Terjerat Obsesi Liar - KEZHIA ZHOU

Terjerat Obsesi Liar - Kezhia Zhou


0

Bab 1

Pintu kamar Ken terbuka kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya. Suara dentuman itu bergema di ruang tidur yang temaram. Pria dua puluh dua tahun tersebut berdiri sempoyongan dengan kemeja kusut yang terbuka sebagian kancingnya. Kulit putihnya kini berbau tajam alkohol. Tanpa suara, dia menjatuhkan diri ke atas ranjang.

"Ugh," rintihnya berat sembari menutupi wajah dengan lengan.

Belum sempat terlelap, Ken tersentak. Sesuatu yang lembut melumat bibirnya dengan paksa. Ciuman itu panas dan asing. Dia mencoba menarik diri, namun kepalanya terasa terlalu berat.

"Sepertinya kau minum terlalu banyak, Ken."
Suara itu sangat dia kenal. Itulah suara Moa, sosok yang selalu dia hindari. Ken memaksa matanya terbuka. Gadis itu berdiri di sana dalam balutan gaun pendek dengan tatapan penuh hasrat.

"Moa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ken dengan suara serak dan dingin.

Wanita itu hanya tersenyum samar dan membungkuk, sengaja memamerkan lekuk tubuhnya di depan mata Ken. Dia berharap pria itu akan menyentuhnya, namun Ken justru merasa muak.

"Sini, kubantu lepaskan bajumu agar kau merasa nyaman," ucap Moa manja. Jemarinya mulai membuka kancing kemeja Ken satu per satu.

Ken mencoba menahan tangan perempuan itu, namun Moa bergerak lebih cepat. "Aku benar-benar menyukai aroma tubuhmu, Ken," bisiknya pelan.

Tangan Moa ditepis kasar. Ken bangkit berdiri tegak meski langkahnya masih goyah. "Hentikan, Moa," ujarnya dingin sembari bertumpu pada meja.

Moa tidak mundur, tatapannya justru semakin liar. "Bahkan ketika marah pun kau tetap menarik," katanya sambil mencoba menyentuh pipi Ken.

Ken kembali menepisnya. "Kau gila?"

"Aku memang gila karena menginginkanmu!"

"Cukup," Ken menarik napas tajam, jengah dengan pengulangan ucapan itu. "Kau kakak tiriku. Aku tidak akan pernah."

Secara mendadak, Moa menarik tengkuk Ken dan kembali menciumnya dengan lebih berani. Ken mendorongnya keras hingga gadis itu terlempar mundur beberapa langkah.

"Kau sakit?" bentak Ken dengan suara meninggi. Dia menyentuh bibirnya yang berdarah karena digigit oleh Moa.

Moa melangkah maju lagi dengan senyum dingin. "Aku sudah bilang, aku tidak suka ditolak."

"Aku tidak pernah mencintaimu. Aku muak melihatmu," balas Ken tajam.

Moa tertawa pelan. "Suatu hari kau akan tahu bahwa kau juga menginginkanku. Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku."

Ken mengusap wajahnya yang lelah. "Pergi dari kamarku," perintahnya tegas.

"Baiklah," Moa tersenyum tipis dan melangkah menuju pintu. "Tapi ingat Ken, tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Mengerti?"

Pintu tertutup dengan keras. Ken berdiri diam dengan dada naik turun. "Gadis itu benar-benar gila," gumamnya pelan sebelum kembali merebahkan diri untuk melupakan kejadian memuakkan hari itu.

Pukul enam pagi, cahaya matahari menembus tirai dan memaksa Ken terbangun. Kepalanya berdenyut, namun aroma parfum Moa yang masih menempel di kulitnya terasa jauh lebih menjengkelkan. Dia menggerutu saat menyadari bekas luka kecil di bibirnya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Isinya memperingatkan bahwa masa lalu Moa dan ibunya akan menghancurkan segalanya. Selamat datang di kebebasan, begitu bunyi penutup pesan anonim tersebut.

"Masa lalu apa yang mereka sembunyikan?" gumam Ken dengan senyum dingin di sudut bibir. Dia segera beranjak ke kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin, dia mencoba menghapus bayangan obsesi Moa yang menjijikkan. Dia bersumpah akan menemukan cara untuk mengusir perempuan itu dan ibunya dari rumah tersebut.

Setelah mengenakan kaos merah dan jins hitam, Ken menuruni tangga dengan langkah tegap. Namun, sebuah suara menggelegar menghentikannya di ruang utama. Sang ayah sudah berdiri di sana dengan raut wajah marah. Tanpa peringatan, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ken.

"Kau mabuk-mabukan lagi? Kau tidak pernah mendengar ucapan Ayah!" teriak pria paruh baya itu. Matanya kemudian tertuju pada bibir Ken yang terluka. "Kenapa bibirmu? Kau berkelahi di bar?"

Ken tersenyum getir. "Tanyakan saja pada putri kesayanganmu itu," jawabnya sinis.
Ayahnya terdiam sejenak namun kembali bertanya. "Mau ke mana kau pagi-pagi begini? Kuliahmu masih siang."

