurna. Penulis berhasil membangun suasana melalui detail sensorik yang tidak hanya dekoratif, tetapi juga fungsional secara psikologis. Aroma hujan yang bercampur kepahitan asap di Greenway Boulevard hingga gema langkah kaki yang memantul di koridor mansion neoklasik memberikan tekstur nyata pada keterasingan tokoh utama. Penggambaran detail seperti dress hitam ketat milik Diane atau blazer navy yang dikenakan Selar menjadi simbol bahasa kekuasaan yang sunyi, di mana setiap pakaian adalah pelindung sekaligus pernyataan perang dalam dunia yang didominasi citra.
Ritme narasi yang ditawarkan mengalir dengan ketenangan yang waspada, mencerminkan kedewasaan tema dalam menyikapi kerumitan hidup sehari-hari di puncak hierarki korporasi. Keseimbangan perspektif terlihat saat penulis menempatkan tokohnya di antara bayang-bayang masa lalu yang traumatis dan realitas masa kini yang menuntut ketajaman logika. Dialog-dialog yang hadir pun terasa organik, menjalankan fungsi emosional sebagai senjata sealigus tameng. Kalimat-kalimat pendek yang tajam, seperti penolakan Selar terhadap nostalgia atau peringatan Vincent tentang harga sebuah kebenaran, menciptakan ritme yang tidak melelahkan namun tetap menjaga intensitas perhatian pembaca pada setiap pertukaran kata.
Dinamika hubungan antar karakter dalam karya ini tidak dibangun di atas konflik yang riuh, melainkan melalui ketegangan halus dari hal-hal kecil yang bersifat intuitif. Hubungan antara Selar dan Yendra, misalnya, menunjukkan pergeseran dari sekadar ketergantungan profesional menuju aliansi yang lebih dalam namun tetap menjaga jarak yang penuh teka-teki. Di sisi lain, interaksi saudara tiri dengan Ruga yang hanya berjarak tiga meter di kegelapan lorong menggambarkan intimasi yang beracun, di mana rasa takut justru menjadi titik balik kekuasaan. Penulis memahami betul bahwa dalam drama keluarga dewasa, diamnya seorang ayah atau kerutan dahi seorang ibu tiri sering kali lebih mematikan daripada ancaman yang diteriakkan.
Secara tematis, naskah ini mengeksplorasi sisi gelap takhta korporasi tanpa terjebak dalam melodrama yang berlebihan. Hal-hal seperti manipulasi saham melalui klausul enam bulan atau perdebatan data McKinsey dalam ruang rapat memberikan bobot intelektual yang meyakinkan pada genre ini. Ada sedikit kritik ringan mengenai transisi adegan yang terkadang terasa sangat cepat di sela-sela bab, sehingga beberapa momen refleksi tokohnya seolah terpotong sebelum benar-benar meresap ke dalam benak pembaca. Namun, hal ini tidak mengaburkan fokus utama penulis dalam memotret bagaimana kebenaran dalam dunia LuxChain hanyalah sebuah komoditas yang mahal dan penuh risiko.
Sebagai penutup, Rahmat Ry menunjukkan kemampuan yang piawai dalam meramu genre drama rumah tangga dan perebutan kekuasaan menjadi sebuah esai visual yang elegan. Penulis berhasil mengangkat martabat cerita balas dendam ke level yang lebih terhormat dengan mengandalkan kualitas prosa dan ketelitian detail daripada sekadar kejutan plot yang dangkal. Karya ini merupakan bukti bahwa kekuatan uang dan rahasia gelap dapat diceritakan dengan nada yang tenang namun memiliki daya hantam yang nyata bagi pembaca yang mencari kedalaman makna dalam narasi perempuan tangguh. Kesungguhan penulis dalam menjaga konsistensi suasana menjadikan naskah ini salah satu sajian yang matang di genre korporasi kontemporer.
By Caberawit

Jelas banget, saya sudah baca sampai tamat. Dan penulis ini juga punya banyak novel menarik. Dan aku juga punya IGnya😁.
BalasHapusWah. Terima kasih atas pujian nya kak.
Hapus