"Apa pedulimu, Ayah? Kau bahkan tidak pernah peduli padaku."

"Ken, kau tidak akan pernah bisa kabur dari rumah ini!"

Ken tertawa pendek. "Aku tidak kabur. Aku hanya perlu menjauh sebelum aku benar-benar gila. Kau harus tahu, perempuan itu bukan ibuku. Dia hanya pemilik klub malam dan putrinya selalu melewati batas. Apa itu yang kau sebut keluarga?"

Wajah sang ayah menjadi kaku. "Moa punya alasan untuk itu."

"Sudahlah," potong Ken cepat. "Kau terlalu buta karena cinta, tapi aku tidak akan diam lagi."
Ken melangkah pergi mengabaikan teriakan ayahnya yang memanggil namanya berulang kali. Dia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat. Sembari menggenggam erat kemudi, dia berjanji dalam hati untuk mengungkap rahasia mereka dan memastikan mereka menyesal telah mengusik hidupnya.

*****

Nama pena : KEZHIA ZHOU

Genre : Dark Romance, Harem, 21+

Platform : MaxNovel



Editorial:

Narasi yang dibuka oleh KEZHIA ZHOU melalui platform MaxNovel ini menawarkan sebuah pintu masuk yang pekat ke dalam labirin emosi yang tidak biasa. Dengan memilih genre Dark Romance, penulis tidak ragu menyuguhkan detail sensorik yang terasa menyesakkan namun nyata. Kita bisa merasakan bagaimana aroma alkohol yang tajam beradu dengan parfum wanita yang tertinggal di kulit, sebuah kontras yang membangun suasana muak sekaligus tegang. Pilihan kata seperti gema pintu yang terbuka kasar hingga luka kecil di bibir menjadi penanda spesifik bahwa dalam dunia ini, batasan fisik sering kali dilanggar tanpa permisi, menciptakan atmosfer yang intim namun penuh ancaman.

Ritme narasi yang terbangun bergerak dengan kecepatan yang pas, memberikan ruang bagi pembaca untuk merasakan peningnya kepala tokoh utama sebelum kemudian ditarik ke dalam konfrontasi yang tajam. Dialog-dialog yang hadir berfungsi lebih dari sekadar pertukaran informasi, mereka adalah alat intimidasi dan bentuk pertahanan diri. Kalimat Moa yang bernada posesif atau balasan Ken yang dingin mencerminkan dinamika hubungan yang sangat timpang. Kedewasaan tema justru muncul dari bagaimana tokoh utama mencoba mempertahankan kewarasannya di tengah kepungan obsesi yang melewati batas norma keluarga, sebuah gambaran tentang harga diri yang dipertaruhkan dalam ruang privat.

Ketegangan dalam karya ini tidak hanya dibangun melalui konflik besar, melainkan dari gestur-gestur kecil yang terasa mengintimidasi. Jemari yang membuka kancing kemeja satu per satu atau tatapan yang mengunci mangsa menjadi instrumen yang lebih kuat daripada teriakan. Dinamika antara Ken dan ayahnya pun memperlihatkan lapisan lain dari konflik domestik, di mana ketulian seorang orang tua terhadap kenyataan pahit anaknya menciptakan jurang yang semakin dalam. Ada keberanian penulis dalam memotret sisi gelap cinta yang bergeser menjadi obsesi, menunjukkan bahwa luka yang paling perih sering kali datang dari orang-orang yang berbagi atap yang sama.

Secara teknis, penggunaan diksi dalam beberapa transisi aksi masih terasa sedikit familiar dengan pola penulisan digital populer, namun hal ini tertutupi oleh kekuatan emosi yang berhasil dialirkan. Kritik halus mungkin bisa diberikan pada intensitas ledakan emosi ayah yang muncul cukup tiba-tiba, yang jika diberikan sedikit lebih banyak konteks naratif, akan terasa jauh lebih mencekam. Meski demikian, kejujuran penulis dalam mengeksplorasi rasa muak dan pemberontakan batin tokoh utamanya memberikan kedalaman yang jarang ditemukan dalam narasi romansa yang hanya mengandalkan daya tarik fisik semata.

KEZHIA ZHOU berhasil membuktikan bahwa dalam balutan genre dewasa yang penuh provokasi, masih terdapat ruang untuk menanamkan benih misteri yang mengikat. Penulis memiliki kepekaan yang baik dalam menggambarkan kerentanan pria di bawah dominasi yang tidak diinginkan, sebuah sudut pandang yang segar dan penuh keberanian. Keahliannya dalam menyusun kepingan rahasia masa lalu melalui pesan anonim di akhir bab menunjukkan bahwa naskah ini bukan sekadar tentang pertemuan fisik, melainkan tentang perjalanan memutus rantai manipulasi. Sebuah karya yang menjanjikan bagi mereka yang mencari narasi yang berani menghadapi sisi kelam kemanusiaan.

By Caberawit



1 Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama